Sunday, December 4, 2011
Seperti biasa, tanggal 3 Desember adalah hari ulang tahun gue. Dan seperti biasa tiap tahun, gue selalu (seinget gue ya) ngajak makan temen-temen gue. Yang gue ajak memang mereka yang gue anggep temen, temen curhat, temeng ngobrol, temen berbagi. Sudah tentu jumlah mereka yang gue anggap temen jumlahnya memang banyak, tapi biasanya jarang bisa dateng full team. Tahun lalu, jumlah yang dateng cukup banyak, 10 orang. Kali ini, yang bisa dateng cuma 5 orang, bareng sama gue sendiri, jadi tadi berenam.
Nothing special. Kali ini sengaja bikin acaranya siang. Kita makan di Hong Kong Cafe yang ada di Jl. Sunda. Gue bilang jam 1-an, tapi baru pada lengkap sekitar jam 2an. Hahahaha...biasalah.
Pas mau selesai, tau-tau Yan ngasih gue a brown paperbag yang cukup berat. Begitu gue liat isinya ternyata ada kado!! Gue udah nebak ini pasti buku. Berat dan besar. Kotak pula! Gue curiga...jangan jangan...jangan jangan nih....tapi gak berani mastiin. Karena rasanya enggak mungkin gue dibeliin buku itu. Begitu dibuka bener aja.
OMG!! I'm truly really have the BEST FRIENDS EVER!!!! Look what they gave me!!
Gue speechless. Gue gak bisa ngomong apa-apa selain bilang, "Kalian semua sinting." Crazy for buying me this wonderful book. Crazy for giving me what I want. Crazy for approving the idea of buying me this book. Just plain crazy!! I almost cried. Tapi gue tahan, sungkan.
Dan malam ini, selagi gue nulis ini blog...sekali lagi gue ngerasa betapa beruntungnya gue, betapa terberkatinya gue, betapa bersyukurnya gue, for having these crazy and yet wonderful people I called my best friends.
Thank you guys! You are the best!!
Labels: birthday, birthday party, friends
Thursday, December 1, 2011

Semuanya bermula dari...
Inara sudah bosan dengan perlakuan keluarganya yang terlalu protektif kepadanya, selalu mencoba mengatur hidupnya, sehingga dia ingin menunjukukkan kepada mereka bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri sebagai wanita dewasa.
Kemudian...
Revel betul-betul terdesak mendapatkan seorang istri secepatnya untuk menyelamatkan karier musik dan image-nya di mata masyarakat. Bukan dia yang menghamili Luna, kekasihnya, dan lalu tak mau bertanggung jawab.... Dia harus menikah untuk menepis gosip itu. Dan pilihannya jatuh pada Inara, akuntang publik yang bekerja padanya.
Hasilnya...
Sebuah pernikahan di atas kertas yang sepatutnya akan menguntungkan mereka berdua. Semua berjalan cukup lancar sampai Revel dan Inara mendapati bahwa pernikahan tersebut mulai terasa lebih nyata daripada yang pernah mereka bayangkan. Mampukah keduanya menepati janji masing-masing untuk mengakhiri sandiwara ini ketika kontrak berakhir?
Jujur, entah apa yang ada dipikiran gue waktu memutuskan untuk beli ini buku. Apalagi buat yang kenal sama gue, susah banget buat seorang Zenia beli buku lokal dari seorang pengarang yang belum pernah gue baca karyanya. Selama ini buku pengarang lokal untuk kategori macam chicklit - metropop yang menurut gue "sempurna" adalah Marga T dan Clara Ng. Selebihnya...gue enggak berani ambil resiko. Tapi rupanya resiko itu gue ambil kemaren.
Yup. Buku ini dengan sukses langsung gue baca setelah gue beli. Hehehehehe....TUMBEN banget kan?!!
Mungkin karena gue tertarik dengan sinopsisnya? Mungkin karena setelah gue baca bagian prologue nya gue tertarik dengan jalan ceritanya? Maka gue belilah ini buku. Sampe rumah langsung gue baca. Kristik gue untuk sementara dihentikan dulu demi buku ini.
