Showing posts with label karawaci. Show all posts
Showing posts with label karawaci. Show all posts

Sunday, December 14, 2008

Times Bookstore

Senin, tanggal 8 Desember kemaren, pas lagi libur Idul Adha, gue sama nyokap pergi ke Times Bookshop di Karawaci, Tangerang. Kenapa ke sana? Karena gue mau ngambil buku pesenan gue. Buku baru J. K. Rowling, The Tale of Beedle The Bard.



Sebenernya sih, gak perlu gue sampe pre-order tuh buku, karena ternyata semua toko buku besar, seperti Times, Kinokuniya, Periplus sampe Gramedia (dan mungkin juga Toko Gunung Agung) udah langsung menjual itu buku pas tanggal 4 Desember 2008, sesuai dengan jadwal rilis di luar (yang berarti kita lebih cepat 1 hari, iya 'kan?). Cuma, masih ada untungnya juga sih gue nekat pre-order di Times Bookshop ini, karena dapet diskon 10%, yang kalo gue bandingkan dengan Kinokuniya masih lebih murah Times. Periplus jual dengan harga kurang lebih sama dengan Times + diskon 10%. Yang agak bikin gondok adalah, ternyata Gramedia jual lebih murah, meskipun Times udah kasih diskon 10%. Hieh...ya sudah lah...

Nah...karena mau ngambil buku itulah, makanya gue dan nyokap ke Times Bookshop itu.

Sekarang, about Times Bookshop. Gue pertama kali mampir itu kalo gak salah....pas gue job terakhir, jadi mungkin tanggal 22 November 2008. Kedua kali bareng nyokap yang tanggal 8 Desember itu.


Jujur aja, gue punya high expectancy dengan toko buku ini. Soalnya, seinget gue, Times Bookshop itu udah ada sebelum Kinokuniya merajalela di Jakarta. Jadi, begitu Times menghilang dan sekarang muncul lagi di Lippo Karawaci, gue dah bertekad untuk bakal mengunjungi tuh toko buku. FYI, Times Bookshop ini ada persis di depan UPH. Dia punya bangunan sendiri, dua lantai, yang dindingnya dari kaca. Jadi bening gitu. Keren lah dari luar.


Dalemnya sendiri juga keren.

Pintu masuk ada di sebelah kiri dan itu daerah yang ijo-ijo itu emang merupakan tempat untuk duduk-duduk dan mirip kolam renang, jadi buat anak-anak bisa lari-lari di dalam kolam ijo itu. Sedangkan yang coklat-coklat itu, seperti gubuk-gubuk yang di dalemnya dialasin bantal-bantal. Kemaren waktu gue ke sana sih, sering dipake sama teenage untuk nongkrong, ngobrol, sambil buka laptop ngerjain tugas. Berkesan cozy banget.

Untuk display buku-bukunya...well menurut gue emang lain daripada yang lain. Instead of rows of book shelf yang dijejer rata, seperti kebanyakan toko buku, Times memilih untuk meletakan book shelfs mereka dengan bentuk S, jadi bergelombang gitu. Tetep ada beberapa bagian yang rata, tapi untuk rak yang berada di tengah ruangan, mostly sih bergelombang gitu.


Dari segi harga, buku-buku yang ada sedikit lebih murah dari Kinokuniya. Seinget gue sih cuma beda Rp 1000 sampe Rp 5000 lah. Tentu perbandingannya adalah dengan buku dari penerbit yang sama. Buat gue sih lumayan banget.

Tapi...

Sayang banget, pengaturan bukunya berantakan sekali!!

Okelah dia meletakan buku berdasarkan pengarang from A-Z dan biasanya yang dijadikan patokan adalah last name tuh pengarang. CUMA...ya ampun, gue bisa menemukan buku Nora Roberts di tiga rak yang berbeda!! Whats up with that??

Seharusnya, menurut gue, kalo emang dari awal mau membagi buku berdasarkan pengarang, ya udah. Letakkanlah itu Nora Roberts di tempat yang sama. Satu tempat.

Memang buku juga perlu dibagi based on genre, tapi 'kan abis itu tetep harus diatur berdasarkan nama pengarangnya. Ini enggak. Udah gak liat genre, nama pengarangnya pun juga seolah-olah dibagi ke dalam beberapa tempat.


