Wednesday, March 31, 2010

I'm Waiting For These Books...

Seperti biasa...melakukan browsing di amazon.com. Sekedar untuk mencari buku-buku menarik yang siapa tahu bisa dicari. Dan ternyata memang ada beberapa buku yang cukup lama dinanti-nanti kehadirannya. Baik itu kategori novel dewasa [biasanya buku Nora Roberts dan J. D. Robb] maupun novel young adults. Ini ada beberapa list yang emang gue tunggu dan ada juga yang gue tunggu karena gue tidak tahu bahwa ini buku bakal muncul.

Yang paling deket, akan rilis 6 April ini (di Amrik sono sepertinya) dan masih dalam format hardcover, Kelley Armstrong' Darkest Power 3 - The Reckoning.


Buku karangan Kelley Armstrong ini gue beli setelah buku 2 keluar. Seperti biasa, dari awal ragu-ragu mau beli, tapi toh akhirnya beli juga dan enggak nyangka, buku 1 habis dilahap hanya dalam 1 hari saja. Ckckckc...dan sejak saat itu jadi tertarik dengan Darkest Power Trilogy ini.

Darkest Powers diawali dengan The Awakening, kemudian The Summoning, dan ditutup dengan The Reckoning. Buku 2 udah dibeli tapi belum sempet dibaca (salah satu my reading list), yang enggak tahu kapan bakal dibaca, mungkin nunggu buku 3 (nunggu yang paperback tentunya), supaya bisa langsung lanjut.

So...Darkest Powers bercerita tentang...

Chloe, 15, has the ability to see dead people, but before she can figure out what is happening, she has a breakdown, is diagnosed with schizophrenia, and placed in a group home.
She befriends some of the teens at Lyle House and tries to accept her treatment. However, two of her more mysterious housemates suggest that maybe she isn't crazy.
Derek tells her to look up necromancy on the Internet, and she finds out that it's the ability to communicate with the spirits of the dead. He appears to have superstrength, and his foster brother has magical powers.
Chloe's roommate, who causes things to fly around the room when she becomes angry, is taken away to a hospital and never heard from again. When she returns in Chloe's visions, Chloe suspects foul play, a misgiving confirmed when the dead speak to her again and reveal that they were "supernaturals" who were experimented on, killed, and buried in the home's basement many years before.
Together with her new friends, Chloe escapes Lyle House, only to be betrayed.
This suspenseful novel sets up a secret underworld where some people support and help supernaturals, while others persecute them.


Ceritanya bisa dibilang sederhana, tapi tetep menarik untuk dibaca dan alur ceritanya yang cukup cepat membuat bacaan ini jadi enggak terlalu bertele-tele dan tidak bikin boring. Ending buku 1 dibuat cukup menggantung, membuat yang baca jadi penasaraan dengan buku 2, tapi tidak terlalu menggantung sampe orang jadi super penasaran (kecuali gue mungkin, karena gue langsung buka wikipedia!)


Next book is from Rick Riordan (remember him? Remember Percy Jackson? He made Percy Jackson). Sepertinya another one that looks like Percy Jackson, nih. Rilis 4 Mei, juga masih dalam format hardcover. The Red Pyramid (The Kane Chronicles - Book 1).


Ceritanya tentang...

Since their mother’s death, Carter and Sadie have become near strangers. While Sadie has lived with her grandparents in London, her brother has traveled the world with their father, the brilliant Egyptologist, Dr. Julius Kane.

One night, Dr. Kane brings the siblings together for a "research experiment" at the British Museum, where he hopes to set things right for his family. Instead, he unleashes the Egyptian god Set, who banishes him to oblivion and forces the children to flee for their lives.

Soon, Sadie and Carter discover that the gods of Egypt are waking, and the worst of them--Set--has his sights on the Kanes. To stop him, the siblings embark on a dangerous journey across the globe--a quest that brings them ever closer to the truth about their family, and their links to a secret order that has existed since the time of the pharaohs.

Keliatannya menarik. Can't wait for it to arrive in here :)

Berikutnya adalah dua buku dari Cassandra Clare. Cassandra Clare adalah pengarang trilogi The Mortal Instrument: City of Bones (udah ada versi Bahasa Indonesia-nya); City of Ashes; dan City of Glass. Tiga buku ini udah pernah gue bahas di sini. Yang pasti sih nih buku menarik. Meskipun masih enggak jauh-jauh dari dunia khayal, ada vampire dan werewolf juga, tapi dua mahluk itu, vampire dan werewolf, bukanlah tokoh/mahluk utama. Dengan cerita yang bisa dibilang cukup berbeda (pada waktu itu, setahu gue) membuat gue dengan cepat melahap habis ini buku. Untungnya, waktu itu tiga buku ini udah keluar semua dalam format paperback dan tiga-tiganya ada. Jadi bisa dibilang ngebut lah gue membaca buku ini.

Well...baca aja di postingan sebelumnya deh :) you'll get the idea.

Nah, yang awalnya cuma tiga, tapi ternyata Cassandra Clare tertarik untuk memberikan kesempatan pada Simon (salah satu tokoh utamanya) untuk memiliki ceritanya sendiri: City of Fallen Angel.

Sementara itu, Cassandra Clare juga rupanya meluncurkan prequel The Mortal Instruments, yaitu The Infernal Devices: The Clockwork Angel, yang juga merupakan trilogi. Maka pada 7 September (31 Agustus menurut Amazon.com), buku ini akan rilis, sekali lagi dalam format Hardcover.

Clockwork Angel bercerita tentang...

When sixteen-year-old Tessa Gray crosses the ocean to find her brother, her destination is England, the time is the reign of Queen Victoria, and something terrifying is waiting for her in London's Downworld, where vampires, warlocks and other supernatural folk stalk the gaslit streets. Only the Shadowhunters, warriors dedicated to ridding the world of demons, keep order amidst the chaos. Kidnapped by the mysterious Dark Sisters, members of a secret organization called The Pandemonium Club, Tessa soon learns that she herself is a Downworlder with a rare ability: the power to transform, at will, into another person.

What's more, the Magister, the shadowy figure who runs the Club, will stop at nothing to claim Tessa's power for his own.
Friendless and hunted, Tessa takes refuge with the Shadowhunters of the London Institute, who swear to find her brother if she will use her power to help them. She soon finds herself fascinated by—and torn between—two best friends: James, whose fragile beauty hides a deadly secret, and blue-eyed Will, whose caustic wit and volatile moods keep everyone in his life at arm's length . . . everyone, that is, but Tessa. As their search draws them deep into the heart of an arcane plot that threatens to destroy the Shadowhunters, Tessa realizes that she may need to choose between saving her brother and helping her new friends save the world. . . . and that love may be the most dangerous magic of all.


Gue bener-bener bakal menanti kehadiran ini buku, sekali lagi dalam format paperback (hieh...kenapa tiap kali muncul selalu dalam format hardcover tho?)

Sedangkan City of Fallen Angel baru akan rilis 2011 nanti (WHATT???)

Dan jangan lupa, another book from Rick Riordan. Dan kali ini kemungkinan besar enggak jauh-jauh dari Percy Jackson, karena judulnya aja adalah Camp Half-Blood, Book 1. Baru akan rilis nanti tanggal 12 Oktober, sekali lagi masih dalam format hardcover. Sayang belum ketemu contoh covernya maupun jalan ceritanya. Yang pasti ini buku memang sekueal Percy Jackson & the Olympians, tapi bukan Percy yang jadi tokoh utamanya.

It was hard to say good-bye to Percy--but fans don't have to! A lovable new generation of demigods have their own prophecy to prepare for, and their hero Perseus Jackson just may turn up in times of need. - Amazon.com-

Untuk para penggemar Percy Jackson, rasanya buku ini cukup dinantikan.