Dan baru halaman pertama gue udah langsung berkomentar ini dan itu....berlanjut hingga halaman terakhir. Yah sebenernya sih dari waktu baca prolog itu pun gue juga udah mengerutkan kening gue...tapi gue cuekin, toh ceritanya menarik menurut gue...tapi karena semakin ke belakang jumlah yang membuat gue mengerutkan kening semakin bertambah...gue mulai terganggu dengan hal itu.
Oke...secara keseluruhan, gue suka dengan konsep/ide ceritanya. Klise sih, klise abis, dan merupakan cerita resep lama. Tapi lagi, namanya juga roman. Mau cerita kayak apa lagi sih? Gue suka dengan ritme ceritanya...mengalir dengan lancar. Selebihnya....kedodoran menurut gue.
Hal yang sangat menganggu gue sekali dalam buku ini adalah gaya penulisannya. Bukan gaya berceritanya, tapi lebih ke masalah teknis, alias bahasa. Ya ampun...bahasa yang digunakan campur aduk alias bahasa gado-gado antara Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Apalagi menurut gue, kata-kata yang digunakan itu seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Gue baru ngerasain sekarang ini, betapa tidak enaknya membaca dengan bahasa gado-gado seperti ini. Terlebih lagi, jika kata-kata tersebut digunakan sebagai narasi, bukan bagian dari percakapan.
Contoh: "Dia baru menyadari bahwa buku-buku itu diatur berdasarkan ukuran dan alphabet nama pengarang". Apa tidak bisa kata alphabet dirubah menjadi 'abjad'. Lalu di halaman pertama, awalnya menggunakan kata 'firm' untuk firma, tapi kemudian di kalimat selanjutnya menggukanan kata 'firma'. Lha? Kenapa enggak dari awal aja menggunakan kata firma? Kenapa jadi harus dua istilah seperti itu. Untuk kata-kata yang mungkin tidak ada atau belum ada padanan Bahasa Indonesianya, gue masih maklum, tapi rasanya aneh dan kurang tepat kalau padanan katanya ada dan tetap memilih menggunakan istilah bahasa Inggris.
Kenapa soal bahasa cukup menganggu gue? Mungkin karena artikel Femina yang pernah gue baca waktu dulu itu cukup menohok gue? Coba baca postingan gue tentang bahasa, mungkin dari situ akan lebih ngerti.
Hal lain yang juga cukup menganggu gue adalah soal penokohan Inara. Di buku enggak diceritakan soal perlakukan keluarga Inara yang terlalu protektif. Semua itu hanya dilakukan dalam bentuk narasi, yang menurut gue hanya merupakan katerangan singkat, hanya sebagai latar belakang kehidupan Ina saja. Buat gue, itu enggak cukup untuk menggambarkan kepribadian Ina yang merasa terjepit dan memutuskan untuk memberontak. Gue enggak dapat perasaan itu.
Untuk hubungan antara Ina dan Revel sendiri....ketertarikan mereka berdua sudah digambarkan sejak pertama. Dari sini Ina yang memang tertarik pada fisik Revel, hal yang sama juga terjadi pada Revel, meskipun Ina digambarkan secara fisik berbeda dari perempuan yang biasa dipacari oleh Revel (model), tapi ketertarikan itu digambarkan ada. Tapi kemudian, sekali lagi gue tidak merasakan perkembangan ketertarikan itu. Bahkan sesudah mereka menikah kontrakpun, ketika hubungan mereka berdua dikatakan semakin lama semakin dekat, gue enggak ngerasain itu. Apa mungkin karena proses kedekatan mereka itu lebih banyak digambarkan dalam bentuk narasi daripada percakapan, jadi gue enggak bisa ngerasainnya?
Gue baru menyadari, bahwa gue ini termasuk orang yang taktil (tactile). Semakin dekat gue dengan seseorang, maka semakin nyaman gue menyenderkan tangan gue di bahu orang itu, semakin mudah gue menyentuh tangannya, lengannya, merangkul, dsbnya. Ya ngerti lah maksud gue. Baik itu laki-laki atau perempuan, hal yang sama akan terjadi. Gue bukan orang yang dengan mudah langsung melakukan itu semua pada orang yang baru gue kenal. Nah, di buku ini, bisa dibilang gambaran Ina dan Revel saling menunjukkan perasaannya lewat sentuhan itu bisa dibilang sedikit. Memang ada saat dimana Revel merangkul Ina dan sebaliknya, tapi itu terjadi pada saat mereka berdua memang sedang membutuhkan pelukan yang menenangkan hati. Gue mengharapkan lebih hahahaha. Enggak usah yang dalam skala besar, cukup gandengan tangan, rangkulan, hal-hal yang sederhana, tapi bisa terasa kasih sayangnya.
