Saturday, February 28, 2009

Facebook

Oke, siapa yang gak kenal dengan situs jaringan pertemanan ini? Facebook. Gue jamin semua udah pada tau. Meskipun belum tentu semua pada punya account-nya, tapi paling tidak pada pernah denger.

Tadi, gue iseng buka FB. Sekarang, gue paling cuma ngecek ada hal baru apa dari temen-temen gue. Kalo dulu masih asik dengan segala virtual gifts, sekarang gak lagi. Segala hewan peliharaan sampe baby games dah gak gue mainin lagi. Males.

Selain mainan-mainan itu, yang cukup mencuri perhatian adalah RELATIONSHIP update. And so far, udah tiga kali relationship update itu bikin gue menaikkan alis mata gue dan membuta gue kaget serta bertanya-tanya.

Pertama waktu Yan berstatus "in a relationship"

Kedua waktu ada status "*beep* and *beep* has ended their relationship"

Dan trakhir, waktu gue baca DUA mantan anak murid gue menuliskan kalo mereka sekarang "is a couple"

Hieh...suer gue langsung bilang, "Oh My God!". Abis itu bengong. Gue bingung. Antara ikut mengucapkan selamat berbahagia or memberi nasehat. I know..I know..giving advice is not a cool thing to do. Tapi ya ampun!!! They're just kids!

Sorry Stella..bukannya bermaksud meremehkan hubungan kalian, tapi emang itu reaksi awal Kak Nia. Lagian emang bener 'kan? Kalian emang masih anak-anak kok ;).

Tapi ya sudah. Gue masih inget kok apa rasanya begitu denger ada temen yang jadian, masih inget juga waktu dulu berusaha nyomblangin temen. Jadi yah gue pikir, what the heck? Let's not be a killjoy! Let them enjoy the moment aja. So...have fun with your new relationship. Siapa tau, kalian akan langgeng selamanya? Betul 'kan?

And Nilla, if you reading this, I'm still waiting on their story.

Oke. Itu soal mantan anak murid. Ada satu hal lagi yang bikin gue bener-bener gak tau mesti ngapain.

Guess what? Bapak gue punya account FB!!!!!

Mau mampus gak gue?!?!?! Aduh..duh..dah gak tau lagi deh gue mesti bagaimana. Gue bener-bener shock.

Sampe sekarang juga masih shock.

Thursday, February 26, 2009

Tea for Two, by Clara Ng


Tea for Two

Tea for two adalah perusahaan makcomblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehiudapn yang diidam-idamkan. PERNIKAHAN!


Hidup berbahagia selama-lamanya.
Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis.

Tapi... eits, tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

It could happen to you. It could happen to anybody.


Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan.
Para lajang, gemetarlah, karena lelaki yang kaupikir
Mr. Right bisa berubah menjadi Mr. Totally Wrong.

(Pernah dimuat sebagai cerita bersambung KOMPAS,
Oktober 2008 - Februari 2009)


Clara Ng, merupakan salah satu pengarang Indonesia favorit gue. Selain dia, satu lagi adalah Marga T. Dan kalau salah satu dari mereka ngeluarin buku, 99% gue pasti beli tuh buku saat itu juga, meskipun review di belakang bukunya bikin gue merinding. Seperti buku Clara Ng yang baru ini Tea for Two.

Gila!!

Seperti biasa, begitu gue ngeliat buku Clara Ng muncul di Gramed, reaksi gue adalah terkejut dan terpesona menjadi satu. Yang pernah melihat reaksi gue ini adalah Ingrid dan mungkin Lisa serta Yan. Respon mereka adalah kaget. Maksudnya, kaget melihat reaksi gue yang seperti melihat sesuatu yang sangat berharga gitu deh. Yah..maklum aja, agak-agak drama queen hehehe...

Kembali ke bukunya Clara Ng yang baru ini, Tea for Two. Gue tahu bahwa cerita ini pernah dijadikan cerita bersambung di KOMPAS, sama seperti kemaren. Dan seperti biasa juga, gue memilih untuk tidak membaca-nya di KOMPAS, karena males. Cerita bersambung yang ada malah bikin gue gregetan dan gak sabar. Jadi begitu akhirnya ini buku, Tea for Two, keluar, ya udah langsung lah gue beli.

KDRT.

Empat huruf yang dijamin bikin perempuan manapun mengeluarkan beragam emosi, dari ketakutan, cemas, simpati, rasa kasihan, hingga rasa marah, dan tidak ketinggalah, penyangkalan diri. Yang paling parah gue rasa adalah penyangkalan. Denial. Padahal...
It could happen to you. It could happen to anybody.

Tea for Two menceritakan kisah tentang Sassy, lajang kota yang punya bisnis sendiri, cerdas, cantik, dan mandiri, yang kemudian terlibat dalam hubungan (pernikahan) yang berubah menjadi ajang KDRT. Singkatnya, dunia manis penuh romantisme yang dirasakan sebelum pernikahan/ selama pacaran, hilang tak berbekas.

Di buku ini diceritakan bagaimana Sassy mengalami berbagai penganiayaan, pelecehan, dan kekerasan secara verbal (kekerasan yang menurut gue paling parah dan paling dalam efeknya). Dan semua KDRT yang terjadi malahan membuat Sassy berusaha keras untuk merubah dirinya demi menyenangkan sang suami, dengan harapan ia tidak lagi kena cemoohan atau pukulan. Sebuah tindakan yang bisa dikatakan sia-sia.

