Sunday, December 4, 2011

The Besf Friends Ever!

Seperti biasa, tanggal 3 Desember adalah hari ulang tahun gue. Dan seperti biasa tiap tahun, gue selalu (seinget gue ya) ngajak makan temen-temen gue. Yang gue ajak memang mereka yang gue anggep temen, temen curhat, temeng ngobrol, temen berbagi. Sudah tentu jumlah mereka yang gue anggap temen jumlahnya memang banyak, tapi biasanya jarang bisa dateng full team. Tahun lalu, jumlah yang dateng cukup banyak, 10 orang. Kali ini, yang bisa dateng cuma 5 orang, bareng sama gue sendiri, jadi tadi berenam.

Nothing special. Kali ini sengaja bikin acaranya siang. Kita makan di Hong Kong Cafe yang ada di Jl. Sunda. Gue bilang jam 1-an, tapi baru pada lengkap sekitar jam 2an. Hahahaha...biasalah.


Pas mau selesai, tau-tau Yan ngasih gue a brown paperbag yang cukup berat. Begitu gue liat isinya ternyata ada kado!! Gue udah nebak ini pasti buku. Berat dan besar. Kotak pula! Gue curiga...jangan jangan...jangan jangan nih....tapi gak berani mastiin. Karena rasanya enggak mungkin gue dibeliin buku itu. Begitu dibuka bener aja.

OMG!! I'm truly really have the BEST FRIENDS EVER!!!! Look what they gave me!!


Gue speechless. Gue gak bisa ngomong apa-apa selain bilang, "Kalian semua sinting." Crazy for buying me this wonderful book. Crazy for giving me what I want. Crazy for approving the idea of buying me this book. Just plain crazy!! I almost cried. Tapi gue tahan, sungkan.

Dan malam ini, selagi gue nulis ini blog...sekali lagi gue ngerasa betapa beruntungnya gue, betapa terberkatinya gue, betapa bersyukurnya gue, for having these crazy and yet wonderful people I called my best friends.

Thank you guys! You are the best!!

Thursday, December 1, 2011

Celebrity Wedding - aliaZalea


Semuanya bermula dari...
Inara sudah bosan dengan perlakuan keluarganya yang terlalu protektif kepadanya, selalu mencoba mengatur hidupnya, sehingga dia ingin menunjukukkan kepada mereka bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri sebagai wanita dewasa.

Kemudian...
Revel betul-betul terdesak mendapatkan seorang istri secepatnya untuk menyelamatkan karier musik dan image-nya di mata masyarakat. Bukan dia yang menghamili Luna, kekasihnya, dan lalu tak mau bertanggung jawab.... Dia harus menikah untuk menepis gosip itu. Dan pilihannya jatuh pada Inara, akuntang publik yang bekerja padanya.

Hasilnya...
Sebuah pernikahan di atas kertas yang sepatutnya akan menguntungkan mereka berdua. Semua berjalan cukup lancar sampai Revel dan Inara mendapati bahwa pernikahan tersebut mulai terasa lebih nyata daripada yang pernah mereka bayangkan. Mampukah keduanya menepati janji masing-masing untuk mengakhiri sandiwara ini ketika kontrak berakhir?



Jujur, entah apa yang ada dipikiran gue waktu memutuskan untuk beli ini buku. Apalagi buat yang kenal sama gue, susah banget buat seorang Zenia beli buku lokal dari seorang pengarang yang belum pernah gue baca karyanya. Selama ini buku pengarang lokal untuk kategori macam chicklit - metropop yang menurut gue "sempurna" adalah Marga T dan Clara Ng. Selebihnya...gue enggak berani ambil resiko. Tapi rupanya resiko itu gue ambil kemaren.

Yup. Buku ini dengan sukses langsung gue baca setelah gue beli. Hehehehehe....TUMBEN banget kan?!!

Mungkin karena gue tertarik dengan sinopsisnya? Mungkin karena setelah gue baca bagian prologue nya gue tertarik dengan jalan ceritanya? Maka gue belilah ini buku. Sampe rumah langsung gue baca. Kristik gue untuk sementara dihentikan dulu demi buku ini.

Dan baru halaman pertama gue udah langsung berkomentar ini dan itu....berlanjut hingga halaman terakhir. Yah sebenernya sih dari waktu baca prolog itu pun gue juga udah mengerutkan kening gue...tapi gue cuekin, toh ceritanya menarik menurut gue...tapi karena semakin ke belakang jumlah yang membuat gue mengerutkan kening semakin bertambah...gue mulai terganggu dengan hal itu.

Oke...secara keseluruhan, gue suka dengan konsep/ide ceritanya. Klise sih, klise abis, dan merupakan cerita resep lama. Tapi lagi, namanya juga roman. Mau cerita kayak apa lagi sih? Gue suka dengan ritme ceritanya...mengalir dengan lancar. Selebihnya....kedodoran menurut gue.

Hal yang sangat menganggu gue sekali dalam buku ini adalah gaya penulisannya. Bukan gaya berceritanya, tapi lebih ke masalah teknis, alias bahasa. Ya ampun...bahasa yang digunakan campur aduk alias bahasa gado-gado antara Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Apalagi menurut gue, kata-kata yang digunakan itu seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Gue baru ngerasain sekarang ini, betapa tidak enaknya membaca dengan bahasa gado-gado seperti ini. Terlebih lagi, jika kata-kata tersebut digunakan sebagai narasi, bukan bagian dari percakapan.

Contoh: "Dia baru menyadari bahwa buku-buku itu diatur berdasarkan ukuran dan alphabet nama pengarang". Apa tidak bisa kata alphabet dirubah menjadi 'abjad'. Lalu di halaman pertama, awalnya menggunakan kata 'firm' untuk firma, tapi kemudian di kalimat selanjutnya menggukanan kata 'firma'. Lha? Kenapa enggak dari awal aja menggunakan kata firma? Kenapa jadi harus dua istilah seperti itu. Untuk kata-kata yang mungkin tidak ada atau belum ada padanan Bahasa Indonesianya, gue masih maklum, tapi rasanya aneh dan kurang tepat kalau padanan katanya ada dan tetap memilih menggunakan istilah bahasa Inggris.


Kenapa soal bahasa cukup menganggu gue? Mungkin karena artikel Femina yang pernah gue baca waktu dulu itu cukup menohok gue? Coba baca postingan gue tentang bahasa, mungkin dari situ akan lebih ngerti.

Hal lain yang juga cukup menganggu gue adalah soal penokohan Inara. Di buku enggak diceritakan soal perlakukan keluarga Inara yang terlalu protektif. Semua itu hanya dilakukan dalam bentuk narasi, yang menurut gue hanya merupakan katerangan singkat, hanya sebagai latar belakang kehidupan Ina saja. Buat gue, itu enggak cukup untuk menggambarkan kepribadian Ina yang merasa terjepit dan memutuskan untuk memberontak. Gue enggak dapat perasaan itu.

Untuk hubungan antara Ina dan Revel sendiri....ketertarikan mereka berdua sudah digambarkan sejak pertama. Dari sini Ina yang memang tertarik pada fisik Revel, hal yang sama juga terjadi pada Revel, meskipun Ina digambarkan secara fisik berbeda dari perempuan yang biasa dipacari oleh Revel (model), tapi ketertarikan itu digambarkan ada. Tapi kemudian, sekali lagi gue tidak merasakan perkembangan ketertarikan itu. Bahkan sesudah mereka menikah kontrakpun, ketika hubungan mereka berdua dikatakan semakin lama semakin dekat, gue enggak ngerasain itu. Apa mungkin karena proses kedekatan mereka itu lebih banyak digambarkan dalam bentuk narasi daripada percakapan, jadi gue enggak bisa ngerasainnya?