Sayang, pada saat buku ini abis, tinggal bab terakhir dan sebuah epilog, seorang Sufei meminta supaya gue menelpon. Dan gue yang masih dalam suasana dan aura 'roman' memutuskan untuk menelpon Sufei. Baru berakhir 2,5 jam kemudian. Dan pada saat akhirnya gue melanjutkan itu buku, aura roman yang sebelumnya telah dibangun (meskipun bolong-bolong), tidak bisa dibangun kembali hanya untuk sebuah bab dan epilog. Alhasil gue tidak merasakan apa-apa, sama sekali. Semua terasa hambar. Hieh....
Entah mengapa, gue merasa bahwa buku ini berantakan. Ada beberapa hal yang memberikan kesan bahwa keterangan-keterangan itu ditambahkan belakangan hanya untuk menjelaskan sesuatu. Yang seharusnya menurut gue bisa ditaro di depan atau dijelaskan terlebih dulu, ini malah ditaro di belakang atau dijelaskan belakangan. Mungkin maksudnya mau dijadikan sebuah pengungkapan, tapi gue malah enggak nyambung.
Secara umum, buku ini masih bisa dinikmati sebagai hiburan kok, karena toh gue masih terhibur dengan beberapa adegan didalamnya. Ada beberapa adegan yang menurut gue juga bagus. Jadi enggak bisa dibilang bahwa buku ini jelek juga. Tapi yah itu hahahaha....beberapa hal memang cukup mengganggu gue.
Selesai baca buku ini gue malah jadi mikir, apa udah enggak ada lagi ya buku yang bisa bikin gue terpesona, buku yang pada saat gue baca bikin jantung ikutan berdegup keras, ikut terbawa emosi tokoh-tokohnya? Ngeliat banyaknya 'protes' gue akan buku ini malah bikin gue ngenes sendiri...kacau.
Friday, November 25, 2011

Udah lama enggak nonton bioskop, hari Kamis akhirnya jadi juga nonton bioskop. Kali ini sengaja pilih dua film sekalian, karena memang mau ada acara dinner juga bareng Gerrie dan Yan. Untuk menghindari dua kali pergi ke Grand Indonesia, jadi semua dipiliha untuk dilakukan dalam satu hari.
Film pertama adalah Tintin. Sengaja nonton yang 3D di Blitz.
Siapa yang enggak kenal Tintin? Wartawan ciptaan Herge, artis Belgia (temannya Peyo mungkin :D), sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk ke Bahasa Indonesia. Kalau enggak salah inget, Gramedia kemaren ini lagi memberikan promo dalam rangka pemutaran film The Adventures of Tintin ini. 
Film Tintin kali ini sepertinya cukup heboh, karena ada dua nama besar yang terlibat di dalamnya. Steven Spielberg, sebagai sutradara dan juga produser, dan Peter Jackson sebagai produser. Selain itu, film Tintin kali ini juga mengambil bentuk seperti The Polar Express (Filmnya Spielberg juga) dan The Christmas Carol, yang disebut sebagai motion capture, animasi tapi tampak nyata.
Dari segi cerita, well...berhubung gue sendiri lupa seperti apa jalan cerita di komiknya, jadi kayaknya gue enggak bisa bandingin secara langsung. Yang pasti sih, gue menikmati banget ini film. Cerita yang penuh dengan aksi, komedi, ketegangan, dan tentu sumpah serapah Captain Haddock "Billions of bilious blue blistering barnacles!".
Ketika film ini berakhir, gue berharap bakal dibikin sekuel-nya, karena menurut komiknya petualangan Tintin belum berakhir di sini. Baca wikipedia sih rumornya bakal ada sambungannya...semoga benar demikian adanya.
Gue sama Gerrie ketawa-ketawa ngakak menikmati film ini. Kata Gerrie persiapan untuk nonton Immortals hahahaha...