Kalo di Kinokuniya 'kan langsung ketauan. Oh ini deretan cerita jenis chick flick, pengarangnya pun diatur berdasarkan alfabet. Berikutanya (seinget gue) mulai masuk romance, kembali pengarangnya diatur berdasarkan alfabet, dan seterusnya dan seterusnya. Gue jadi tahu, kemana gue harus mencari buku yang emang gue cari.

Di Times sepertinya enggak. Di bagian fiction, semua buku langsung dibagi berdasarkan nama pengarangnya. Dan sepertinya gak dilihat lagi, jenis bukunya. Gue bisa menemukan pengarang buku Marry Poppins, P. L. Tavers, di bagian buku fiksi. Padahal ya ampun!! Itu 'kan bagian buku anak-anak!

Buku Nora Roberts juga begitu. Seperti yang gue bilang, gue bisa menemukn tuh buku di tiga rak yang berbeda. Entah mengapa begitu. Tinggal gue aja yang geleng-geleng kepala.

Another dissapointment for me is bagian untuk buku-buku young adultnya sangat minim sekali. Hieh...mengecewakan...meskipun gue berhasil menemukan buku Trudi Canavan - The Magician Guild sih, tapi tetep aja.

So...kali kedua ini dateng bareng nyokap dan langsung melakukan browsing sendiri-sendiri. Gue masih mencoba mencari buku-buku yang pernah gue tulis di blog itu, tanpa hasil...sedih! Yang ada gue mencari buku-buku lain.

Kemudian sampailah gue dan nyokap di deretan buku Nora Roberts, yang in Death seriesnya udah gue punya semua (maksudnya adalah buku yang ada di Times itu gue dah punya semua). Kemudian nyokap nanya apakah ada lagi trilogi NR yang lengkap. Kebetulan ada, maka langsung beli lah 3 buku itu, yang merupakan rangkaian dari The Irish Trilogy. Di tangan gue sendiri udah ada River's End yang juga merupakan buku NR tapi berdiri sendiri. Kemudian my eyes stumble upon Divine Evil, another NR' book, tapi emang lebih tebel. Selagi menimbang-nimbang hendak membeli yang mana, nyokap bilang ya udah ambil aja tuh dua buku. Hehehehe...YES!

Mungkin perlu gue beritahu juga, bahwa selama gue dan nyokap mendiskusikan NR, ada pengumuman yang mengatakan bahwa all books are discounted 15%. Jadi gue rasa itu yang bikin emak gue rada kalap. Soalnya, biasanya dia paling banter beli dua buku. Or kalo emang trilogi ya beli tiga. Enggak nambah yang lain. Kecuali emang lagi ada keperluan, seperti waktu gue ngejer discount card QB, yang syaratnya harus belanja Rp 1 jt selama 30 hari, nah itu emang super kalap!

Anyway,....akhirnya lima buku ada di tangan, dan waktunya untuk pulang.

Di kassa, total around 474 sekian, kata kasirnya, kurang dikit (Rp 500 rb) untuk dapet voucher Rp 50 rb dan agenda. Jadilah nyokap nyari buku lagi. Kemudian baru bayar buku J. K. Rowling yang baru itu.

Terus...Times juga rupanya lagi ada...semacam kupon undian, jadilah gue dan nyokap ngisi. Semoga menang Ipod!!!!!

So...hari itu super puas bisa belanja buku begitu banyak...cuma yah alhasil gue gak boleh beli buku dulu selama kurang lebih sebulan ini...hihihi...gak papa lah, supaya next time gue ke Times or Kinokuniya or Periplus, jumlah buku yang baru jadi makin banyak.

Ahhh...books...how I love them soo much!!!

Sunday, November 30, 2008

Karawaci part...dua, deh!

Today, 29 November 2008, untuk ketiga kalinya gue kembali 'berkunjung' ke daerah Lippo Karawaci, Tangerang. Untuk ketiga kalinya, gue datang untuk mengetes anak-anak. Dan untuk ketiga kalinya gue mengunjungi daerah yang 'nyaris' tidak akan pernah gue kunjungi karena jauh-nya minta ampun dari Kelapa Gading Permai.

Yang berbeda adalah, Yosi hari ini telat bangun jadi gue baru berangkat dari rumah around 6.00 am, padahal biasanya 05.45 am. Tapi gak papa, karena hari Sabtu, jalanan kosong dan dalam waktu satu jam, gue udah tiba di depan sekolah.