Gue baru menyadari, bahwa gue ini termasuk orang yang taktil (tactile). Semakin dekat gue dengan seseorang, maka semakin nyaman gue menyenderkan tangan gue di bahu orang itu, semakin mudah gue menyentuh tangannya, lengannya, merangkul, dsbnya. Ya ngerti lah maksud gue. Baik itu laki-laki atau perempuan, hal yang sama akan terjadi. Gue bukan orang yang dengan mudah langsung melakukan itu semua pada orang yang baru gue kenal. Nah, di buku ini, bisa dibilang gambaran Ina dan Revel saling menunjukkan perasaannya lewat sentuhan itu bisa dibilang sedikit. Memang ada saat dimana Revel merangkul Ina dan sebaliknya, tapi itu terjadi pada saat mereka berdua memang sedang membutuhkan pelukan yang menenangkan hati. Gue mengharapkan lebih hahahaha. Enggak usah yang dalam skala besar, cukup gandengan tangan, rangkulan, hal-hal yang sederhana, tapi bisa terasa kasih sayangnya.

Sayang, pada saat buku ini abis, tinggal bab terakhir dan sebuah epilog, seorang Sufei meminta supaya gue menelpon. Dan gue yang masih dalam suasana dan aura 'roman' memutuskan untuk menelpon Sufei. Baru berakhir 2,5 jam kemudian. Dan pada saat akhirnya gue melanjutkan itu buku, aura roman yang sebelumnya telah dibangun (meskipun bolong-bolong), tidak bisa dibangun kembali hanya untuk sebuah bab dan epilog. Alhasil gue tidak merasakan apa-apa, sama sekali. Semua terasa hambar. Hieh....

Entah mengapa, gue merasa bahwa buku ini berantakan. Ada beberapa hal yang memberikan kesan bahwa keterangan-keterangan itu ditambahkan belakangan hanya untuk menjelaskan sesuatu. Yang seharusnya menurut gue bisa ditaro di depan atau dijelaskan terlebih dulu, ini malah ditaro di belakang atau dijelaskan belakangan. Mungkin maksudnya mau dijadikan sebuah pengungkapan, tapi gue malah enggak nyambung.

Secara umum, buku ini masih bisa dinikmati sebagai hiburan kok, karena toh gue masih terhibur dengan beberapa adegan didalamnya. Ada beberapa adegan yang menurut gue juga bagus. Jadi enggak bisa dibilang bahwa buku ini jelek juga. Tapi yah itu hahahaha....beberapa hal memang cukup mengganggu gue.

Selesai baca buku ini gue malah jadi mikir, apa udah enggak ada lagi ya buku yang bisa bikin gue terpesona, buku yang pada saat gue baca bikin jantung ikutan berdegup keras, ikut terbawa emosi tokoh-tokohnya? Ngeliat banyaknya 'protes' gue akan buku ini malah bikin gue ngenes sendiri...kacau.

Friday, November 25, 2011

Tintin & Immortals


Udah lama enggak nonton bioskop, hari Kamis akhirnya jadi juga nonton bioskop. Kali ini sengaja pilih dua film sekalian, karena memang mau ada acara dinner juga bareng Gerrie dan Yan. Untuk menghindari dua kali pergi ke Grand Indonesia, jadi semua dipiliha untuk dilakukan dalam satu hari.

Film pertama adalah Tintin. Sengaja nonton yang 3D di Blitz.

Siapa yang enggak kenal Tintin? Wartawan ciptaan Herge, artis Belgia (temannya Peyo mungkin :D), sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk ke Bahasa Indonesia. Kalau enggak salah inget, Gramedia kemaren ini lagi memberikan promo dalam rangka pemutaran film The Adventures of Tintin ini.


Film Tintin kali ini sepertinya cukup heboh, karena ada dua nama besar yang terlibat di dalamnya. Steven Spielberg, sebagai sutradara dan juga produser, dan Peter Jackson sebagai produser. Selain itu, film Tintin kali ini juga mengambil bentuk seperti The Polar Express (Filmnya Spielberg juga) dan The Christmas Carol, yang disebut sebagai motion capture, animasi tapi tampak nyata.

Dari segi cerita, well...berhubung gue sendiri lupa seperti apa jalan cerita di komiknya, jadi kayaknya gue enggak bisa bandingin secara langsung. Yang pasti sih, gue menikmati banget ini film. Cerita yang penuh dengan aksi, komedi, ketegangan, dan tentu sumpah serapah Captain Haddock "Billions of bilious blue blistering barnacles!".

Ketika film ini berakhir, gue berharap bakal dibikin sekuel-nya, karena menurut komiknya petualangan Tintin belum berakhir di sini. Baca wikipedia sih rumornya bakal ada sambungannya...semoga benar demikian adanya.

Gue sama Gerrie ketawa-ketawa ngakak menikmati film ini. Kata Gerrie persiapan untuk nonton Immortals hahahaha...

Buat yang belum tau Tintin (SERIOUSLY??) dan buat yang udah tau Tintin, film ini seru untuk ditonton. Menghibur tapi tetap berisi.






Jujur, yang membuat gue tertarik dengan film ini adalah tulisan "from the producer of 300". Gue suka sama film 300, sangat suka. Jadi gue pun tertarik dengan film ini. Mengetahui bahwa ini film hanya main di Blitz, mau enggak mau jadi memang harus mempersiapkan hari khusus untuk bisa nonton ini. Untung aja Gerrie dengan rela menemani gue hehehe...

Bayangan gue tentang Immortals sempat 'rusak' gara-gara seorang Yan Matheas memberikan ke gue spoiler tentang ini film yang membuat gue berpikir ulang untuk nonton ini film. Yang dikasih tau Yan bukan tentang jalan ceritanya, gue enggak ada masalah soal spoiler jalan cerita. Yang diceritakan Yan adalah soal adegan-adegan penyiksaan yang cukup brutal dan berdarah-darah. Dibandingkan 300, film ini ternyata lebih...gruesome, lebih brutal. Dan jujur, ini yang bikin gue nyaris memutuskan untuk enggak nonton.

Tapi akhirnya Gerrie bilang untuk nonton aja...dan akhirnya...kita pun nonton. Gue nonton dengan tutup mata (dan tutup telinga) setiap kali adegan penyiksaan (atau yang gue duga bakal ada penyiksaannya), sesudah adegan itu selesai gue baru liat ke layar lagi. Hieh....parahhhhh!!!

Kalau gue bandingan antara Immortals dengan 300, wah gue milih 300 kemana-mana ya. Antara Clash of the Titans dan Immortals...well...seimbang menurut gue. Immortals lebih keren dikit.

Immortals bercerita tentang petualan Theseus dalam melawan King Hyperion. King Hyperion sendiri berusaha melepaskan para Titan yang dipenjara di bawah gunung Tartarus. King Hyperion berusaha membunuh para Dewa-Dewa Olimpus, yang hanya bisa dibunuh oleh para Titan.

Film Immortals merupakan saduran bebas (bebas banget) dari mitologi Theseus and the Minotaur. Alhasil, beda banget dari cerita aslinya. Dan mungkin ini yang bikin gue enggak gitu suka dengan Immortals.