Buat yang belum tau Tintin (SERIOUSLY??) dan buat yang udah tau Tintin, film ini seru untuk ditonton. Menghibur tapi tetap berisi.
Jujur, yang membuat gue tertarik dengan film ini adalah tulisan "from the producer of 300". Gue suka sama film 300, sangat suka. Jadi gue pun tertarik dengan film ini. Mengetahui bahwa ini film hanya main di Blitz, mau enggak mau jadi memang harus mempersiapkan hari khusus untuk bisa nonton ini. Untung aja Gerrie dengan rela menemani gue hehehe...
Bayangan gue tentang Immortals sempat 'rusak' gara-gara seorang Yan Matheas memberikan ke gue spoiler tentang ini film yang membuat gue berpikir ulang untuk nonton ini film. Yang dikasih tau Yan bukan tentang jalan ceritanya, gue enggak ada masalah soal spoiler jalan cerita. Yang diceritakan Yan adalah soal adegan-adegan penyiksaan yang cukup brutal dan berdarah-darah. Dibandingkan 300, film ini ternyata lebih...gruesome, lebih brutal. Dan jujur, ini yang bikin gue nyaris memutuskan untuk enggak nonton.
Tapi akhirnya Gerrie bilang untuk nonton aja...dan akhirnya...kita pun nonton. Gue nonton dengan tutup mata (dan tutup telinga) setiap kali adegan penyiksaan (atau yang gue duga bakal ada penyiksaannya), sesudah adegan itu selesai gue baru liat ke layar lagi. Hieh....parahhhhh!!!
Kalau gue bandingan antara Immortals dengan 300, wah gue milih 300 kemana-mana ya. Antara Clash of the Titans dan Immortals...well...seimbang menurut gue. Immortals lebih keren dikit.
Immortals bercerita tentang petualan Theseus dalam melawan King Hyperion. King Hyperion sendiri berusaha melepaskan para Titan yang dipenjara di bawah gunung Tartarus. King Hyperion berusaha membunuh para Dewa-Dewa Olimpus, yang hanya bisa dibunuh oleh para Titan.
Film Immortals merupakan saduran bebas (bebas banget) dari mitologi Theseus and the Minotaur. Alhasil, beda banget dari cerita aslinya. Dan mungkin ini yang bikin gue enggak gitu suka dengan Immortals.
Dari segi cerita, jalan ceritanya bisa dibilang klise banget. Gue sama Gerrie ketawa ngikik begitu ngeliat Phaedra (the virgin oracle) akhirnya tidur bareng dengan Theseus. It's sooo cheesy!! Apalagi ngeliat endingnya. OMG! Klise abis. Ketebak abis.
Lalu dengan para dewa-dewa itu sendiri, yang ditunjukkan 'cuma' Zeus, Poseidon (bagi penggemar Twilight Saga, kenal banget sama yang main), Athena, Apollo, Ares, dan Hercules.
Hercules?? Yup...gue juga baru sadar pas baca wikipedia. Salah banget 'kan? Kenapa juga ada Hercules.
Dengan cerita yang enggak sesuai dengan mitologi sama sekali, gue memutuskan untuk enggak mau terlalu memperhitungkan itu dan sekedar menikmati jalan ceritanya aja. Tapi setelah adengan Phaedra dan Theseus, gue memilih untuk menikmati adegan perangnya aja. Tapi ternyata enggak bisa gue nikmati juga...hieh...
Mungkin gue salah, tapi menurut gue pertempuran antara tentara Athena (kota Athena) dan prajurit King Hyperion kurang indah. Seandainya tidak ada beberapa adegan yang di slow motion, gue enggak masalah, tapi ini ada beberapa adegan yang di slow motion, dan menurut gue gunanya gerak lambat adalah untuk menunjukkan sesuatu yang kalau dalam gerak cepat lu bakal ketinggalan. Tapi ini biasa aja. Yang cukup bisa gue nikmati adalah pertempuran antara para Dewa-Dewa Olympus dengan para Titan. Suer...brutal abis!
Dan selesai film...mau enggak mau gue kembali membandingkan dengan 300.