Selain itu, masih ada juga buku yang gue nantikan versi paperbacknya masuk ke sini. Terutama The Sisters Grimm oleh Michael Buckley buku 7, The Everafter War. Udah pernah juga dibahas di sini, terutama waktu baru pertama baca.


Seperti yang dapat dilihat, ini adalah buku 7, yang berarti ini buku berseri. Baru akan tamat di buku 8. Setau gue, buku 8 (dalam format hardcover) udah muncul. Dan setau gue, biasanya paperback-nya baru bakal muncul taon depan :(

Dulu gue pernah nemuin buku 1-nya dalam Bahasa Indonesia, enggak tau deh sekarang masih ada lagi apa enggak. Yang pasti sih bukan terbitan Gramedia.


Sedangkan bagi penggemar Wicked Lovely karangannya Melissa Marr, tadi gue baru aja liat bukunya yang terbaru Radiant Shadow udah muncul di Periplus, sepertinya large print edition, karena bukunya besar gitu, cuma dah bukan hardcover.

Hm...liat di amazon.com masih pre-order karena baru rilis 20 April. Apa di sini duluan? Apa gue salah liat ya tadi?


Yah apapun itu...berhubung gue gak baca jadi ya...gak gitu tertarik hehehe...


So far...ini buku-buku yang bakal gue nanti kehadirannya. Tentu, ini hanya sebagian dari buku yang benar-benar gue nanti. Are we waiting for the same thing?

My Kind of Books



Been thinking quite a lot about what I'm going to say on this subject.

Boleh dibilang, gue ini termasuk maniak buku [dan maniak akan hal-hal lainnya juga] dan juga tergila-gila pada musik. Dua hal itu yang mengisi hari-hari gue, setiap saat. Really can't live without books or music.

Jenis musik yang gue suka biasanya seputar pop, klasik, classical crossover, sedikit new age, beberapa instrumental, dan NO DANGDUT. Gue lebih milih dengerin lagu India dibandingkan dangdut. Tapi, namanya juga musik, kadang emang kudu didengerin dulu, baik musik maupun liriknya, untuk bener-bener bisa suka dengan lagu tersebut.

Sama juga seperti buku.

Ada beberapa kategori yang biasanya gue [dan temen-temen gue] mengkategorikannya sebagai buku gue, terutama untuk pengarang yang belum pernah gue baca sama sekali karyanya. [Terutama untuk novel dewasa, bukan novel young adults]

1. Romance


It's not a must, but it's a plus.

Cerita roman pasti menarik perhatian mata dan minat gue. Tapi bukan berarti semua buku cerita roman bakal gue beli dan gue baca. Mungkin karena waktu SMA sempet baca Harlequin jadi gue sekarang agak-agak males baca roman yang TERLALU roman, seperti kebanyakan cerita-cerita kategori historical romance yang lagi banyak banget terjemahannya.

Gue juga menikmati kok buku-buku dengan cerita detektif yang memang tidak ada sedikitpun kisah roman di dalamnya, seperti Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle, atau buku-buku karya James Patterson, atau buku Dan Brown (tapi cuma yang Langdon Trilogi).

Memang harus diakui, buku dengan cerita roman lebih menarik di mata gue dibandingkan cerita-cerita lain. Tapi bukan berarti gue menolak mentah-mentah buku yang tidak ada roman-nya.


2. Have a happy ending

It doesn't always have to end up in marriage, although it's expected, but at least the boy get the girl and the enemy is get punished :)

Klise banget emang, tapi gue lebih suka kalo jagoan gue tuh happy. Males aja rasanya baca buku panjang lebar, tapi ujung-ujungnya tokoh utamanya malah mati atau pasangannya mati atau malah dapet kesialan. Weks! Bisa gue buang ke lantai tuh buku.

Sufei, one of my friends, complained soal 'obsesi' gue akan happy ending. Dia bilang, enggak semua mendapatkan apa yang kita inginkan. Well...it's true. Dalam kehidupan nyata juga ada yang gak happy end, tapi tetep gue enggak terima hahaha. Gue maunya the good guy is always win, the bad guy will always be a loser, a good person always be repaid, and the bad person always get what they deserved.

3. Good storyline


Gue tau, harusnya yang menjadi pertimbangan utama adalah good storyline, tapi bagaimana bisa tahu apakah buku/cerita tersebut memiliki alur yang bagus, orang semua bukunya masih dibungkus plastik dan butuh beberapa lembar halaman untuk mengetahui hal tersebut.


Sebenernya masih ada beberapa hal lain yang membuat gue memutuskan untuk membaca/membeli itu buku, seperti...tidak ditulis menggunakan kata ganti orang pertama. Kadang gue merasa terganggu aja kalo pengarangnya menulis cerita dari sudut pandang 1 orang saja, yaitu tokoh utamanya. Ber-aku atau I, buat gue enggak enak. Tapi toh kadang hal itu terlewat begitu saja, apalagi kalo memang ceritanya bagus.

Satu tema yang gue hindari...drama.

Entah kenapa, tapi gue agak enggak suka dengan drama. Mungkin karena ceritanya terlalu 'biasa' atau terlalu monoton menurut gue. Meskipun tema drama memiliki roman, tapi tetep aja rasanya susah buat gue untuk baca drama. Mungkin buku-buku karya Danielle Steele termasuk di dalamnya.

DULU gue baca nyaris semua bukunya Danielle Steele. My mom love her books so much. Tapi lama-lama enggak lagi. Too long, too boring, Ceritanya tuh bisa berkembang dari just a girl, then become a mother, then become a grandmother. Enggak semua sih, tapi salah satu hal yang gue inget dari ceritanya Danielle Steele ya itu. 3 generasi dalam 1 novel. Tebel deh.

Tapi terlepas semua itu, kisah buku itu sendiri lah yang membuat gue akhirnya memutuskan untuk membeli dan membaca itu buku, meskipun memang 'rules' yang udah gue buat itu gue gunakan sebagai rambu-rambu [supaya enggak kalap], tapi kalo ceritanya sudah menarik, biasanya rambu-rambu itupun hilang begitu saja.


Sedangkan untuk novel kategori young adults, biasanya lebih sederhana. Drama jelas-jelas gue hindari, karena gue lebih memilih tema fantasy alias khayal. Enggak semua, tapi gue selalu tertarik dengan magic, vampire, fairy, dsbnya.

No, I don't read Twilight Saga. Don't like it.

Sedangkan untuk roman...well...gue rasa sama aja dengan novel dewasa. Kalo ada ya bagus...kalo enggak ya udah. Selama ceritanya menarik, bagus, why not?


So...what your kind of books? :)

Tuesday, March 30, 2010

Wild Nights! Wild Nights!

Wild nights! Wild nights!
Were I with thee,
Wild nights should be
Our luxury!

Futile the winds
To a heart in port,
Done with the compass,
Done with the chart.

Rowing in Eden!
Ah! the sea!
Might I but moor
To-night in thee!

-Emily Dickinson-


Thanks to Lisa Margaret for asking me about this poem. She asked me about the interpretation of this poem. The poem is nice isn't it? After I searched online I found out that this one is by Emily Dickinson. It's a love poem. What do you think about this poem?

My favorite part is the second verse

Futile the winds
To a heart in port,
Done with the compass,
Done with the chart.


The words just..so..well described.