Dari segi cerita, jalan ceritanya bisa dibilang klise banget. Gue sama Gerrie ketawa ngikik begitu ngeliat Phaedra (the virgin oracle) akhirnya tidur bareng dengan Theseus. It's sooo cheesy!! Apalagi ngeliat endingnya. OMG! Klise abis. Ketebak abis.

Lalu dengan para dewa-dewa itu sendiri, yang ditunjukkan 'cuma' Zeus, Poseidon (bagi penggemar Twilight Saga, kenal banget sama yang main), Athena, Apollo, Ares, dan Hercules.

Hercules?? Yup...gue juga baru sadar pas baca wikipedia. Salah banget 'kan? Kenapa juga ada Hercules.

Dengan cerita yang enggak sesuai dengan mitologi sama sekali, gue memutuskan untuk enggak mau terlalu memperhitungkan itu dan sekedar menikmati jalan ceritanya aja. Tapi setelah adengan Phaedra dan Theseus, gue memilih untuk menikmati adegan perangnya aja. Tapi ternyata enggak bisa gue nikmati juga...hieh...

Mungkin gue salah, tapi menurut gue pertempuran antara tentara Athena (kota Athena) dan prajurit King Hyperion kurang indah. Seandainya tidak ada beberapa adegan yang di slow motion, gue enggak masalah, tapi ini ada beberapa adegan yang di slow motion, dan menurut gue gunanya gerak lambat adalah untuk menunjukkan sesuatu yang kalau dalam gerak cepat lu bakal ketinggalan. Tapi ini biasa aja. Yang cukup bisa gue nikmati adalah pertempuran antara para Dewa-Dewa Olympus dengan para Titan. Suer...brutal abis!

Dan selesai film...mau enggak mau gue kembali membandingkan dengan 300.

Immortals menurut gue...enggak ditonton juga enggak papa hahahaha.... Tingkat kekerasannya memang cukup tinggi dan cukup bisa digunakan sebagai daya tarik. Bisa banget. Tapi dari segi cerita, cinematografi, kurang banget menurut gue.

Yang pasti sih, kalo ada dvd-nya, bakal gue beliin buat bokap. Semoga aja dia ngerti jalan ceritanya hahahaha....

Tuesday, November 8, 2011

Prime Suspect - UK & US


Sekitar dua minggu yang lalu, gue ngeliat iklan film seri tv baru, "Prime Suspect" di channel DIVA. Yang main Maria Belo, dan karena penasaran tentang ini film, gue langsung buka wikipedia untuk cari info lebih lanjut. Sekalian pingin tahu apakah ini film cukup menarik untuk diunduh :)

Ternyata, "Prime Suspect" yang dimainkan oleh Maria Belo ini adalah adaptasi dari film seri berjudul sama tapi dari UK. "Prime Suspect" versi UK, dimainkan oleh Helen Mirren dan semua ada 7 'season', dari tahun 1991 (seri 1), hingga 2006 (seri 7).

Jujur, gue enggak ngerti model pembagian film seri UK. Kalo untuk US setau gue, kebanyakan film seri itu berdurasi 30 menit - 45 menit (1 jam), tiap minggu dan 1 season biasanya antara 10 - 22 episode. Dan 1 tahun biasanya 1 season, jadi bisa ketauan sudah berapa lama film seri itu ada.

Tapi enggak dengan UK. Well, at least that's not what happened with "Prime Suspect". Jadi mungkin lebih tepat kalo dibilang bahwa "Prime Suspect" merupakan mini seri.

Dan gue, akhirnya berhasil mengunduh ini film, lengkap 7 seri. Dan waktu gue nonton untuk pertama kali....WOW!!



DCI Jane Tennison (Mirren) gets her first chance to lead a major murder investigation while confronting DS Bill Otley (Tom Bell) and other sexist officers on her squad who attempt to get her replaced. The case involves the rape-murder of a young woman. She eventually gets the suspect, George Marlow (John Bowe) and earns the respect of her team.

Hellen Mirren berperan sebagai Detective Chief Inspector Jane Tennison, sebuah jabatan yang cukup tinggi dan bisa dibilang untuk tahun itu (1991) belum banyak perempuan yang memiliki posisi setinggi itu. Terlebih lagi untuk bidang pekerjaan yang lebih didominasi oleh kaum pria. Jadi, sudah tentu banyak halangan dan rintangan bagi Jane untuk membuktikan bahwa dirinya memang mahir dalam pekerjaannya.

Sosok Jane menurut gue bukan sosok yang dengan mudah disukai, baik oleh penonton maupun rekan-rekan polisi lainnya. She's tough. Very tough. Mungkin karena dia berkecimpung di bidang pekerjaan yang masih banyak didominasi kaum pria. Dan Jane bener-bener berdedikasi tinggi, sampai-sampai pekerjaan merupakan prioritas dia yang pertama, baru hal-hal yang lain.

Sejauh ini, gue udah nonton seri 1 sampe 4 (sembari ngerjain kristik), gue suka banget sama ini film seri. Dengan durasi yang bisa dibilang panjang (seri 1 3 jam!), nonton film ini serasa baca buku tentang cerita detektif. Plus, dengan setting tahun 1991, dimana saat itu yang namanya internet belum ada (layar komputernya aja masih item dengan tulisan ijo dan belum ada mouse!!) serta handphone juga belum ada (it's pager time!) nangkep penjahat jadi lebih lama hahaha...gue sampe kesel sendiri ngeliatnya.

Dengan durasi yang cukup panjang, plus tanpa internet (di seri 4 handphone mulai ada, 1995), kita jadi bener-bener dikasih tau apa saja yang mereka lakukan dan bagaimana akhirnya mereka berhasil menangkap sang pelaku. Bener-bener pekerjaan yang melelahkan menurut gue. Nanya si A, nanya si B, ngecek alibi A, ngecek informasi B, dll dll dll.

But I love it!

Oh, dan gue baru ngeh bahwa film Inggris ternyata lebih graphic dibandingkan film Amerika. Agak aneh juga ya.. Dan belum lagi dengan segala adegan merokok dan minum-minum nya...buset dah!! Tahun itu yang namanya merokok memang merupakan hal yang amat sangat lumrah ya....dan enggak kepikiran sama yang namanya kanker paru-paru.



"Prime Suspect" UK version ternyata merupakan secara tidak resmi dikloning oleh US di film seri "The Closer", diperankan oleh Kyra Sedgwick (istrinya Kevin Bacon). "The Closer" merupakan salah satu film seri kepolisian yang juga jadi favorit gue. Tokoh yang diperankan oleh Kyra Sedgwick, Brenda Lee Johnson, meskipun enggak se-ekstrim DCI Jane Tennison, sama-sama berdedikasi tinggi. Ada beberapa adegan dari "Prime Suspect 1" yang diambil oleh "The Closer" tapi enggak banyak.


Dan hari Minggu kemaren gue berhasil liat "Prime Suspect" versi US.


Sejauh ini....gue belum terlalu suka dengan yang versi US. Mungkin karena gue membandingkan dengan yang UK version dan rasanya durasi 45 menit tidak sebanding dengan 3 jam hahaha....ceritanya jelas-jelas berbeda, dan format juga beda. Dan berhubung gue baru nonton episode 1 jadi yah...we'll see lah. Semoga enggak tamat sampe season 1 doang.

