Sunday, June 26, 2011

The Game of Thrones - HBO Series





The Game of Thrones bisa dibilang merupakan film seri terbaru dari HBO. The Game of Thrones sendiri merupakan judul buku karya George R. R. Martin, yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah film berseri. Bukunya sendiri sejauh ini sudah terbit 5 buku (buku ke-5 terbit Juli ini), dan masih akan ada 2 buku lagi yang akan terbit. Jadi total semua 7 buku.

Pertama kali 'ngeh' sama Game of Thrones benar-benar tidak sengaja, karena judul itu muncul di list Google search, sewaktu gue lagi nyari bukunya Rick Riordan The Throne of Fire. Karena sama-sama ada kata 'throne', jadi judul Game of Thrones pun muncul. Ditambah lagi, gue ngeliat buku tersebut waktu Kinokuniya lagi ada diskon 15%.


Gue memang suka buku dengan genre fantasy, tapi ngeliat cover bukunya...gue enggak tertarik hahaha...bukan karena covernya yang enggak menarik hati, tapi juga karena gue kurang lebih taulah jenis ceritanya kayak apa. Sejauh ini, cerita fantay yang bisa gue baca itu baru yang masuk kategori remaja atau young adult. Lord of the Rings punya buku aja enggak gue baca-baca. Mungkin karena udah nonton filmnya dulu kali ya?

But seriously, yang bikin gue males baca adalah karena gue tau, jalan ceritanya yang bakal njelimet karena penuh intrik, penggambaran yang cukup mendetail, dan meskipun semua itu memang benar-benar menarik, gue bakal bingung banget sama jalan ceritanya.


Lord Eddard 'Ned' Stark


Gue enggak tahu kalo Game of Thrones ini dibuat film seri sama HBO. Tapi begitu tahu, gue langsung cek wikipedia, dan jujur, gue langsung tertarik. Dan dimulailah proses pengunduhan. Untungnya, untuk season 1 ini, hanya ada 10 episode dan semuanya udah tayang di HBO luar. Entah kapan masuk ke Indo.


King Robert Baratheon

Kemaren, gue nonton 2 episode. Jujur, gue nonton dengan perasaan campur aduk, antara penasaran dan ragu-ragu. Baru 10 menit pertama, gue udah terkesiap kaget. Dan di penghujung episode 1, sekali lagi gue terkesiap kaget, lengkap dengan mulut yang menganga lebar dan terpaku selama kurang lebih 5 detik. Lalu lanjut episode 2 hahaha...

Berhubung episode 2 selesai sekitar setengah 4 pagi, jadi gue berhenti nonton. Dan sampe sekarang, gue belum lanjut lagi. Kembali perasaan campur aduk...antara ngeri dan penasaran. Kita lihat aja nanti mana yang menang.


Queen Cersei Lannister

Seperti yang gue tebak, ceritanya penuh dengan intrik. Meskipun mungkin tidak seribet The Tudors, tapi sejauh yang gue baca di wikipedia, intrik politiknya (intrik apa lagi coba?) cukup bikin gregetan.

Mengambil setting di dunia khayalan, Westeros dan Essos, film ini bercerita tentang perebutan tahta Iron Throne dan kekuasaan akan Seven Kingdom, setelah jatuhnya penguasa House of Targaryen dan kematian King Robert.

Di season 1 ini, dari 2 episode yang udah gue tonton, sepertinya House of Stark menjadi titik utama. Gue enggak tahu apakah sampai akhir House of Stark yang akan menang atau tidak. Apakah film ini memiliki happy end atau tidak aja, gue enggak tahu. Yang pasti, gue udah tahu siapa yang jadi tokoh antagonisnya. Dan OMG!! Bener-bener bikin emosi!!


Daenerys Targaryen


Dan seperti film seri HBO lainnya (True Blood), film ini memang bener-bener masuk kategori dewasa. Yang pasti sih, kalo masuk Indonesia, bakal cukup banyak yang kena sensor. Hm...untung juga gue unduh sekarang hahahaha..