Ada satu adegan yang membuat gue teringat dengan para sahabat-sahabat gue. Dan gue rasa, inilah gunanya para sahabat, baik cewek maupun cowok, mereka menjadi filter bagi segala sesuatu yang kita lihat, membuat kita melihat dengan kaca mata baru. Sukur-sukur melihatnya dari pemikiran yang sama sekali baru.

Diceritakan kalau Sassy tidak sempat mengenalkan calon suaminya ini ke para sahabatnya, yang tentu saja membuat para sahabatnya ini penasaran. Dari 3, hanya satu yang sudah pernah bertemu dan feeling-nya pun tidak bagus.

Ini yang membuat gue langsung teringat sama para sahabat gue yang jumlahnya dari lebih 4 orang, yang semua punya opini kuat, yang semua punya kriteria berbeda, dan semuanya seperti Srikandi (minus suara melengking tinggi dan goyangan kepala yang lebai banget). Dan kalau hal itu (mau menikah tapi belum pernah ketemu kita) terjadi...well...hasilnya gak bakalan bagus deh! Sudah terbukti kok.

Di Tea for Two, sekali lagi kita (para lajang cewek terutama) dikasih info mengenai KDRT. Betapapun pintarnya kita, betapapun mandiri-nya kita, betapapun banyaknya info yang kita tahu mengenai KDRT, sekali kita terjebak ke dalamnya, tidak akan mudah untuk memutuskan pusaran KDRT itu. Seolah-olah kita sudah dicuci otak dan kita jadi tidak tahu mana yang benar, mana yang seharusnya tidak kita alami, mana yang seharusnya kita sudahi.

Tanpa bermaksud untuk menganggap enteng pernikahan dalam agama Islam, tapi dalam agama Islam masih memberi ijin untuk bercerai. Lha gue, yang dididik dan tumbuh sebagai Katolik, gimana? Jujur, KDRT (dan juga masalah-masalah pernikahan lainnya) membuat gue rada ngeri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Apalagi setelah baca nih buku :)

Tapi tenang, gue tahu kok pernikahan gak selamanya buruk. Pernikahan juga bukan selalu bahagia. Semua ada dua sisi dan gue yakin, bisa mendapat pernikahan yang bahagia, awet dan penuh cinta, selama kita menyerahkan sama Tuhan dan meminta yang terbaik, serta peka membaca signal-signal yang Tuhan beri.

Lagian, dongeng-dongeng Disney telah melekat terlalu dalam di hati gue :)

Yang pasti, buku ini bagus untuk membuka mata kita akan KDRT. Ceritanya sih gak melulu soal ketakutan atau kecemasan akan KDRT, bukan itu. Malahan, kalau bisa dibilang, porsi-nya gak banyak.

Selain itu, ceritanya seolah-olah dibikin dua model. Satu dari sisi pengarang (menggunakan sudut pandang orang ketiga) dan di sisi lain dari sudut pandang Sassy, tentang apa yang dia rasakan dan pikirkan. Di bagian ini, mau tidak mau kita menjadi lebih mengerti, mengapa seorang perempuan seperti Sassy bisa terjebak dalam pernikahan KDRT. Percaya deh, kalau gue berada di posisi Sassy, gue juga bisa melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang sama.

Satu hal lagi yang gue suka dari Clara Ng, gaya bahasa dan penulisannya. Entah baru di buku ini aja atau di buku-buku lain juga, karena gue baru ngeh. Clara Ng ini benar-benar menggunakan bahasa Indonesia yang baik (meskipun belum tentu benar). Nyaris tidak ada istilah bahasa Inggris, kecuali memang istilah yang belum ada padanan bahasa Indonesia-nya atau mungkin yang masih terasa asing. Tapi bukan berarti bahasa percakapannya menjadi kaku, enggak. Terasa lebih Indonesia aja :)

Di saat nyaris seluruh fiksi kategori Chicklit atau Metropop menggunakan bahasa Inggris ke dalam bahasa percakapan sehari-hari, membaca buku Clara Ng yang minim bahasa Inggris dalam percakapan, ternyata menyegarkan juga :). Mungkin karena Clara Ng bisa menempatkan terjemahan kalimat-kalimat tersebut ke dalam kalimat-kalimat yang 'terdengar' wajar.

Pada akhirnya, gue menikmati buku ini. Meskipun awalnya sempat merasa cemas, tapi toh selesai juga ini buku gue baca. Tapi...gue masih kurang puas sih sama (mantan) suami Sassy ini. Rasanya kurang dibikin jera :) Pingin rasanya membalas perbuatan dia ke Sassy (hm...mungkin keinginan gue ini adalah keinginan yang tidak tersalurkan...hm...)

Satu lagi karya menakjubkan dari Clara Ng!!

Buat yang pingin membaca buku Clara Ng yang lain, atau baru mau mulai membaca...coba baca Indiana Chronicles deh...ada tiga buku dan sejauh ini gue dah bikin Sufei dan Linyuk terkesima. Tuh buku gue udah terbang ke Beijing dan sekarang lagi di Brisbane, sementara gue ndiri belum pernah ke sana!!!

Sunday, February 22, 2009

An Educated Night

Well...setengah dua pagi dan gue baru mau berbaring tidur. Sebenernya mata gue masih nyalang sih, tapi yah...berhubung gue baru pulang, kalo gue masih lanjut buka komp sih bisa dimaki bapak gue ntar. Tapi mau gimana lagi? Hari ini or malam ini cukup berkesan buat gue dan gue merasa perlu gue tuliskan sekarang juga :).