Sekarang...yuk mari lanjut kristik sambil nonton "Prime Suspect 5" :D

Thursday, October 27, 2011

The Heroes of Olympus Book Two - The Son of Neptune - Rick Riordan


AKHIRNYA!!! Beli dari awal Oktober, baru dibaca kemaren...dan selesai dalam waktu satu hari saja! Gue sendiri bener-bener heran dan terkaget-kaget karena gue nyaris tidak bisa meletakkan buku ini. Rick Riordan emang mantap! :D

Setelah di buku sebelumnya The Lost Hero kita berkenalan dengan Jason, Piper, dan Leo, di buku The Son of Neptune kita berkenalan dengan Percy, Hazel, dan Frank. Yup. Akhirnya kali ini kita bertemu Percy.

Percy is confused. When he woke from his long sleep, hid didn't know much more than his name. Somehow he has managed to make it to a camp for half-bloods, but it doesn't ring any bells with him. The only thing he can recall from his past is another name: Annabeth.

Hazel is supposed to be dead. When she lived before, she didn't do a very good job of it. Now, because of a mistake she made back then, the future of the world is at risk. Hazel wishes she could ride away from it all on the stallion that appears in her dreams.

Franks is a klutz. His grandmother says he is descendant from heroes, but he doesn't see it. His bulky physique makes him feel like an ox, especially in front of Hazel, his closest friend. He trust her completely - enough to share the secret he holds close to his heart.

Begitu mulai baca, gue gak bisa brenti. Dan buku ini lucu sekali!! Banyak adegan-adegan yang bikin gue ketawa-ketawa sendiri. Dan seperti biasa, buku ini penuh dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan.

Seperti yang udah dibilang di buku 1, Percy berada di another camp, camp untuk dewa-dewa Romawi. Kalau di buku-buku sebelumnya kita lebih banyak bertemu dengan dewa-dewa Yunani, kali ini kita bertemu dengan dewa-dewa Romawi, termasuk juga dengan peradaban Romawi. Bahasa Latin bermunculan dimana-mana!

Dua tokoh baru dari Camp Jupiter (Roman Camp), Hazel & Frank, ini memiliki latar belakang yang sangat menarik. Siapa saja ayah mereka? Well...I didn't see it coming yang pasti.

Menurut gue, buku ini lebih bagus dari buku 1, meskipun rasanya sebelum baca buku 3 nanti, akan lebih baik kalo gue baca ulang buku 1. Pas baca buku 2 ini juga rasanya pingin banget baca buku 1 lagi. Tapi berhubung dah keburu penasaran dengan buku 2, jadi keinginan untuk baca ulang, ditunda dulu.

Selesai baca buku ini, gue cuma bisa teriak "NOOOOOOOO!! I want more!!" Can't wait for book 3, The Mark of Athena.

Monday, October 24, 2011

For My Nieces



Ah senangnya akhirnya ini kristik dua kelar juga!! Yang untuk Abigail sempet makan banyak waktu, karena kemaren kudu ngulang lagi, padahal pigura pinggirnya udah jadi 3 sisi! Sedangkan yang untuk Samantha cukup 10 hari aja. Sebenernya seminggu sudah selesai, tapi kemudian masih nyari font untuk nulis namanya, jadi ya butuh waktu. Sempet bongkar pasang untuk nama, tapi akhirnya dapet juga yang pas.

Dan hari Sabtu kemaren piguranya jadi. Yeay!! Senang! Sekarang tinggal dikirim ke Malang deh :)

Masih ada dua ponakan laki yang belum kebagian nih...bingung euy polanya...

The Friendship Test - Elizabeth Noble


They say the friends you make at college are with you for life, and for Tamsin, Reagan, Sarah, and Freddie that certainly seems to be the case. With student life stretching ahead of them, they bonded years ago over too many bottles of wine and great gossip; ill-fated love affairs and essay deadlines were the only clouds on their horizon.

Although the four women have little in common, this seems to make them greater friends, and they swear they'll always be there for one another...but twenty years is a long time to keep a promise.

And so, when tragedy plays a hand, their friendship is put to the ultimate test. Can they cast their younger selves? After all, friends should always come first, shouldn't they?

Aghhhh.....gila!!! Baru sadar kalo enggak nulis blog sejak Agustus!! Dan mengingat sekarang udah bulan Oktober, berarti September kemaren enggak nulis sama sekali?!!! Oh God!!!

Okeokeoke....rambling-nya ntar disambung lagi...sekarang mau ngebahas ini buku dulu.

The Friendship Test by Elizabeth Noble. Baru kali ini baca bukunya Elizabeth Noble, dan baru tahu kalo dia yang nulis "Things I Want My Daughters To Know". Belum pernah baca buku itu, tapi sempet liat di Periplus dan langsung enggak tertarik hahaha...mungkin karena langsung terbayang penuh kesedihan or something like that.

Anyway....The Friendship Test, nemu di Kinokuniya waktu pergi sama Mia (there's another story to tell) dan jujur, pertamanya tertarik sama yang judulnya "The Reading Group", tapi berhubung baru baca halaman pertama, paragraf pertama dan gue perlu baca dua kali untuk nyambung, jadi gue taro dan milih "The Friendship Test". Friendship, one of my fave theme.

Akhirnya ini buku selesai juga gue baca!!! Buku ini cukup menarik minat gue, karena pada saat akhirnya gue memutuskan untuk baca, tahu-tahu udah nyaris setengah buku aja abis dibaca. Dan sebenernya buku ini bisa dibaca habis dalam waktu dua hari or tiga hari, tapi berhubung masih ada 'kerjaan' lain, jadi tiga minggu baru kelar.

Gue suka dengan gaya penulisan Elizabeth Noble di buku ini. Plot-nya jelas-jelas bergerak maju, tapi kadang suka dibawa ke masa lalu pada saat Tamsin atau Freddie atau Reagan atau Sarah sedang mengingat-ingat sesuatu. Prosesnya begitu alami, jadi tidak terasa yang diceritakan itu adalah flashback.

Tamsin, Freddie, Reagan, dan Sarah berteman ketika mereka sama-sama kuliah di Oxford. Oh, settingnya di England, dan sepertinya Elizabeth Noble sendiri orang Inggris, jadi ada beberapa kosa kata yang memang asing di telinga (mata) gue.

Jadi, mereka berempat berteman di kuliah, meskipun mereka dari fakultas yang berbeda, tapi karena mereka tinggal di asrama yang sama, jadi mereka berteman. Freddie lebih dekat dengan Tamsin, dan Reagan dikenalkan Sarah.

Jujur, gue merasa agak sedikit 'tertipu' dengan summary yang ada di back cover :D karena gue mengharapkan permasalahan yang mereka hadapi tuh sebegitu hebatnya, sebegitu hebohnya...tapi ternyata tidak. Menurut gue lho ya.

Gue juga sempat mengira karena tokoh utamanya adalah Tamsin, karena Tamsin yang pertama kali digambarkan, tapi kemudian berpindah ke Freddie. Dan Freddie yang bisa dibilang mengalami tragedi.

Freddie, satu-satunya orang Amerika, yang kemudian menikah dan menetap di Inggris, memiliki satu anak laki-laki, terkena tragedi. Pertama, Freddie baru saja mengantar anaknya yang berumur 8 tahun untuk masuk sekolah berasrama; kedua, suaminya tiba-tiba menelpon dan bilang kalau he's in love with someone else dan hubungan ini telah berlangsung untuk beberapa waktu; ketiga, ayah Freddie baru saja meninggal.

Jujur, kalo gue jadi Freddie....gue dah nangis-nangis kayak orang gila kali.