Secara keseluruhan sih, film ini menarik banget untuk ditonton dan diikuti sampai tamat. Season 2 sudah pasti akan ada (jadi enggak berhenti di season 1).
Dan mengingat bahwa ini adalah film seri HBO, jadi besar kemungkinan memang akan dibikin sampai seri bukunya selesai.

Tuesday, June 21, 2011

Will Grayson, Will Grayson - John Green & David Levithan


Seperti biasa, alasan dan kenapa gue sampe beli buku ini...cukup panjang :D.

So...buku ini dibeli hari Sabtu (18), di Kinokuniya Grand Indonesia, seminggu setelah Kinokuniya ngadain diskon 15%. Oh, gue pergi kok ke diskonan itu...sore sekitar jam 3 dan kalap!! Yah..on my defense...gue beli dua buku titipan Ingrid, tiga buku for my mom (meskipun gue yang baca dulu), 1 buku "percobaan" (pengarang baru, remaja, orang Indonesia, tapi nulis in English), 1 buku Julie Garwood (again for my mom), 1 buku YA seri (yang seri 1 nya juga belum gue baca, dan kayaknya kudu segera dibaca). Dan seolah itu belum cukup, gue masih mampir ke Periplus...and guess what? Ada Theodore Boone!! Dan udah pasti gue beli, Plus buku seri Septimus Heap, yang gue beli juga. Untuk punya periplus card, jadi diskon 10%. It was a productive day hahahaha....gue cuma bersyukur bahwa hari Sabtunya gue gak jadi beli tote/shoulder bag seharga 375ribu!

Jadi...with that books on my soon-to-be-read list, kudunya sih enggak banyak buku yang bakal menarik perhatian gue. But oh how wrong am I!

Agak kaget juga ngeliat Kinokuniya Grani punya banyak buku baru on Teens or YA genre. Tapi yang bikin kaget adalah buku "Will Grayson, Will Grayson" ini.

"Will Grayson, Will Grayson" adalah buku terbitan 2010. Entah apa yang membuat gue bisa ngeliat buku ini di Amazon.com, yang pasti gue langsung tertarik. Dari judulnya, udah ketebak ini adalah nama orang. Mungkin karena waktu ngeliat pertama kali, gue ngeliatnya cuma selintas, yang masuk di otak gue adalah Gill Grissom. Dan Gill Grissom adalah tokoh CSI: Crime Scene Investigator.

Will Grayson, meet Will Grayson

One cold night, in a most unlikely corner of Chicago, two strangers cross paths. Two teens with the same name, running in two very different circles, suddenly find their lives going in new and unexpected directions, culminating in heroic turns-of-heart and the most epic musical ever grace the high school stage.

Baru kalimat pertama, gue udah langsung tertarik.

When I was a little, my dad used to tell me, "Will, you can pick your friends, and you can pick your nose, but you can't pick your friend's nose."

Gue langsung ketawa ngakak begitu baca kalimat itu.

Buku ini ditulis dari sudut pandang dua orang Will Grayson. Will Grayson yang memiliki teman seorang homoseksual bernama Tiny Cooper (tapi berbadan sangat besar). Dan will grayson, seorang homoseksual yang sayangnya mengalami depresi (bukan karena dia homoseksual). Kisah kedua Will grayson ini diceritakan secara bergantian di tiap bab. Kita jadi tahu dan bisa mengenal masing-masing Will grayson.

Will Grayson yang berteman dengan Tiny Cooper merupakan sosok remaja yang memilih untuk menunjukkan sikap tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar. Bukan karena dia merasa atau berpikir bahwa lingkungan sekitar membosankan atau menyebalkan atau bagaimana, ia hanya berpikir bahwa semua akan menjadi lebih mudah dijalani jika ia tidak ambil pusing/tidak terlalu peduli dengan orang-orang lain di sekitarnya.

Tiny Cooper is not the world's gayest person, and he is not the world's largest person, but I believe he may be the world's largerst person who is really, really gay, and also the world's gayest person who is really really large. Enough said.

will grayson, merupakan remaja yang memiliki depresi dan bisa dibilang merupakan seorang homoseksual yang masih tertutup. Ia tidak memiliki masalah dengan dirinya yang seorang homoseksual, ia hanya berpikir bahwa hal itu bukan urusan orang lain.

