Showing posts with label chick lit. Show all posts
Showing posts with label chick lit. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

Celebrity Wedding - aliaZalea


Semuanya bermula dari...
Inara sudah bosan dengan perlakuan keluarganya yang terlalu protektif kepadanya, selalu mencoba mengatur hidupnya, sehingga dia ingin menunjukukkan kepada mereka bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri sebagai wanita dewasa.

Kemudian...
Revel betul-betul terdesak mendapatkan seorang istri secepatnya untuk menyelamatkan karier musik dan image-nya di mata masyarakat. Bukan dia yang menghamili Luna, kekasihnya, dan lalu tak mau bertanggung jawab.... Dia harus menikah untuk menepis gosip itu. Dan pilihannya jatuh pada Inara, akuntang publik yang bekerja padanya.

Hasilnya...
Sebuah pernikahan di atas kertas yang sepatutnya akan menguntungkan mereka berdua. Semua berjalan cukup lancar sampai Revel dan Inara mendapati bahwa pernikahan tersebut mulai terasa lebih nyata daripada yang pernah mereka bayangkan. Mampukah keduanya menepati janji masing-masing untuk mengakhiri sandiwara ini ketika kontrak berakhir?



Jujur, entah apa yang ada dipikiran gue waktu memutuskan untuk beli ini buku. Apalagi buat yang kenal sama gue, susah banget buat seorang Zenia beli buku lokal dari seorang pengarang yang belum pernah gue baca karyanya. Selama ini buku pengarang lokal untuk kategori macam chicklit - metropop yang menurut gue "sempurna" adalah Marga T dan Clara Ng. Selebihnya...gue enggak berani ambil resiko. Tapi rupanya resiko itu gue ambil kemaren.

Yup. Buku ini dengan sukses langsung gue baca setelah gue beli. Hehehehehe....TUMBEN banget kan?!!

Mungkin karena gue tertarik dengan sinopsisnya? Mungkin karena setelah gue baca bagian prologue nya gue tertarik dengan jalan ceritanya? Maka gue belilah ini buku. Sampe rumah langsung gue baca. Kristik gue untuk sementara dihentikan dulu demi buku ini.

Dan baru halaman pertama gue udah langsung berkomentar ini dan itu....berlanjut hingga halaman terakhir. Yah sebenernya sih dari waktu baca prolog itu pun gue juga udah mengerutkan kening gue...tapi gue cuekin, toh ceritanya menarik menurut gue...tapi karena semakin ke belakang jumlah yang membuat gue mengerutkan kening semakin bertambah...gue mulai terganggu dengan hal itu.

Oke...secara keseluruhan, gue suka dengan konsep/ide ceritanya. Klise sih, klise abis, dan merupakan cerita resep lama. Tapi lagi, namanya juga roman. Mau cerita kayak apa lagi sih? Gue suka dengan ritme ceritanya...mengalir dengan lancar. Selebihnya....kedodoran menurut gue.

Hal yang sangat menganggu gue sekali dalam buku ini adalah gaya penulisannya. Bukan gaya berceritanya, tapi lebih ke masalah teknis, alias bahasa. Ya ampun...bahasa yang digunakan campur aduk alias bahasa gado-gado antara Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Apalagi menurut gue, kata-kata yang digunakan itu seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Gue baru ngerasain sekarang ini, betapa tidak enaknya membaca dengan bahasa gado-gado seperti ini. Terlebih lagi, jika kata-kata tersebut digunakan sebagai narasi, bukan bagian dari percakapan.

Contoh: "Dia baru menyadari bahwa buku-buku itu diatur berdasarkan ukuran dan alphabet nama pengarang". Apa tidak bisa kata alphabet dirubah menjadi 'abjad'. Lalu di halaman pertama, awalnya menggunakan kata 'firm' untuk firma, tapi kemudian di kalimat selanjutnya menggukanan kata 'firma'. Lha? Kenapa enggak dari awal aja menggunakan kata firma? Kenapa jadi harus dua istilah seperti itu. Untuk kata-kata yang mungkin tidak ada atau belum ada padanan Bahasa Indonesianya, gue masih maklum, tapi rasanya aneh dan kurang tepat kalau padanan katanya ada dan tetap memilih menggunakan istilah bahasa Inggris.


