Thursday, February 25, 2010

RENT



Sabtu lalu, gue pergi ke Mal Gading dan mampir ke Disc Tarra. Nyokap lagi keranjingan beli cd lagu indo lama or nyari musik piano other than Richard Clayderman (hm...dari awal gue emang enggak gitu suka sama Clayderman, setelah mendengar musik-musik Yiruma dan Joe Hisaishi, yang mostly piano, gue jadi TAMBAH enggak suka sama Clayderman hihihihi). Di saat nyokap udahan, tiba-tiba mata gue tertumbuk pada satu dvd baru, yang gue liat secara terbalik, mata gue hanya menangkap tulisan BROADWAY. Dan dengan tarikan napas kaget *gasp*, gue langsung mengambil itu dvd dan gue semakin kaget. Tertulis dengan cukup jelas...

RENT - Filmed live on Broadway for final performances


Tanpa banyak bicara, langsung diambil dan langsung beli. Dan baru kemaren gue tonton. Tidak menyesal gue beli itu dvd.

RENT merupakan pertunjukkan Broadway yang (katanya, menurut wikipedia) mengadaptasi La Boheme-nya Puccini. RENT bercerita tentang sekelompok seniman dan musisi muda miskin yang berjuang untuk bertahan hidup dan juga berkarya di New York di bawah bayang-bayang AIDS.

Kata Geraldina - Gerrie - RENT is so 80's :) karena tema-nya 'masih' mengenai AIDS. Harus diakui, pendapatnya bener juga, karena toh memang settingnya di akhir tahun 80-an, baru mau masuk tahun 90-an. Dan memang AIDS memainkan peranan yang cukup besar di pertunjukkan ini.

Cerita berpusat pada:
Mark, seorang filmmaker independen;
Roger, roomate Mark, seorang musisi yang juga HIV positif;
Mimi, seorang penari eksotis yang juga HIV positif, tetangga Mark & Roger;
Maureen, biseksual performing artist, mantan pacar Roger;

Angel, a gay drag queen percussionist with AIDS;
Collins, seorang profesor filosofi yang juga gay dengan AIDS;
Joanne, pengacara dan juga partner Maureen; dan terakhir
Benny, pemilik gedung tempat Roger, Mark, dan Mimi tinggal, mantan roomates Roger, Mark, Maureen, dan Collins.

Ceritanya berkisah seputar hubungan para tokoh-tokohnya, tentang Mark yang merasa bingung dengan film-nya. Roger yang depresi karena ditinggal mati April, pacarnya, dengan bunuh diri, dan mengetahui kalau dirinya juga terkena HIV. Mimi yang kecanduan dan juga terkena HIV. Belum lagi mengenai hubungan antara Roger dan Mimi yang sepertinya masih dibayang-bayangi oleh April (untuk Roger) dan tentunya drugs (untuk Mimi). Sementara itu, Collins bertemu Angel dan keduanya langsung merasa cocok dan kemudian saling tertarik [ada lagu bagus milik mereka berdua "I'll Cover You"]. Tidak ketinggalan Maureen dan Joanne, dimana Joanne sempat ragu-ragu dengan cinta Maureen pada dirinya. Ditambah kecemburuan Maureen pada Mark. Dan tentu, Benny, yang telah menikah dengan orang kaya, sehingga 'lupa' pada teman-temannya dan juga ideologinya dulu. Dan semua itu mencapai klimaks di babak 2.

Gue sendiri tau mengenai RENT dari adek gue yang waktu itu sedang tergila-gila dengan lagu "Seasons of Love" yang merupakan 'trademark' lagu itu. Lagunya memang bagus, kata-katanya yang bagus.