Mungkin gue bias, tapi sepertinya yang membuat gue tertarik dengan buku ini pertama kali adalah ketika gue meyadari bahwa salah satu dari Will grayson tersebut adalah seorang homoseksual. And you know where do I stand on that topic (baca postingan gue yang lalu-lalu) dan gue kemudian jadi penasaran. Karena seinget gue, gue belum pernah baca cerita/novel yang tokohnya remaja homoseksual.

Buku ini bisa dibilang beda dari buku-buku yang biasa gue baca (I still can surprised myself). Pertama, karena dari segi cerita, bisa dibilang ini cerita tentang remaja 'biasa', tentang kehidupan sehari-hari para tokoh-tokohnya yang normal. Tanpa menjadi vampire, werewolf, godlings, dsbnya. Kedua, meskipun ini bukan buku pertama yang gue baca, dimana tokohnya homoseksual, tapi bisa dibilang ini adalah buku pertama dimana tokohnya masih remaja dan udah menerima dirinya sebagai seorang homoseksual.

Jalan ceritanya bisa dibilang sederhana, tapi karena sederhana itu gue jadi suka dengan ceritanya. Kita bisa lihat bagaimana Will kemudian melihat bahwa ternyata orang-orang di sekitarnya tidak seperti yang selama ini ia persepsikan, bahwa it's ok to show some feeling or even care or even say something back. Kita juga mulai mengerti depresi yang dialami will, bahwa kita bener-bener tidak bisa mengerti apa yang dirasakan oleh mereka yang mengalami depresi, bahwa it's ok to feel angry.

Meskipun will grayson digambarkan sebagai remaja yang mengalami depresi, will tidak digambarkan sebagai remaja yang penuh dengan niat bunuh diri, atau situasi dimana ia ribut/berantem dengan nyokapnya, atau situasi yang bener-bener tipikal angst-nya remaja. Mungkin juga karena diceritakan bahwa will rajin minum obat depresannya, jadi emosinya bisa lebih terkontrol. Meskipun harus diakui, suasana...ehm...suasana gloomy-nya tetep terasa, mendung-mendung gitu deh.

Bahasanya bisa dibilang agak kasar, alias to the point. F-word cukup berserakan, tidak banyak tapi ada. Biar begitu, kalimat-kalimatnya bisa dibilang cukup bagus dan agak-agak filosofi...jadi memang bacanya kudu sedikit mikir. Mungkin ini bedanya antara novel yang ditulis sama remaja dan yang ditulis sama orang dewasa. Muatannya sudah pasti jadi beda.

I love this book. Its simplicity, its characters (you can't not love them, especially Tiny), its problems, its solution, and not to forget...the musical! Oh yes!

sedikit cuplikan..

There was a time
When I thought I liked vagina
But then came a summer
When I realized something finer

I knew from the moment he took top bunk
How desperately I wanted into his trunk
Joseph Templeton Oglethorpe the Third
Left my hear singing like a little bird

Summer of gay!
So lovely! So queer!
Summer of gay!
Set the tone for my year!

:D :D :D :D



I left you with something from the book that I think quite true...
"It's just a thing. Like, some people are gay. Some people have blue eyes"

Thursday, June 9, 2011

Mansfield Park


Jane Austen. Siapa yang enggak kenal Jane Austen? Apalagi yang mengaku sebagai penggemar buku, nama Jane Austen harusnya bukan nama yang asing. Menurut gue, buku-bukunya Jane Austen bisa dibilang buku cewek :) Soalnya, selain karena yang ngarang cewek, tokoh utamanya juga perempuan yang untuk ukuran tahun itu termasuk mandiri.

Sayangnya, gue belum baca bukunya Jane Austen, tapi sudah nonton filmnya. Dari Sense & Sensibility, Pride & Prejudice, Emma, hingga Mansfield Park. Dari empat ini, favorit gue...Emma :) Sampe sekarang masih berusaha mencari filmnya karena gue pingin nonton lagi. Mansfield Park termasuk film yang juga susah untuk dicari, dan untungnya kali ini gue berhasil nemu files untuk diunduh.

