Showing posts with label cold case. Show all posts
Showing posts with label cold case. Show all posts

Sunday, April 25, 2010

The Closer & Cold Case

Entah sejak kapan gue tertarik dengan serial tv tentang police procedural. Mungkin gara-gara nonton CSI: Crime Scene Investigation? Bicara soal CSI, awalnya emang enggak suka, tapi kemudian malah menjadi tergila-gila, melebihi adik gue, yang waktu itu emang lagi seneng banget sama tuh seri. Tapi, di saat adek gue dah mulai bosen, gue malah yang tergila-gila. Hal yang sepertinya sering banget terjadi.

Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, dari dulu pun udah tertarik dengan cerita-cerita detektif. Inget banget baca Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Nancy Drew, bahkan Trio Detektif yang membuat gue kemudian menjadi terkesima dengan seorang Alfred Hitchcock. There's something about all those detectives :)

Jadi rasanya enggak terlalu aneh kalo kemudian gue tertarik dengan film tv/drama tv tentang polisi/crime. Dari yang berat seperti CSI dan segala franchise-nya, termasuk CSI: Miami dan CSI: NY, kemudian ada...hm...apa ya...Bones, Criminal Minds lalu ada LIFE, The Mentalist, Numbers yang menurut temen gak masuk akal, sampe yang ringan seperti Castle dan White Collar, tapi yang lagi asik asik ditonton sekarang adalah The Closer dan Cold Case.

Tapi yang aneh, gue enggak tertarik dengan Dexter, NYPD dan segala franchise-nya, bahkan NCIS pun gue enggak tertarik. Mungkin karena jalan ceritanya kurang menarik...I don't know.

The Closer merupakan cerita 'biasa' tentang divisi kepolisian di L. A., Priority Homicide Division. Nothing special, cuma tokoh utamanya Deputy Chief Brenda Leigh Johnson, diperankan oleh Kyra Sedgwick, istrinya Kevin Bacon, emang tokoh yang...WOW banget deh. Gue suka sama tokohnya, suka sama anak buahnya, dan suka dengan kasus-kasus yang mereka pecahkan.


Sekarang lagi nonton season 3-nya...dan so far ini cerita dah bikin gue ketawa beberapa kali. Bukan karena ceritanya lucu, tapi ada situasi di mana cerita-ceritanya memang bikin gue mau enggak mau tertawa. Para detektif itu memang menjadi hiburan tersendiri buat gue. :)


Next adalah Cold Case, another one from Jerry Bruckheimer. Ini film seri bener-bener lain daripada yang lain. Meskipun menurut wikipedia ada lagi film seri yang serupa, tapi tetep aja menurut gue Cold Case berbeda.


Sesuai dengan judulnya Cold Case, maka bisa dikatakan bahwa drama seri ini bercerita tentang kasus-kasus yang memang sudah lama dan memang tidak aktif lagi. Kasus tersebut belum selesai diselidiki, biasanya karena kurang petunjuk, tapi ada beberapa kasus yang kembali dibuka untuk kembali diselidiki, biasanya karena muncul petunjuk atau saksi baru.

Pertama kali liat Cold Case secara tidak sengaja di Indosiar malem-malem dan sejak itu mulai dicari enggak ketemu lagi. Sempet lupa sama film tersebut, tapi gue enggak pernah lupa dan akhirnya iseng cari info dan ketemu. Enggak nyangka kalo judulnya adalah Cold Case karena sempet beberapa kali ngeliat di Mangga Dua hahaha...tapi berhubung udah sampe sekian season, jadi rada males untuk nonton. Sampe suatu kali nekat, seperti biasa, untuk beli season 1 dan kemudian as they all say...the rest is history.


Cerita Cold Case selalu dimulai dengan sepenggal kehidupan korban, kemudian saat korban meninggal, dan kemudian maju ke tahun sekarang. Jadi misalkan korban hidup di tahun 60-an, maka digambarkan kehidupan korban pada tahun itu, tidak lama kemudian digambarkan korban meninggal, lalu beralih ke tahun sekarang, biasanya saat divisi homicide menemukan saksi/petunjuk baru, dan barulah penyelidikan dimulai.