No, I'm not on a date. Gue abis nonton wayang orang di daerah Senen situ. Wayang Orang Bharata, kalo gak salah, dengan lakon "Sengkuni Gugur". Gue cerita mengenai siapa itu Sengkuni dan mengapa dia gugur nanti saja. Karena gue sendiri masih harus mencari info lebih lanjut supaya gue bisa menjelaskan dengan lebih lengkap dan rinci hehehe.

Yang berkesan adalah, gue akhirnya nonton Wayang Orang juga, live pula, dan gue menikmati. Jujur, ada perasaan bangga pada waktu gue nonton tuh WO. Gimana yah...seneng aja gitu gue bisa nonton dan bisa menikmati.

Bersyukur banget, waktu kecil, SD mungkin, emak bapak gue ngebeliin gue komik Mahabarata lengkap. Kebetulan pas lagi di pameran buku, dan gue minta dibeliin komik wayang. Pilihannya kalo gak salah antara Ramayana dan Mahabarata. Yang langsung dipilih adalah Mahabarata. Dan memang nyokap gue termasuk pecinta wayang. Maklum, orang cina-jawa. Tapi bapak gue ndiri juga cukup tau lah soal wayang. Ditambah lagi, gue juga termasuk yang seneng nari jawa. Klop lah sudah.

Alhasil selama pertunjukan, terutama yang bagian nari/berantem, gue keinget sama waktu jaman SD, waktu gue masih ikut ekskul nari. Hieh...kangen.

Memang harus diakui juga, gue sempat kebingungan mengikuti jalan cerita or percakapan mereka. Abis mereka bicara kan pake bahasa jawa halus, kromo inggil (bener gak nulisnya? Ada yang tau?). Tapi untung ada semacam telepromter diatas panggung yang menjelaskan secara singkat tiap adegan. Plus, ada penterjemah pribadi, Angga dan Ingrid. Meskipun kemampuan bahasa jawa gue sama Ingrid kurang lebih sama, tapi ada beberapa bagian yang Ingrid memang lebih ngerti. Tinggal Yan yang agak kasian, karena dia nyaris gak ngerti hehehe.

Gue suka dengan ceritanya, tariannya or peperangannya, suka dengan adegan-adegan lucunya, bahkan gue juga ikut ngeri dibeberapa bagian. Dan semua itu ditampilkan dengan penuh penjiwaan.

Buat gue, ini semacam balet/opera Indonesia. Mereka harus nyanyi, nari, dan akting. Bukan pekerjaan mudah lho.

Overall, gue suka banget sama WO ini. Salah satu budaya yang memang harus didukung, dilestarikan, dan tentu dicintai.


Semoga next time, ada kesempatan untuk nonton lagi.

Friday, February 20, 2009

The Luxe series

Where do I begin...oke don't sing (terutama yang ngeh kalo kalimat tersebut merupakan lirik awal sebuah lagu). But seriously, mulai dari mana enaknya, karena gue punya kebiasaan untuk bercerita secara detail yang berarti terlalu panjang.

(Membuat gue kembali berpikir dan mengingat-ingat kalo dulu masih nulis di buku harian, yang berarti menulis manual, gak mungkin gue nulis panjang lebar...eh salah deh...gak peduli nulis manual atau pake ngetik, tetep aja tulisan gue panjang lebar. Oke...back to topic)

Hm...

Akhir-akhir ini, selain keranjingan unduh dan unggah lagu or music, gue lagi keranjingan unduh buku or e-book. Biasanya sih model romance yang belum keluar di sini. Kemudian, setelah memindahkan seluruh data e-book ke dalam CD, tiba-tiba kepikiran untuk browsing di Amazon.com buku-buku untuk young adult or teens. Dan dimulailah pencarian panjang dengan browsing di Amazon.com. Sebagian gue berhasil nemu, lengkap, ada juga juga yang cuma nemu beberapa.

Salah satunya ada Luxe series karangan Anna Godbersen.

The Luxe series ini udah pernah beberapa kali gue liat di Amazon.com. Jujur aja, yang membuat gue tertarik adalah cover depannya. Tapi begitu gue baca short review di belakangnya, jujur aja gue jadi enggak tertarik. But still, lihat cover-nya deh! Cantik banget 'kan??!!


Mau tau ceritanya? Or paling tidak review singkatnya...ini dia... [From Amazon.com on Luxe (series 1)]

Pretty girls in pretty dresses, partying until dawn. Irresistible boys with mischievous smiles and dangerous intentions. White lies, dark secrets, and scandalous hookups. This is Manhattan, 1899.

Beautiful sisters Elizabeth and Diana Holland rule Manhattan's social scene. Or so it appears. When the girls discover their status among New York City's elite is far from secure, suddenly everyone—from the backstabbing socialite Penelope Hayes, to the debonair bachelor Henry Schoonmaker, to the spiteful maid Lina Broud—threatens Elizabeth's and Diana's golden future.

With the fate of the Hollands resting on her shoulders, Elizabeth must choose between family duty and true love. But when her carriage overturns near the East River, the girl whose glittering life lit up the city's gossip pages is swallowed by the rough current. As all of New York grieves, some begin to wonder whether life at the top proved too much for this ethereal beauty, or if, perhaps, someone wanted to see Manhattan's most celebrated daughter disappear...

In a world of luxury and deception, where appearance matters above everything and breaking the social code means running the risk of being ostracized forever, five teenagers lead dangerously scandalous lives. This thrilling trip to the age of innocence is anything but innocent.