Tapi kemudian, satu persatu mulai 'dibereskan'.

Gue suka dengan twist yang ada di cerita ini. Masing-masing tokoh yang ada di cerita ini bisa dibilang memiliki backstory membuatnya menjadi lebih hidup, meskipun mungkin backstory mereka tujuannya untuk mendukung backstory tokoh lain.

Keluhan gue cuma...ya itu. What's the ultimate test? There isn't any. I didn't see it. Suer. Karena pada saat Freddie kena masalah, semua teman-temannya bisa meninggalkan apapun yang mereka lakukan untuk membantu Freddie. Okelah ada sedikit gejolak dengan Reagan, tapi cuma itu. Gue ngebacanya itu cuma gejolak, bukan ombak besar yang membuat mereka menjadi menjauh dan sebagainya.

Overall sih, bisa dibilang gue menikmati ini buku. Jalan ceritanya mulus, bener-bener mengalir dengan lancar dan nyaman banget. Tokoh-tokohnya terlihat hidup di mata gue, bahkan tokoh yang menyebalkan pun bisa gue mengerti. Gue suka dengan twist yang muncul di tengah-tengah cerita, membuat cerita menjadi sedikit kompleks. Tapi bisa dibilang cerita ini tidak memiliki konflik yang memuncak, atau sesuatu yang bikin emosi meningkat banget-banget.

Jadi kalau dilihat dari sudut pandang grafik, memuncak pada saat Freddie mengalami tragedi berturut-turut itu, dan beberapa twist yang muncul, tapi selebihnya....ya sebegitu aja.

But still...membuat gue tertarik untuk membaca another book by Elizabeth Noble. Mau liat, apakah kemudian model ceritanya ketebak hahaha...

Saturday, August 20, 2011

Kung Fu Panda 2


Just saw this movie. OMG!! It's superb! Hilarious! Dan dengan 'berat hati' gue harus bilang bahwa ini film keren abis!!!

Duh gue bisa ketawa sendiri kalo inget-inget adegannya ini film. Suer lucu banget. And yet...I still cried!! OMG gue!!!

Dari segi cerita, film ini lebih banyak adegan aksi-nya, lebih banyak adegan berantemnya. Ya iya lah, 'kan si Po udah jadi Dragon Warrior...jadi Po bersama dengan The Furious Five, mereka bersama-sama membasmi kejahatan. Dari sinilah petualangan mereka dimulai dan asal usul keberadaan Po mulai jelas.

Dibandingkan Kung Fu Panda yang pertama, seperti yang gue bilang di atas, film yang kedua ini memang lebih banyak adegan aksi-nya dan menurut gue juga lebih lucu. Nyaris dari awal sampe akhir ketawa mulu. Bahkan di tengah-tengah adegan serius pun tetep aja ketawa. Duh beneran deh ini film...bener-bener seru!

Dan...kemudian ada adegan yang mengharu biru, yang dengan sukses membuat gue menangis, berurai air mata, meskipun enggak sampe bikin gue nangis heboh, tapi yang pasti air mata tetep tumpah. Dan di tengah-tengah keheningan bioskop, karena masih meresapi adegan sedih yang terjadi, ada anak kecil ikutan nangis...alhasil satu bioskop jadi pada ketawa semua....hahahahaha....

Well...sekarang tinggal nunggu DVD aslinya keluar aja...karena Kung Fu Panda yang pertama gue udah beli dvd-nya, jadi adil kalo yang kedua pun gue ikutan beli.

Buat yang belum nonton...ini film layak untuk ditonton. Menghibur banget!

Transformers: Dark of The Moon



So...menurut catatan gue, Transformers gue tonton hari Kamis, 11/8 kemaren bareng Gerrie. Nonton yang 3D, di Blitz Grani. Udah seminggu yang lalu ya...pingin nulis tentang ini film, or tentang pengalaman gue nonton ini film, selalu kelupaan, alhasil baru ditulis sekarang deh.

Apa pengalaman gue nonton ini film? Gue sukses nangis!! Duh gue!!! Udah gitu, nangisnya bukan yang sekedar berkaca-kaca doang, tapi yang emang bener-bener nangis, yang air matanya tumpah, muka mengkerut sangking nahan nangis. Gubrak deh gue!! Langsung keinget waktu nonton Harry Potter kemaren. Gubrak lagi!

Dari gue pribadi, sayang banget Megan Fox gak main lagi, tapi pemeran cewek pengganti Megan Fox, Rosie Huntington-Whiteley enggak kalah seksi dan cantik dibandingkan Megan Fox kok, malah ada yang bilang lebih cantik. Buat gue sih sama aja hahaha...

Gak usah cerita soal plot-nya kali ya, karena udah banyak yang kasih tau, dan jujur aja meskipun kemaren udah beli Cinemags, tetep aja gak gue baca tuh sinopsisnya hahaha...mungkin karena waktu itu merasa ini film enggak bakal masuk Indo. Jadi kemaren nonton tanpa tahu jalan ceritanya sama sekali.

Seperti biasa, Shie LaBeouf gak perlu diragukan lagi aktingnya, keren dan memang semakin matang (menurut Gerrie dan gue setuju). Sementara yang lain, gue pikir semuanya keren-keren. Bahkan Patrick Dempsey (Yup! McDreamy is on Transformers!) juga enggak kalah keren. Perannya beda dari biasanya dan penampilan dia keren juga.

Dan gue tahu, bahwa ini film bakal memiliki happy end, tapi tetep aja, pas ngeliatnya gue terasa trenyuh, tersentuh, dan ujung-ujungnya nangis! Hieh...bener-bener dah. Waktu nonton Transformers 1, gue merasa aneh nangis gara-gara robot, sekarang gue bener-bener nangis. Parah...parah...

Anyway, gue suka sama nih film :D meskipun rasanya aneh sih nonton film robot, khayal abis, tapi tetep aja berasa seru dan mantap. Adegan-adegannya bikin deg-degan, seru, dan yang nonton (gue terutama) ikutan panik dan gregetan.

Gerrie bilang, gue kalo nonton heboh. Jawaban gue, ya...kudu. Gue merasa, sebagai penonton kudu menghayati hahahahaha..... Dan komentar Yan cuma...dasar drama queen!!

Saturday, August 6, 2011

Harry Potter and The Deathly Hallows - Part 2


Bingung mau mulai dari mana. Cukup banyak emosi yang terlibat.

Harry Potter 7 part 2 ini terasa lebih 'menegangkan' karena film ini nyaris tidak berhasil main di Indonesia. Bayangan bahwa film ini enggak bisa masuk indo buat gue jauh lebih menyedihkan dibandingkan ketika menyadari bahwa film Harry Potter benar-benar akan berakhir. Mungkin karena gue sudah 'menutup' cerita Harry Potter bersamaan ketika buku terakhir keluar, meskipun pada waktu itu juga masih ada sedikit-sedikit gak rela ceritanya berakhir di situ...*mengharapkan Rowling bikin kisah Next Generation*

Rasanya lemes ketika jadwal rilis HP part 2 di Indo berlalu, dan HP part 2 masih juga belum turun. Gue sendiri memilih untuk menghindari hal-hal yang berbaru HP, meskipun enggak gitu berhasil juga sih, tapi setidaknya berusaha untuk meredam rasa kecewa dan sakit hati ini *hiks*...tapi untung...ternyata HP part 2 berhasil juga turun!!