Kenapa soal bahasa cukup menganggu gue? Mungkin karena artikel Femina yang pernah gue baca waktu dulu itu cukup menohok gue? Coba baca postingan gue tentang bahasa, mungkin dari situ akan lebih ngerti.

Hal lain yang juga cukup menganggu gue adalah soal penokohan Inara. Di buku enggak diceritakan soal perlakukan keluarga Inara yang terlalu protektif. Semua itu hanya dilakukan dalam bentuk narasi, yang menurut gue hanya merupakan katerangan singkat, hanya sebagai latar belakang kehidupan Ina saja. Buat gue, itu enggak cukup untuk menggambarkan kepribadian Ina yang merasa terjepit dan memutuskan untuk memberontak. Gue enggak dapat perasaan itu.

Untuk hubungan antara Ina dan Revel sendiri....ketertarikan mereka berdua sudah digambarkan sejak pertama. Dari sini Ina yang memang tertarik pada fisik Revel, hal yang sama juga terjadi pada Revel, meskipun Ina digambarkan secara fisik berbeda dari perempuan yang biasa dipacari oleh Revel (model), tapi ketertarikan itu digambarkan ada. Tapi kemudian, sekali lagi gue tidak merasakan perkembangan ketertarikan itu. Bahkan sesudah mereka menikah kontrakpun, ketika hubungan mereka berdua dikatakan semakin lama semakin dekat, gue enggak ngerasain itu. Apa mungkin karena proses kedekatan mereka itu lebih banyak digambarkan dalam bentuk narasi daripada percakapan, jadi gue enggak bisa ngerasainnya?

Gue baru menyadari, bahwa gue ini termasuk orang yang taktil (tactile). Semakin dekat gue dengan seseorang, maka semakin nyaman gue menyenderkan tangan gue di bahu orang itu, semakin mudah gue menyentuh tangannya, lengannya, merangkul, dsbnya. Ya ngerti lah maksud gue. Baik itu laki-laki atau perempuan, hal yang sama akan terjadi. Gue bukan orang yang dengan mudah langsung melakukan itu semua pada orang yang baru gue kenal. Nah, di buku ini, bisa dibilang gambaran Ina dan Revel saling menunjukkan perasaannya lewat sentuhan itu bisa dibilang sedikit. Memang ada saat dimana Revel merangkul Ina dan sebaliknya, tapi itu terjadi pada saat mereka berdua memang sedang membutuhkan pelukan yang menenangkan hati. Gue mengharapkan lebih hahahaha. Enggak usah yang dalam skala besar, cukup gandengan tangan, rangkulan, hal-hal yang sederhana, tapi bisa terasa kasih sayangnya.

Sayang, pada saat buku ini abis, tinggal bab terakhir dan sebuah epilog, seorang Sufei meminta supaya gue menelpon. Dan gue yang masih dalam suasana dan aura 'roman' memutuskan untuk menelpon Sufei. Baru berakhir 2,5 jam kemudian. Dan pada saat akhirnya gue melanjutkan itu buku, aura roman yang sebelumnya telah dibangun (meskipun bolong-bolong), tidak bisa dibangun kembali hanya untuk sebuah bab dan epilog. Alhasil gue tidak merasakan apa-apa, sama sekali. Semua terasa hambar. Hieh....

Entah mengapa, gue merasa bahwa buku ini berantakan. Ada beberapa hal yang memberikan kesan bahwa keterangan-keterangan itu ditambahkan belakangan hanya untuk menjelaskan sesuatu. Yang seharusnya menurut gue bisa ditaro di depan atau dijelaskan terlebih dulu, ini malah ditaro di belakang atau dijelaskan belakangan. Mungkin maksudnya mau dijadikan sebuah pengungkapan, tapi gue malah enggak nyambung.

Secara umum, buku ini masih bisa dinikmati sebagai hiburan kok, karena toh gue masih terhibur dengan beberapa adegan didalamnya. Ada beberapa adegan yang menurut gue juga bagus. Jadi enggak bisa dibilang bahwa buku ini jelek juga. Tapi yah itu hahahaha....beberapa hal memang cukup mengganggu gue.