Maybe I take the poem too literally, but even if I did..it still describe the longing of a lover :)

As Long As You're Mine

ELPHABA
Kiss me too fiercely
Hold me too tight
I need help believing
You're with me tonight
My wildest dreamings
Could not foresee
Lying beside you
With you wanting me

And just for this moment
As long as you're mine
I've lost all resistance
And crossed some borderline
And if it turns out
It's over too fast
I'll make ev'ry last moment last
As long as you're mine

FIYERO
Maybe I'm brainless
Maybe I'm wise
But you've got me seeing
Through different eyes
Somehow I've fallen
Under your spell
And somehow I'm feeling
It's "up" that I fell

BOTH
Every moment
As long as you're mine
I'll wake up my body
And make up for lost time

FIYERO
Say there's no future
For us as a pair

BOTH
And though I may know
I don't care!
Just for this moment
As long as you're mine
Come be how you want to
And see how bright we shine
Borrow the moonlight
Until it is through
And know I'll be here holding you
As long as you're mine




MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com



Ini lagu dari pertunjukkan Broadway, Wicked, berdasarkan buku karangan Gregory Maguire; Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West.

Soal pertunjukkan Broadwaynya, Wicked, dah pernah gue bahas di postingan yang lalu-lalu. Judulnya Wicked, silakan mampir :)

Sedangkan untuk bukunya... hm... rasanya udah pernah dibahas, tapi lupa ditaro di mana...nanti coba di cari deh ya...

Anyway, baru aja mengunduh album David Burnham yang pernah berperan jadi Fiyero, salah satu tokoh utama di Wicked. Dari segi suara...David ini suaranya mirip lah dengan John Barrowman maupun Daniel Boys; agak keras, dengan artikulasi yang jelas, tapi tanpa memberi kesan teriak. Mungkin memang ini ciri khas penyanyi Broadway kali ya, karena mereka harus bisa 'bercakap-cakap' melalui nyanyian mereka. Lalu...apa bedanya dengan penyanyi opera? Ada yang bisa bantu? Dito... :)

So...di salah satu lagu David Burnham di albumnya itu, ada judul lagu "As Long As You're Mine" yang dinyanyikan duet dan begitu pertama kali denger selintas, langsung menarik hati dan menempel di telinga. There's something about the way they sing, the melody, and the lyric. Terutama di bagian refrain.

Setelah beberapa kali denger, baru tadi cari liriknya dan jeng jeng jeng...langsung ngeh gue kenapa gue bisa tertarik. Ternyata lagunya Wicked! Lagu yang dinyanyiin sama Fiyero (perannya David Burnham) dan Elphaba.

Enggak cukup sekedar mencari liriknya, gue penasaran dengan pementasannya. Maka dibukalah youtube. Dan...well well well...gue menemukan bahwa ADAM LAMBERT pernah menjadi Fiyero!! He was an understudy for Fiyero. Dan dia pernah berperan sebagai Fiyero! OMG!!! Makes me more and more in love with Wicked AND Adam Lambert!! Who knew!?!

So...gue kasih denger 3 versi. Versi rekaman from original cast, versi David Burnham, dan versi Adam Lambert. Paling jernih jelas yang pertama, karena yang kedua dan ketiga merupakan rekaman video. Dan terakhir...untuk yang ingin mengunduh versi David Burnham...ini gue kasih linknya.

Saturday, March 27, 2010

Gramedia! Oh...Gramedia...






Kemaren malem, tiba-tiba dapet sms dari Gramedia yang intinya mengabarkan bahwa Toko Buku Gramedia di Mall of Indonesia (MOI) akan mengadakan diskon 30% all item, kecuali elektronik dan untuk pemegang kartu kredit BCA dan flazz, bakal dapat tambahan 5%.

Kontan gue teriak. Dan Sufei yang gue forward sms-nya pun (ngakunya) ikutan teriak. Hihihihi...sengaja tuh gue kirim ke Sufei..karena pasti bakal ikutan heboh. Bener aja tebakan gue :)

Sebenernya udah cukup lama gue menanti-nanti Gramedia MOI diskon. Dan ternyata penantian itu udah selama 1 tahun. AKHIRNYA Gramedia MOI diskon juga!!

Berhubung gue pagi-siang pergi sama Dito, jadi baru menjelang sore lah gue ke sana. Karena gue tau betapa padatnya suasanan, jadi gue pun ngajak Yosi. Enggak berani gue kalo pergi ndiri.

Dan betapa tercengangnya gue!!!

Pertama karena super padat. Kedua gue dah jiper duluan ngeliat antrian di kasir. YA AMPUN MAK!!!! Itu antrian!! Udah kayak uler!!! Panjang!!


Suer deh! Baru kali ini gue ke acara diskon Gramedia enggak nyaman. Rasa-rasanya belum pernah gue ngerasa seperti ini. Baru terakhir gue ngeh...selama gue pergi ke pesta diskon gramed, gue selalu dateng dari pagi or bukan hari Sabtu-Minggu. Dan lagi, Gramedia MOI ini enggak gitu-gitu besar amat, jadi lah dengan cepat suasanan menjadi padat.

Awalnya gue kira mereka kurang banyak kasirnya. Tapi setelah gue perhatiin, enggak juga. Kasir mereka banyak, ada kali 20 kasir dan semuanya rame. Malah pas gue mau pulang ada ibu-ibu yang bingung, karena dia mau bayar sedangkan antriannya udah panjang sampe dia enggak tau ini ngantri untuk kasir yang mana. Walah!!

Tapi terlepas dari keramaian yang ada, gue cukup salut sama para pegawainya Gramedia. Pertama karena jumlahnya banyak. Gue tau, enggak semua dari Gramedia tapi dari penerbit-penerbit lain yang bukunya dijual or diikutsertakan acara diskon, tapi kehadiran mereka emang membantu.

Kedua, para pegawai itu bener-bener membantu penjual. Kalau mereka enggak tau, mereka akan bantu kita cari di pusat info buku atau mencarikan orang yang emang tau. Kayak tadi, gue enggak sengaja ketemu komik nomor 2, tapi enggak gue ambil. Pas lagi ngantri mau bayar, tiba-tiba kepikiran sama tuh komik. Gue coba nyari ndiri gak ketemu, jadilah bertanya. Eh yang gue tanyain enggak tau, langsung dioper sama yang tau. Bener lho. Gue cuma nyebutin judulnya sebagian, dia langsung tau komik yang gue maksud. Hahahaha...jadi seneng.

Ketiga, para pegawai itu mau lho dimintain tolong untuk nyariin buku yang kita cari. Biarkan mereka yang jalan mencari, kita tinggal nunggu aja. Asalkan info judul buku dan pengarang jelas, mereka bersedia bantuin. Jadi ya...agak tertutupi lah lelahnya mengantri itu :)

Dan belum lagi soal buku-bukunya. Tebakan gue semua buku yang dia punya itu pada dikeluarin semua deh. Mau buku baru, buku lama, kalau mereka memang punya ya bakal ikut ditaro. Termasuk buku-buku importnya. Gue sampe beli The Lost Symbol-nya Dan Brown yang hardcover, dari 243 ribu jadi 158, cuma beda 40 rb sama yang Bahasa Indonesia hehehe...not bad lah!

Dan para orang-orang itu emang bener-bener memanfaatkan yang namanya diskon 30% itu. Ada yang beli komik sampe bejibun, ada yang beli buku-buku novel best-sellers, termasuk orang yang berdiri di samping gue waktu ngantri bayar. Dua tas penuh! Udah gitu buku-bukunya bukan komik lagi, yang berarti 'kan satunya minimal 40 ribu-an. Ckckckc...emang bener-bener memanfaatkan diskon!