Secara garis besar, ceritanya mirip Gossip Girl by Cecily von Ziegesar, tentang para gadis-gadis remaja kaya di New York (or Manhattan di Luxe series). Dengan tokoh utama sebagai gadis baik-baik yang bersahabat dengan gadis yang ternyata backstabbing dan jahatnya bukan main :), lengkap dengan cinta segitiga or segiempat, dan tokoh-tokoh samping lainnya yang juga enggak kalah seru or heboh. Agak-agak mirip soap opera tapi dijadikan novel dan sasarannya adalah young adult.

Jujur, gue gak pernah tertarik dengan Gossip Girl (buku). Entah kenapa gue gak suka aja. Mungkin karena buat gue ceritanya terlalu...I don't know...antara a) bikin iri; or b) terlalu jauh dari dunia gue sehari-hari.

Anyway, setelah beberapa kali melihat The Luxe series di Amazon, entah mengapa kemaren gue tiba-tiba niat untuk nyari di 4shared.com, dan ternyata nemu. Buku satu, The Luxe dan buku dua, Rumors: A Luxe Novel, dengan cover yang enggak kalah menariknya.

Diasumsikan, pada cover kedua ini adalah Penelope, sahabat baik/rival/musuh dalam selimut bagi Elizabeth (yang jadi cover pertama) dan Diana (adik Elizabeth)

True love. False friends. Scandalous gossip. Welcome back to Manhattan, 1899.

As rumors fly about the untimely demise of New York's brightest star, Elizabeth Holland, all eyes are on those closest to the dearly departed: her sister, Diana, the family's only hope for redemption; Henry Schoonmaker, the flame Elizabeth never extinguished; Penelope Hayes, poised to claim all that her best friend left behind; even Elizabeth's former maid, Lina Broud, who discovers that while money matters and breeding counts, gossip is the new currency.

As old friends become rivals, Manhattan's most dazzling socialites find their futures threatened by whispers from the past. In this delicious sequel to The Luxe, nothing is more dangerous than a scandal . . . or more precious than a secret.


Untuk sementara, gue baru berhasil mengunduh dua buku, karena buku yang ketiga, baru muncul Januari kemaren dan gue belum menemukan unduhan-nya. Mungkin next month udah ada :)

Buku ketiga dengan judul Envy: A Luxe Novel. Again, diasumsikan yang menjadi cover adalah Diana, adik Elizabeth. Gue tahunya juga dari amazon.com, review para pembaca.


Jealous whispers.

Old rivalries.

New betrayals.

Two months after Elizabeth Holland's dramatic homecoming, Manhattan eagerly awaits her return to the pinnacle of society. When Elizabeth refuses to rejoin her sister Diana's side, however, those watching New York's favorite family begin to suspect that all is not as it seems behind the stately doors of No. 17 Gramercy Park South.

Farther uptown, Henry and Penelope Schoonmaker are the city's most celebrated couple. But despite the glittering diamond ring on Penelope's finger, the newlyweds share little more than scorn for each other. And while the newspapers call Penelope's social-climbing best friend, Carolina Broad, an heiress, her fortune—and her fame—are anything but secure, especially now that one of society's darlings is slipping tales to the eager press.

In this next thrilling installment of Anna Godbersen's bestselling Luxe series, Manhattan's most envied residents appear to have everything they desire: Wealth. Beauty. Happiness. But sometimes the most practiced smiles hide the most scandalous secrets. . . .


Dan dengan agak sedikit malu, gue harus mengakui, bahwa gue tertarik dengan cerita ini. Cukup tertarik sampai gue mau membaca dan cukup penasaran sampai-sampai gue memilih untuk langsung membaca chapter terakhir untuk tahu bagaimana endingnya hahahaha....

Soalnya suer deh, tokohnya terlalu licik [baca: Penelope] dan terlalu baik [Elizabeth], belum lagi sama setting-nya yang kaku banget [1899, what do you expect??]. Jadi, berhubung gue penasaran abis, jadi gue memilih untuk langsung ke chapter terakhir dan mau tidak mau membuat gue ternganga...karena tidak tahu kalau endingnya dibuat seperti itu.

Yang kemudian membuat gue untuk tertarik langsung membaca buku kedua dan hanya sampai beberapa bab...gue langsung ke bab terakhir, dan again...gue ternganga...dan sekarang gue sedang mencari unduhan buku ketiga.

Oke, spoiler alert di sini,
  • Henry used to have a relationship with Penelope (flirtings and stolen kissess).
  • Tapi kemudian Henry dijodohkan dengan Elizabeth (sahabat Penelope),
  • sayang Elizabeth keburu jatuh cinta dengan Will, yang adalah coachmen-nya sendiri (apa bahasa Indonesia-nya? Masak sais? Yah pokoknya semacam stable boy gitu deh, yang ngurus kereta dan kuda dsb-nya).
  • Sedangkan Will (tenang, dia juga jatuh cinta pada Elizabeth), disukai or ditaksir oleh Lina, yang merupakan maid-nya Elizabeth.
  • Henry sendiri kemudian malah jatuh cinta pada...Diana (Elizabeth's little sister, mereka beda 2 tahun).
  • Untuk bisa menikah dengan Will, Elizabeth pura-pura kecelakaan ke Hudson River, thus, she died. Meninggalkan Henry dan Diana yang feeling guilty (karena mereka kepergok spending the night together, the night before the wedding; kalo gue gak salah inget).
  • And it all happened on book 1, and in the end of book 1, Diana dapet surat dari Elizabeth yang bilang kalo dia sebenernya gak mati, tapi kabur ke California supaya bisa bareng Will, dan memberi restu hubungan Diana dan Henry dan harus hati-hati pada Penelope, karena Penelope menginginkan Henry for herself.
  • Oh ya, Penelope membantu 'kematian' Elizabeth.