Selesai baca buku ini gue malah jadi mikir, apa udah enggak ada lagi ya buku yang bisa bikin gue terpesona, buku yang pada saat gue baca bikin jantung ikutan berdegup keras, ikut terbawa emosi tokoh-tokohnya? Ngeliat banyaknya 'protes' gue akan buku ini malah bikin gue ngenes sendiri...kacau.

Monday, May 9, 2011

Chick Lit - Katie Fforde

Bohong kalo bilang bahwa gue enggak demen baca chick lit :), karena jenis cerita yang gue suka umumnya masuk kategori chick lit. Harus diakui, cerita-cerita chick lit bisa dibilang sangat ringan, dan klise abis. Tapi, kadang setelah menghabiskan hari atau minggu atau bahkan bulan yang berat, atau bahkan sesudah patah hati, baca chick lit bisa cukup menghibur. Bukan berarti gue pernah mengalaminya, tapi kadang selesai baca chick lit, bisa bikin gue tersenyum dan mendesah..ah...love.... :D

Rasanya udah cukup lama gue enggak baca chick lit. Romance gue baca. Tapi biasanya romance yang gue baca itu termasuk kategori historical romance, atau suspense/thriller romance, supernatural romance, dsb. Bahkan Nora Roberts pun meskipun termasuk general romance, rasanya enggak bisa gue masukkan kategori chick lit.

Anyway, beberapa bulan yang lalu (Feb-Maret) gue ketemu dengan buku karangan Katie Fforde di Periplus. Jujur, gue belum pernah baca satupun buku karangan Katie Fforde dan dengan malu gue mengakui, gue tertarik sama cover depannya *blush* *melirik Mia*


Dan ketika gue baca sinopsis singkatnya, well...gue langsung tertarik...

Sophie Apperly’s frustratingly dismissive family has never taken her seriously. Fiercely academic, they see her more practical skills as frivolous – whilst constantly taking advantage of her. So when her best friend Milly invites her over to New York, she jumps at the chance. It’ll do her ungrateful family good to do without her for a while and, as Milly keeps telling her, it’s time she spread her wings. What’s more, she’s on a quest – America holds the key to solving her family’s financial woes, even if they don’t deserve her help.

From the moment Sophie hits the bright lights of Manhattan she’s captivated. Feeling like she’s stepped into the middle of a film set, Sophie is determined to enjoy every minute of her big adventure. So when an evening at an art gallery opening throws her into the path of Matilda, a spirited old lady who invites her to Connecticut for Thanksgiving, Sophie willingly accepts, much to the dismay of Matilda's grandson Luke. Undeniably attractive but infuriatingly arrogant, he is very protective of his grandmother and seems to doubt Sophie’s motives for befriending her. No match for the formidable Matilda, he eventually admits defeat, but first he has a proposal to make. He’ll help Sophie in her quest to save her family from financial ruin if she returns the favour. But just what does she have to do in return…?

Ceritanya jelas-jelas klise, but somehow sweet. Gue suka dengan Sophie yang selalu baik, penuh semangat dan pekerja keras. Bagian yang gue suka justru disaat Luke dan Sophie saling salah paham satu sama lain. Gue bisa merasakan pedihnya Sophie dan ikutan gregetan. Buat gue, bagian itu merupakan bagian yang membuat gue jatuh cinta dengan Katie Fforde.

Dan alhasil, gue beli lagi buku Katie Fforde yang lain.


Kali ini gue tertarik karena sinopsis singkat di cover belakangnya :) meskipun harus diakui, ada semacam kesamaan model/tema dalam gambar covernya bukan?

With bookshop where she works about to close, Laura Horsley, in a moment of uncharacteristic recklessness, finds herself agreeing to help organise a literary festival deep in the heart of the English countryside. But her initial excitement is rapidly followed by a mounting sense of panic when reality sinks in and she realises just how much work is involved – especially when an innocent mistake leads the festival committee to believe that Laura is a personal friend of the author at the top of their wish-list. Laura might have been secretly infatuated with the infamous Dermot Flynn ever since she studied him at university, but travelling to Ireland to persuade the notorious recluse to come out of hiding is another matter.

