Showing posts with label movie review. Show all posts
Showing posts with label movie review. Show all posts

Monday, December 2, 2013

Frozen

http://www.scifinow.co.uk/wp-content/uploads/2013/11/Disney-Frozen-film-review.jpg 

Frozen is finally here!

Seneng akhirnya bisa nonton ini film, hari Sabtu kemaren, bareng Ingrid's family.  Kita nonton yang jam setengah 8 malem di Blitz Grand Indonesia, karena di PI adanya yang 3D (Nicole belum betah nonton 3D), dan harga tiket di Studio XXI @75rb...lebih murah di Blitz yang cuma 55rb.

So...Frozen.

Frozen merupakan animasi karya Walt Disney Animation Studio.  Frozen adalah saduran bebas "Snow Queen" karya Hans Christian Andersen.  Sadurannya bebas banget, karena enggak ada mirip-miripnya sama sekali dengan Snow Queen hahahaha.

Seperti cerita karya Disney lainnya, terutama yang animasi dan ada Princesses nya, pasti ada lagu-lagunya.  Kali ini pun juga sama, film dilengkapi dengan lagu-lagu yang ikut ambil bagian dalam cerita. Gue suka banget lagu yang dinyanyiin Olaf "In Summer"...OMG it's so hilarious!! Dan lagunya Kristoff "Reindeer(s) Are Better Than People" juga lucu, meskipun pendek.  Terakhir, yang mungkin menjadi 'gong' nya adalah "Let It Go", dinyanyikan Elsa.  Tapi setelah gue pikir-pikir, gue lebih demen lagu opening scene-nya hahaha...enggak ada liriknya, cuma semacam hymn, tapi dari pertama kali gue denger gue udah langsung suka. 

Frozen bercerita tentang dua kakak beradik Elsa dan Anna yang merupakan putri Kerajaan Arendelle.  Elsa, sang kakak, ternyata punya kemampuan sihir, bisa mengeluarkan es melalui sihirnya.  Sampai suatu ketika tanpa sengaja Anna terluka karena sihirnya Elsa.  Sejak saat itu, Elsa jadi takut dengan kemampuannya dan atas desakan kedua orangtuanya, mengurung diri.  Pada saat Elsa naik tahta menjadi Ratu, kemampuan Elsa yang selama ini ia sembunyikan tiba-tiba muncul karena emosi.  Elsa semakin panik, semakin tidak terkontrol kemampuan sihirnya, hingga menenggelamkan Kerajaan Arendelle dalam salju, dan Elsa melarikan diri tanpa tahu apa yang telah ia lakukan.  Anna, merasa bersalah, segera mengejar Elsa.  Dalam perjalanan, Anna bertemu dengan Kristoff, Sven, dan Olaf, yang kemudian menemani Anna mencari Elsa.

Kristen Bell mengisi suara sebagai Anna, Idina Menzel sebagai Elsa, dan Jonathan Groff sebagai Kristoff.  Dari ketiganya, gue paling terkesan sama Idina Menzel.  Sejak di Wicked, gue udah terkesima sama dia dan di Frozen, tetep terkesima hahaha. Malah ada beberapa bagian yang gue ngerasa jadi mirip Wicked, terutama pada bagian Elsa dan Anna nyanyi bareng, di saat yang sama, tapi masing-masing dengan kalimatnya sendiri-sendiri.  Jadi mirip sama Les Miserables juga sih. Vokalnya Idina Menzel di lagu ini memang keren, apalagi bagian terakhir.  Gue bener-bener kebayang Wicked.  Suer demen banget gue sama lagunya.

Yang membuat Frozen berbeda dari cerita Disney yang lain adalah...kali ini Elsa dan Anna bisa dibilang tidak membutuhkan pangeran atau para cowok untuk membebaskan mereka dari kesulitan.  Oke, Anna membutuhkan bantuan Kristoff dan Kristoff memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu Anna, tapi pada akhirnya Anna sendiri yang menyelesaikan semua permasalahan. Dan adegan terakhir dengan sukses membuat gue berkaca-kaca.  Juga adegan awal waktu Anna masih kecil dan dia ngetuk pintu kamar Elsa sambil ngomong "Do You Want To Build A Snowman" dengan ending yang...sedih...

Sejak Rapunzel (Tangled), Disney Princesses agak berbeda, lebih punya girl power, lebih independen dan lebih berani.  Mungkin sesudah  Frozen, Disney Princesses nya bisa lebih independen lagi hahaha.  Sebenernya ada satu kejutan lagi sih di film ini, yang membuat gue sampe kaget dan agak tidak percaya, karena menurut gue tumben gitu lho Disney buat cerita seperti ini, tapi ya ternyata memang iya hahaha...so better see it for yourself.  Bukan sesuatu yang besar, tapi yah cukup mengejutkan.