Satu lagi yang gue suka adalah, pada saat divisi homicide melakukan penyelidikan, biasanya bertanya pada orang-orang yang mengenal korban, mereka selalu menampilkan 'now' and 'then' orang tersebut. Jadi misalkan pada saat diwawancara orang tersebut sudah tua, maka untuk sesaat ditampilkan penampilan orang tersebut pada waktu masih muda.

Dan pada saat closing, pada saat pelaku kejahatannya ditangkap, juga ditampilkan kondisi orang tersebut pada saat tua dan mudanya, kemudian biasanya salah satu anggota divisi homicide akan 'melihat' bayangan korban/para korban yang tersenyum, orang-orang terdekat korban yang tersenyum karena mendapat closure, dan selalu ditampilkan kondisi 'now' and 'then'.

Kadang memang terasa membosankan, karena hal tersebut selalu berulang. Tapi mungkin itu adalah ciri khas-nya Cold Case, menampilkan dimana masa lalu yang tidak pernah meninggalkan masa sekarang, serta menunjukkan bahwa there's always the price to pay for killing someone.

Cerita-cerita Cold Case sering banget bikin gue nangis terharu. Terutama kalo pada akhirnya keluarga korban menemukan closure, tahu dimana orang yang mereka kasihi selama ini kemana, dan tahu apa yang terjadi dengan mereka.

So far baru satu cerita yang bikin gue selalu nangis tiap kali gue nonton episode tersebut. Bener-bener bikin gue terharu dan tersentuh.

Buat yang penasaran, mungkin bisa baca wikipedia untuk lebih jelasnya :).

Monday, October 5, 2009

For Granted

Apa Bahasa Indonesianya "Take It for Granted"? Menganggap remeh? Menyia-nyiakan? Gue cuma tau, intinya adalah sikap ketika kita menganggap sesuatu ada karena memang sudah dari sana-nya sesuatu itu ada.

Gue baru aja nonton film seri "Cold Case", season 4. FYI, "Cold Case" gak jauh-jauh dari cerita polisi, tapi yang memang khusus mengurus cold case homicide , yang mengambil setting di Philadelphia. Masih punyanya Jerry Bruckheimer juga.

Salah satu episodenya mengambil setting tahun 1919, pada waktu Amrik sedang berusaha meloloskan undang-undang yang mengijinkan perempuan untuk ikut pemilu.

Bukan mau menjadi aktivis hak-hak perempuan, tapi kebayang gak sih kalo gak ada perjuangan para wanita-wanita ini, yang berhasil merubah sejarah. Di Amrik punya suffragette, para perempuan yang berjuang supaya kaum perempuan bisa ikutan pemilu, Indonesia punya R. A. Kartini.

Dulu waktu kuliah sempet ada pembahasan soal perbedaan gender jaman dahulu kala. Dibandingkan sekarang, bisa dibilang semua udah setara. Perempuan mau jadi apapun bisa. Dan gue, dengan bodohnya waktu itu sempet mikir dulu mengenai contoh bahwa perempuan saat ini pun mendapat perlakuan yang sama dengan para laki-kali.

Padahal contoh yang paling gampang, apalagi kalo bukan soal sekolah? Sekarang kesempatan untuk perempuan bersekolah udah terbuka lebar dan enggak ada tuh larangan bagi para perempuan untuk menimba ilmu.

Tapi, karena sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa yang namanya perempuan boleh bersekolah, alhasil jadi lupa bahwa DULU yang namanya PEMIKIRAN bahwa perempuan perlu dan harus bersekolah itu merupakan sesuatu yang dinilai tidak masuk akal, lucu, dan tidak mungkin terjadi.

But look at us now...apa jadinya para laki-laki itu tanpa kita, para perempuan :))
Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com