Determined to rise to the challenge, she sets off to meet her literary hero. But all too soon she’s confronted with more than she bargained for – Dermot the man is maddening, temperamental and up to his ears in a nasty case of writer’s block. But he’s also infuriatingly attractive – and, apparently, out to add Laura to his list of conquests …

Harusnya udah ketebak kenapa gue langsung tertarik dengan buku yang satu ini. Apalagi kalo bukan soal tokohnya yang kerja di toko buku dan berhubungan dengan buku-buku?

Jujur, gue pingin bisa seperti Laura, yang bisa membaca buku genre apapun, baik itu sastra atau sekedar fiksi biasa seperti romance. Dan mungkin kerja di toko buku kecil (ingat film "You've Got Mail"?) menarik juga :)

Sayang, gue kurang suka dengan buku ini. Gue suka dengan Laura yang memiliki kemampuan organisasi yang cukup hebat, pengetahuan tentang buku yang luas. Tapi hubungan dia dengan Dermot...well...buat situasi yang membuat Laura jatuh cinta/tertarik dengan Dermot kurang tergambarkan. Dan Dermot sendiri...penokohannya kurang kuat. Seolah-olah jadi ada dua kepribadian Dermot. Dermot yang baik dan romantis serta Dermot yang tidak sabaran dan penuh emosi. Dari sinopsis singkat di cover belakang, gue membayangkan Dermot yang pemarah, emosian, dan agak-agak kasar, itu semua baru muncul setelah setengah buku kalo gue enggak salah.

Sayang sih sebenernya...oh well...mungkin harus mencoba baca buku yang lain? Hahahaha...

So far, pengarang chick lit yang menurut gue memang bagus baru Cecelia Ahern, yang seluruh 7 bukunya gue baca dan gue suka plus dengan gaya cerita yang saling berbeda satu sama lain.

Gue baru baca 2 buku Katie Fforde, dah bisa ketebak tipikal ceritanya hahaha...it's not necessarily a bad thing, meskipun bisa jadi membosankan. Nora Roberts dan Sandra Brown pun juga punya tipikal ceritanya masing-masing. Meskipun mereka bukan termasuk chick lit...

Oh well...mungkin ini juga yang kadang bikin gue ragu-ragu untuk baca chick lit?

Thursday, October 22, 2009

The Gift - Cecelia Ahern


Extremely successful executive, Lou Suffern is always overstretched, immune to the holiday spirit that delights everyone around him. The classic workaholic who never has a moment to spare, he is always multitasking while shortchanging his devoted wife and their adorable children. And ever since he started competing for a big promotion, he has barely seen his family at all.

One frigid morning in an uncharacteristic burst of generosity, he buys a cup of coffee for Gabe, a homeless man huddled outside his office building. Inspired by his own unexpected act of kindness, Lou decides to prolong his charitable streak and contrives to get Gabe a job in his company's mailroom. But when Gabe begins to meddle in Lou's life, the helping hand appears to be a serious mistake. Gabe seems to know more about Lou than Lou does about himself, and, perhaps more disturbingly, Gabe always seems to be in two places at once.

With Lou's personal and professional fates at important crossroads and Christmas looming, Gabe resorts to some unorthodox methods to show his stubborn patron what truly matters and how precious the gift of time is. But can he help him fix what's broken before it's too late?



What can I say? She's done it again!!! Ini buku setau gue udah ada sejak Christmas 2008, tapi baru Halloween 2009 gue berhasil beli. Maunya sih dari hari Senin kemaren beli, tapi berhubung Nina, my dearest friend who lives in Austria, hasn't return my sms about whether she already bought the book for me or not, alhasil gue gak jadi beli. Takut kalo ternyata dia udah beli...ternyata dia belum beli. Maka hari Rabu, gue kembali ke mal gading dan mengunjungi Periplus untuk membeli ini buku.

About this book...pernah gak sih baca buku but you hate or dislike the hero/heroine in the book? Seinget gue, baru kali ini gue ngerasain. Bener-bener gak simpati sama sekali dengan tokoh utama di buku ini, yang udah pasti namanya Lou Suffern. Dari awal ini tokoh muncul, gue udah enggak suka dengan tingkahnya, perilakunya dan semakin ke belakang, gue semakin gak suka aja. Terutama pada saat dia berinteraksi dengan istri dan anak-anaknya di rumah.