Tadinya gue kira kalo pake kartu kredit BCA atau flazz dapet diskon cuma 34.5%, bukan 35%. Ternyata emang bener-bener 35%. Emang sih bedanya enggak jauh, tapi tetep aja 'kan jarang yang emang murni 30% plus 5% jadi 35%. Jadi ya makin seru aja deh tuh belanjanya.


Untung yang ngantri 2 orang, gue dan Yosi karena antrian gue lamban bener, sementara antrian Yosi yang paling kiri maju lebih dulu, alhasil gue pindah deh bareng Yosi. Kebetulan Yosi emang mau bayar pake flazz gue, jadi ya udah bayar sekalian.

Selesai dengan pembayaran, dengan dua kantong yang berat-berat, kita keluar untuk ke toilet dulu :) dan kemudian cari makan. LAPAR!!! Ngantri nyaris sejam!!! Duh...serasa ngantri Dufan! Sementara itu suasana di Gramedia tetep aja rame, tidak ada tanda-tanda untuk berkurang. Dan di depan Gramedia, disedian bangku untuk para penunggu.

bukan mengantri crocs :)

Hari ini puas lah. Beli banyak buku, meskipun mostly untuk sepupu dan Mia :) tapi puas. Untuk sepupu beliin Tintin 6 kalo enggak salah, dan beberapa novel, sementara untuk Mia baru nemu 2. Sedangkan sisanya gue. Hm...banyak juga ya untuk gue hahaha...

some of the books..

Iseng beli Buddha-nya Osamu Tezuka yang terkenal itu, beli Ghostgirl karena yang Bahasa Inggris harganya 198 :( dan iseng beli The Spell Bound Book punya Miki Monticelli yang ternyata adalah buku Itali, jadi ya udah lah, liat aja kapan bisa dibaca. So far sih terjemahannya bisa dinikmati :)

Dan tadi ada juga bukunya Cassandra Clare - City of Bones (yang gue ketuker dengan Lovely Bones!!!) dengan cover yang sama persis dengan versi luar negeri. Hm...wait...gue tiba-tiba teringat sesuatu. Sepertinya itu buku dah lama deh. Apa gue ketuker sama yang versi Bahasa Inggris ya? Oh well...ngeliat buku City of Bones membuat gue teringat kembali sama rangkaian Mortal Instrument itu :)

So...rencana besok, hari Minggu bakal mau ke sana lagi, kali ini bareng emak. Hehehe...semoga jam 10 teng udah bisa masuk MOI :)

Berdua dengan Owl :)

Entah harus kutuliskan dari mana pengalamanku hari ini...

Halah!!! Kok jadi lebay??


Yang pasti hari ini diawali dengan jalan-jalan dengan Dito :)


Gue emang enggak bisa kalo enggak keluar kali ya pas hari Jumat or Sabtu? Kebiasaan ngelayap pas Jumat dan Sabtu, setelah beberapa minggu kemaren 'cuma' keluar Jumat sama Geral sepertinya berasa ada yang kurang. Maka tadi gue keluar sama Dito. Rencananya mau ngajak Yan dan Geral juga tapi masing-masing enggak bisa, jadilah gue tadi nge'date' bareng Dito hehehe.


Nyampe di Plaza Indonesia udah jam setengah 11-an, ketemu Dito di Periplus, dan katanya Dito laper. Gue langsung ngajak makan di Piza e Birra (yang kata Dito artinya adalah Pizza and Beer).


Enak juga!! Hehehehe...atas rekomendasi Geral nih. Dan sepertinya lebih murah dari Pizza Boutique tempat gue biasa makan.


Tadi pesen apa ya? Yang pasti pesen 2 macam. Pizza dan Calzone. Kalo kata Dito, Pizza-nya memiliki rasa yang aneh (maksudnya tidak lazim) tapi enak (ayo kayak apa coba hehehe) dan Calzone-nya kata Dito enak banget. Kalo gue malah kebalik. Pizzanya emang aneh (again, in a good way) sedangkan Calzone-nya berasa banget jamurnya. Enak juga sih, tapi jamurnya terlalu berasa. But overall, gue menikmati makan di Piza e Birra ini.

Pizza ...


Calzone


Setelah makan dan ngobrol, stop over di Aksara (karena tadi 'kan udah ke Periplus), kemudian ke Kinokuniya (sembari gue beli Famous Amos) dan sebelum menuju ke habitat alias Starbucks, mampir dulu di...Heavenly Blush. :)


Heavenly Blush adalah salah satu dari sekian banyak 'kedai' frozen yoghurt yang menjamur di Jakarta. Sebelum demam Sour Sally, sebenernya udah ada yang jualan froyo juga, tapi emang baru Sour Sally (bener gak ya?) yang membukanya seperti 'kedai' alias bisa duduk dan nongkrong.

Antara Heavenly Blush dan Sour Sally jelas ada bedanya. Gue enggak gitu merhatiin harga, tapi sepertinya Heavenly Blush agak lebih murah deh. Sari segi rasa, Heavenly Blush lebih berasa susu tanpa rasa 'sepet' layaknya yoghurt, sementara Sour Sally tetep berasa 'sepet' meskipun enggak terlalu berasa. Gue rasa perbedaan utamanya di susu. Heavenly Blush berasa banget susunya.

Bokap paling suka Heavenly Blush. Kenapa? Karena cuma Heavenly Blush yang punya yoghurt sugar free. Bukan non fat, tapi non sugar.

Maka tadi gue 'mengenalkan' Heavenly Blush pada Dito. Masing-masing pesen yang small aja...itupun udah agak kenyang gue.


Dan seperti biasa, karena udah bawa kamera (yang baterenya sekarat!) tetep kudu foto dulu lah ya hahahaha..


Selesai dari Heavenly Blush, kita mengarah ke Starbucks. Dito pesen coffee, sedangkan gue...duduk doang :) enggak lama abis itu kita pulang. Dan perjuangan gue pun abis itu dimulai...

Thanks ya To for accompanying me :)

Friday, March 26, 2010

Ketika Ze Masak

Dengan badan yang tidak bisa dibilang kecil, udah pasti dong gue doyan makan. Dan ternyata selain makan, gue juga demen masak. Memasak merupakan sebuah kemampuan yang kudu harus mesti bisa gue lakukan. Namanya juga anak cewek. Dan bokap gue menekankan banget kalo gue dan adek gue, yang juga cewek, kudu mesti harus bisa masak. Malahan, dari kecil gue dan adek gue udah di'training' masak dengan dikirim khusus ke rumah Oma gue hahaha. Dan yah pengalaman 'belajar' masak di rumah Oma jelas bikin gue dan Tz jadi lebih mudah bergaul dengan dapur.

Di rumah, yang jago masak itu bokap. Yup, bokap. Bukan nyokap. Malah bisa dibilang, nyokap enggak bisa masak. Bisa lah dikit-dikit, tapi bokap lebih jago. Mungkin karena Oma (dari bokap) dulu jualan kue dan les bikin kue, soalnya semua anak-anak Oma gue pada jago masak semua (kecuali Om gue yang belum ketauan kemampuannya karena istrinya jago masak).

Nah, begitu gue ikut Pramuka, mau enggak mau kudu bisa masak. Terutama untuk persiapan kemping. Dan pelajaran memasak yang paling gue 'takuti' itu tidak lain dan tidak bukan adalah memasak nasi. Perlu belajar dulu tuh gue. Nanya nyokap (memasak nasi ini basic, jadi nyokap bisa), nanya bokap juga. Apalagi masak nasinya pake dandang, enggak pake rice cooker. Ya iya lah. Namanya juga kemping, mana ada listrik? Dan jaman dulu (buset dah jaman dulu?!) yang namanya makan waktu kemping, kudu disiapin ndiri, enggak kayak anak-anak sekarang yang makannya udah disiapin (suer bikin iri!!!).