Buat gue sendiri, gue lebih seneng Tangled, karena ceritanya lebih romantis dan ada lagu "I See The Light" yang menyentuh banget.  Sedangkan Frozen lebih ke sisterhood dan courage yang diselipin roman.  Tapi biar begitu, gue tetep suka Frozen.  Satu lagi film Disney yang masuk daftar film favorit.

Friday, August 23, 2013

Percy Jackson - Sea Of Monster



So...finally Percy is here...and I decided to see it today.  I saw the 3D.  Not so much different I think from the 2D, I just prefer the 3D version.  Dito asked me to write a review about this movie, right after I saw it.  And here it is...


Hm...mau jeleknya dulu atau bagusnya dulu ya? I have a mixed feelings about this movie.  I did enjoy it, but on the other hand...there are some things that I think shouldn't be put on the movie right away.  But, since the first movie already waaaaayyy off from the book, unless they decided to redo book 1, the second movie just continued from the first movie.




Buat yang udah b'll be disappointed.  Dan setelah gue baca wikipedia...jadi tambah lemes hahaha...karena filmnya bener-bener beda dengan yang versi buku.  Secara garis besar, masih sama jalan ceritanya, mengenai Percy yang pergi menuju Sea of Monster untuk mengambil The Golden Fleece, demi menyelamatkan pohon Thalia, yang kemudian masih harus berurusan dengan Luke Castelan dan Kronos. Tapi cuma sebatas itu aja yang sama, karena runtutan kejadiannya sama sekali dibikin beda dengan yang di buku.

Sedangkan buat yang belum pernah baca bukunya, film ini bakal bisa dinikmati dengan santai dan seru.  Actionnya lumayan banyak, beberapa adegan cukup lucu, dan CHB sendiri terlihat lebih...apa ya...dibandingkan film yang pertama CHB lebih homey, lebih berdekatan satu sama lain.  Gue cukup suka dengan adegan pembukanya.  Mungkin lagu latarnya juga membantu hahaha...tapi gue suka sih adegan awalnya.  Dari adegan awal itu bisa dibilang keliatan banget seperti apa sebenernya kepribadian Percy itu.  Dan buat penggemar Percabeth (me included), bakal suka banget, karena Percy dan Annabeth ditampilkan begitu affectionate satu sama lain.
 






Salah satu tokoh yang cukup gue nantikan adalah kehadiran Tyson.  Setidaknya kali ini, penokohannya kurang lebih sesuai dengan di buku.  Gue suka dengan Tyson di sini, meskipun kalo di buku, Tysonnya lebih terlihat "bodoh" sih, sedangkan kalo di film Tyson lebih terlihat "polos".  Tapi satu yang buat gue terlihat adalah betapa Tyson sangat sayang dengan Percy dan Percy pun, meskipun awalnya agak ragu/cemburu, berusaha untuk bisa menerima Tyson apa adanya.




Sedangkan Clarisse, buat gue mengejutkan.  She's pretty! Hahahaha...bukan berarti Clarisse jelek pas di buku, cuma ya enggak sesuai dengan gambaran gue sih.  Untungnya, kesinisan dan kesombongan Clarisse tetep muncul di film.  


And Grover...he's still funny :D Setidaknya adegan pembuka di buku tetep ada meskipun letaknya sudah nyaris di akhir cerita.  

Gue sempet bilang sama Dito, kenapa yah PJ enggak dibikin seperti Tolkien punya buku atau at least seperti Harry Potter lah.  HP juga enggak sama persis dengan di buku, tapi setidaknya jalan ceritanya kurang lebih masih sama.  Usia tokohnya sama, prophecynya juga sama, tokoh-tokoh yang ternyata menjadi double agent juga enggak ditunjukkin di awal film, meskipun buat pembaca kita udah tau siapa yang baik dan siapa yang jahat.  Nonton PJ ini, menurut Dito, seperti nonton PJ versi fanfiction hahaha...

Bisa gak ya...5-10 tahun lagi film PJ dirombak ulang dan bikin ulang dan dibikin seperti bukunya? Hahahaha...ngayal tingkat tinggi!!

Tapi yah...so far sih...gue cukup menikmati lah film ini.  Ada beberapa bagian yang buat gue enggak perlu, ada beberapa bagian yang menyenangkan dan menegangkan, dan beberapa adegan yang gue harapkan tetep ada.


PS: All posters are taken from teaser-trailer.com



Saturday, May 25, 2013

Quartet


I read about this movie on a magazine and truthfully, I was interested about it instantly.  Simply just because its about four people, although it's four old people, who used to be a great musicians (opera singers) and now they have to live on a home for retired musicians.  Just read the word musicians my interest is pique right away hahaha...

I'm not a musicians, I can't even sing acapella, but I do love music.  Who doesn't?