COMPANY
Five Hundred Twenty-Five Thousand Six Hundred Minutes
Five Hundred Twenty-Five Thousand Moments So Dear
Five Hundred Twenty-Five Thousand Six Hundred Minutes
How Do You Measure - Measure A Year?
In Daylights - In Sunsets
In Midnights - In Cups Of Coffee
In Inches - In Miles
In Laughter - In Strife

In - Five Hundred Twenty-Five Thousand Six Hundred Minutes
How Do You Measure
A Year In The Life

How About Love?
How About Love?
How About Love?
Measure In Love

Seasons Of Love
Seasons Of Love

Joann
Five Hundred Twenty-Five Thousand Six Hundred Minutes
Five Hundred Twenty-Five Thousand Journeys To Plan

Five Hundred Twenty-Five Thousand Six Hundred Minutes
How Do You Measure The Life
Of A Woman Or A Man?

Collons
In Truths That She Learned
Or In Times That He Cried
In Bridges He Burned
Or The Way That She Died

ALL
It's Time Now - To Sing Out
Tho' The Story Never Ends
Let's Celebrate
Remember A Year In The Life Of Friends

Remember The Love
Remember The Love
Remember The Love
Measure In Love

Joann
Measure, Measure Your Life In Love

Seasons Of Love...
Seasons Of Love

Enggak lama setelah gue denger ini lagu di radio, gue nemu dvd-nya (yang sekarang entah ad di mana hiks hiks hiks) dan kemudian nemu soundtrack-nya, yang langsung gue beli karena gue yakin kalo enggak dibeli saat itu gue enggak bakal nemu lagi, yang ternyata bener, karena sampe sekarang gue enggak liat ada yang jual lagi.

RENT pertama kali gue tonton di dvd, karena memang waktu itu RENT sedang dibuat dalam format movie oleh Chris Columbus (sutradara Harry Potter 1-2, dan Percy Jakcson). Setelah mendapat info dari Dito, dan kemudian baca wikipedia, ternyata para pemeran di film RENT sama dengan para pemeran di Broadway-nya. Kecuali untuk part Mimi, karena pemerannya sedang hamil pada waktu syuting, dan peran Joanne, karena mereka dia sudah terlalu tua, sementara pemeran yang lain merupakan original cast. Membuat gue baru ngeh kalo ada Idina Menzel di RENT.

Sedikit menyimpang, Idina Menzel merupakan pemeran Elphaba di pertunjukan Broadway "Wicked" bersama Kristin Chenoweth. Semenjak mendengar lagu "Popular" dan melihat aksi mereka berdua di Youtube, gue jatuh cinta dengan dua orang itu. Lebih jatuh cinta lagi pada Kristin Chenoweth sih :). Idina Menzel main di Enchanted sebagai cewek yang ditaksir sama Patrick Dempsey, sedangkan Kristin Chenoweth sempet main di Glee sebagai April.

Ok, back to RENT.

Dari seluruh tokoh di RENT, gue paling suka sama Angel. Mungkin karena tokohnya sendiri begitu...'sempurna' gue jadi paling suka sama dia. Angel, seorang transgender (cowok tapi berdandan dan bertingkah serta menganggap dirinya sebagai perempuan), terkena AIDS, hidup pas-pas-an (gue berasumsi demikian), tapi tetap bisa menyemangati orang lain, memberi lebih pada orang lain, dan terlebih lagi memiliki cinta yang sangat besar, membuat orang-orang di sekitar-nya menjadi lebih semangat, lebih penuh cinta juga.

Dan pada saat gue liat dvd RENT-Filmed Live on Broadway, gue jadi MAKIN kagum dengan Angel, atau lebih tepatnya pada pemeran Angel. OMG!! Ngeliat dia menari, dan menyanyi live di panggung seperti itu, tanpa kehabisan napas, dan tetap berkespresi seperti itu...WOW!! Gue rasa peran paling berat itu Angel deh! Performance-nya bukan main!

Sebenernya, gue enggak nyangka gue bisa suka sama RENT. Apalagi setelah tahu kalo RENT itu adaptasi opera Puccini - La Boheme, karena gue pernah baca sinopsis La Boheme, dan gue enggak suka. Sad ending bo! Tapi entah mengapa gue malahan suka dengan RENT ini.