Yang berbeda lagi adalah, lokasi sekolah dan anak-anak yang akan dites kali ini berbeda. Meskipun sama-sama Sekolah Dian Harapan (SDH), tempatnya kali ini di daerah perumahan "Himalaya" (kalo gue gak salah inget) dan anak yang dites adalah anak usia 2,5 tahun sampei 4 tahun.

YUP! 2,5 tahun!!!!

Aduh!!! Beneran deh! Gue salut banget sama engkau wahai para guru TK!!! Duh!!! Gue sih amit-amit ya!! Bener-bener gak tahan. HIH!!! Tuh anak-anak yang ada malah gue tabok-tabokin kali. Untung aja tadi enggak ada kejadian seperti itu. Tapi suer dah!! Kapok deh!

Kali ini gue bertugas bersama dengan Aurora. Jabatan gue tetap sebagai observer. Jumlah anak yang harus 'dites' gelombang pertama ada 5 anak. Usia mereka semuanya 3 tahun. Namanya juga anak kecil, tapi tentu saja perkembangan kemampuan masing-masing berbeda satu sama lain. Ada yang begitu disapa langsung menyaut, ada yang diem aja, ada juga yang pandangan matanya gak jelas. Ada yang bicara dengan jelas, ada yang (sekali lagi) diem aja, ada juga yang jawabannya gak nyambung. Hieh...dasar anak-anak. Untung aja bukan gue testernya!

Meskipun begitu, ada satu hal yang bikin gue bener-bener amazed banget.

Begitu gue (or Aurora) bertanya, sambil pegang crayon, "Warna apa ini?" bisa dibilang semuanya nyaris menjawab, "blue!" atau "red" atau "yellow".

Oh my God!! What's wrong with this kids? Don't they speak Indonesian anymore?

Hahahaha....

Gak...bukan itu yang gue keluhkan.

Gue cuma *WOW* dan sedikit taken aback.

Gue ngomongin anak umur 3 tahun lho ini. TIGA TAHUN!! Bukan lima tahun atau apalagi usia 12 tahun.

Apalagi mereka udah mengenal angka (sampe lima dan juga dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, tapi mostly belum sampe konsep jumlah), mengenal beberapa huruf (terutama S dan O), dan malah ada yang sudah bisa menulis (meskipun mungkin lebih pada meniru bentuk huruf). Tapi sekali lagi...ini anak usia TIGA TAHUN!!!

Gue cuma bisa berpikir, gila ya anak-anak sekarang! Gila ya sekolah untuk anak-anak sekarang! Gila ya!!!!

Perasaan dulu gue belum mengenal huruf deh. Kayaknya dulu gue belum tahu bahasa Inggris deh. Gue dulu gak kayak gitu deh! Duh...jadi minder ndiri!

Bener-bener deh!!

Selesai gelombang satu, gue dipindahkan ke Harry, karena jumlah anak yang akan dites di tempat Harry ada 4, sedangkan yang di tempat Aurora cuma ada tiga.

Sempet ada semacam 'hiburan' sewaktu menanti dimulainya gelombang dua.

Ada anak, namanya Terry usia 4 tahun, yang udah disuruh masuk oleh nyokapnya, meskipun anak-anak yang lain belum dateng. Dan sepertinya sudah menjadi 'kebiasaan' adalah langsung memberikan kertas kosong dan menyuruh/meminta anak tersebut untuk menggambar. Anything.

Eh...dasar tuh anak 'sok' pura-pura shy...jadilah sambil ketawa-ketawa dan geleng-geleng kepala bilang gak mau gambar. Gue, berusaha membujuk, menawarkan untuk menggambar beberapa benda...seperti awan (gampang bo!). Eh..sekali lagi dia menolak mengambar, tentu dengan senyum manis, dan bilang kalo gak bisa gambar awan. Alhasil gue lah yang gambar. Yang ada...ujung-ujungnya gue yang gambar!!! Gue jadi gambar matahari, laut, ikan, ubur-ubur, sampe kepiting!!! Dasar tuh anak!!! Masak gue dikerjain anak umur 4?