So...gue bisa dibilang bisalah masak. Enggak jago-jago amat, tapi juga enggak bego-bego amat. Cuma ya...emang harus diakui, berhubung jarang ke pasar, maka pengetahuan gue bahan-bahan mentah itu rendah banget. Sampe sekarang gue masih rada gak jelas dengan yang namanya kunyit, lengkoas, laos, jahe, dsb-nya. Apalagi daun-daun-an. Wah...bego lah. Mau daun bayam, kangkung, caisim, kaylan, dsbnya...wah bodoh lah. Kalo bayam dan kangkung sih bisa lah bedain, tapi tetep aja pake nanya untuk memastikan. Daripada salah coba?

Selain itu, kemampuan 'kira-kira' gue itu jelek. Gue enggak bisa mengukur. Kecuali emang ada takarannya. Kalo enggak, ya berabe. Tz dan nyokap suka bilang, gue masak itu untuk satu asrama, karena selalu dalam jumlah besar dan berlebih. Mungkin karena takut kurang jadi malah berlebih :)

Nah, hari ini gue masak. Masak jamur goreng tepung dan bikin bakwan jagung.

Dua menu itu, menu ringan. Dua-duanya diajarin oleh Sufei. Kalo yang jamur pas ketemu, sedangkan bakwan jagung dilakukan melalui YM hahaha.

Dan akhirnya jadi juga dua makan itu!

Jamur goreng tepung

Yang sebelah kiri dan sebelah kanan berbeda. Yang kanan, langsung dilumuri bumbu (tepung Kobe plus 2 putih telor), lalu langsung goreng. Yang kiri, sesudah dilumuri bumbu yang pake putih telor, dibalur lagi sama tepung Kobe-nya, jadi "dibungkus" 2 kali. Gue doyang yang kanan ternyata, karena enggak gitu asin.

Sedangkan yang kedua adalah Bakwan Jagung


Yeay!!! Akhirnya bisa juga bikin hehehehe...sekali lagi, panduan cara masak maupun bahan-bahannya disampaikan melalui YM oleh Sufei hehehehe. Jadi juga ini masakan meskipun diinstruksikan dari Bali :)

Kata Sufei sih gue masaknya lama. Hehehehe iya juga sih. Lama pas di bagian udang. Karena udangnya gue bersihin dulu satu-satu, kotoran di punggunnya gue buang dulu. Sampe capek. Udah gitu, berhubung gue enggak mau ngicip adonannya, alhasil ngicipnya di bakwan yang udah jadi. Gue goreng dulu dikit-dikit, terus diicip. Kalo kurang garam, tambah. Keluhannya dari awal emang kurang rasa sih. Tapi abis itu kemudian berhasil hehehe.

So...berhubung udah bisa bikin bakwan jagung dan itu tepung masih banyak, jagung juga masih ada (cuma udang yang gak ada) mungkin next time gue bakal bikin lagi tuh bakwan. Enaknya pake apa lagi ya isinya?

Puas juga gue masak hari ini :)

Seandainya Sufei tadi ada webcam, or tadi ada laptop yang pake webcam, bakal lebih seru lagi kali ya hahaha...

Thursday, March 25, 2010

Okuribito (2008)


Ini "bahan" lama. Udah pernah gue bahal di posting-an gue sebelumnya. Tapi judulnya Departures bukan Okuribito.

Gara-gara ngebahas cerita ini sama Dito, among other things, alhasil gue tiba-tiba jadi kepingin nonton ulang ini film. Maka jadilah tadi gue nonton ulang film Okuribito ini. Sekali lagi, ini film recommended banget, apalagi bagi penggemar film Jepang. Kalau bukan penggemar film Jepang pun, ini film boleh lah di jadikan salah satu pilihan film yang hendak ditonton.

Tadi pas nonton, meskipun harus diakui enggak ditonton secara runut, ada beberapa bagian yang gue skip, tapi pas adegan yang menjelaskan/menggambarkan tentang inti film ini, tetep aja gue nangis sampe sesenggukkan.

Sama seperti yang pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gak nyesel banget nonton ini film dan kemudian mencari soundtracknya. Dua-duanya indah!

Friday, March 19, 2010

Family Vacation

Akhirnya jadi juga kita semua pergi ke Bandung. Gara-garanya nyokap "iri" dengan kegiatan gue dan temen-temen yang kemaren itu ke Bandung dan mampir ke Kawah Putih. Alhasil, sengaja cari hari dimana kita berempat bisa pergi dan jalan bareng. Sempet nyaris gagal karena peristiwa longsor di Ciwidey kemaren itu, tapi ternyata daerah Kawah Putih dan Situpatengan baik-baik saja.

Jadi, tadi around 2 pm jalan dari rumah tapi pake mampir kanan kiri dulu menyelesaikan hal-hal yang perlu diberesin. Sekitar jam 3 lewat, udah di tol menuju Bandung. Kena ujan dan kemudian kabut, kemudian ujan lagi selama di tol dan sepanjang perjalanan menuju Ciwidey terus diguyur ujan.

Sampe di penginapan, Sindang Reret kita milih untuk makan malam dulu. Sempet ada kejadian lucu, pas di mobil sempet ngebahas mau brenti untuk makan dimana. Apa tetep di Sindang Reret (karena penginapannya ada resto-nya juga) atau mau makan di daerah...Ciganea. Selagi merundingkan mau makan dimana, tiba-tiba Tz celetuk, pada gak pantang ya hari ini? Langsung pada teriak semua. Hahahaha....lupa kalo hari ini tuh hari Jumat, harinya pantang. Untung aja hari ini gue belum makan daging sama sekali :) Alhasil diputuskan untuk makan di Sindang Reret aja.

Tiba di Sindang Reret around 7 pm. Tempat makannya enak dan makanannya lumayan lah. Dibilang mahal banget juga enggak. Sayang masih ujan, jadi kurang puas foto-fotonya :)

Sekarang udah masuk kamar, udah kelar mandi. Bokap dan Tz dah tidur, nyokap masih baca buku dan gue masih online. Menghabiskan sisa waktu Telkomsel Flash. Sekarang tinggal gue yang bingung mau ngapain lagi...

See you tomorrow..

Thursday, March 18, 2010

Demi Buaya Darat




Semua diawali dari berita Crocs diskon up to 70%. Entah mengapa orang pada tergila-gila pada Crocs, sendal or sepatu dari bahan karet ini. Apalagi waktu pertama kali muncul 'kan yang bentuknya kayak sepatu terompah orang Belanda itu. Yang menurut gue tampilannya tidak menarik. Belum lagi harganya yang 600 ribu lebih. Lebih baik langsung beli Nike or Reebok. Tapi toh tetep aja orang berbondong-bondong mencari dan beli Crocs. Baru kemudian model-modelnya lebih manis, lebih cantik, dan yah gue pun menjadi ikut tertarik, tapi langsung kembali terpental jauh setelah melihat harganya yang ajubile mahalnya!!


Awalnya gue enggak tau menau soal Crocs diskon ini. Sampe kemudian Sufei sms dan berkoar-koar soal Crocs diskon. Gue kira mah diskon seperti biasa. Gak taunya...ckckckc...bener-bener deh orang Jakarta ya.

So...berhubung Sufei "meminta" (apa sih yang gak gue lakuin demi my beloved darling friend Lie Siok Hui ini hehehehe) jadilah gue terjun ke lapangan, melakukan inspeksi hihihihi...