So far nangkep?

Di book 2,
  • Diana yang lega karena Elizabeth gak mati berusaha menjalin hubungan lagi dengan Henry
  • Henry, yang tidak tahu kalo Elizabeth masih hidup, tidak berani karena masih feeling guilty.
  • Pada saat Henry tahu kalo Elizabeth masih hidup, dijebak Penelope untuk menikahinya, kalau tidak Diana celaka (untuk yang satu ini gue gak tahu kenapa, karena bagian ini gue skipped :))
  • Thus, the marriage of Henry and Penelope
  • Will kemudian mati (yang ini pas gue baca...males gue ceritain why)
Jadi yah...nih buku bikin gue penasaran...apalagi pas baca review mereka yang udah baca buku ketiga, ceritanya makin seru, tentang usaha Diana untuk memperoleh kembali Henry. Ditambah lagi, seri ini (katanya) akan habis di buku 4 dan tentu saja, gue mengharapkan happy end. Kalo gak, hieh...nih buku bakal gue maki-maki!!

So...ada yang tertarik untuk membeli bukunya :)

PS: Just found book 3 yeay me!!!

Tuesday, February 17, 2009

Kristin Chenoweth

Ok...masih berhubungan dengan Wicked, kali ini tentang Kristin Chenoweth.

No, I won't talk about her bio or something like that.

Cuma mau ngasih liat kehebatan dia dan kejenakaan dia aja.

Badannya kecil tapi suaranya keren banget. She is 4'11" (berapa cm tuh?) Gue baru tahu (pas nonton di youtube) kalo dia itu ambil major-nya Opera, dan gak sengaja tercebur ke Broadway karena diajak audisi.

Kristin, salah satu pemeran awal Wicked, berperan sebagai Gelinda (Glinda) dan entah kenapa, gue tiba-tiba suka dengan nih cewek. Kalau gak salah, sekarang lagi main di Pushing Daisies, sempet main di West Wing dan main beberapa film layar lebar lain. Yang keinget itu R.V dan yang baru Four Christmases, jadi adiknya Reese Witherspoon.

Ini ada beberapa penampilan dia yang gue SUKA banget!!!






For Good dari Wicked





Enjoy!!

Wicked


As always, menghabiskan waktu di depan kompi. Gara-gara kemaren menyadari bahwa album Libera: Eternal - The Best of Libera udah keluar, yang berarti mesti coba untuk dicari unduh-annya...kemudian gue inget kalo ada Disney Box Office Hits pula, yang berarti juga mesti dicari unduh-annya. Jadilah semalam mencari dan mendapatkan, tapi sayang belum sempat mengunduh yang Libera. Yang Disney udah dapet. Ada yang mau?

And...selagi browsing kanan kiri, blogwalking depan belakang, tiba-tiba teringat untuk mencari album Kristin Chenoweth yang "Let Yourself Go". Cukup susah juga nyari album ini dan so far belum nemu. Kalo yang "As I Am" udah dapet. Membahas Kristin Chenoweth, mau gak mau bikin gue inget lagi sama Wicked.

Wicked ia a broadway play. Dan I'm falling in love with this play. Sayang sekali, belum ada DVD-nya. Tapi paling gak gue udah baca bukunya (sepertinya pernah gue bahas di sini deh...or di MP ya?) dan untung menemukan Original Cast Recording of Wicked.

Wicked tells the story of Elphaba, the future Wicked Witch of the West and her relationship with Glinda, the Good Witch of the North. Their friendship struggles through their opposing personalities and viewpoints, rivalry over the same love-interest, their reactions to the Wizard's corrupt government, and, ultimately, Elphaba's public fall from grace. The plot is set mostly before Dorothy's arrival from Kansas, and includes several references to well-known scenes and dialogue in the 1939 film The Wizard of Oz as a backstory. (Wikipedia)

Dan mengingat Wicked, mau gak mau ya inget lagi sama lagu-lagu nya yang membuat gue terpesona dan bener-bener hooked on this play although I never see it.

Lagu pertama yang gue suka dan juga mungkin terpana adalah Popular. Lagunya bener-bener lucu dan Gelinda (tokoh yang diperanin oleh Kristin Chenoweth) bener-bener...apa ya...antara lucu dan nyebelin. Coba aja lihat di video-nya.




Dan lagu yang membuat gue sempet meneteskan air mata, apa lagi kalo bukan For Good. Liriknya dalem dan yah...emang sedih aja gitu pas di bagian itu. Tentang bagaimana kita berubah karena kehadiran orang lain dan orang lain pun berubah karena kehadiran kita. Dan kita pun berubah untuk selamanya. Hiks...hiks...hiks...emang dalem!



Lyrics | Kristin Chenoweth - For Good lyrics





Lagu lain yang juga lucu adalah What Is This Feeling? Untuk sesaat memang dikira tentang love song, tapi ternyata merupakan hate song :) Lagu ini dinyanyiin pas Elphaba dan Gelinda pertemu untuk pertama kalinya. Kebetulan yang nyanyi ini bukan Kristin Chenoweth (di video ini, karena ini di UK dan yang main jadi Gelinda orang UK) tapi tetep aja lucu lyric-nya.