Hehehe...tapi emang anaknya dah pinter sih...diajak ngomong juga nyambung. Gue jadi lebih suka aja. Ganteng lagi hahahaha!!!

Oke.

Berikutnya nyambung di kelas Harry.

Mau ngamuk gue!

Begitu gue masuk, udah ada satu anak cowok yang sedang nangis dengan hebohnya (tapi dengan air mata yang minim) setengah berteriak kalo dia meminta main di luar. Untung aja di dalam ada bonyok-nya dia. Orang tua nya sih keliatan sebagai ortu yang well educated karena mereka berusaha sekali supaya tuh anak teralihkan perhatiannya. Untuk sesaat cara itu berhasil. Karena dia sempet diem. Setengah menit, sebelum akhirnya kembali berteriak dan menangis (dengan volume air mata yang bertambah) meminta untuk keluar.

Gue dan Harry keluar sebentar, karena bingung mencari anak-anak lain yang mau tes, kok kagak ada. Ternyata ada satu pasangan suami-istri yang masih muda, anaknya baru 2,5 tahun (bapaknya ganteng bo!) lagi menunggu. Akhirnya sama Harry dipersilakan masuk aja.

Jujur gue takut si anak yang baru masuk ini, A, bakal ikutan nangis. Tapi untung kagak! Dia anteng aja baca buku sama nyokapnya, sementara si bapak gue suruh isi data siswa. Aaron juga kemudian eksplorasi ndiri. Ngambil spidol, nulis-nulis di papan, ngambil barang-barang yang di deket situ, pokoknya cuek aja deh. Gak peduli sama anak yang sedang heboh (sekarang volume air mata udah maksimal plus ingus plus keringetan, padahal pake AC).

Sembari si M, akhirnya keluar. Gue minta sama ortu A untuk keluar. Bokapnya keluar dulu karena emang si anak gak ngeliat bapaknya. Dia lagi asik sama spidol dan papan tulis. Nyokapnya cuma bilang kalo dia mau ke wc jadi A suruh tunggu di kelas. Anaknya cuma ngangguk dan bilang "he eh", anteng aja, cuek terus.

Kemudian masuk anak cewek, T, yang nempel terus sama susternya. Disuruh turun dari gendongan pun gak mau. Ketika akhirnya mau pun, tuh susternya mesti ikut. Akhirnya gue suruh dia duduk agak jauh dari T.

Dimulailah tes.

Gak perlu gue jelasin mendetail, yang penting si A ini asli cuek aja, dalam arti positif ya karena dia mengerjakan tugas yang diberikan tanpa banyak bicara. Sementara itu suster T diem-diem keluar. T masih asik ngerjain tugas. Tiba-tiba dia nengok ke belakang, ngeliat susternya gak ada. Mulai deh...

Gue tau dia mau nangis, tapi suer gue penasaran sama cara dia nangis. Gue pingin tau gimana proses dia nangis. Keren lho hahahaha

Matanya bisa tiba-tiba berkaca-kaca...air mata itu menggenang di pelupuk mata, sebelum kemudian ujung-ujung bibir tertarik ke atas dan dia mulai sesenggukan yang diikuti dengan teriakan tangisan. Yang lucu...tangannya otomatis terangkat ke atas minta gue gendong dan minta keluar. Dan abis itu sesenggukkan kayak orang asma.

Hieh...dasar anak-anak.

Kemudian masuk satu anak cowok lain, C. Agak lebih mending, karena bisa masuk kelas untuk yah....mungkin around 5 menit tanpa menangis tapi kemudian mulai mencari...suster/mama. Ya sudah...bubar lah tugas yang harus dikerjakan.

In the end, cuma melakukan tes pada dua anak. A dan T. Gue sih lebih suka sama A. Anaknya tenang, ditanya bisa menjawab (meskipun masih agak cadel dan belum sepenuhnya mengerti) tapi mandiri. Sedangkan T...well...manja. Ditanya menjawab sih...tapi rasanya perlu didorong-dorong dulu deh.

Sedangkan C...well...masih belum bisa apa-apa. Belum mengenal angka, warna, bentuk, huruf, bicara aja masih belum jelas.

Kemudian, disaat semua sudah selesai baru masuk kembali si M.

Karena Harry sedang sibuk interview, jadilah gue yang ngetes.

Ya ampun!!! Bener-bener deh, kesabaran gue tuh diuji abis!