Dan rasanya orang Jakarta dan seluruh penggemar Harpot se-Indonesia menanggapinya dengan super duper heboh! Bukan saja Harry Potter 7 part 2 ini menjadi 'pembuka' film-film barat di Indonesia, tapi juga karena penantian lama untuk menonton HP 7 part 2 ini akhirnya selesai! Dan gue dengan bangga, berhasil ikut nonton dalam 'kloter' pertama, alias nonton di hari Sabtu (masuk tanggal 27 Juli kalo enggak salah dan gue nonton tanggal 30 Juli).

Kehebohan semakin terasa (dari sisi gue terutama) ketika temen-temen semua pada mulai rame nunjukkin karcis tiket nonton yang berhasil mereka dapat dan semua kemudian mulai cerita soal hal-hal yang menarik dan seru di film itu. Dan puncaknya, ketika Dito bilang, "Ze, siap tissue yang banyak. Ini film bikin banjir air mata."

Thanks to Ingrid yang masih penasaran pingin nonton Harpot sesegera mungkin, dan Angga yang punya m-tix, gue akhirnya bisa nonton bareng mereka. Sabtu, Midnight. Mengantisipasi kata-kata Dito, gue sampe spesial bawa pashmina nyokap gue! (hahaha...ya enggak segitunya kali gue!)

Tapi suer, gue begitu tegangnya sampe gue harus berulang kali inhale - exhale pas lampu udah mulai gelap, sampe Ingrid bilang gue kayak orang mau ngelahirin hahaha...yah mau bilang apa? Still can't believe bahwa akhirnya berhasil nonton Harry Potter 7 part 2 and it's the final, there won't be any Harry Potter movie anymore (until they decide to make the remake).

Jika dibandingkan dengan buku, tetap versi buku jauh lebih bagus, lebih jelas, dan lebih lengkap. Tapi, untuk kali ini, film-nya bisa menggambarkan The Battle of Hogwarts lebih seru, perangnya lebih terasa, dan sudah tentu lebih dramatis. Duel antara Voldemort dan Harry lebih seru dan lebih lama dibandingkan di buku. Peran Ron dan Hermione juga lebih ditunjukkan dibandingkan di buku.

Yang tidak gue sangka adalah adegan Snape. Jujur, untuk mereka yang baca buku Harry Potter, pasti udah tahu soal Snape dan Lily, dan pada saat tahu bahwa Dumbledore yang meminta Snape untuk membunuh dirinya, gue memang kaget, cuma ya udah. Gue cuma kaget menyadari bahwa Snape ternyata double agent, bahwa dia menjadi double agent because of his feeling guilty and his love for her. Tapi karena gue lebih terpengaruh sama perasaan Harry yang enggak suka sama Snape, gue juga enggak terlalu gimana banget sama Snape. Paling sekedar...oh, ternyata dia tetap baek. TAPI begitu gue liat filmnya...OMG!!! Air mata mengalir udah kayak apa enggak tahu. Alan Rickman keren banget berperan jadi Snape dan pandangan gue akan Snape jadi berubah total!

Waktu baca buku HP7, gue akui gue udah nangis di beberapa tempat, jadi pada saat filmnya main pun, gue juga mengharapkan hal yang sama. Yang gue gak sangka ya adegan Snape itu. Hieh...suer dah nangisnya seru banget! Tapi selebihnya, ya sesuai lah dengan apa yang memang gue duga. Oh selain adegan Snape yang secara mengejutkan membuat gue menangis, waktu Hogwarts lagi siap-siap perang pun tiba-tiba gue langsung berkaca-kaca hahahaha....

Gue agak kecewa dengan bagian epilogue, gue mengharapkan seperti di buku, ada James yang sibuk godain Albus, Ginny yang ngomelin James, atau Ron yang ngasih 'warning' ke Rose, dsbnya...tapi sayang itu enggak ada :( yah setidaknya ketiga anak itu, James, Albus, dan Lily dikasih liat wajah-wajahnya hahaha...

Dan seminggu kemudian, hari ini, gue nonton lagi Harry Potter and the Deathly Hallows bareng sama Yosi hahahaha...dan gue kembali nangis dengan lebih heboh! Gubrak dah gue! hahahaha...

Overall, film ini emang keren, seru dan menegangkan, serta dramatis abis! Buku tetap lebih menarik untuk gue, tapi kali ini filmnya enggak kalah menarik.

Yang mungkin lebih menarik adalah, para aktor kunci nya tidak berubah dari awal sampai akhir. Bahkan Gary Oldman, sang Sirius pun tetap dihadirkan, meskipun line-nya cuma 2 (kayaknya).

My fave lines:
Snape: Look at me.... You have your mother's eyes

Dumbledore: Lily... after all this time?

Snape: Always!


So...this is it. This is the end of Harry Potter...we finally said our goodbye. Thank you for the story, for the magic, for the adventures, for the tears, for the laughter, and for the loves.


And all was well.


Sunday, July 31, 2011

Harry Potter and the Deathly Hallows - posters

Berhubung gue masih agak-agak gimanaaaaa gitu soal Harry Potter and the Deathly Hallows...meskipun udah berhasil nonton filmnya...kayaknya untuk ngebahas ini film masih nanti-nanti deh...untuk sementara...nikmati dulu aja poster-posternya yang keren ini :D

Promise, next week I'll tell about it...


























Thursday, July 21, 2011

Cinderella: Ninja Warrior (Twisted Tales) - Maureen McGowan




Setelah kemaren rada-rada stress akibat baca Tiger's Curse, bukan karena ceritanya yang bikin depresi atau njelimet, gue mencoba mengakhiri hari dengan membaca buku lain. Masih ada satu box besar yang 90% isinya buku-buku yang belum gue baca, tapi berhubung gue lagi enggak gitu minat baca historical-romance, atau buku berseri (baik lanjutan maupun baru), gue jadi milih untuk baca Cinderella: Ninja Warrior.

In this fast-paced story full of adventure and romance, Cinderella is more than just a servant girl waiting for her prince - she's a tough, fearless girl who is capable of taking charge of a dangerous situation. Seeking to escape the clutches of her evil stepmother, Cinderella perfects her ninja skills and magic talents in secret, waiting for the day when she can break free and live happily ever after. In a special twist, you will have the opportunity to make key decisions for Cinderella and decide where she goes next - but no matter the choice,the result is a story unlike any fairy tale you've ever read!

Jujur, gue enggak gitu tralu baca summary di back cover begitu ngeliat judulnya. Pas udah sampe rumah, baca lagi baru ngeh, oh...jadi ceritanya bisa kita pilih sendiri, tho...ckckckckc.

Well...ini buku mengingatkan akan buku Disney lama gue yang model ceritanya seperti itu. Dan gue, waktu itu masih SD, enggak milih jalan cerita lain, selain yang memang gue udah tahu. Maklum, pas umur segitu gue tidak melihat serunya pemikiran "what if". Serunya buku itu adalah, ceritanya kita jadi berteman sama tokoh utamanya (ada Cinderella, Snow White, dan Aurora kalo gak salah inget) dan malahan, kita bisa bikin yang jadian sama pangerannya adalah kita sendiri hahaha...


can't find the Cinderella book...so I got Snow White

Anyway, back to Cinderella: Ninja Warrior...pertama kali baca gue agak-agak ragu sih, abis tau-tau ceritanya Cinderella lagi belajar keseimbangan gitu (handstand) plus ternyata ditambah lagi dengan kemampuan magic...tinggal gue yang hieh...ok deh...maju terus aja lah bacanya. Tapi toh semakin ke belakang, makin seru juga untuk dibaca dan gue cukup menikmati. One thing for sure, itu Stepmother...omg!! Kalo jaman sekarang mah, udah bisa dipenjara kali, melakukan child abuse!! Gila! Sadis bener Stepmothernya! Beneran deh. Untung aja di buku ini semua kejahatan Stepmother bentuknya 'cuma' cerita doang, jadi udah berlalu dan tidak ada penggambaran detail, tapi tetep aja bikin gue agak-agak meringis.