So, Quartet is about Reg (Tom Courtenay), Wilf (Billy Connolly), Cissy (Pauline Collins), and their other friends, all of them are retired musicians, live on Beecham House.  They're going to have a gala on behalf of Verdi's birthday.  Everyone was expected to contribute something to the gala, either by singing or playing something. Preparation for the gala was having a bit of difficulty, since most of the prominent singers either died or choose not to participate. Until Jean (Maggie Smith) arrived.  Jean was (or still is) a diva.  The fact that she has to retire and live on a retired home, even its home for retired musicians, is really a humiliation for her.  And then, there's Reg.  Reg used to be married to Jean.  He didn't like that Jean was at the same home with him.  But, not only Reg who has connection with Jean.  Reg, Wilf, Cissy, and Jean used to be on Rigoletto together, and they were considered as THE Rigoletto of the post-war era. So, now having the quartet at the same time, at the same home, the director (Michael Gambon) really wish that the four of them willing to sing together.  Everybody agree, except Jean.

Even though it's a story about old people, but since it's about old musicians, I think I'll make an exception hahaha.  What I love about the movie is that it shows how music is still be a large part of their daily lives.  They teach kids, children about music, teach them piano or violin.  The play violins, piano, flute, almost all the time.  I know, there are other things than music on their mind, like getting old, forgetfulness, being sick, etc.  But I think it just show that they (old people) still have their lives, they still live.

And the music.  Can't forget the music.  Although most of it was operas, some of them are really familiar.

In the end, while the credit title was rolling, the pictures of the residents of Beecham House who is really a musicians was showed, including the picture when they were young.

And the ending of the movie...is really typical for English drama movie, although I remember that the director was Dustin Hoffman, who is an American...so...I think you should see it hahaha. The end is a happy end for me, but I can't help that I wish for oh I don't know...another five or ten more minutes....hahaha.
 

Wednesday, January 30, 2013

Hansel & Gretel: Witch Hunters



Kemaren, gue nonton Hansel & Gretel: Witch Hunters.  Sempet ragu-ragu untuk nonton karena Dito baca review-nya dibilang jelek.  Tapi tho berhubung udah pingin nonton, jadi ya sudah nonton saja.  Yang lucu adalah, Dito nonton di Surabaya, gue nonton di Jakarta hahaha...Dito kelar nonton, gue baru masuk bioskop.  Sengaja nonton di blitzmegaplex, ambil yang 3D. 

Menurut Dito sih filmnya bagus.  Menurut gue, seru juga.

Menurut wikipedia...Hansel and Gretel merupakan nama panggilan untuk Johannes dan Margaret.  Wow...gue baru tahu soal ini.  Mungkin mirip dengan panggilan Bob untuk mereka yang bernama Robert (eh bener gak sih?).

Anyway, Hansel and Gretel merupakan cerita dongeng karangan Grimm bersaudara, yang juga bikin cerita Rapunzel, Cinderella, The Frog Prince, dll.  Seperti cerita-cerita Grimm bersaudara lainnya, Hansel & Gretel sudah berulang kali diadaptasi.  Kali ini versi lain dari dongeng klasik tersebut.

Gue berasumsi semua sudah pada tahu mengenai cerita dasar Hansel & Gretel (apakah masih ada yang tidak tahu soal dongeng klasik ini?), jadi gue enggak bakal cerita lagi.

Versi yang baru ini dimainkan oleh Jeremy Renner (yang jadi Hawkeye di The Avengers) sebagai Hansel dan Gemma Arterton (Princess Tamina di Prince of Persia) sebagai Gretel.

Satu hal yang pasti, film ini bukan film anak-anak atau bahkan film remaja.  Film ini masuk kategori film Dewasa, atau 17 tahun ke atas.  Jadi bagi yang usianya belum mencukupi, atau bermaksud mengajak anak-anaknya, atau sepupu/saudara yang masih anak-anak, mohon untuk tidak dilakukan.

Menurut gue, film ini lebih pas dimasukkan ke dalam kategori horor, meskipun kalau disamakan dengan film model Saw atau Texas Chainsaw sih memang kurang pas, tapi menurut gue ini film tetep termasuk yang cukup sadis.  Jujur, cukup banyak adegan dimana gue kudu tutup mata, dan nonton dari sela-sela jari sangking enggak tahan.  Dan menurut Dito bagian ini adalah yang seru.

Dan gue nonton yang 3D.  Suer, baru kali ini gue berasa banget nonton 3D.  Kepala tuh beberapa kali sampe ikut minggir kiri dan kanan atau ke belakang, karena ingin 'menghindari' serpihan-serpihan kayu atau peluru yang beterbangan.  Mantap lah 3D nya hahaha.

Gue baru sadar bahwa ini film kemungkinan masuk kategori horor adalah waktu Gretel membunuh nenek sihir pertama kali.  Menurut cerita, Gretel mendorong nenek sihir ke dalam oven ketika sang nenek sihir sedang berada di depan oven itu sendiri.  Nah di film ini, Gretel menusuk nenek sihir beberapa kali sebelum akhirnya mendorong masuk ke dalam oven.  