Immortals menurut gue...enggak ditonton juga enggak papa hahahaha.... Tingkat kekerasannya memang cukup tinggi dan cukup bisa digunakan sebagai daya tarik. Bisa banget. Tapi dari segi cerita, cinematografi, kurang banget menurut gue.
Yang pasti sih, kalo ada dvd-nya, bakal gue beliin buat bokap. Semoga aja dia ngerti jalan ceritanya hahahaha....
Labels: immortals, movie review, tintin
Tuesday, November 8, 2011

Sekitar dua minggu yang lalu, gue ngeliat iklan film seri tv baru, "Prime Suspect" di channel DIVA. Yang main Maria Belo, dan karena penasaran tentang ini film, gue langsung buka wikipedia untuk cari info lebih lanjut. Sekalian pingin tahu apakah ini film cukup menarik untuk diunduh :)
Ternyata, "Prime Suspect" yang dimainkan oleh Maria Belo ini adalah adaptasi dari film seri berjudul sama tapi dari UK. "Prime Suspect" versi UK, dimainkan oleh Helen Mirren dan semua ada 7 'season', dari tahun 1991 (seri 1), hingga 2006 (seri 7).
Jujur, gue enggak ngerti model pembagian film seri UK. Kalo untuk US setau gue, kebanyakan film seri itu berdurasi 30 menit - 45 menit (1 jam), tiap minggu dan 1 season biasanya antara 10 - 22 episode. Dan 1 tahun biasanya 1 season, jadi bisa ketauan sudah berapa lama film seri itu ada.
Tapi enggak dengan UK. Well, at least that's not what happened with "Prime Suspect". Jadi mungkin lebih tepat kalo dibilang bahwa "Prime Suspect" merupakan mini seri.
Dan gue, akhirnya berhasil mengunduh ini film, lengkap 7 seri. Dan waktu gue nonton untuk pertama kali....WOW!!
DCI Jane Tennison (Mirren) gets her first chance to lead a major murder investigation while confronting DS Bill Otley (Tom Bell) and other sexist officers on her squad who attempt to get her replaced. The case involves the rape-murder of a young woman. She eventually gets the suspect, George Marlow (John Bowe) and earns the respect of her team.
Hellen Mirren berperan sebagai Detective Chief Inspector Jane Tennison, sebuah jabatan yang cukup tinggi dan bisa dibilang untuk tahun itu (1991) belum banyak perempuan yang memiliki posisi setinggi itu. Terlebih lagi untuk bidang pekerjaan yang lebih didominasi oleh kaum pria. Jadi, sudah tentu banyak halangan dan rintangan bagi Jane untuk membuktikan bahwa dirinya memang mahir dalam pekerjaannya.
Sosok Jane menurut gue bukan sosok yang dengan mudah disukai, baik oleh penonton maupun rekan-rekan polisi lainnya. She's tough. Very tough. Mungkin karena dia berkecimpung di bidang pekerjaan yang masih banyak didominasi kaum pria. Dan Jane bener-bener berdedikasi tinggi, sampai-sampai pekerjaan merupakan prioritas dia yang pertama, baru hal-hal yang lain.
Sejauh ini, gue udah nonton seri 1 sampe 4 (sembari ngerjain kristik), gue suka banget sama ini film seri. Dengan durasi yang bisa dibilang panjang (seri 1 3 jam!), nonton film ini serasa baca buku tentang cerita detektif. Plus, dengan setting tahun 1991, dimana saat itu yang namanya internet belum ada (layar komputernya aja masih item dengan tulisan ijo dan belum ada mouse!!) serta handphone juga belum ada (it's pager time!) nangkep penjahat jadi lebih lama hahaha...gue sampe kesel sendiri ngeliatnya.
Dengan durasi yang cukup panjang, plus tanpa internet (di seri 4 handphone mulai ada, 1995), kita jadi bener-bener dikasih tau apa saja yang mereka lakukan dan bagaimana akhirnya mereka berhasil menangkap sang pelaku. Bener-bener pekerjaan yang melelahkan menurut gue. Nanya si A, nanya si B, ngecek alibi A, ngecek informasi B, dll dll dll.
But I love it!