Nyokap udah bilang, lebih baik enggak usah pergi, karena ngantrinya dari lantai 1 padahal tokonya di lantai 8. Jujur, gue langsung jiper. Sinting bener! Dan gue pikir, antrian itu adalah antrian untuk BAYAR. Ternyata, mau liat pun udah antri! WHAT???

Maka tadi pagi (or mungkin kemaren kali ya?) gue berangkat pagi, ikut turun di kantor nyokap di Sampoerna Strategic Square, kemudian lanjut naik taksi ke Senayan City. Kebetulan gue sekalian janjian ketemu sama Dito jam 8 di Starbucks.

Gue nyampe di Sency aroun 7.10 am gitu...eh Starbucksnya belum buka :( hiks... kena deh kudu nunggu di depan, yang gue habiskan dengan mainan HP (sampe baterenya abis pas gue pulang around 14.30).

Sebenernya, Starbucks udah buka jam 7 am, tapi mereka 'kan kudu siap-siap dulu, jadi ya gue juga enggak masuk dulu lah. Baru sekitar 7.20-an mereka siap brewing, dan kebetulan udah ada ibu-ibu yang masih muda udah masuk dan kemudian pesen minum. Berhubung itu ibu-ibu pesen, maka gue masuk dan duduk di dalem, tapi belum pesen apa-apa, karena masih asik berkutat dengan hp. Baru setelah para baristanya kelar dan lampu di counter nyala baru gue pesen.

Sembari nunggu minuman, tiba-tiba muncul sekitar 5 bule, 3 cewek 2 cowok yang tebakan gue sih model, karena sepertinya Guess lagi mau ada acara. Yang 2 cowok itu ganteng!! Sayang banget posisi duduk gue enggak tepat, gue jadinya membelakangi mereka, tapi yah tetep lah usaha untuk foto hahaha...


Enggak lama, Dito dateng dan dimulailah acara ngobrol kita, ngalur ngidul gak karuan. Mostly sih Dito menanyakan soal gosip-gosip terbaru, yang sayangnya gue tidak punya karena looks like we're all in our separate ways...jadi enggak banyak berita yang bisa gue bagi.

Ketika rolling door yang menuju Debenhams dibuka, baru lah gue dan Dito berjalan menuju area Crocs yang dituju tersebut. Paling atas bo! Dan di sinilah, kami berdua menjadi saksi mata akan "kegilaan" warga Jakarta demi barang diskon hahahaha. Dito sendiri heran, karena ini kan hari Kamis, hari kerja dan baru jam 10 pula, tapi kok ya RAME BENER!!!

Jadi, rupanya ada semacam beberapa perhentian bagi para calon pembeli. Semakin cepat anda datang, tentu posisi anda semakin dekat dengan toko. Pas gue dan Dito nyampe, bisa dibilang kita dateng dapat posisi cukup depan, karena paling enggak kita (kalo mau) nunggu berada di lantai yang sama.


Gambar diatas bisa dibilang merupakan perhentian ketiga, sebelum masuk ke area toko. Sementara di sebelah kiri gue (di sebelah kiri foto) itu ada sederet kursi lagi yang juga berfungsi sebagai tempat untuk menunggu.


And as you can see...orang-orang itu kemudian bergerak, pindah ke perhentian kedua ...

Menanti untuk masuk ke perhentian terakhir...tepat di atas tulisan Urban Kitchen itu, sebelum kemudian naik eskalator (ada di belakang petugas keamanan itu) dan nyampe deh ke area penjualan.


So far, tebakan gue dan Dito sih gitu. Dan sekali, tinggal gue dan Dito yang geleng-geleng kepala. Sebenernya, cukup cepet juga sih pergerakan antrian ini, enggak nunggu terlalu berlama-lama juga lah. Tapi, ngeliat jumlah orang yang udah banyaknya seperti itu, gue sih males. Ya ampun, mau ngeliat doang aja udah kudu ngantri, lha gimana bayar ya? Lagian...ngantri kok ya sendal? Mending mah sembako. Orang kalo mau makan Hokben or Pizza ngantri aja bokap gue ngamuk apalagi ngantri sendal.

Alhasil kita malah milih ke lantai dasar dan Dito lagi pingin makan Sour Sally...maka jadilah kita berdua duduk di situ makan yoghurt sambil kembali ngobrol ngalur ngidul.


Berhubung jam 11 Dito kudu ke Kuningan, maka ketika jam menunjukkan pukul 11 kita pun keluar. Gue didrop di PS, sementara Dito lanjut. Dan dimulailah "perburuan" pribadi gue dimulai hahaha...

Masih banyak yang mau gue ceritain sih...apalagi soal buku-buku yang gue beli. But I think I have to stop.

Besok mau ada family vacation ke Bandung :) dan gue mau prepare lagu sepanjang perjalanan, mengantisipasi mendengarkan lagu-lagu oldies atau Richard Clayderman atau Tantowi Yahya.

Cerita kunjungan ke Kinokuniya, Periplus, balik ke Kinokuniya dan Famous Amos rasanya harus ditulis lain kali. Yang pasti sih, gue kalo ke toko buku (any bookstores) bawaannya mau kalap dan semua mau dibeli karena takut kehabisan. Tadi juga gitu sih...nyaris. Tapi berhasil berhenti :)

So... until next time. Today was...quite amazing I think, with all the "excitement" :).

Wednesday, March 17, 2010

Heist Society - Ally Carter


Pernah denger yang namanya audiobook? Buku tapi dalam bentuk audio. Biasanya diperuntukkan bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam hal membaca. Untuk buku-buku di Indonesia, audiobook sangat susah ditemui. Bukan saja jarang tapi cara memperolehnya pun juga hanya orang-orang tertentu yang tahu. Tapi untuk buku-buku luar, dalam Bahasa Inggris terutama, jumlah audiobook kurang lebih sama dengan jumlah buku yang muncul dalam bentuk hardcopy (berbentuk buku).

Gue tahu istilah audiobook dari nyokap (dari mana lagi coba?) dan waktu itu nyokap cuma bilang kalo audiobook itu enggak enak. Kalo dipikir-pikir, ya emang enggak salah juga sih. Kalo kita udah biasa baca buku sendiri, rasanya 'kan rada aneh ngedengerin orang ngebacain itu buku ke kita. Jadi kayak waktu kecil dulu dibacain cerita. Alhasil, gue menghindari audiobooks. Meskipun kadang gue penasaran sih, kayak apa sih audiobook itu? Apalagi harganya enggak murah juga.

Pada suatu hari, seperti biasa gue browsing amazon.com ngecek buku-buku baru dan I came across with a book by Ally Carter, Heist Society. Entah mengapa, gue tertarik dengan buku itu. Mungkin cover depannya yang membuat gue tertarik. I know...I know...don't just a book by its cover, but I can't help it :) dan setelah ngebaca sinopsis singkatnya, gue jadi makin suka. Thus the searching began...

Apa mau dikata, yang gue ketemuin malah versi audiobooknya. Kali ini gue nekat unduh, apalagi karena ternyata file-nya tidak dipecah menjadi beberapa bagian (gue pernah nemu yang dipecah jadi 6 parts, gila, album 2 discs aja enggak sampe segitunya!). Maka jadilah itu file gue unduh.

File gue unduh Februari, tapi baru gue dengerin kemaren dan selesai tadi siang.

UNBELIEVABLE!!!

I LOVE IT!!

Not just the story, but also with the way the narrator read the story! Sebenernya sih, begitu selesai unduh gue langsung iseng dengerin dan setelah beberapa alinea (tebakan gue) dan masuk ke bagian percakapan, gue udah langsung tertarik. Gimana tidak, sang narator bisa merubah-rubah suaranya sesuai dengan tokoh/karakter di buku, jadi kita yang denger tuh enggak bingung dan bisa langsung ngebayangin adegan-adegan di buku itu. Apalagi, beberapa tokoh di buku ini memang memiliki aksen, dan sang narator bisa membuat aksen tersebut.