Gue suruh dia ngewarnain gambar ikan, kagak diwarnain. Udah gue kasih contoh, tetep aja kagak diwarnain. Yang ada malah dia gambar garis, bikin garis berzigzag, di luar gambar ikan. Padahal ada bokapnya udah mendorong, nyokapnya juga ikutan, tetep aja gak mau.
Tugas ke dua juga sama. Tugas ketiga juga sama. Paling waktu menunjuk warna aja dia mau. Selebihnya? Kagak!

Caphe deh!!!

Aduh...kalo dah kayak gitu ya...gue jadi mikir-mikir. Amit-amit deh, tapi gue baru mau nyekolahin anak gue umur 4 aja deh. Itupun milih TK yang...isinya main aja. Maksud nya...yah diliat dulu lah kemampuan anaknya. Kalo emang udah bisa baru lah disuruh sekolah, kalo enggak ya jangan lah. Kasian anaknya!

Hieh...bener-bener deh...pengetesan hari ini...bikin capek banget!!

Gue gak cocok jadi guru K-1 or K-2!!

Sunday, November 23, 2008

Tepar!!!

Oke...kemaren, Sabtu tanggal 22 November 2008, gue kembali ke Sekolah Dian Harapan, Lippo Karawaci, Tangerang.

Agak sedikit berbeda dari hari Rabu kemaren. Pertama, mulainya aja jam 7 pagi, bukan jam delapan. Kedua, jumlah kelasnya cuma 2, dan ketiga kali ini gue dapet kelas yang isinya anak SD. Yup! Udah gitu, karena tes-nya juga beda dengan tes yang kemaren Rabu, jadi nya yah...emang agak lebih cepat selesai aja. Udah gitu, yang ikut tes kali ini kebanyakan bukan anak-anak dari SDH, tapi dari sekolah luar. Dan hal itu cukup membuat perbedaan. Soalnya, situasi kelas jadi lebih terkendali dan teratur. Soalnya pada gak punya temen untuk saling bacot...jadi yah lebih enak aja.

Anyway, psikotest berjalan cukup lancar, meskipun agak-agak sedikit mengalami hambatan pada saat Kraeplin Test. Gila!! Gue kasian banget sama tuh anak-anak!! Beneran deh! Anak SD dikasih Kraeplin Test!! Duh!! Kasian lah!

Tapi, yang bikin tepar bukan itu.

Klaar dari sekolah, jadi udah ngerapiin jawaban peserta, udah ditulisin nomor pesertanya, udah dirapiin pula, pokoknya semua udah rapi, gue sama Yosi jalan-jalan dulu ke Supermal Karawaci. Yah...maklum lah...namanya juga anak Jakarta, yang jarang banget main-main ke Tangerang sono. Jadi...pas lagi ada kesempatan...dah pasti gue pake untuk jalan-jalan lah!!

Untung juga kemaren itu jalan-jalan, karena gue baru ngeh kalo minggu depan dan minggu depannya lagi, gue bakal ngetes anak pre-school, yang baru klaar around 3!!!! Dan rasanya akan susah kalo abis itu baru mau jalan-jalan. Jadi...karena kemaren itu udah keliling Supermal, paling minggu depan tinggal ngecek Times Bookstore!!!! YES!!!

So...

Supermall...emang gede sih...dan dia lebar...tapi masih bisa tercover kok sama gue hehehe :). Gue belum terlalu hafal aja, tapi sebenernya gak tralu rumit. Agak-agak mirip Plaza Senayan, dalam artian di satu ujung ada Debenhams, sedang di ujung lain ada Matahari. Jadi yah...tinggal pilih aja mau belanja di mana. Makanannya juga banyak, belum lagi food courtnya yang BUSYET DAH!!!!! Gue sih gak suka ya...tralu luas. Area makan/meja makan nya tralu banyak dan tralu mengumpul. Kurang nyaman aja gue. Tapi ya sudah lah.

Gue sama Yosi belanja di Matahari. Matahari baru nih ngomong-ngomong. Penggantinya Galeria Matahari sepertinya, karena logonya ganti (warnanya), font-nya juga ganti, dan kata nyokap, owner-nya juga ganti. Keliatan dari penampilan tokonya dan jenis barang yang dijual, agak-agak sedikit high end. Tapi kalo yang logo Mataharinya masih merah (atau merah ijo ya?), seperti yang di CL, nah itu masih yang lama.