Mansfield Park the movie, menurut wikipedia, merupakan adaptasi bebas dari novel Jane Austen dengan judul yang sama. Karena adaptasi bebas, jadi cukup banyak perbedaan antara di novel dengan yang dibuku, meskipun inti ceritanya kurang lebih sama.

Berhubung gue belum baca bukunya, jadi yang dibahas di sini jelas filmnya. Mansfield Park bercerita tentang Fanny Price dari keluarga miskin (dia punya 7 adik!) yang sengaja dikirim oleh ibunya untuk tinggal bersama dengan keluarga adik ibunya, Mrs. Bertram dan Mrs. Norris. Fanny, kemudian tinggal di Mansfield Park yang merupakan rumah Mr. & Mrs. Bertram, kemudian bertemu dengan sepupunya, Tom, Edmund, Maria dan Julia. Meskipun terhitung sepupu, tapi karena Fanny miskin, seringkali dia tidak terlalu dianggap. Dari keempat sepupu itu, hanya Edmund yang kemudian berteman dan menjalin hubungan yang akrab dengannya. Cerita menjadi semakin menarik ketika datang kakak beradik Henry & Mary Crawford, yang berhasil memukau nyaris seluruh penghuni Mansfield Park.

Edmund


Henry & Fanny


Fanny digambarkan sebagai sosok yang memiliki imaginasi yang tinggi, ia senang sekali menulis, dan rajin menuliskan cerita untuk dikirimkan ke adikknya. Fanny juga merupakan sosok yang periang dan seperti tokoh utama Jane Austen lainnya, independen dan lebih memilih cinta daripada uang.

Oke, spoiler, Fanny akhirnya jadian dengan Edmund. I know...I know...itungannya adalah mereka cousin alias sepupu. Tapi, mungkin, karena mereka bersaudara dari sisi ibu, as in Fanny's mother is the sister of Edmund's mother, jadi hal ini bukan hal yang aneh. Tapi tetep aja, waktu pertama kali nonton...gue yang heran.

Dibandingkan dengan Sense & Sensibility maupun Pride & Prejudice dimana tokoh utamanya mengalami roller coaster dalam urusan cinta maupun salah paham dengan pasangannya, Mansfield Park, yang memang lebih mirip dengan Emma, bisa dibilang agak sedikit lebih tenang. Yang dialami di Mansfield Park bukan roller coaster maupun salah paham, tapi lebih ke aha! moment. Salah satu dari mereka baru ngeh bahwa selama ini, pasangan yang gue cari tuh ada di depan mata gue sendiri.

Mungkin itu yang membuat gue suka dengan Mansfield Park maupun Emma.

Yang pasti, gue seneng karena akhirnya bisa nonton kembali Mansfield Park. Akan menjadi lebih seru lagi, kalo gue berhasil menemukan Emma. Mangga Dua! Here I come!! :D

The Princess Bride


Satu lagi film yang berhasil gue unduh :) Kali ini diunduh karena murni penasaran sama ini film yang dibilang sama banyak orang sebagai film bagus. Berhubung nemu file-nya, jadi tadi diunduh dan kemudian ditonton.

Untuk jalan ceritanya, cari dan baca sendiri di wikipedia ya :) ... intinya sih, film ini merupakan penggambaran cerita dari sebuah buku yang dibacakan seorang kakek ke cucu laki-lakinya yang lagi sakit. Tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis bernama Buttercup yang memiliki true love Westley, a farmboy. Westley memutuskan untuk mengadu nasib tapi apa daya, kapal yang ia tumpangi diserang bajak laut dan Westley dikabarkan mati dibunuh. Lima tahun kemudian, Buttercup tau-tau siap dinikahi oleh Pangeran Humperdinck. Buttercup sendiri masih cinta mati sama Westley. Pada saat Buttercup sedang berkuda, tau-tau dia diculik sama tiga penjahat, Vizzini, Fezzik the giant, dan Inigo Montoya. Dan dimulailah petulangan Buttercup.