Ada beberapa perbedaan selain kemampuan sihir dan keahlian ninja, yaitu instead of fairy godmother, Cinderella ini punyanya godfather, and not a fairy godfather. Kereta kuda tidak terbuat dari labu (karena enggak ada labu di sekitar situ), tapi dari watering can, wortel, batu, dan raddish.

Dan...pertemuan antara Cinderella dan Pangeran, tidak terjadi di pesta dansa, tapi terjadi lebih cepat daripada itu, and it's so sweet :D

Kali ini, gue berusaha memilih jalan cerita yang berbeda dari biasanya :) agak seru juga sih dan toh apapun pilihannya, semua berakhir pada and they lived happily ever after :)

Meskipun harus gue akui, di bagian Cinderella mengkonfrontasi Stepmother rada-rada lebay alias cheesy, lalu konfrontasi-nya juga kurang seru (terlalu singkat mnurut gue), tapi hey...what do you expect? Ini 'kan masuk kategori cerita anak-anak...jadi yah enggak bisa lah dibikin novel 400-an halaman.

Ceritanya menghbur juga setelah baca Tiger's Curse, bikin santai lah. Dan beda dari yang lain.

Next, Sleeping Beauty: Vampire Slayer hahahaha...

Wednesday, July 20, 2011

Tiger's Curse - Colleen Houck




Ok... Mari kita awali dengan mengapa gue bisa baca ini buku. Seperti biasa, gue ngeliat ini buku udah lama di Periplus tapi berhubung adanya yang hardcover dan letaknya di rak atas, jadi gue enggak bisa liat. Plus entah mengapa gue juga enggak pernah keingetan untuk nyari info tentang buku ini di amazon.com. Jadi, buku ini gue cuekin. Hal yang sama juga terjadi pada waktu buku keduanya keluar. Masih cuek.

Hari Senin kemaren, tanggal 18, gue ke Pacific Place untuk ketemuan dengan Yosi, yang kebetulan memang ada perlu untuk ke PP. Di PP, cuma ada Time's Book Store. Hm...mungkin itu sebabnya gue jarang banget ke PP. Di Time's, gue ketemua Tiger's Curse (book 1) dan Tiger's Quest (book 2) yang versi paperback, dengan harga 99000 kalo gue gak salah. Berhubung ada discount card dari Time's jadi gue pikir...okelah gue coba beli.

Dari summary di back cover ceritanya sih cukup menarik, tapi gue putuskan untuk baca 2-3 halaman pertama. Gue tertarik, jadilah gue beli dua-duanya.

Malem gue baca...dan ternyata...omg!! I have mixed feelings about this book. Sebelum itu, gue kasih tau dulu summary nya...

Passion. Fate. Loyalty.
Would you risk it all to change your destiny?

The last thing Kelsey Hayes thought she'd be doing this summer was trying to break a 300-year-old Indian curse. With a mysterious white tiger named Ren.
Halfway around the world.
But that's exactly what happened. Face-to-face with dark forces, spell-binding magic, and mystical worlds where nothing is what it seems, Kelsey risks everything to piece together an ancient prophecy that could break the curse forever.

Sounds interesting right?

Jangan salah, gue suka sama jalan ceritanya. Gue suka sama idenya, tentang pangeran India yang dikutuk menjadi macan putih dan sekarang setelah 300 tahun lebih mulai ada tanda-tanda bahwa kutukan yang menimpa dirinya bisa dihilangkan. Gue suka sama roman yang ada di cerita ini....tapi...

Gue stress sendiri begitu masuk bab 3...dan bingung dengan sikap gue sendiri hahaha. Baru kali ini (seinget gue), gue pingin banget bisa suka sama ini buku. Tapi ya seperti yang gue bilang sebelumnya, I have mixed feelings about this book.

Tiger's Curse diceritakan dari sudut pandang Kelsey, jadi menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal yang standard menurut gue, tapi cerita yang mengalir tuh kadang memberikan kesan bahwa cerita tersebut diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi instead of menggunakan kata 'Kelsey' diganti dengan kata 'aku'.

Belum lagi ada beberapa tindakan yang di kepala gue 'terlompat', atau menurut gue: diasumsikan bahwa hal tersebut sudah dilakukan. Seperti ini contohnya...digambarkan Kelsey makan menggunakan tangan (jadi tanpa sendok garpu), kemudian Kelsey makan, begitu udah selesai makan dikasih milkshake, lalu dia bilang thank you sama yang ngasih makan, lalu keluar. Tinggal gue yang mikir: abis makan pake tangan kagak cuci tangan??? OMG!! Ok ok...itu bukan hal yang gimana-gimana banget, maksudnya, bisa aja 'kan tindakan Kelsey cuci tangan itu tidak digambarkan, tapi ini kan dari sudut pandang Kelsey, yang mana menurut gue berarti apapun yang dia lakukan kudunya digambarkan. Masalahnya, bayangan di kepala gue itu, tangan Kelsey masih kotor...*facepalm* Kesannya malah si pengarangnya lupa kalo Kelsey makan pake tangan. Haduh duh....

Hal lain yang cukup menganggu gue adalah, latar belakang Kelsey terlalu singkat, alhasil kita jadi enggak tahu atau kurang bisa tahu seperti apa sih Kelsey itu. Sementara itu, kedekatan antara Kelsey dan sang macan putih malah terlalu cepat dan juga kurang mendalam. Gue ngerti sih si pengarang mungkin maunya menggambarkan bahwa Kelsey begitu tertarik dengan si macan putih. Tapi tetep aja...it's a tiger man! Again *facepalm*

Dan berbicara mengenai latar belakang, meskipun diceritakan sedikit tentang latar belakang sang pangeran, sampe buku selesai pun gue masih enggak tahu kenapa sang pangeran malah berubah jadi macan putih, bukan jadi gajah. Dan penjahatnya juga baru muncul di bagian akhir.

Lalu soal perjalanan yang harus dilalui oleh Kelsey dan sang macan putih...suer, gue enggak merasa tegang sama sekali hahaha...gue coba mikir-mikir kenapa enggak tegang ya...dibandingkan Red Pyramid, Percy Jackson, atau bahkan Harry Potter sekalipun, Tiger's Curse meskipun dengan setting yang penuh hal-hal magis...terasa biasa aja. Mungkin karena 1) enggak ada musuhnya sama sekali, kecuali memang rintangan yang kudu dihadai, dan 2) karena enggak ada time limitnya; hari ini belum selesai, besok boleh dilanjutkan lagi. Sedangkan di buku-buku yang gue sebutkan diatas, bisa dibilang mereka semua kudu menyelesaikan perjalanan mereka dalam jangka waktu tertentu dan musuh utamanya, meskipun the big boss baru muncul di buku terakhir, tetep muncul melalui kroni-kroni yang menyebalkan.