Kita masuk Supermall around 10.30, keluar Mal around 15.20 lah. Cukup capek juga...karena bawaan berat hehehe...tapi seru.

Pulang dari Supermall naik bus Karawaci, turun di Plaza Semanggi. Dari situ, gue naik taksi ke Juanda, kebetulan bokap abis klaar rapat di Sanmar...jadi yah lumayan lah...gak perlu ribet naik busway lagi.

Ternyata eh ternyata...nyokap lagi di Mal...dan bokap ada perlu untuk beli obat. Alhasil...abis itu lanjut ke MKG!!!

Haduh...haduh...haduh....badan udah capek...tapi ya sudah lah...mampir lagi ke MKG. Gimana gue gak dibilang anak Mal coba?

Untung aja kemaren itu gue bawa sendal...kalo gak kaki gue dah patah kali!!!

Pulang nyampe rumah emang baru jam 8 sih. Tapi ya gitu. Mandi, nonton tv bentar...trus tidur. Gila!! Tepar!!!

Masih ada dua kali sabtu lagi nih. Tinggal tanggal 29 dan 6 desember besok. Yah...gak papa lah...itung-itung jalan ke Karawaci. :)

Wednesday, November 19, 2008

Karawaci

Hari ini gue ada side job di daerah Lippo Karawaci, Tangerang. Psikotest untuk anak SMP kelas 3. Mereka butuh hasil psikotest untuk daftar ke sekolah lain. Gue kira, tadinya, ini untuk penerimaan siswa baru. Ternyata gue salah. Jadi yah emang anak-anak yang ditest tadi gak gitu banyak. Cuma tiga kelas @ sekitar 26 anak. Gak gitu banyak 'kan. Tapi tetep...bikin capek. Mungkin karena sepatu gue juga terlalu tinggi kali ya? Abis mau gimana? Sepatu hitam yang gue punya (dan baru beli) yah cuma satu itu. Tapi yah...gak papa lah. Mungkin karena belum terbiasa aja. Paha gue jadi kenceng aja rasanya hehehe....

So...gue suka juga dengan daerah Lippo Karawaci ini. Meskipun jauh, tapi setelah dua kali ke sana...jadi terasa lebih dekat hahahaha. What I like was...mungkin daerahnya kali ya...kebetulan tadi pagi gue di dropped di depan Times Book Store (YEAY!!!), yang sayangnya masih tutup. Tapi, berdiri di situ, dengan UPH di sebelah gue, Times di belakang gue, dan semacam food pedestarian (bukan asongan/warung tapi resto beneran), dengan pohon-pohon yang tinggi, plus suasana tadi pagi yang agak-agak mendung berawan gitu, membuat gue seolah-olah lagi tidak di Jakarta. Yah...emang bukan di Jakarta sih, tapi feelingnya beda aja. Kayak di luar negeri sono kali ya... Kapan-kapan gue foto deh. Or, mungkin aja karena gue baru pertama kali ke Karawaci, jadi gue masih agak amazed.

Side job ini bukan job pertama gue. Maksudnya sebelum ini gue udah pernah ngetes orang secara klasikal gini. Klasikal maksudnya ada beramai-ramai, bukan satu-satu. Udah dua kali, dan kebetulan dua-duanya gue sebagai Tester. Maksudnya, gue yang memberikan instruksi, memegang stopwatch, pokoknya yang berdiri di depan dan mimpin jalannya test. Tapi, kali ini gue jadi observer. Selain tugas gue meng-observe jalannya test, gue juga yang nyiapin alat-alat test, ngumpulin lembar jawaban, dan membantu Tester supaya test berjalan dengan lancar.

Jujur, bukan pekerjaan yang gampang untuk seorang Caroline Zenia Ivana. Why? Yah...you know lah...gue 'kan orangnya bossy banget...jadi agak-agak susah untuk gue menahan diri hehehe...susah narsis!!! Tapi untung aja, semua berjalan lancar pada hari ini. Gue bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara or take over begitu gue melihat ada yang kurang beres (menurut gue). Meskipun tadi memang ada saat dimana gue terpaksa harus bicara, karena kalo gak tuh anak-anak pada gak ngerti sama tugas yang harus dia kerjakan.