Harus diakui, gue paling gak suka kalo ketemu tokoh, apalagi tokoh utama, yang lemah dan jahat dan brengsek dan...yah yang negatif-negatif lainnya. Seperti tokoh The Queen di "Fairest of All: A Tale of the Wicked Queen" karangannya Serena Valentino. The Queen juga termasuk tokoh yang gue anggap kurang mendapat simpati gue. Malahan yang ada gue bingung dengan segala keragu-raguan The Queen. Mungkin karena gue sendiri bisa dikatakan orang yang memiliki rasa percaya diri yang cukup mantap, jadi kadang suka sebel aja ngeliat mereka yang memiliki rasa percaya diri kurang, padahal sebenernya mereka mampu.

Back to The Gift. Lou diceritakan merupakan sosok yang super sibuk. Sangking sibuknya, sampai-sampai tiap ada waktu kosong (waktu dimana ia tidak perlu bicara) maka pikirannya berjalan kemana-mana, menuju segala meeting, e-mail, memo yang harus dibuat, dan seribu hal lain yang
perlu ia lakukan kemudian. Alhasil, ia seringkali tidak pernah mendengarkan apa saja yang dikatakan/diceritakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kecuali Lou mengharapkan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan sendiri, maka 80% ia tidak akan mendengarkan orang lain.

Meskipun gue gak simpati sama tokoh utamanya, tapi toh ini buku tetep aja gue baca sampe abis dan ya...lambat laun gue mulai melihat sisi lain dari Lou, dan kemudian Lou sendiri memang berubah. Slowly but sure.

Ini buku mungkin buku pertama Cecelia Ahern yang memiliki sad ending [sorry spoiler]. Dan seperti biasa, gue nangis baca nih buku. Nangis dengan cukup hebat dan cukup merepotkan, karena gue baca nih buku sambil tidur, jadi air mata gue mengalir kemana-mana. Dan, meskipun ceritanya sad ending, tapi gue rasa memang lebih bagus dibikin sad ending. Sama seperti Siti Nurbaya akan lebih baik kalo si Siti-nya mati, dan Romeo & Juliet yang juga akan lebih baik kalau mereka berdua mati, The Gift juga lebih baik jika dibuat sad ending.

Inti dari The Gift is time. Kadang kita lupa, tapi waktu tidak bisa dibeli. The second that second is away, it will gone. Sedetik, semenit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, begitu waktu itu bergerak dan hilang, waktu tidak akan kembali. Klise, tapi memang benar bahwa kita harus menghargai waktu yang ada.


Friday, October 9, 2009

The Book of Tomorrow - Cecelia Ahern


Found this book at Periplus, MKG, and imagined my surprised :) complete with open mouth and off course...gasp. One thing for sure is, you never know what kind of story Cecelia Ahern will deliver on her books or how she will tell the story, but whatever it is, I'm also sure that it will good, it will be different. And this one...is definitely different than her other stories, but still good.

Finished it up in just few hours and really can't wait to read her next books. I'm still waiting for her book "The Gift" to be able in here...or until my friends Nina bought me one :) whichever comes first I think :D

Tamara Goodwin has always got everything she′s ever wanted. Born into a family of wealth, she grew up in a mansion with its own private beach, a wardrobe full of designer clothes, a large four poster bed complete with a luxurious bathroom en-suite. She′s always lived in the here and now, never giving a second thought to tomorrow.

But then suddenly her dad is gone and life for Tamara and her mother changes forever. Left with a mountain of debt, they have no choice but to sell everything they own and move to the country to live with Tamara′s Uncle and Aunt. Nestled next to Kilsaney Castle, their gate house is a world away from Tamara′s childhood. With her mother shut away with grief, and her aunt busy tending to her, Tamara is lonely and bored and longs to return to Dublin.

When a travelling library passes through Kilsaney Demesne, Tamara is intrigued. She needs a distraction. Her eyes rest on a mysterious large leather bound tome locked with a gold clasp and padlock. With some help, Tamara finally manages to open the book. What she discovers within the pages takes her breath away and shakes her world to its core.


I think, what makes it different is the heroine. For once (I think this is the first) the heroine is 16 years old girl. And the story is told from her perspective. Not just that, there also some mystery/thriller in the story, although the thriller won't give you too much goosebumps, but at least it makes you wonder all the time. I guess you can say, this is not your average chicklit book.