Dan sekarang gue lagi keranjingan audiobook. Hopefully I can find good narrator.

Belum pernah gue baca buku dengan gambaran sejelas ini di kepala gue. Serasa nonton film tapi tanpa gambar just the audio hihihi. And guess what, Heist Society mau dibikin film-nya! Yes!!

So...Heist Society bercerita tentang...

When Katarina Bishop was three, her parents took her on a trip to the Louvre...to case it. For her seventh birthday, Katarina and her Uncle Eddie traveled to Austria...to steal the crown jewels. When Kat turned fifteen, she planned a con of her own--scamming her way into the best boarding school in the country, determined to leave the family business behind. Unfortunately, leaving "the life" for a normal life proves harder than she'd expected. Soon, Kat's friend and former co-conspirator, Hale, appears out of nowhere to bring her back into the world she tried so hard to escape. But he has good reason: a powerful mobster has been robbed of his priceless art collection and wants to retrieve it. Only a master thief could have pulled this job, and Kat's father isn't just on the suspect list, he is the list. Caught between Interpol and a far more deadly enemy, Kat's dad needs her help. For Kat there is only one solution: track down the paintings and steal them back. So what if it's a spectacularly impossible job? She's got two weeks, a teenage crew, and hopefully just enough talent to pull off the biggest heist in history--or at least her family's (very crooked) history.

Bayangkan film Ocean's 11 (12 dan 13), kemudian Leverage, dan bahkan Thomas Crown Affair, tapi dalam versi remaja. Seperti itulah Heist Society ini.

Menceritakan tentang perjalanan dan petualangan Kat beserta Hale dan rekan-rekannya dalam usaha untuk mencuri kembali 5 (LIMA) lukisan dari museum yang terjaga ketak.

Bukan itu saja, Kat juga harus berurusan dengan pilihan hidupnya, keluarganya, dan profesinya sebagai pencuri. And don't forget, add some a little romance along the way :)

Gue suka banget sama ini buku. Suka sama jalan ceritanya: lucu, tegang, romantis; suka sama tokoh-tokohnya: Hale, Uncle Eddie, even Gabrielle; dan menikmati cara penulisan cerita Ally Carter ini.

Sekarang, tinggal nunggu paperback-nya muncul :)

Tuesday, March 16, 2010

"MY" Music Blog

Woohoo!!

:D

Just found out that one of my fave music blog is back again hehhehe...emang gue yang telat tahu sih...ini pun juga tau secara tidak sengaja. Hihihihi...

You can found the link on the right side bar...along with other music blogs.

YES!!

Monday, March 15, 2010

Beastly - Alex Flinn



Buat ukuran gue, menghabiskan waktu tanpa buku dan/atau internet itu merupakan hal yang bisa dibilang tidak lazim, tapi berhubung beberapa waktu kemaren itu memang sedang tenggelam dalam kegiatan kristik, jadi memang buku dan/atau internet sempet terlupakan. Maklum, kristik, baca buku, dan online adalah kegiatan yang tidak cukup dilakukan hanya 1 jam atau 2 jam. At least menurut perhitungan gue sih seperti itu.

Setelah sempat mengalami sedikit kejenuhan dengan kristik, 2 hari terakhir ini gue menghabiskan waktu dengan kembali membaca buku lama. Setelah puas dengan dua buku, tiba-tiba teringat akan satu buku yang gue beli secara 'impulsif' di Periplus Plaza Indonesia kemaren itu. Judulnya Beastly, by Alex Flinn.

As always, udah cukup lama liat ini covernya, termasuk di Amazon.com, tapi tidak tertarik baca karena sudah bisa ditebak, ceritanya tentang Beauty & The Beast. Another version of Beauty and the Beast. Dan jujur gue agak ragu. Tapi kemaren di Periplus menjadi tertarik karena, selain tidak ada buku lain, ada tulisan di covernya "now a major motion picture. READ IT before you SEE IT!" Tulisan begitu biasanya cukup ampuh buat gue. Kecuali untuk buku yang emang jelas-jelas enggak bakal gue baca, seperti Atonement atau My Sister's Keeper.

Beli hari Rabu, the day I saw Alice in Wonderland, baru gue baca hari Minggu kemaren, Minggu malam, sampe nyaris jam setengah 5 pagi, dan langsung gue selesaiin tadi pagi around 9, mungkin, dan sekarang gue nulis reviewnya :)

Oh, harus gue akui, andai gue tidak sengaja melihat trailer-nya di apple.com, mungkin gue tidak tertarik untuk baca ini novel. Klik ini "Beastly" untuk liat trailer-nya di apple.com.

So...seperti yang udah ditebak, Beastly merupakan retelling of The Beauty and the Beast.

I am a beast.

A beast. Not quite wolf or bear, gorilla or dog but a horrible new creature who walks upright—a creature with fangs and claws and hair springing from every pore. I am a monster.

You think I'm talking fairy tales? No way. The place is New York City. The time is now. It's no deformity, no disease. And I'll stay this way forever—ruined—unless I can break the spell.

Yes, the spell, the one the witch in my English class cast on me. Why did she turn me into a beast who hides by day and prowls by night? I'll tell you. I'll tell you how I used to be Kyle Kingsbury, the guy you wished you were, with money, perfect looks, and the perfect life. And then, I'll tell you how I became perfectly . . . beastly.


Jika biasanya cerita Beauty and the Beast lebih banyak menyoroti 'kesialan' Beauty, tentang bagaimana ia akhirnya bisa berada di tempat the Beast, maka Beastly lebih menyoroti the Beast, tentang bagaimana ia bisa menjadi the Beast, bagaimana ia 'menyesuaikan diri', tentang bagaimana akhirnya ia belajar dari situasi yang ia alami, dan tentang bagaimana akhirnya dia bisa menerima dirinya, situasinya, lingkungannya, dan kemudian jatuh cinta pada Beauty.

Enggak perlu dibilang, semua juga udah bisa nebak kalo ceritanya pasti happy end. Dan ceritanyapun juga sederhana, tanpa terlalu banyak twist. Secara grafik, ceritanya memang jadi terkesan datar. Tidak ada situasi yang bener-bener bikin deg-deg-an, atau situasi yang bikin down, atau situasi yang bikin bener-bener happy. Yang ada 'cuma' beberapa percikan kecil-kecil, tapi toh meskipun kecil, percikan-percikan itu ada dan terasa. Cukup lah untuk membuat gue ikutan keki dengan sosok Kyle Kingsbury, atau ikutan nyengir begitu Kyle berhasil bicara pada 'Beauty', dan lega/seneng/sedih ketika akhirnya Kyle memutuskan untuk melepaskan 'Beauty'.

Yang membuat gue menilai bahwa ini buku bagus adalah, cerita ini mengalir dengan mudah. Ditambah lagi, buku ini diawali dengan group chatting of Unexpected Changes, and guess who joined in that group? You have a mermaid who longed to be a human (SilentMaid), a prince who turned into a frog (Froggie), A man who turned into a bear (Grizzlyguy), and our own Beast (BeastNYC).

Chatting mereka begitu membuat gue kaget dan tertawa karena lucu. Paling lucu Froggie, karena dia ngetiknya disingkat-singkat karena buat dia susah ngetik dengan "webbed feet" as he put it. Apalagi kemudian dia bilang hal tersusah menjadi kodok adalah karena soal makan lalat, karena dia enggak suka lalat. Hahahaha...that part of the story is funny!