Meskipun begitu, yang bikin gue bisa menahan diri adalah, karena Meta (temen gue yang nawarin job ini) dari awal udah memberikan job desc yang cukup terperinci. Dari awal dia sudah membagi bahwa mereka yang S2 bertugas sebagai tester, sedangkan yang S1 sebagai observer. Selain itu, Meta juga udah memperinci apa saja tugas tester dan apa tugas observer. Jadi yah...gue juga belajar untuk bersikap profesional lah...gak lucu 'kan kalo tiba-tiba pas hari H ada semacam perebutan kekuasaan di dalam kelas? Malu-maluin aja!

Dan...pelaksanaan test dapat berjalan dengan lancar, menurut gue. Seperti biasa, yang namanya anak-anak, selalu aja rame, ribut, dan bawel. Apalagi kalo yang masuk kelas adalah orang-orang baru, yang masih muda-muda kayak sebagian dari kita tadi. Dan gue...yang diharapkan untuk menjadi galak, malah gak berfungsi menjadi orang yang galak sama sekali....hieh...yang ada malah Meta yang jadi super galak. Memang membuat anak-anak menjadi lebih diam dan tenang sih, tapi gue rasa malah bikin suasana jadi lebih tegang deh...:) yah tiap orang beda-beda lah menghadapi anak-anak.

Mungkin gue salah, tapi gue melihat perbedaan yang...cukup menonjol antara anak-anak ini, Sekolah Dian Harapan, dengan mantan anak-anak murid gue di SMP St. Maria.

Anak-anak SDH memang lebih...kritis. Mereka banyak bertanya. Bahkan pertanyaan yang, sekali lagi menurut gue, seharusnya tidak perlu dipertanyakan, tetap mereka pertanyakan. Somehow mereka tidak memiliki rasa takut terhadap respon guru-guru mereka, yang kebanyakan dipanggil miss or sir, karena gue sama temen gue langsung dipanggil miss. Bukannya gue menolak menjawab pertanyaan mereka, toh dengan bertanya membuat kita tahu apakah mereka mengerti atau tidak. Dan bisa jadi feedback untuk kita juga 'kan.
Cuma...di satu sisi gue melihat mereka tidak punya disiplin. Memang, pertemuan pertama tadi memang tidak bisa dijadikan ukuran. Tapi ngeliat cara mereka masuk kelas, melihat posisi tempat duduk mereka, dan bagaimana mereka bersikap, menunjukkan kalau mereka memang diijinkan/dibiarkan bersikap sebagaimana maunya mereka. Tentu dalam taraf kewajaran.
Sekali lagi, bukan berarti gue tidak suka sikap seperti itu, tapi kesannya jadi tidak dididik. Itu aja. Mungkin karena mereka terbiasa 'dibiarkan', jadi tidak ada tuntutan atau keharusan dalam bersikap/bertindak/bertingkah laku, dan mungkin, dalam mengerjakan tugas, jadinya yah...mereka cenderung santai.

Sedangkan untuk anak-anak mantan muridku yang tercinta...well...harus diakui mereka kurang kritis. Bukannya tidak kritis, tapi kurang. Paling hanya segelintir anak saja yang banyak bertanya, dan ujung-ujungnya, sorry to say, tapi malah mendapat cap sebagai anak bawel yang banyak bertanya. Ironis memang, dan so sorry kalo gue termasuk salah satu guru yang pernah ikut memberikan label tersebut. Walaupun jujur aja, pembelaan gue adalah, gue gak bermaksud untuk memberikan label tersebut dalam konotasi negatif hehehe...tapi ya itu lah anak-anak yang sekolah di Sanmar.
Di satu sisi, yang amat sangat gue banggakan dari Sanmar adalah tingkat disiplinnya yang emang gak bisa dan tidak boleh dipertanyakan. Ya ampun! Kalo dibandingin sama Sanur sih, Sanmar tuh masih jauuuuuuuuuuhhhhhhhh banget deh!!! Sanmar tuh masih bisa dibilang lebih santai dibandingin Sanur. Tapi itu yang bikin Sanmar jadi beda. Dan kita bukan saja diajarkan bagaimana menjadi anak yang pintar, tapi juga diajarkan bagaimana harus bertindak, sopan santun, dan bagaimana menjadi anak cewek or cowok yang punya manner.