Oke.  Dan yang muncul di kepala gue pada saat seluruh adegan itu berlansung adalah, omg....Gretel is a psychopath.  Ngeliat caranya ngebunuh nenek sihir tanpa ada keragu-raguan sedikitpun, tanpa ada rasa penyesalan, gimana nanti kalo udah gede??

Adek gue yang denger penjelasan gue cuma ketawa, bilang kalo gue kebanyakan nonton Criminal Minds.  Hieh...

Gue sempet berpikir bahwa film ini sebenernya tidak berbeda dengan dongeng klasik Grimm bersaudara, hanya melanjutkan kisahnya.  Tapi setelah gue inget-inget...ternyata memang berbeda hahaha...Hansel & Gretel yang ini setelah membunuh si nenek sihir, tidak kembali pulang ke orang tuanya (atau ke ayah dan ibu tiri mereka), malahan mereka menjadi terkenal dan kemudian menjadi pemburu penyihir.  

Yah di satu sisi untunglah sisi psikopat Gretel ke arah yang benar, membunuh penyihir jahat, bukan sekedar membunuh orang.  I approve! halah!!

Dimulailah pengalaman Hansel & Gretel memburu para penyihir dan tentunya membunuh mereka semua.  Sampai kemudian mereka disewa oleh walikota Augburg untuk mencari kembali anak-anak yang telah diculik dan diduga diculik oleh penyihir.  Ternyata penculikan anak=anak ini merupakan bagian dari sebuah ritual dimana bila dilakukan dapat membuat para penyihir tahan terhadap api.  Mengapa mereka ngotot untuk bisa tahan dengan api, karena menurut Hansel (kebetulan yang ngomong adalah Hansel) untuk amannya lebih baik para penyihir itu dibakar.

Di Augsburg, Hansel & Gretel menyelamatkan Mina dari tuduhan sebagai penyihir dan nyaris dibakar, akibat hasutan sang sheriff.  Lalu ada lagi Ben yang ternyata nge fans berat dengan Hansel & Gretel.

Dari seluruh peran yang ada di film ini, yang gue tidak suka, sayangnya, adalah peran Mina...sedangkan yang lainnya menurut gue keren.  Apalagi yang jadi penyihir-penyihir nya hahaha...mantap.  

Overall, gue menikmati film ini.  Penuh dengan aksi yang keren, darah dimana-mana, adegan-adegan sadis yang membuat gue tutup mata dan juga membuat gue menganga karena terkesima (adegan Hansel menembak penyihir kaki tangan Muriel di kepalanya).  

Gak nyesel lah gue tonton hahaha....3D pula. 

  

    

  


Thursday, January 24, 2013

Les Miserables (2012)



Ini dia film yang udah gue tunggu begitu tau bakal dibikin versi musikalnya.  Dan penantian itu tidak sia-sia.  Buktinya, gue sampe nulis blog tentang ini film.

Gue tau Les Miserables entah dari mana, tapi dari judulnya aja kayaknya udah kebayang betapa ini film penuh dengan penderitaan.  

Dulu, pernah ada filmnya, tahun 1998.  Yang main jadi Jean Valjean adalah Liam Neeson, yang jadi Fantine si Uma Thurman, Cosette dimainkan oleh Claire Danes, dan yang jadi Javert si Geoffry Rush.  Durasinya sendiri cukup panjang, nyaris 2,5 jam.  Berhubung tahun ini bakal ada versi musikalnya, maka kemaren di HBO sempet diputer lagi film Les Miserables yang tahun 1998 punya.  Itung-itung untuk perbandingan dan menyegarkan ingatan gue.

Kalau baca wikipedia, terutama Les Miserables versi bukunya, wah...bisa pusing gue.  Selain karena itu buku tebelnya bukan main, tokoh-tokohnya juga banyak, dan Victor Hugo memasukkan cukup banyak sejarah Perancis di situ.  Buat yang tertarik baca bukunya, silakan.  Tapi gue jujur, menyerah.

Sebelum ada versi film tahun 1998 dan yang sekarang, sudah ada versi musikalnya.  Pertama dalam bahasa Perancis, kemudian diadaptasi ke bahasa Inggris dan sukses besar.  Dan kali ini dari Broadway, dipindahkan lagi ke layar lebar.  

Bagi pecinta musikal, penyuka Broadway, bahkan pecinta lagu-lagu model opera atau klasik, pasti setidaknya pernah dengar setidaknya 3 lagu dari Les Miserables ini "I Dreamed A Dream", "Bring Him Home", dan "On My Own".  "I Dreamed A Dream" yang dibilang paling terkenal, apalagi setelah Susan Boyle menyanyikan lagu ini.  "On My Own" pernah dinyanyikan Rachel di Glee kalau ada yang ingat.  "Bring Him Home" yang kurang familiar, tapi tetep bagus.