Oh, dan gue baru ngeh bahwa film Inggris ternyata lebih graphic dibandingkan film Amerika. Agak aneh juga ya.. Dan belum lagi dengan segala adegan merokok dan minum-minum nya...buset dah!! Tahun itu yang namanya merokok memang merupakan hal yang amat sangat lumrah ya....dan enggak kepikiran sama yang namanya kanker paru-paru. 
"Prime Suspect" UK version ternyata merupakan secara tidak resmi dikloning oleh US di film seri "The Closer", diperankan oleh Kyra Sedgwick (istrinya Kevin Bacon). "The Closer" merupakan salah satu film seri kepolisian yang juga jadi favorit gue. Tokoh yang diperankan oleh Kyra Sedgwick, Brenda Lee Johnson, meskipun enggak se-ekstrim DCI Jane Tennison, sama-sama berdedikasi tinggi. Ada beberapa adegan dari "Prime Suspect 1" yang diambil oleh "The Closer" tapi enggak banyak.
Dan hari Minggu kemaren gue berhasil liat "Prime Suspect" versi US.
Sejauh ini....gue belum terlalu suka dengan yang versi US. Mungkin karena gue membandingkan dengan yang UK version dan rasanya durasi 45 menit tidak sebanding dengan 3 jam hahaha....ceritanya jelas-jelas berbeda, dan format juga beda. Dan berhubung gue baru nonton episode 1 jadi yah...we'll see lah. Semoga enggak tamat sampe season 1 doang.
Sekarang...yuk mari lanjut kristik sambil nonton "Prime Suspect 5" :D
Labels: prime suspect, tv show
Thursday, October 27, 2011
The Heroes of Olympus Book Two - The Son of Neptune - Rick Riordan
0 comments Posted by CAROLINE at Thursday, October 27, 2011
AKHIRNYA!!! Beli dari awal Oktober, baru dibaca kemaren...dan selesai dalam waktu satu hari saja! Gue sendiri bener-bener heran dan terkaget-kaget karena gue nyaris tidak bisa meletakkan buku ini. Rick Riordan emang mantap! :D
Setelah di buku sebelumnya The Lost Hero kita berkenalan dengan Jason, Piper, dan Leo, di buku The Son of Neptune kita berkenalan dengan Percy, Hazel, dan Frank. Yup. Akhirnya kali ini kita bertemu Percy.
Percy is confused. When he woke from his long sleep, hid didn't know much more than his name. Somehow he has managed to make it to a camp for half-bloods, but it doesn't ring any bells with him. The only thing he can recall from his past is another name: Annabeth.
Hazel is supposed to be dead. When she lived before, she didn't do a very good job of it. Now, because of a mistake she made back then, the future of the world is at risk. Hazel wishes she could ride away from it all on the stallion that appears in her dreams.
Franks is a klutz. His grandmother says he is descendant from heroes, but he doesn't see it. His bulky physique makes him feel like an ox, especially in front of Hazel, his closest friend. He trust her completely - enough to share the secret he holds close to his heart.
Begitu mulai baca, gue gak bisa brenti. Dan buku ini lucu sekali!! Banyak adegan-adegan yang bikin gue ketawa-ketawa sendiri. Dan seperti biasa, buku ini penuh dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan.
Seperti yang udah dibilang di buku 1, Percy berada di another camp, camp untuk dewa-dewa Romawi. Kalau di buku-buku sebelumnya kita lebih banyak bertemu dengan dewa-dewa Yunani, kali ini kita bertemu dengan dewa-dewa Romawi, termasuk juga dengan peradaban Romawi. Bahasa Latin bermunculan dimana-mana!
Dua tokoh baru dari Camp Jupiter (Roman Camp), Hazel & Frank, ini memiliki latar belakang yang sangat menarik. Siapa saja ayah mereka? Well...I didn't see it coming yang pasti.
Menurut gue, buku ini lebih bagus dari buku 1, meskipun rasanya sebelum baca buku 3 nanti, akan lebih baik kalo gue baca ulang buku 1. Pas baca buku 2 ini juga rasanya pingin banget baca buku 1 lagi. Tapi berhubung dah keburu penasaran dengan buku 2, jadi keinginan untuk baca ulang, ditunda dulu.
Selesai baca buku ini, gue cuma bisa teriak "NOOOOOOOO!! I want more!!" Can't wait for book 3, The Mark of Athena.