Hubungan antara Kelsey dan sang macan putih juga...gue bingung dah. Pertama dia enggak kaget melihat sang macan putih berubah jadi pangeran. Tapi udah mau terakhir malah jadi freak out karena hubungan mereka berdua udah sangat dekat. Dan mulailah muncul alasan-alasan yang klise. Tinggal gue yang "WHAT??!!!!!". *sigh*

See...liat kan betapa ini buku bikin gue gregetan...tapi tetep aja ini buku habis gue baca!!!

Gue serasa baca fanfic (omg!! buku terbitan gue bandingin sama fanfic???), yang plot ceritanya menarik, roman nya bikin gue emo (oh good GOD! emo?!?!?) tapi kedodoran di banyak tempat.

Jujur, semakin ke belakang semakin lebih better sih, enggak ada tindakan yang terlompat, kecuali sikap Kelsey yang bener-bener bikin gue gak habis pikir.

Dan sekarang gue lagi mau baca buku kedua...dan belum baca habis bab 1 gue udah melakukan tindakan bodoh. Langsung baca bab terakhir. hih...gue nunggu buku 3 kluar aja deh, baru baca bab 2...karena ceritanya bakal...bikin gue despair abiss!!


Jadi kesimpulan buku ini? Gue aja bingung. Seperti yang gue bilang di awal. Gue suka sama plot-nya. Gue suka sama ide ceritanya. Gue suka sama adegan-adegan ketika Kelsey bareng sama si macan putih/pangeran India (enggak terlalu cheesy, but still sweet). Tapi gue gak suka sama teknisnya. Sebenernya sih enggak terlalu parah, dan enggak sepanjang buku kedodoran, makanya gue jadi suka gregetan sendiri kalo ketemu. Mungkin saran yang terbaik adalah, coba baca setidaknya 4 bab pertama deh. Kalo memang bisa dinikmati, ya silakan lanjut...tapi kalau merasa terganggu...ya lebih baik enggak usah lanjut.

Kayaknya baru pertama kali ini gue nge-review buku tapi kok kesannya negatif ya?

Sunday, July 17, 2011

Uncommon Criminals - Ally Carter


Kalau tidak salah inget, buku ini berhasil dibeli bulan Juli kemaren. Akhir Juli sepertinya. Tapi baru kemaren buku ini berhasil dibaca. Akhir-akhir ini memang kegiatan membaca buku (dan kristik) agak sedikit ter...tertunda karena aktivitas lain, yang masih masuk kategori membaca, tapi agak berbeda. It's an addiction that I'm a little ashamed to admit (unless to Dito). Selain karena alasan yang tidak bisa gue akui di khalayak ramai, keinginan untuk mendapatkan versi audio dari buku ini juga membuat membaca Uncommon Criminals menjadi agak tertunda. Tapi untung kemudian ketemu. Maka kegiatan "The Throne of Fire" pun kembali terulang, membaca dan mendengarkan Uncommon Criminals.


Katarina Bishop has worn a lot of labels in her short life: Friend. Niece. Daughter. Thief. But for the last two months she's simply been known as the girl who ran the crew that robbed the greatest museum in the world. That's why Kat isn't suprised when she's asked to steal the infamous Cleopatra Emerald so it can be returned to its rightful owners.

There are only three problems. Firs, the gem hasn't been seen in public in thirty years. Second, since the fall of the Egyptian empire and the suicide of Cleopatra
, no one who holds the emerald keeps it for long - and in Kat's world, history almost always repeats itself. But it's the third problem that makes Kat's crew the most nervous, and that is...the emerald is cursed.

Kat might be in way over her head, but she's not going down without a fight. After all, she has her best friend - the gorgeous Hale - and the rest of her crew with her as they chase the Cleopatra around the globe, dodging curses and realizing that the same tricks and cons her family has used for centuries are useless this time.

Which means, this time, Katarina Bishop is making up her own rules.

Niat awal gue tadinya baca ulang (dan kembali mendengarkan) Heist Society. Tapi, berhubung gue udah keburu penasaran sama buku kedua, jadi rencana tersebut terpaksa dibatalkan. Dan gue langsung menuju buku kedua, dengan harapan gue sedikit banyak bakal inget cerita buku pertama :)

Di buku kedua, cerita masih berkisar tentang rencana pencurian. Kali ini bukan lukisan, tapi Emerald Cleopatra, yang dikabarkan terkutuk bagi siapapun yang memilikinya. Bukan pekerjaan yang mudah, karena dari awal, pekerjaan ini sudah penuh dengan rintangan. Dan tidak berhenti sampai di situ...Kat pun juga kemudian...well...lebih baik baca bukunya aja...sayang kalo dikasih spoilernya.

Yang pasti sih, pekerjaan kali ini bukan pekerjaan biasa (meskipun di buku pertama pun pekerjaan mereka juga bukan pekerjaan biasa) dan tipu daya yang ada pun sepertinya berkali-kali lipat. Dan Kat...Kat di sini nampak benar-benar kewalahan dengan segala rintangan dan halangan yang muncul. Sedangkan Hale...W. W. Hale...tetap mempesona seperti biasa hahahaha....

Hubungan Hale dan Kat di buku ini memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan buku pertama. Bisa dibilang, ada lah cerita romance-nya, meskipun cuma berupa sentilan-sentilan kecil, tapi setidaknya lebih terlihat dibandingkan buku pertama.

So...buku yang berhasil gue selesaikan sehari saja (seandainya gue mulai baca dari pagi) ini benar-benar menghibur gue. Ada romance, ketegangan, rasa putus asa, dan sedikiiiiit angst. Gue suka dengan ini buku. Can't wait for another Heist Society series!

Wednesday, July 13, 2011

Again...Disney

Gara-gara buka disneyprincesstumblr.com jadi tahu kalo ada buku "The Art of Disney Princess" dan udah pasti gue jadi penasaran abis. Setelah melakukan searching...ketemu dengan http://d-princesses.livejournal.com yang kebetulan sempet ngasih liat beberapa contoh gambarnya.

Dan gue cuma bisa terbengong-bengong...oh my God!! Keren abis!!

Aurora

Maleficent

Cinderella

Sekedar info, ketiga gambar ini dijual di disneystore.com dengan harga $74.95 - $164.95


Tiger Lily

The Princess & The Frog

Snow White

Cinderella

Princess Jasmine

Mulan

Snow White/Flight From The Forest

Gambar-gambar di atas, selain gambar tapi juga dijadikan gambar kaos di Disney Couture dengan harga @$49.95, kalo dikurskan sekitar Rp 500.000,00. Bukan harga yang murah untuk sebuah kaos. Tapi yang bikin beda adalah, kaosnya bukan sekedar kaos t-shirt biasa, tapi memang ada modelnya dan tiap gambar, modelnya beda-beda. Kayak yang gambar Mulan, suer keren banget, bisa jadi dress sendiri. Dan yang Princess Jasmine, kaosnya lengan panjang dan ada juga yang model scarf ($69.95). Untuk Snow White yang "Flight From The Forest", selain kaos juga dibikin model kanvasnya ($124.95 - $299.95). Mau banget!!! Please visit here for The Art of Disney Princess: Fine Art & Disney Couture

Moments Away by Rodel Gonzales.

Out Of These Waters by Rodel Gonzales.

Snow White in the Woods by Thomas Kinkade.

Sleeping Beauty Portrait by Mike Kupka.

Cinderella Portrait by Mike Kupka.

Sama seperti sebelumnya, gambar-gambar ini udah pasti dijual, tapi gue gak tau berapa harganya, karena enggak ngecek Disneystore.com :D And plese visit here for another Disney Fine Art


Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com