Satu lagi yang menurut gue menjadi nilai jual bagi film ini adalah para pemerannya menyanyikan sendiri secara langsung selama syuting.  Jadi mereka menggunakan earpiece dimana mereka akan mendengarkan iringan piano, dan menyanyikan secara langsung.  Yang mana ternyata teknik ini sudah pernah dilakukan untuk film RENT, film musikal lain yang juga diadaptasi dari pertunjukkan Broadway. Another one of my favorite  musical.

Les Miserables berbeda dengan The Phantom of the Opera yang juga merupakan film musikal.  Bedanya, nyaris seluruh percakapan dalam Les Miserables dinyanyikan, sedangkan di The Phantom of the Opera (dan Rent dan Wicked) masih ada percakapan biasa dan beberapa dinyanyikan.

Mungkin Les Miserables lebih tepat disebut Opera karena nyaris seluruh percakapan dinyanyikan, sedangkan musikal biasanya masih ada percakapan biasa.  Tapi...bisa aja gue salah.

Oke, enough about 'the background' of Les Miserables. 

Les Miserables bercerita tentang seorang Jean Valjean, seorang mantan napi yang mendapat kesempatan kedua dan berusaha untuk selalu berbuat baik.  Juga menceritakan hidup Fantine, yang memiliki anak, Cosette, di luar nikah dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah untuk Cosette yang dititipkan pada keluarga Thenardiers, yang ternyata malah menjadikan Cosette sebagai pembantu.  Thenardiers memiliki seorang anak perempuan bernama Eponine.  Lalu ada Marius, seorang mahasiswa yang terlibat dalam revolusi Prancis, yang jatuh cinta dengan Cosette, dan disukai oleh Eponine.  Dan tidak ketinggalan Inspektur Javert, yang berusaha menangkap Jean Valjean sekuat tenaga.

Oke, itu bisa dibilang plot singkat Les Miserables.  Kalau gue nulis lebih dari itu, bisa-bisa spoiler banget.  Kalau mau tahu lebih detail, seperti biasa, kunjungi Wikipedia :) 

Yang harus dipersiapkan dalam menonton film ini adalah tissue.  Dan usahakan untuk ke wc dulu.  Meskipun panjangnya cuma 2,5 jam lebih dikit, kayaknya sayang banget kalau kepotong untuk ke wc.

Gue cukup seneng dengan terjemahan film ini.  Bagus banget dan bener-bener berasa banget kesedihan, keputus-asaan Jean Valjean dan Fantine.  Pingin tahu siapa yang gak nangis waktu denger Fantine nyanyi "I Dreamed A Dream".  Baru kali ini gue menyimak bener-bener liriknya dan jujur, gue kaget banget dan langsung berasa banget lirik terakhir lagu itu "Life has killed the dream I dreamed"

Rasanya enggak heran kalau Anne Hathaway bakal menang Oscar.  She's marvelous on this movie.  Meskipun perannya bisa dibilang cuma sebentar, waktu dia nyanyi "I Dreamed A Dream" itu bener-bener mencuri perhatian banget.

Di film ini ada lagu baru, "Suddenly", bener-bener menyentuh hati.
 
Lagu "On My Own" tentu termasuk lagu yang gue tunggu.  Di versi film 1998, tokoh Eponine ditiadakan.  Kali ini, ada Eponine dan "On My Own" adalah lagu yang dinyanyikan olehnya.  Setelah mendengarkan "On My Own" versi Lea Salonga dan juga Rachel Berry, gue cuma bisa bilang kalau nadanya diturunin hahaha...tetep bagus kok, tapi ya itu...ketara banget nadanya diturunin.

Adegan lain yang bikin gue juga menitikkan air mata adalah adegan Eponine dan Marius.  Cukup menyentuh lah adegan itu. 

Bagian terakhir bikin gue bener-bener nangis, meskipun entah kenapa setelah dipikir-pikir hahaha...mungkin karena memang bagian terakhir juga menyentuh banget, dan dengarkan waktu Cosette nyanyi, berasa banget getaran suaranya.

Overall, ini film layak dijadikan salah satu nominasi film terbaik Oscar :D, bagitu juga untuk Hugh Jackman dan Anne Hathaway.  Dibandingkan dengan versi 1998 punya, yang versi musikal lebih berasa kesedihan dan perjuangan Jean Valjean dan Fantine.  Lagu-lagunya bener-bener membantu banget untuk menyampaikan perasaan para tokoh-tokohnya.  Untuk tokoh Javert, menurut gue versi tahun 1998 lebih menggambarkan usaha apa saja yang sudah ia lakukan demi menangkap seorang Jean Valjean, sedangkan di film ini, usaha itu tidak terlalu dijelaskan.  Tetap terlihat bahwa  Javert berusaha menangkap Valjean, tapi sejauh mana tidak begitu keliatan.