Selain itu, bagian ketika 'Beauty' akhirnya masuk kedalam kehidupan the Beasty yang membuat gue juga suka. I didn't see it coming. Tapi ketika akhirnya terjadi, well..gue sedikit kaget dan langsung teringat akan film Disney (satu-satunya referensi Beauty and the Beast yang gue punya cuma dari Disney), dan baru ngeh kalo buku yang gue baca ini adalah cerita versi lain Beauty and the Beast, jadi pasti si 'Beauty' lambat laun akan muncul. Gue cuma enggak nyangka kalo "cara masuknya" seperti itu. I kinda like it.

Di satu sisi, setelah gue pikir-pikir, gue agak kurang puas dengan hubungan antara 'Beauty' dan the Beast di buku ini. Menurut gue terlalu singkat. Well...enggak pendek-pendek amat sih, tapi rasanya kurang dalam, penggambaran hubungan mereka kurang 'lama' (?).

Hal lainnya adalah tidak adanya situasi konflik yang membuat pembaca (dalam hal ini gue) menjadi tegang. Sekali lagi, yang ada cuma percikan sedikit.

Dan, mungkin, along the way, cukup ada beberapa pertanyaan-pertanyaan, keanehan, kejanggalan, yang ditemukan (gue sih enggak menemukan, but you know me...anything is possible in my opinion, no matter how imposibble they were).

Tapi, meskipun begitu, ini buku tetap enak dibaca, terutama buat pecinta kisah Beauty and the Beast, dan penggemar cerita YA romance. Yang pasti, gue sih enggak nyesel beli ini buku dan ceritanya membuat gue tertarik, sampe pingin langsung baca sampai selesai. Karena akhirnya Kyle akhirnya learned his lessons, berubah kembali menjadi dirinya sendiri, he gets 'Beauty' to be his girl, and everyone live happily ever after :)

Friday, March 12, 2010

The Blind Side


Another movie I just watched, The Blind Side. Tertarik sejak lihat trailer-nya, tambah tertarik setelah tahu Sandra Bullock menang Oscar atas perannya di film ini. Meskipun posternya menggambarkan individu dengan pakaian American football, film ini tidak bercerita tentang olahraga, tapi memang permainan tersebut memiliki peranan.

The Blind Side bercerita tentang ...the story of Michael Oher, a homeless African-American youngster from a broken home, taken in by the Touhys, a well-to-do white family who help him fulfill his potential. At the same time, Oher's presence in the Touhys' lives leads them to some insightful self-discoveries of their own. Living in his new environment, the teen faces a completely different set of challenges to overcome. As a football player and student, Oher works hard and, with the help of his coaches and adopted family, becomes an All-American offensive left tackle.

Ceritanya sederhana, tapi dimainkan dan difilm-kan dengan bagus, sehingga tidak terlalu cheesy atau cetek, tidak berkesan menggurui, The Touhys sendiri juga tidak digambarkan sebagai keluarga yang terlalu baik atau sempurna.

Gak banyak yang bisa gue 'ceritakan', selain bilang bahwa ini film bagus, menarik untuk ditonton, dan menyentuh. Dan lagi, ini film memang based on true story, membuat film ini menjadi lebih menarik untuk ditonton :D


Alice


Rabu kemaren, akhirnya jadi juga nonton Alice in Wonderland, karya Tim Burton. Milih nonton yang reguler, bukan yang 3D karena masalah waktu dan tempat. Hari itu memang gue dan Yosi sempet jalan dulu ke Mal Ambassador, demi hunting toko kristik. Well...I still prefer HobbyCraft, tapi toh tetep aja beli buku kristik dan polanya masing-masing 1. Kemudian mampir ke FO yang ada di situ, nemu kaos dan celana 7/8...so it's not so wasted.

Nonton Alice di Plaza Indonesia. Pingin nonton di Studio XXI, ternyata yang main 3D-nya, sedangkan untuk 3D, I really prefer Blitzmegaplex. Ada Grani sih...tapi gak deh...males. So we ended up at Plaza Indonesia.



Alice in Wonderland. Meskipun sama-sama 'buatan' Disney, tapi Alice in Wonderland ini bener-bener jauh berbeda dari yang animasi dulu. It's Tim Burton all over it. Alice bener-bener berada di wonderland. Tata artistiknya memang harus diacungi jempol, bahkan Gerrie yang tadinya tidak berminat nonton Alice, akhirnya nonton yang memberi nilai bagus untuk film ini.

One thing for sure, menurut gue, film ini tidak se-sederhana yang orang bayangkan. Yah sebenernya, bukunya pun tidak se-sederhana versi Disney. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Alice dan seluruh tokoh Wonderland menurut gue sih, punya makna yang lebih dalam dan harusnya bisa memancing tawa. Tapi, mungkin, karena kalimat-kalimat tersebut dalam bahasa inggris dan teks-nya agak sedikit ngaco plus dengan cepat menghilang, jadi jokes-nya enggak nyampe. Dan teks yang sedikit ngaco itu cukup menganggu. Untung cuma beberapa doang. Jadi ya nontonya kudu listening juga. Dan rasanya agak sedikit membantu kalo udah pernah nonton/baca Alice in Wonderland yang pertama, waktu dia masih kecil, jadi sekurang-kurangnya nyambung dengan beberapa adegan di film.

You're right, Stayn. It is far better to be feared than loved.

Kalo orang banyak menantikan peran Johnny Depp, gue menantikan peran Helena Bonham Carter, The Red Queen :D, with her famous line, "Off with their heads!". Plus, di film ini kepalanya The Red Queen dibikin super gede banget, beda dari yang lain. Dan seperti biasa, Helena Bonham Carter memang keren banget di sini!! Mantap lah!

Ada 1 quote dari film, mengenai Red Queen ini tapi gue lupa. Something like, "Down with the big head!" Can anyone tell me what was it?



Tokoh kedua yang gue nanti adalah The White Queen, diperankan oleh Anne Hathaway. The White Queen ini bener-bener...lebay :D mengingatkan gue pada Snow White di Disney LIVE! yang pernah gue tonton waktu dulu. Lebay banget sih enggak, tapi ya emang lebay hahahaha...

Last but not least, Mad Hatter.


Tokoh yang satu ini...memang benar-benar gila. Gue gak gitu suka dengan Mad Hatter, karena kegilaan-nya yang terlalu ekstrim menurut gue. Tapi Johnny Depp emang keren sih di sini, dan di bagian akhir, gue bisa merasakan perasaan sayang Hatter ke Alice.

Cerita Alice in Wonderland yang ini memang berbeda dari biasanya. Kali ini Alice udah besar dan kembali lagi ke Wonderland. Petualangan Alice kali ini berbeda and yet somehow serupa dengan kehidupan nyatanya. Di film ini, Alice menyadari bahwa petualangan yang dulu ia alami sewaktu kecil, bukannya mimpi tapi merupakan kisah nyata.

Overall menurut gue ini film meskipun ada saat-saatnya 'membingungkan', tapi toh tetap menarik untuk ditonton, terutama dari segi artistiknya, weird tapi keren :D gue suka banget sama semua baju yang dipake Alice. Gue sebenernya mengharapkan lebih, karena semua iklan/promosi menggambarkan film ini heboh, tapi toh tetep tidak mengecewakan ini film. Sekali lagi, it's Burton all over it :)

Enggak rugi juga lah nonton ini film. Seandainya ada kesempatan lagi, gue sih penasaran sama 3D-nya :)

And now, I leave you all with Alice's Theme from Danny Elfman and Alice from Avril Lavigne. Dua-duanya menarik untuk didengarkan :)




MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com