Lyrics | Kristin Chenoweth - What Is This Feeling? lyrics

Video yang kedua ini masih sama What Is This Feeling, yang main Kristin Chenoweth dan Idina Menzel, original cast. Tapi yah...gambarnya memang gak sebagus yang pertama...but I think it still worth to watch :)



Secara keseluruhan sih, gue penasaran sama play ini. Kapan yah bisa nonton pertunjukkannya live? Atau paling gak lihat rekamannya aja deh...nonton di youtube kurang puas, karena belum ada yang utuh...

Sunday, February 15, 2009

PUAS!!!

Waahhh....PUAS banget deh!!

Hari ini (or tepatnya mungkin kemaren) berhasil mengadakan dinner bareng, dalam rangka merayakan Valentine's Day!

Yeah!!!

Hehehe...rasanya puas dan lega dan seneng akhirnya bisa kumpul bareng, meskipun (as always) kita gak bisa full team. Ada satu teman kita yang tertinggal, Rany Restiani, yang sedang beristirahat di Cirebon merenung :)

Jadi tadi yang dateng selain gue adalah Ingrid dan Angga, Sufei, Linyuk, Yan, Lisa, Freddy, Imelda Halim, Dito, dan Lina Welly.

Seharusnya sih ada Geraldina dan Titie, tapi dua-duanya membatalkan, sedangkan Bibie yang katanya mau nyusul, last minute juga membatalkan. Ya sudah. Total semua 11 orang.

Awalnya dinner mau dimulai around 07.00-07.30, tapi karena Dito minta dimajuin, jadilah dimajuin jadi 06.00-06.30. Walaupun seinget gue sih gue minta around 06.30-07.00, tapi ya sudah. Ternyata around 06.15 udah ada yang nyampe.

Sebelum dinner, gue memang agak sedikit mengalami kepanikan. Entah kenapa. Padahal bukan sekali ini gue mengatur acara kayak tadi. Apalagi 'kan ini cuma kita-kit doang, cuma sekedar dinner or makan bareng, dan sudah merupakan hal yang biasa. Tapi enggak tahu kenapa, gue berasa nerveous aja.

Mungkin karena jumlahnya cukup besar, mungkin karena ada Lina Welly (walaupun pada akhirnya enggak terlalu pengaruh juga sih, orang dia juga temen lama). Cemas dari mikirin tentang mau pake baju apa, sampe cemas karena takut gak dapet tempat.

Tapi toh ternyata smua berjalan dengan lancar.

Anak-anak enggak ada yang ngaret, kecuali Imel mungkin, yang dateng paling akhir, tapi paling gak dia gak nyasar :). Makanan juga habis, pake nambah, dan semua suka dengan makanan yang dipesan. Dan entah mengapa, semua pada pesen es teh, or es teh manis, or teh hangat, or aqua. Alhasil, begitu bill kluar, jatuhnya ya gak gitu mahal. Seorang gak nyampe 100 ribu. Dito pulang tepat around 8 dan kita pulang gak lama sesudah itu. Mungkin cuma beda setengah jam aja.

Klaar dari resto Tomang (yang jujur gue gak tahu namanya apa, mungkin Sate Tomang, Seafood dan Barbeque) kita menuju ex, karena gue pingin makan di Death By Chocolate.

Eh...mau ngomong apa, RAME banget!!!!!

Rupanya lagi ada White Shoes and the Companya nyanyi. Apa lagi di DBC juga rame, jadi...gak jadi deh makan coklat. Tapi untung saja makan coklat sudah terpenuhi, karena Yan dan Sufei rupanya sempet belanja di Hypermart GM untuk beli coklat hehehe...

Karena DBC lagi rame, maka kita pindah ke Pancious di exx lantai 5. Sempet males masuk karena juga RAME, tapi toh akhirnya semua memilih ke situ daripada di sebelah, D Cafe. Lina Welly kemudian pulang dulu karena dia gak bawa kunci rumah, jadi yah...rasanya gak mungkin dia ikutan pulang sampe pagi. So...

AKHIRNYA!!!

Bukan saja karena akhirnya dapet duduk, tapi akhirnya gue berhasil makan di Pancious juga!!!

Dan seperti biasa, ketawa terus sambil makan dan foto jalan terus!!! Itulah akibatnya kalo punya temen yang hobi fotografi, good at photography, dan punya gen narsis. Waktu habis dipake untuk foto dan foto dan foto.

And I'm loving every minuter of it!!!

Dan ketika waktu menunjukkan pukul setengah 12 lewat, kita tahu bahwa sudah saatnya kita pulang. Perut sudah kenyang (kekenyangan lebih tepatnya), makanan sudah habis, tertawa juga sudah puas (walaupun masih ada hal yang bisa dan perlu ditertawakan), dan sudah puas foto (meskipun sebenernya masih pingin foto lagi), tapi kita tahu, it's time to go home.

So...we parted ways and say goodbye, goodnight, and be carefull on your way home, and of course with 'till we meet again.

Love you guys!! Happy Valentine Days 2009!!!

Friday, February 13, 2009

[Tomorrow] It's Valentine!!!

Well...tadi gue ke Mal. Rencana sih kemaren, tapi berhubung not in the mood, jadilah baru tadi pergi.

Agak-agak sedikit lupa, kalo besok itu Valentine. Alhasil waktu masuk Mal, dari pintu yang mengarah ke La Piazza, agak sedikit
taken a back, ngeliat sooooo many pink!!!. Trus baru ngeh, kalo besok Valentine :)

Enggak pernah terlalu heboh yang gimana-gimana sih, pas Valentine. Well...mungkin waktu SD or SMP kali ya...sebelum jamannya HP or sms, jadi ribet deh beli kartu or kado untuk temen-temen satu genk. Biasa tukeran kado.