Gue sempet berpikir, untung ini musikal bukan karya Andrew Lloyd Weber, jadi tiap lagu bener-bener berbeda.  Bukan berarti kalo Weber bikin lagu seringnya sama, tapi Weber seperti punya satu tema dimana nada-nada yang sama selalu muncul berulang-ulang kali, yang diganti hanya liriknya.  Di Les Miserables sendiri juga ada bagian seperti itu, tapi kayaknya Weber lebih kentara.

Oh hal yang cukup sering muncul adalah adegan dimana beberapa orang menyanyikan bagian yang berbeda di waktu yang sama.  Wow! Cukup dibutuhkan kecepatan mata dan ketajaman kuping untuk bisa mencocokkan siapa menyanyikan bagian yang mana.

Buat penyuka musikal dan atau Broadway sih menurut gue ini termasuk film yang kudu dan patut ditonton.

Tuesday, December 18, 2012

Alex Cross




Alex Cross merupakan film yang diadaptasi dari buku karangan James Paterson.

Bagi penggemar buku bergenre misteri, thriller, detektif pasti cukup tau dengan nama James Paterson. Dia tidak saja menulis untuk orang dewasa tapi juga untuk genre Young Adults karyanya cukup dikenal. Seperti serial Maximum Rider.

Sayangnya, gue enggak mengikuti serial Alex Cross ini. Dikatakan serial karena memang cerita Alex Cross ini terdiri dari beberapa buku. Satu buku dengan yang lainnya tidak bersambung tapi ada benang merahnya. Sama seperti buku J. D. Robb yang "In Death" series.

Dulu, Alex Cross diperankan oleh Morgan Freeman si film "Along Came A Spider" dan "Kiss The Girls". Sekarang yang memerankan adalah Tyler Perry.

Untuk orang Indonesia nama Tyler Pwrey mungkin tidak begitu terkenal atau tidak seterkenal Morgan Freeman. Tapi untuk orang Amrik, Tyler Perry sudah punya nama.

Seperti biasa, gue gak akan cerita sinopsis ya karena bisa baca sendiri si Wikipedia hahaha...tapi initinya sih, Alex berhadapan dengan seorang pembunuh sadis yang senang dengan rasa sakit yang berarti senang menyiksa korbannya.

Gue suka liat Tyler Perry sebagai Alex Cross. Mungkin karena terlihat lebih muda dan ganteng juga dibandingkan Morgan Freeman :D.

Penjahatnya, yang mana gue lupa, oh The Butcher kalo gak salah, yang meranin adalah Matthew Fox. Buat penonton Lost pasti tau siapa Matthew Fox. Man!! Penampilannya beda banget! Salut gue! Dia sih keren banget jadi penjahat. Suer nyeremin abis!

Alex Cross di sini selain sebagai detektif polisi juga punya gelar sebagai psikolog yang berarti dia mengerti jalan pikiran penjahat. Mirip-mirip profiler gitu deh. Dan ini yang bikin perbedaan antara buku dengan film menjadi kentara.

Mungkin bagi beberapa orang proses kenapa Alex bisa mencapai pada Sebiah kesimpulan merupakan hal yang membosankan, tapi buat gue (dan penonton yang pintar tentunya) pasti penasaran. Apalagi buat mereka yang suka nonton Criminal Minds pasti tau bahwa yang menarik bukan saja adegan pembunuhannya tapi juga bagaimana para penegak hukum itu bisa menangkap si pelaku. Dan menurut gue, ini yang kurang si film ini.

Dan endingnya...di Bali aje hahahaha

So over all...cukup lah buat hiburan ringan hahaha...karena beneran gak butuh mikir, yang mana agak mengecewakan buat gue hahaha...


Saturday, May 5, 2012

The Avengers


Jujur, awalnya gue enggak tertarik untuk nonton ini film. Meskipun gue udah nonton dan suka dengan Iron Man, dan juga udah nonton Thor, tapi awalnya gue enggak tertarik dengan The Avengers ini. Tapi, setelah liat trailer filmnya....gue langsung tertarik! Dan keinginan gue akhirnya tercapai!

So....hari Jumat, kemaren sih itungannya karena sekarang udah masuk tanggal 5, gue janjian sama Yan dan Gerrie untuk ketemuan di PI. Iseng aja. Pas juga Gerrie tadi Yoga di daerah Sarinah situ. Pas lagi nunggu Gerrie di Periplus, bokap telpon dan bilang supaya gue pulang bareng nyokap yang memang juga lagi di eX karena kantornya nyokap, Credit Suisse lagi mentraktir klien-kliennya nonton The Avengers di
The Premiere. Jadi gue bisa pulang bareng. Langsung gue telpon nyokap dan bilang kalo gue juga lagi di PI jadi ntar bisa pulang bareng.

Kita dinner di Urban Kitchen saja tadi. Makan Hong Kong Street, yang sepertinya bakal gue kunjungi lagi next time gue ke sana. Doyan bo! (eh jadi inget ada makanan yang tadi gue bawa pulang belum dimakan!) Selesai makan dan ngobrol, rencananya gue mau ke Marks & Spencer untuk liat baju. Tepatnya nanya opini Yan dan Gerrie. Eh nyokap telpon dan bilang bahwa ada sisa tiket! OMG! Kita langsung bergerak menuju eX!