Ceritanya memang agak depresi. Ya iya lah, dengan segala HIV-AIDS, kemiskinan, perjuangan untuk mencapai mimpi, tapi toh semua itu seolah-olah tertutup dengan kisah cinta antara tokoh-tokohnya. Love is really the greatest power of all!!

Untuk yang tertarik dengan RENT, gue saranin sih lebih baik liat versi film-nya dulu, baru liat yang veri Broadway. Kenapa? Karena menurut gue, versi film-nya lebih 'mudah' dicerna, dengan kata-kata yang MUNGKIN tidak terlalu ribet (gue ndiri lupa juga sih), dan dengan ritme yang tidak terlalu cepat. Sedangkan yang Broadway punya, harus gue akui, agak sedikit ribet, dengan ritme yang cepat, belum lagi pergantian scene yang yah...kudu mengandalkan imaginasi (ya iya lah, 'kan cuma ada satu panggung doang, tapi harus bisa dirubah-rubah menjadi banyak setting). But either way, dua-duanya bagus dan kudu dilihat :)

There's only us
There's only here
Give in to love
Or live in fear
No other path
No other way
No day but today

Tuesday, February 23, 2010

Welcome and Farewell

Di bulan Februari ini, ada dua hal yang bisa dikatakan menjadi highlights of the month. Salah satunya apalagi kalo bukan the birth of our baby Nicole, the newest and youngest member. Kelahirannya emang udah cukup dinanti, bukan hanya oleh Mama Ingrid dan Papa Angga, tapi juga oleh para aunties and uncles-nya yang jumlahnya juga lumayan banyak, besar-besar dan ribut-ribut semua :)



Baby Castalia Nicole Gracia, lahir tanggal 9 Februari 2010 (yang langsung dikasih 'nama' baby Beveryl 90210 sama Sufei). Ingrid masuk RSIA Hermina tanggal 8 (hari Senin), padahal air ketuban pecah hari Sabtu. Sempet nungguin seharian (hari Senin) tapi tetep tidak ada perkembangan (bukaan berhenti di bukaan 2 kalo gak salah inget), jadi kemudian diputuskan untuk melakukan c-section. Maka lahirnya Nicole Selasa malam 21.48 kalo enggak salah, dengan panjang 51 cm dan berat 3,38 kg (berat juga ya?). The mother and the baby are all in good health.

Sayangnya, gue baru mendapat kesempatan lihat itu...kemaren hari Minggu, tanggal 21 Februari.

Sementara itu, the other higlights of the month adalah karena our own Owl, alias Dito, memutuskan untuk 'berbakti' di Gresik, Jawa Timur. Setelah lulus dan resmi jadi Notaris (sepertinya tinggal sumpah doang, deh), Dito memutuskan untuk bertugas di Gresik, karena kebetulan punya rumah di Surabaya. Sebenernya sih gue mengharapkan dia di Malang, jadi 'kan tiap kali ke Malang jadi bisa main ke rumah Dito hehehe...tapi ternyata dia ke Gresik, oh well.

Jadi, tanggal 17 Februari kemaren, pas hari Rabu Abu, Dito ngadain semacam 'last supper' bersama :)...berhubung yang bisa cuma beberapa saja, ya sudah...jadi memang cuma kami berdelapan yang datang, gue, Sufei, Yan, Dito, Winy, Eric, Rany, dan Imel.