Walaupun harus gue akui, melihat kelas-nya yang seperti itu (kelas bahasa inggris sih, tapi tiap kelas ada komputer untuk masing-masing guru dan ber-AC pula), membuat gue sempat berpikir ulang.
Dulu, Ingrid pernah nanya: Dengan banyaknya sekolah dengan embel-embel bertaraf international, gue bakal menyekolahkan anak gue dimana? Di sekolah international tersebut or di sekolah biasa seperti Sanmar dsb. Jawaban gue waktu itu, sebagai seorang Serviam sejati (halah!), tentu langsung gue jawab SANMAR!!!
Tapi tadi waktu ngeliat kelasnya, dan ngeliat salah satu buku yang dipake, untuk sesaat gue sempat berpikir ulang.
Dan kembali berpikir ulang begitu ngeliat anak-anak muridnya hahaha...

Ada kejadian yang lucu yang juga membuat gue terheran-heran. Entah karena mereka terbiasa berbicara bahasa inggris atau gimana, jadinya bahasa Indonesia mereka itu...jadi agak kurang.
Ini ada beberapa kata-kata yang mereka tidak tahu. Entah tidak pernah dengar atau sekedar lupa.

Jambangan
Kelakar
Lencana
Pandai besi
tempa
cendikiawan

Well...gue...kaget dan heran. Shocked a little juga.

Maksud gue...ya ampun!!! Gue juga termasuk orang yang sekarang kalo bicara udah campur-campur bahasa Inggris. Dah jarang banget gue mengucapkan kata 'atau' karena lebih sering dan lebih cepat bilang or. Juga termasuk orang yang merasa bahwa kata-kata dalam bahasa inggris kadang lebih bisa menggambarkan perasaan gue. TAPI bukan berarti bahasa Indonesia lu jadi jeblok/jongkok 'kan? Kalo lu tinggal di luar negeri sih maklum banget. Lha ini tinggal di INDONESIA tetep aja gak tau? Lagian itu 'kan bukan bahasa tingkat tinggi. Mati gak sih lu??!!

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala dan yah...itu...terheran-heran.

Tz, adek gue juga bengong. Apa mereka tidak dapet pelajaran peribahasa? Atau pantun?
Tinggal gue yang bilang, kalo tadi sepertinya gue tidak melihat ada guru untuk pelajaran bahasa Indonesia!!! Hahahaha....mungkin gue yang salah liat kali ya...tapi kalo emang beneran gak ada pelajaran bahasa Indonesia sih...KETERLALUAN lah yauw!!!

Yah...tapi itu emang sekedar sisi lain/sisi yang lucu tapi aneh aja sih dari pengalaman hari ini.

Yang lainnya? Yah...paling gue ngeliatin tuh anak-anak dan jadi ingat waktu dulu masih jadi guru BP. Terus 'ngelabain' tuh para brondong-brondong yang suer cakep-cakep juga!!! Gue rasa dah gede pada ganteng-ganteng tuh! Hehehe...
Or ngeliatin mereka pada 'berkeluh kesah' waktu disuruh ngerjain Kraeplin Test - itu loh, tes yang lembarannya selebar setengah halaman koran, isinya deret angka dari atas sampe bawah dan tugasnya adalaha menjumlahkan dua angka dari bawah ke atas - dan selalu berkeluh kesah tiap kali mereka harus pindah jalur. Tinggal gue aja yang ketawa-ketawa ngeliat mereka ngerjain. Abis...tiap kali mereka harus pindah selalu aja menghela napas panjang dan komentar macem-macem hahaha...

Kelar dari test, gue Meta dan Yosi pergi makan di Supermal dulu, baru kemudian pulang naik bus Karawaci yang berhenti di Grogol. Dari Grogol (CL) gue lanjut naik taksi. Sakit pala dan kaki sakit bo...gak tahan gue.

Overall...hari ini fun aja. Ketemu anak-anak yang lucu-lucu itu, menyadari kalo gue gak bisa galak (hm...baru tuh!), menyadari kalo bahasa Indonesia tetep lah harus dikuasai secara baik, dan belajar untuk jadi observer yang lebih handal aja.

Sabtu besok, gue kembali 'bertugas' dan kita liat aja nanti seperti apa.
Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com