Sekarang?

Dah gak lagi :)

Abis dah pada pake SMS dan dah gak terlalu heboh lagi. Mungkin karena temen-temen yang lain juga gak heboh kali ya?

Tadi sempet ngeliat situasi yang agak-agak membuat gue kaget dan trenyuh...gue ngeliat bapak-bapak pergi sama anak cowoknya yang masih SMP (anaknya masih pake seragam soalnya, makanya gue tahu dia masih SMP), dan bapak-bapak itu megang kantong belanjaan yang isinya boneka beruang pink. Ahhh soo sweet, bapaknya nemenin anaknya beli boneka untuk pacar sang anak hehehe...

Anyway, tujuan pertama Gramedia, karena gue mau makan dan kalo makan ndiri trus gak ada bacaan...males aja gitu. Jadilah gue cari bacaan dulu. Cukup lama sih gue muter-muter, milih buku. Sebenernya agak males beli buku di Gramedia, kecuali yah emang pengarang Indo. Sempet kaget karena teryata buku
The Benedict Mysterious Society udah ada terjemahannya. Sekarang cukup cepat juga ya?

Sempet bingung mau beli buku apa, toh ujung-ujungnya cuma beli Gober edisi Tematis hehehe...lumayan murah meriah.

Rencana mau belanja ke supermarket untuk bikin Fettuccini batal, karena tiba-tiba not in the mood, jadi sesudah ke Gramed, ke Periplus, makan di Eat & Eat, trus belanja di Star, gue cuma beli buah di Fresh Market, terus pulang deh...capek juga.

Besok....dinner bareng anak-anak...semoga semua pada bisa dateng, semoga pada having fun, semoga abis itu bisa jalan lagi. Tiba-tiba pingin makan coklat di Death by Chocolate...hm...

Wednesday, February 11, 2009

It's been a while...

Well...udah lama sebenernya pingin nulis or ngoceh...tapi kemudian selalu stuck antara bingung mau nulis apa or kemudian gue lebih memilih untuk mengerjakan hal yang lain daripada nulis. Ditambah lagi, emang udah beberapa hari ini gue gak online. Lebih milih baca e-book Nora Roberts, yang waktu itu habis-habisan gue unduh dari internet.

Beberapa waktu yang lalu, Saturday 7th Feb 09 I think, having nothing to do, gue sibuk ber-online ria di rumah. Nyaris menghabiskan seluruh waktu gue di depan PC bokap. Dari mindahin beraneka ragam album musik yang ada di PC ke CD, demi mengurangi beberapa GB memory PC, sampe bikin MP3 untuk Sufei :) Belum lagi kemudian gue teringat untuk ngecek ke amazon tentang album musik baru apa aja yang udah keluar (dan tentunya bisa gue unduh).

Hal yang bagus juga sih, karena gue jadi inget untuk mencoba mencari album baru Renee Olstead, Skylark, yang baru.



Dan tentu saja berhasil gue dapatkan hehehe...dilanjutkan dengan Melinda Doolittle dan album Frank Sinatra yang tebakan gue untuk valentine besok.

Speaking of valentine, gue kemaren dapet 'tugas' dari Sufei, untuk mencari responden wawancara untuk koran dia, mengenai valentine. Sasarannya adalah mereka-mereka yang berusia dibawah 22 (kalo gue gak salah). Pinginnya lagi sih, yang udah punya pacar. Kenapa gue yang diminta, tidak lain dan tidak bukan karena gue punya anak-anak murid yang cukup banyak dan masih muda-muda (yang setelah diingat-ingat lagi, usia mereka tentu akan tambah terus dan gak bisa terus2an jadi anak SMP-SMA). Tapi ya sudah.

Berterima kasih banget atas penemuan internet dan messenger-messenger tersebut, karena gue bisa melakukan wawancara secara online. Meskipun sempat mengalami putus hubungan (which until now I didn't know what it happen), tapi toh gue cukup puas dengan jawaban2 yang diberikan. Yah...siapa dulu dong...'kan anak murid gue hehehehe...Thanks berat untuk Nilla, Jingga, Janet, dan Stephen, and my cousin Bertha for your time and your wonderfull answers.

Anyway,

Awal bulan Feb ini keponakan gue ngerayain ultah. Sebenernya sih ultah dia tanggal 27 Januari (hari St. Angela tuh, kids), tapi berhubung tralu dekat dengan hawa-hawa Imlek, dan bukan hari Sabtu-Minggu, jadi lah diadain pas tanggal 1-nya. Dan sebagai tante yang baik, tentu dong gue dateng! :)

Seneng aja ngeliat Kevin, yang udah bisa berdiri dan jalan dikit-dikit, dan bentar lagi pasti udah bakal lari-lari. Tinggal bicara-nya aja yang masih agak kurang, tapi tebakan gue sih bakal bawel ntar :)



Sedangkan pas hari Sabtu, tanggal 8 Feb 09 nya, dari siang sampe pagi-nya gue nyaris menghabiskan waktu di depan PC. Sibuk mengunduh dan menggunggah beberapa lagu. Lumayan lah gue dapet 3 album yang udah gue sebutin tadi. Ditambah lagi, gue gak ngeh gitu bokap gue gak pulang :) parah...tralu sering mengalami bokap pulang malem, sampe gue baru sadar pas jam 11.30 bokap belum pulang gue tahu kalo bokap pasti keluar kota hehehehe...