Dinner di Foodism, Senayan City, ngobrol ngalur-ngidul, apa aja dibahas...termasuk juga cerita tentang St. Ann itu hahahaha... dan gue makan Grilled Fish, berhubung lagi pantang dan puasa. Enak juga makanannya ;), pesen bir 1 pitcher, tapi yang minum cuma beberapa doang hahahah...gue sih gak doyan, abis pahit...lebih milih minum wine deh, lebih enak :)



Acara bubar around 10 kurang lebih, karena emang udah malam. So...we said goodnight and goodbye with a promise to always keep in touch hahaha...ya enggak segitunya sih. Abis gimana ya...bukannya gue menganggap enteng perpisahan, tapi dengan adanya fasilitas internet, perpisahan itu bukan lagi sesuatu yang...gimana ya...yang kesannya jadi enggak saling hubungan lagi. Dulu sih mungkin iya, kontak hanya dengan surat, tapi begitu ada telpon, jarak yang beribu-ribu kilo rasanya jadi begitu dekat. Eh...sekarang udah ada hp, ada sms, ada FB...bisa chatting, bisa bbm-an, walah...mau 'ketemu' tiap haripun juga bisa kali.

Tapi tetep, bakal kangen nih ntar sama Dito...gak ada lagi yang bisa gue telponin malem-malem...gak ada yang bisa gue telponin malem-malem untuk nanyain translate-an...gak ada yang bisa gue telponin malem-malem untuk ngegosip...hahahaha...ya gak segitunya juga sih... :)) yah semoga nanti semua jadi lebih baik aja!


Sementara itu untuk hari Minggu, kebetulan lagi ada mobil, dan gue rencana untuk sewa sopir dan berkunjung ke Ingrid, sekalian nganterin hantaran :), eh ternyata di hari yang sama Bibie ngadain pemberkatan rumah, jadilah acara sedikit digeser...pemberkatan rumah dulu, baru kunjungan ke Ingrid.

Perjalanan cukup jauh buat gue (dari Gading), jemput Sufei dan Linyuk di daerah GM (hantaran ada di Linyuk), lanjut jemput Imeldah Halim di jembatan busway Sumur Bor (kena nungguin Imel sekitar 10 menit), baru lanjut ke rumah baru Bibie di perumahaan Daan Mogot Baru (bener gak?).

Setelah pemberkatan (tidak lupa foto di kamar dan di depan rumah baru hehehehe), baru deh kita menuju rumah Ingrid dan nengok baby Nicole, yang rupanya baru kelar minum ASI, trus dibangunin sama mama-nya hahahaha...suka ngaco emang tuh Ingrid.


Lucu baby-nya...masih kecil gitu...jari tangan dan kakinya panjang-panjang...bentuk wajahnya sih mirip Ingrid..gak tau deh ntar kalo udah agak gede-an gimana. Sempet didongeng-in gak jelas sama Sufei, karena pas terakhir-terakhir Nicole sempet nangis. Pas didongeng-in gitu dia diem. Mungkin bingung juga kali ya denger suara Sufei yang bising itu :)....

tatapan penuh pertanyaan;
"siapa ini?" "mahluk apa ini?" "kenapa bawel sekali?"

Setelah foto-foto...maka kita pun pulang. Dan gue harus mengantar para anak-anak itu kembali ke rumah mereka masing-masing hahaha...sebenernya sih, kalo diitung dari waktu/lamanya perjalanan, enggak terlalu lama. Dari gerbang kompleks rumah Imel, sampe rumah gue kayaknya cuma 1,5 jam deh. Jadi 'kan ya harusnya sih enggak gitu jauh km-nya. Agak terbantu sih dengan situasi jalanan yang enggak padat. Jadi kemana-mana terasa lebih cepat.

So..hari itu berakhir dengan kelelahan, pantat tepos, dan ngantuk...tapi seneng dan puas juga bisa jalan-jalan bareng anak-anak, kunjungan ke rumah Bibie dan tentu nengok baby Nicole.

Tuesday, February 16, 2010

St. Ann, St. Ann


From Chicken Soup for the Soul: Living Catholic Faith, 101 Stories to Offer Hope, Deepen Faith, and Spread Love. 2008. Jack Canfield, Mark Victore Hansen & LeAnn Thieman. p. 248-251

"St. Ann, St. Ann"

Prayer is not overcoming God's reluctance; it is laying hold of His highest willingness - Richard Trench.