Pucuk dicinta ulam tiba! Akhirnya gue, Yan, dan Gerrie berhasil nonton The Avengers di The Premiere, GRATIS!! Oh yes!! Mana kursinya recliner pula! Maklum, baru pertama kali nonton di Premiere soalnya hahaha...jadi yah gitu deh hahaha...orang tadi aja sempet bingung gimana caranya supaya kursinya bisa recline gitu...untung Yan tau, kalo enggak....wah...bengong aja kali hahahaha.

Now about the movie. KERENNNNNNNNNNN!!!! Film yang menurut gue wajib tonton. Bahkan bagi mereka yang enggak gitu mengikuti film tokoh-tokoh The Avengers, tetep bisa menikmati film ini. Dari tokoh-tokoh The Avengers ini, gue cuma nonton Iron Man dan Thor. Captain America dan Hulk enggak gue tonton sama sekali filmnya.

Yang gue (dan Gerrie) suka adalah komputer yang ada di film ini. Kita berdua bisa terpana ngeliat komputer dan teknologi yang ada di film ini, bener-bener mupeng abis.

Selebihnya, murni hiburan. Dan gue seperti biasa, ikutan 'heboh' setiap kali ada yang terbanting, terlempar, atau tertabrak (atau dibanting, dilempar, ditabrak). Terutama waktu adegan Hulk berantem sama Thor. Man!! Keren abiss!!

Dan membicarakan Hulk...oh man!!! He's so funny!!!! Gue sampe sekarang masih ketawa-ketawa kalo inget adegan Hulk dengan Loki (if you see the movie you'll know what I mean) dan adegan Hulk dengan Thor sesudah mereka kerja sama menjatuhkan musuh bareng (again, if you see the movie you'll know what I mean). Beneran deh. Hulk buat gue bener-bener jagoannya di sini. Iron Man bisa saja yang menjadi 'tokoh utama', tapi Hulk....unbeatable. Ya iyalah!!

Dan inilah yang membuat gue memutuskan untuk menulis blog malam ini. Seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya, Hulk inspired me!

Menyinggung soal Iron Man, entah cuma gue dan Gerrie yang 'ngerti' sarkasme Tony Stark jadi kita ketawa-ketawa sendiri, atau memang omongan Tony Stark yang terlalu sarkastik? Soalnya gue dan Gerrie merasa cuma kita berdua yang tertawa-tawa, sedangkan yang lainnya cuma diem aja.

Ada satu adegan yang menurut gue merupakan adegan kunci. Buat yang nonton Iron Man, Thor (dan mungkin juga Hulk serta Captain America) mungkin ngerti. Kematian salah satu agen mereka, agen yang mungkin tidak begitu penting, tapi menurut gue inilah yang membuat mereka akhirnya bisa berusaha untuk bersatu. Selain memang karena mereka kudu membela Bumi.

Hoki banget gue bisa nonton ini film. Dan mungkin next time gue bakal meluangkan waktu untuk nonton itu Captain America hahahaha....

Mirror Mirror


WOW!!! Tau-tau udah masuk bulan Mei?? Where have the days gone by? Hahahaha just kidding. Hari-hari habis digunakan untuk ngerjain kristik. Kebetulan lagi ada proyek dadakan...maksud hari mengerjakan hanya dalam waktu 7 hari, terpaksa molor karena sempet 'off' dua hari akibat pergi jalan-jalan hahaha..jangan blogging, baca buku aja enggak sempet. Padahal beli bukunya tetep jalan terus.

Anway, 26 April kemaren gue sempet nonton Mirror Mirror bareng sama Yosi. Dari kemaren-kemaren pingin nulis...tapi tertunda mulu. Baru sekarang sempet nulis. Itupun karena gue terinspirasi untuk menulis. Hulk yang memberi inspirasi. Kenapa Hulk? Silakan baca postingan berikutnya ya :D

Secara keseluruhan, gue suka sama ini film. Ada romance, action, dan comedy. Entertaining menurut gue. Tokoh favorit gue? The Evil Queen. Kenapa? Karena menurut gue dia sangat pasif-agresif sekali!! Apa itu pasif-agresif? Pasif-agresif itu singkatnya adalah orang yang melakukan tindakan agresif dengan bertindak pasif. Singkatnya lagi, paling bisa bikin orang merasa bersalah.

Bisa dibilang gue terpesona dengan kalimat yang keluar dari mulut The Evil Queen. Menyakitkan, tapi dengan kata-kata yang bisa dibilang halus. Tersirat banget.

Soal the seven dwarfs...mereka jelas-jelas menghibur banget. Beberapa dari mereka wajahnya cukup familiar, meskipun tidak semua. Setiap ada mereka, bisa dibilang adegannya bakal seru.