The Princess Bride


Di film ini, semua unsur yang membuat sebuah film atau cerita menjadi bagus bisa dikatakan ada di sini. Ada romance, pertarungan, penyiksaan, balas dendam, usaha pengejaran, usaha melarikan diri, semua ada. Tapi begitu ditonton...omg...gue ngakak abis! The Princess Bride bisa masuk ke dalam kategori romance-comedy. Karena meskipun ada romance, sword fighting, intrigue, yang paling kental dan kuat adalah sisi komedinya. Sekilas, ini film memang terlihat seperti film yang dibuat untuk tv, tapi kalau diperhatikan lagi sebenernya enggak juga.

Agak kaget juga sih, kenapa sampe banyak banget yang seneng sama ini film dan bahkan sampe mengatakan bahwa ini film bagus. Tapi setelah dilihat, film ini memang menghibur banget :D

Kalimat di film ini cheesy (untuk bagian romance-nya), tokoh-tokohnya meskipun tidak berlaku terlalu konyol, toh tetap terlihat konyol (in a good way, bukan norak), dan penjahat-penjahatnya...kocak!

Dan tidak ketinggalan, pemain di film ini beberapa cukup terkenal. Sekali lagi, mohon liat di wikipedia ya :)

Jadi...meskipun gue masih merasa bahwa ini film enggak keren-keren amat, tapi harus gue akui ini film menghibur dan beberapa adegannya (terutama adegan para penjahatnya) cukup memorable dan masih bisa bikin ketawa kalo diinget-inget.

Red Riding Hood


So...this is another movie that I downloaded using torrent. Jujur cuma iseng doang :) memanfaatkan torrent yang udah gue install. Tiba-tiba mata ngelihat ini film dan langsung gue unduh. Baru beberapa saat yang lalu kelar nonton. Rencana mau tidur, tapi melihat masih pagi..jadi ya sudah nulis review dulu.

Red Riding Hood. Film ini bisa dibilang cukup pendek, cuma 1 jam 45 menit-an. Selesai nonton, gue bingung harus mengkategorikan film ini di bagian apa...dan gue juga bingung sama tanggapan gue akan film ini. Waduh...gimana coba?

Dari segi cerita, memang ceritanya berbeda dengan dongeng anak-anak yang biasa kita tahu. Silakan cek wikipedia untuk sejarah lengkap Little Red Riding Hood, yang ternyata pernah ditulis oleh Perrault maupun Grimm Brothers. Karena film ini the little red riding hood is not so little anymore, maka judulnya berubah menjadi hanya Red Riding Hood.




Jalan ceritanya cukup menarik menurut gue. Setidaknya gue ikutan penasaran untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya menjadi The Wolf. Dan kehadiran Father Solomon (Gary Oldman aka Sirius Black), sedikit banyak membuat situasi menjadi tambah kisruh.

Dan seolah semua itu belum cukup, hidup Valerie (si pemakai red riding hood, Amanda Seyfried) jadi penuh intrik karena sang ibu menjodohkan dirinya dengan Henry (Max Irons) dan enggak setuju dengan pacarnya selama ini Peter (Shiloh Fernanderz). Dan dengan tulisan "From the creator of Twilight" di poster film, mau enggak mau orang langsung kepikiran sama another Edward-Bella-Jacob love triangle.

Henry & Peter

Setelah gue pikir-pikir, yang membuat gue agak terganggu adalah, pendeknya film ini. Yah meskipun kalo dipanjangin sebenernya bisa bikin ini film jadi membosankan juga sih. Cuma menurut gue, ada beberapa adegan yang kayaknya bisa dibuat lebih...well I don't know...lebih heboh? But...oh well.

Dilihat dari segi horor...gue cuma terkesiap satu kali dan melongo satu kali (terkesiap dan melongo itu berbeda, menurut gue), jadi yah enggak horor banget lah. Dilihat dari segi misteri...nah ini yang boleh lah gue acungi jempol. Begitu dikasih tahu siapa The Wolf-nya, cukup kaget juga gue. Dari segi romance...hehh...hahahaha. Peter, woodcutter, cakep sih, ada aura bad boy dari dirinya yang memang menarik banget. Sedangkan Henry, blacksmith, terlihat lebih anteng dan kalem. [But he's handsome too!!]. Tapi berhubung Valerie udah kadung cinta sama Peter, jadi bye-bye Henry.