Again, Cecelia Ahern has done it! Right now, she's my #1 author :)

Saturday, September 27, 2008

Thanks For The Memories - Cecelia Ahern


Oke...
Cecelia Ahern merupakan salah satu pengarang buku yang menjadi favorite gue. Awal baca buku dia, P.S. I Love You versi Bahasa Indonesia murni karena gue lagi kekurangan bacaan, dan menurut Winy waktu itu, bukunya bagus. Jadi deh gue baca. Dan ternyata emang bagus. Dengan sukses, buku P. S. I Love You bikin gue nangis!

Buku berikutnya yang gue baca adalah...Where Rainbows End/Rossie Dunne...belum ada Bahasa Indonesia-nya dan gue SUKA banget sama buku itu. Apalagi ditambah gaya bercerita-nya beda sekali. Dia tidak memberikan gaya penulisan narasi, seperti kebanyakan buku. Dia bercerita melalui notes, catatan-catatan kecil, fax, sma, surat, e-mail, sms, chatting, yang dilakukan antara para tokoh-tokohnya. Sempet kaget dengan gaya bercerita seperti itu, tapi WOW gue menikmati banget dan in the end...again...I cried!

Buku berikutnya adalah If You Could See Me Now. Kali ini ceritanya yang tidak lazim. Tentang Imaginary Friends. No...ini bukan cerita anak-anak. Ini tentang orang dewasa, yang dewasa terlalu cepat, sehingga kehilangan masa kanak-kanak dan akhirnya bertemu dengan imaginary friends keponakannya. Tentu aja semua jadi complicated...tapi semua berakhir dengan bahagia.

Buku berikutnya, A Place Called Here. Sekali lagi, dengan cerita yang tidak lazim. Apa yang terjadi dengan barang-barang yang ketika kita cari di seluruh rumah tidak ketemu, padahal kita yakin bener barang tersebut kita letakkan kembali di tempatnya dan kita sudah cari sampe bego, tetep aja gak ketemu? Menurut Cecelia Ahern, ketika barang yang kita cari itu menghilang, barang tersebu, atau bahkan orang, pindah ke suatu tempat. Agak aneh memang, tapi kalo dipikir-pikir...seru juga 'kan?

Nah, buku yang baru aja gue baca, Thanks For The Memories...gak kalah unik. Sebelum gue mulai, gue agak bingung dengan kemunculan buku ini. Temen gue yang di Aussie udah dari kemaren-kemaren nyinggung soal buku ini, jauh sebelum Amazon.com menuliskan buku ini di website mereka. Gue cari di internet juga waktu itu belum ada, tapi kok ya temen gue tau ya?

Tadi, gue buka Amazon, dibilang kalo nih buku baru akan keluar April 2009 yang hardcover. Sedangkan gue, udah beli yang paperback, padahal 'kan biasanya hardcover dulu baru yang paperback. Hieh..aneh.

So...Thanks For The Memories.

Tebakan gue, Cecelia Ahern mengambil ide cerita dari kisah para penerima transplantasi jantung.

Tau 'kan betapa sudah banyak orang/kisah tentang mereka yang menerima organ jantung dari orang lain yang kemudian tiba-tiba jadi memiliki hobby atau ingatan atau kebiasaan dari orang yang jantungnya mereka gunakan?

Sekarang, bagaimana dengan transfusi darah?

Nah itu yang coba Cecelia Ahern ceritakan. Apa jadinya kalo seseorang memberikan darahnya untuk pertama kalinya dan dia menyumbangkannya dari hatinya yang paling dalam? Apa yang akan dirasakan oleh orang yang menerima sumbangan darah tersebut?

Emang sih, ceritanya khayal, tapi kalo dipikir-pikir...seru juga kan?

Dan kali ini, Cecelia Ahern menggambarkan pertemuan para tokohnya seperti di Where Rainbows End/Rossie Dunne. Saling berpapasan tapi tidak pernah sampai bertemu. Selalu ada saja kejadian yang membuat mereka berada di tempat yang berbeda, padahal mereka bisa berada di tempat yang sama.

Yah..yang penting endingnya bahagia..:-D

Mungkin next time gue donor darah, gue akan mencoba untuk menyumbangkannya dengan penuh perasaan :-P hehehe
Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com