My friend, Patty Duffy, had all the beauty of an Irish colleen, with silky chestnut hair, a heart-shaped face and laughing eyes. She was tall and athletic, friendly and funny, yet since she had left college and begun her internship at the local newspaper, there were no men on the horizon. Zero.

One Saturday night on her way to Mass, she stopped at her grandmother's house to share her misery, one single gal to another. Patty was happily surprised to find her grandma alone and anxious for a chat. When she began to bemoan her dateless status, her grandmother had asked, "Do you ever pray to St. Ann?" [Santa Anna dalam bahasa Indonesia]

"St. Ann? Why?"

"Well, she was the mother of Mary, the Blessed Mother, and she is considered one of the patron saints of single women. What you have to do is say 'St. Ann, St. Ann, send me a man as fast as you can.'"

Patty burst into peals of laughter. "That's like little kids saying 'Rain, rain, go away!'" [FYI, kalo enggak salah yang lengkap adalah: rain, rain go away, come again another day :)]

"Well, you go ahead and laugh, Miss Smarty Pants...Miss Single Smarty Pants, but don't know it till you've trided it."

Still smiling, Patty finished her coffee, kissed her grandmother goodbye and headed off to church.

She silently lamented, "Here it is Saturday night, and I'm sitting in church... alone."

She glanced around at the plaster statues and located one of the Virgin Mary as a child next to her seated mother, St. Ann. She looked kind, and she certainly looked as though she was keeping a close eye on her own daughter.

"I have no idea if Grandma is even right about this... but what could it hurt?" Feeling unbelievably silly, she began the little prayer. "St. Ann, St. Ann, send me a mas as fast as you can."

For the next two days, any time Patty thought of it, she repeated the little prayer.

On third day, an old friend from college called and asked her out for a drink.

Then a guy from work, whom she had never even spoken to, asked her to an opening of an art gallery.

Bye the end of the next week, she had three dates.

Eagerly, she told her grandmother how the plan had worked. Grandma wasn't surprised. "Oh, honey, how do you think I ended up with your grandfather? He was the sweetest man, and he really fit all my specifications."

"You had specification?" She crumbled another cookie into her tea and studied her grandmother. "What exactly were you looking for?"

"Oh, I was very specific. I wanted a man who didn't drink, because that would mean the he could manage his money carefully and he wouldn't be drinking it up at a bar while his wife and kids did without. He also had to wear his seatbelt. A man who wears his seatbelt is aware of his own mortality, and he wouldn't risk his life in any stupid daredevil sort of way. Finally, he had to be a Catholic. If we were Catholics together, then there would be so much for us to share and enjoy every day in our beliefs and our future together as a family."

At first glance, Grandma's list seemed a little superficial, but the more Patty thought about it, the more it showed how carefully considered it was. Each of those requirement represented something important in the character of a prospective mate.

"What the heck," thought Patty. "St. Anne, St. Ann, send me a man who wears his seatbelt, doesn't drink, and is a Catholic!"

On Tuesday of the following week, a colleague of Patty's invited her out after work to meet a friend of her fiance.

Patty said her revised prayer.

The friend was stereotypically tall, dark and handsome. He had chiseled features, an easy smiles and friendly eyes. His faint German accent made him not only mysterious but exotic, in a romantic sort of way.

"Hi, I'm Joe," he said extending his hand to Patty. She felt a little shock as she took his hand in hers. They laughed and talked easily. He asked her out for dinner and she happily accepted.

When he picked her up, he helped her into her side of the car, went around to the driver's side, slide into his seat and latched his setbelt.

"That's one," she thought to herself. After they settled themselves in a booth at a local restaurant, Patty ordered a beer and Joe ordered a diet soda. "I never drink when I'm driving," he said, unwrapping the straw.

"That's two, St. Ann!" Patty tried to keep herself from smiling. Joe was telling a serious story about attending a camp in his native Germany.