Sempet bingung juga sih, karena butuh laptop untuk translate. Tapi ya sudah...tidak ada laptop...bolpen pun jadi!

Hari Minggu janji sama Yan untuk bantuin gue translate. Sebenernya ini udah kedua kalinya gue minta bantuan Yan. Tapi apa daya, waktu pertama kali janjian, di Starbucks PI, kita berdua sama-sama ngajak Sufei, a disaster I must say, karena kita jadi enggak bisa translate. Why? Karena Sufei terlalu bawel dan banyak cerita, yang membuat kita jadi enggak bisa ngebahas translate-an. Hieh...

So...untuk yang kali kedua ini tanpa Sufei. Dia kerja juga sih :), susah wartawan!

Dari jam 1 sampe around 3 kita di Starbucks Skyline Building (sebelah Sarinah), kemudian pindah ke GI (jalan kaki lho gue hehehe) karena gue lagi ngidam pizza Marzano. Sempet mampir di Kinokuniya, which is a good thing, karena buku seri Nora Roberts gue dah muncul!!! Jadi beli deh. Plus gue harus beli buku pengganti novel sepupu gue yang kemaren kena korban banjir :(

Ketemu Lisa (or janjian ketemu Lisa) dan kita bertiga jadi deh makan pizza marzano...ngobrol ngalur ngidul, dan suer kekenyangan banget tapi PUAS!!! Tadinya mau ngajak Ingrid-Angga, tapi mereka berhalangan...ya sudah.

Pindah ke Starbucks di GI depan Seibu dan kembali melanjutkan translate sampe abis (1 chapter), baru deh kita pulang.

Tinggal sampe rumah mata gue nyalang. Abis dua kali ke Starbucks beli-nya Cafe Americano, yang merupakan black coffee dengan sedikit vanilla. Hieh...

And well...so far belum pergi kemana-mana (sekarang toh baru hari Rabut). Mungkin Kamis besok mau ke Mal, iseng nyari baju :) or mungkin belanja lagi ke supermarket, sekedar untuk cari buah dan sayur, dah lama gak masak.

Dan pas Valentine...dinner bareng.

Semoga sukses deh!!

All That Jazz!!!

Gue tiba-tiba teringat akan musik jazz ketika lagi baca 'buku' Nora Roberts di PC. Gara-garanya, salah satu tokoh di buku itu ngasih komentar kalo dia suka semua jenis musik, kecuali jazz.

Dan gue mau enggak mau langsung tersenyum, because well...it's so like me!

Memang sih, enggak semua musik gue suka. Musik yang masuk aliran Rock hard core, jelas banget enggak gue suka. Jenis musik alternative pun enggak gue suka. Pokoknya musik yang bikin telinga gue sakit, baik karena terlalu banyak teriakan atau dentuman, maupun yang memang kata-katanya membuat gue merinding, enggak gue terima. Dangdut...well...tergantung ya. Kalo dangdut yang tralu gimana-gimana, wah...enggak juga deh. Tapi kalo dangdut yang kayang Goyang Duyu-nya Project Pop atau Pandangan Pertama-nya Chrisye, masih oke lah...tapi selain itu...well kudu di sensor kuping gue dulu.

Bisa dibilang, musik klasik adalah musik yang emang bener-bener gue coba pelajari untuk suka. Thanks to Ance, temen sebangku gue waktu SMP, gue belajar untuk tertarik mendengarkan lagu klasik. Dan ternyata ada gunanya juga :) Karena kemudian gue mencintai lagu klasik, meskipun tidak sampai setengah mati jatuh cintanya. Paling tidak, gue bisa menghargai lagu klasik dan gue tahu lagu klasik when I heard one.

Sedangkan jazz...well harus diakui, sampai tahun 2000, jazz termasuk dalam salah satu musik yang langsung dengan tegas gue tolak, gue cuekin, dan tidak pernah masuk dalam pertimbangan gue.

Like people always say, never say never.

Karena gue kena batunya pas gue belajar nyanyi But Beautiful, bareng PSUT untuk konser amal bareng UNICEF.

I'm hooked and hooked and then love jazz.

Jazz itu buat gue termasuk musik yang sulit untuk dimengerti. Tidak seperti klasik yang (menurut gue waktu itu) tidak pernah berubah, yang selalu sudah ada ketukan/ritme yang pasti, jazz selalu berubah tergantung sama yang nynyi dan seringkali nada yang dinyanyiin itu minor. Sesuatu yang masih asing di telinga gue dan terdengar rumit. Jadi yah...gue gak suka jazz.

Until, sekali lagi, But Beautiful.




MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com


Seinget gue, intro piano-nya yang bikin gue suka. Dan begitu dinyayiin, gue juga kemudian ikutan suka. Sesudah itu, kuping gue seolah-olah diberikan kunci untuk mendengarkan lagu jazz. Sampai sekarang.

Memang harus gue akui juga, jazz yang gue dengerin bukan jazz yang berat. Bahkan Jamie Cullum bukan termasuk kategori jazz yang gue suka. Gue lebih suka jazz seperti Michael Buble, atau seperti yang kemaren baru gue unduh, Renee Olstead, atau untuk penyanyi yang lebih tua, seperti Laura Fygi. Jadi memang lebih ke arah jazz-pop or pop-jazz.

It's just funny, how your opinion about somethings can change just because some little things....

Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com