Seperti yang gue bilang, secara keseluruhan film ini menarik. Lucu, romantis, dan seru. Menghibur lah. Tapi...ada kalanya gue merasa filmnya agak-agak jayus, klise, dan datar. Dan meskipun gue menyuka The Evil Queen...there's something about Julia Roberts yang menurut gue agak kurang pas dikiiiiiiit dengan tokoh tersebut.

Jadi ya...secara keseluruhan filmnya menarik, tapi kalo dianalisa per bagian...agak-agak kurang. Yang pasti sih menghibur :)

Oh...yang amat sangat mengganggu gue adalah teks terjemahannya. Subtitle nya banyak salah!! Jadi kayaknya harus pasang telinga juga deh ya untuk nonton film ini.


Wednesday, March 28, 2012

Hunger Games - The Movie


Tadi siang gue berhasil nonton Hunger Games. Well...mungkin kata "berhasil" kurang tepat, kesannya selama ini ada banyak hal yang menghalangi gue untuk nonton tuh film. Intinya sih, tadi siang gue nonton Hunger Games.

Seperti yang sudah diketahui banyak orang, terutama mereka yang rajin ke toko buku, penggemar buku, dan juga penggemar film, pasti udah tau kalo film ini berdasarkan buku karangam Suzanne Collins dengan judul yang sama.

Buku Hunger Games merupakan trilogi, diawali dengan Hunger Games, diikuti dengan Catching Fire, dan ditutup dengan Mockingjay. Berhubung tema ini buku adalah distopian, alhasil ini buku enggak gue baca. Buat mereka yang mengenal diriku, udah jelas tau kalo seorang Ze cuma seneng baca yang happy. Dan distopian, meskipun endingnya happy, tetep termasuk kategori gloomy buat gue.

But nevertheless, gue tau kalo ini buku booming banget dan bakal dibuat filmnya. Nah kalo film...bolehlah ditonton hahaha...

Cuma tetep aje...film belum ada separo gue udah bbm Mia untuk minta spoiler hahaha...gubrak gak sih!! Gue udah tau sih siapa yang jadi tokoh utamanya, siapa yang jadi pasangannya (tetep Ze...yang dicari romance-nya) dan langsung pingin tau tokoh yang jahat siapa hahahaha...

Gue enggak akan bahas sinopsisnya karena udah banyak di internet sono. Buat gue yang belum pernah baca bukunya, gue cukup bisa mengikuti jalan ceritanya. Ada sih beberapa pertanyaan, seperti kenapa awalnya sampe ada perlawanan dan kenapa Hunger Games kemudian dibilang sebagai sesuatu yang justru menyatukan mereka. Oh dan apa arti "hormat" mereka (3 jari diangkat). Semuanya pertanyaan penting-gak penting sih, yang kalo kita tau ya bagus, kalo enggak tau ya enggak gitu pengaruh ke jalannya cerita juga.

Mungkin ini perasaan yang dialami mereka-mereka yang nonton Harry Potter tapi enggak baca bukunya hahahah.

Film ini dengan sukse bikin gue nonton sambil tutup mata (adegan Rue karena Mia bilang tragis jadi gue tutup mata, siap-siap dan adegan terakhir di hutan, with the dogs). Belum lagi adegan yang bikin gue terbengong-bengong (adegan awal THE game dimulai), atau terkejut-kejut (ketika tuh anjing tiba-tiba muncul), bahkan sampe ikutan nangis (Rue. Padahal adegannya sebentar tapi bisa bikin para penonton nangis bo!! Again...membuatku teringat akam Harry Potter 7).

Ceritanya memang cukup menegangkan, banyak adegan yang bisa dibilang sadis (meskipun enggak gitu jelas banget ya, but you'll get the idea), dan meskipun dihiasi dengan pakaian yang warna-warni, ke-gloomy-annya tetep terasa (opo tho Bahasa Indonesianya yang bener?).

Mia nanya apakah abis nonton gue jadi tertarik untuk baca bukunya? Gue bilang sih enggak hahaha. It's still a dystopian stories. Tapi harus diakui bahwa gue memang jadi penasaran. Untung aja pada saat film ini rilis, trilogi Hunger Games udah selesai. Kebayang betapa "stress"nya gue andai ini cerita belum selesai. Kayak waktu film Harry Potter 1 main, buku 7 jadi aja belum hahaha....

Jadi...filmnya bolehlah....jalan cerita oke, action seru, bikin kaget, bikin sedih, bikin keki (salut buat yang jadi Cato!), ada love story-nya juga. Komplitlah :) Udah baca atau belum bukunya menurut gue enggak jadi masalah.

Taon depan, seandainya Catching Fire bakal main, besar kemungkinan gue bakal nonton lagi.

Trakhir I leave you with the quote "Happy Hunger Games. May the odds be ever in your favor."






ps: written in my iPod :)
Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com