"What kind of camp was that?" she asked trying to refocus her thoughts on the conversation.

"Actually, it was a church camp, a Catholic church camp where I worked with the boys teaching them soccer."

"Joseph," she began, "you really something else."

"My name isn't Joseph."

Patty thought to herself, "Here we go. I knew he sounded too good to be true. He's probably got an alias or several ex-wives. He probably..."

"Patty, are you listening to me? I said my name isn't Joseph; it's Joachim."

"Joachim? Where have I heard that name before?"

"In the Bible. St. Joachim was St. Ann's husband."

It was a few moments before Patty could speak. "Thank you!"

"For what?" asked Joe.

Patty looked at the man who literally a gift from heaven and said, "I wasn't speaking to you."


by Rosemay McLaughlin.



So far dari buku Chicken Soup for the Soul: Living Catholic Faith, favorit gue yang satu ini. Gue ketawa ngakak begitu kelar baca nih cerita. Terkaget-kaget waktu Joe bilang kalo nama lengkapnya itu Joachim. Hahahaha...bisa banget deh!!

Gue ndiri baru tau tuh doa St. Ann itu...mungkin perlu juga dicoba :)


Saturday, February 13, 2010

Chicken Soup for the Soul: Living the Catholic Faith


101 Stories to Offer Hope, Deepen Faith, and Spread Love

This is Chicken Soup for the Soul’s first book written just for Catholics, and it is sure to please all Catholics, from the once-a-year attendee at Christmas Mass, to the devout church volunteer and daily worshipper. With 101 poignant and spirit-filled stories written by Catholics of all ages, this book covers the gamut, including fun stories about growing up Catholic to serious stories about sacraments and miracles. Whether the reader is a cradle Catholic, a convert, simply curious or struggling, these stories describe what it means to be a Catholic. They bring happiness, hope, and healing to everyone in all stages of life and faith.


I just bought this book at Gramedia. And oh boy oh boy oh boy....

Awalnya enggak tertarik banget sama buku The Chicken Soup for the Soul ini. Tapi pas kelas 3 SMA, temen gue, yang sebenernya enggak pernah begitu deket karena waktu kelas 1 dan 2 enggak sekelas, tanpa angin tanpa ujan tau-tau minjemin gue buku ini. Merasa enggak enak ati, jadilah gue pinjem, tanpa niat untuk membaca semuanya. Pikir mau di skipping aja, at least gue tau lah secara garis besar ceritanya apa.

Sebenernya enggak tahu juga kenapa enggak suka The Chicken Soup for the Soul. Mungkin karena waktu itu gue mengira ini buku merupakan salah satu motivational book atau malah religious book. Dari dulu emang enggak gitu suka motivational book apalagi religious book. Terutama buku-buku yang 'terlalu' mendorong dsb. But...never judge a book by its cover.. and.. never say never...karena kalo enggak...ya kayak gue ini. Kualat.

SMA, gue sekolah di Malang dan tinggal di asrama. Best three years of my life!!! So...karena tinggal di asrama, susteran pula (maksudnya asrama yang diasuh oleh suster-suster alias biarawati) jadi memang aturannya lumayan ketat. Suer deh, kalo tidak masuk karena keinginan sendiri, dijamin pasti minta keluar. Awalnya gue juga mengalami cultural shock (ya iya lah...dari Jakarta yang super bising ke Malang yang super tenang) tapi toh lama-lama betah banget hehehe. Ok, back to my story.

Di asrama, kita punya jam belajar, jam 16.30 - 18.00 dan 19.00-20.30 dan terakhir jam belajar optional 21.30 - selesai. Biasanya sih jam 12 dah disuruh tidur. Nah jam belajar I dan II, dilarang menggunakan walkman, menulis surat, baca buku, apalagi makan. Jadi emang super duper tenang banget deh. Buku jatuh aja bisa bikin kaget satu ruangan dan kemungkinan besar ditegur dengan keras oleh kakak kelas (biasanya sih yang lagi galak :D).

Posisi kursi pun mirip di sekolah, dengan menghadap satu sisi dan kursi/meja diatur sesuai dengan urutan nomor kamar. Nah biasanya, anak kelas 1 berada di barisan paling depan. Semakin ke belakang biasanya semakin besar kelasnya. Karena gue udah kelas 3, jadi kursi/meja gue pun juga di belakang. Malah sepertinya paling belakang.

Suatu hari, di hari gue dipinjemin buku The Chicken Soup for the Soul itu, sepertinya lagi enggak ada PR or ulangan yang mesti mendapat perhatian khusus dari gue. Jadi gue mengambil kursi pendek yang biasa dipake untuk nonton TV ke belakang meja gue dan duduk sambil baca buku di situ. Biasanya Ibu Asrama gue (ada dua, satu suster satu orang awam) suka duduk di depan sambil mengawasi, tapi kali ini dua-duanya sedang tidak ada, jadi gue bisa lebih santai hihihihi...

Eh...betapa kagetnya gue tiba-tiba Suster asrama gue tiba-tiba nongol di depan meja dan nanya, "Lagi baca apa kamu?"

Waduh! Bisa mampus gue kalo kena omel. Lebih mampus lagi kalo tuh buku disita. Ya udah...berhubung udah ketauan, yang langsung aja itu buku gue angkat dan gue kasih liat covernya. Trus suster gue itu cuma diem dan mengangguk sambil berkomentar, "Bagus 'kan?" tentu diikuti dengan senyuman.

Gue cuma bisa ngangguk sambil nyengir gitu. Lega plus seneng karena enggak diomelin, kemudian suster gue pun pergi lagi. :D

Dan tentang cerita-cerita di buku Chicken Soup for the Soul itu...well...gue bener-bener kaget banget. Enggak nyangka karena buku ini TIDAK berisi tentang "langkah-langkah yang harus diambil/dilakukan supaya menjadi orang yang A, B, C, atau D", tapi murni merupakan penggalan kisah-kisah yang...yah memang memberikan inspirasi, membangkitkan, memberi dorongan, atau bahkan sekedar menghibur kita.

Ketika buku itu gue kembalikan, temen gue nanya, "Bagus gak?"

Gue mejawab dengan antusias (layaknya gue), "BAGUS!!! Ada lagi gak??? Pinjem dong!!" dan sejak saat itu gue jatuh cinta dengan buku seri Chicken Soup for the Soul.


Lalu kemaren, gue menemukan buku ini, Chicken Soup for the Soul: Living the Catholic Faith. Gue beli murni karena ini ngebahas tentang Katholik. Dan OMG!! Gue baru baca 4 cerita awal aja mata gue udah bengkak!!! Nangis mulu!!! Hieh...parah deh!

Tapi gue suka lah sama cerita-ceritanya...so far gue baru baca 3 Chapters; On Love, Angels Among Us, dan My Brother's Keeper yang belum selesai.

Kisah-kisahnya memang sederhana, tidak bertujuan untuk membuat yang baca nangis (emang cuma gue aje yang gampang nangis), dan membuat kita untuk yah semakin mau mendekatkan diri dan melaksanakan ajaran Tuhan aja sih. Dan juga untuk selalu bersyukur. Simple, tapi susah untuk dijalanin.

Gue harap nanti ada edisi Bahasa Indonesianya, jadi bisa semakin dibaca sama yang lain...dan kalau emang bisa Bahasa Inggris and you're a Catholic...why not read this book. Karena yah emang seperti buku Chicken Soup lainnya...dan yah namanya juga buku, it won't judge you. Gak peduli apakah you're a 'bad' Catholic or a 'good' Catholic, just read it, and you will be touched :)

Hiks...jadi inget film Touched by an Angel...film yang 90% bikin gue nangis!!
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com