Oh I love the soundtrack hahahaha....

Jadi kesimpulannya....lumayan bagus untuk ditonton dikala senggang, lagi iseng dan sekedar pingin nonton film. Meskipun bukan komedi, dan enggak bisa dibilang film ringan, film ini juga enggak bikin kita muter otang yang sampe gimana banget. Cukup menghibur kok. Dan anehnya, di adegan terakhir, kalimat yang muncul di kepala gue adalah..."Oh...so sweet!". Tinggal abis itu gue yang "WHATTT??" kaget dengan respon awal gue. Kacau!




On another thing that NOT related to the movie, I now falling in love with Max Irons. Max Irons itu anaknya Jeremy Irons. Siapa Jeremy Irons? He's the voice of Scars dari Disney's The Lion King. Max Irons is his son. Kenapa gue bisa tiba-tiba suka? Karena menurut gue...dia bisa banget jadi James Sirius Potter! (Dito langsung gubrak begitu baca). Look at him! Hieh...gue langsung klepek-klepek aje! Gak nyangka gue...akhirnya bisa menemukan personifikasi seorang James Sirius Potter. Yuk...gue mau day dreaming dulu hahahaha....


Wednesday, June 8, 2011

Sherlock




Bagi yang bisa nonton AXNBeyond, dan suka dengan cerita-cerita dengan tema kriminal dan suka dengan tokoh Sherlock Holmes, ini ada satu film seri baru yang menarik untuk ditonton.

Berhubung gue enggak bisa liat AXNBeyond (cuma ada AXN :'( ) alhasil gue harus melakukan atau mencari cara lain supaya bisa nonton ini film seri. Setelah usaha untuk menonton secara online gagal (males juga bo nunggu loadingnya), gue memutuskan untuk...mengunduh! Menggunakan torrent, dengan sukses film ini, yang ternyata hanya ada 3 episode dengan lama masing-masing 90 menit, berhasil gue unduh selama...oh I don't know...10 hrs...or more? Yang pasti, PC dengan terpaksa gue biarkan menyala sepanjang malam, dan begitu gue cek PC jam 9, tiga film ini sudah selesai terunduh. Yeayyy... :)

Jadi, apa yang membuat Sherlock yang ini berbeda dari yang lain? Dilihat dari gambar di atas, harusnya sih udah ketebak ya :) Sherlock yang ini mengambil setting tahun sekarang, alias modern. Waktu pertama kali liat iklannya, gue cuma bisa bengong dan menanti penuh antusias.



Dan inilah pemeran Sherlock dan Dr. John Watson. Sherlock oleh Benedict Cumberbatch, dan John Watson oleh Martin Freeman. Sherlock-nya ganteng ya!! Hahahaha..

Dengan setting modern, Sherlock ini semakin terlihat 'nyata' dibandingkan yang di buku atau bahkan film-film yang lain. Jangan salah, gue suka banget sama film-nya Robert Downey, Jr dan Jude Law, tapi Sherlock yang ini...buat gue lebih asik...lebih menyerupai Sherlock-nya Conan Doyle. Dan Watson...jadi lebih hidup juga, dan nampak menjadi sosok yang lebih dari sekedar teman Sherlock, meskipun kalau dibandingkan dengan tokoh Jude Law...Watsonnya Jude Law masih lebih independent.

Anyway, Sherlock yang baru, lebih...sombong, kasar, memandang rendah orang lain, dan tidak peduli sama orang lain. Dan semua itu dilakukan tanpa ia sadari. Maksudnya, ia tidak bermaksud melakukan itu semua, cuma ya...karena dia menganggap dirinya lebih pintar dari orang lain, dan ia memang lebih pintar dari orang lain, jadi dia suka enggak sabaran sama orang-orang yang pemikirannya enggak secepat dia. Banyak yang bilang kalau Sherlock doesn't have a heart dan memang cukup banyak yang enggak suka sama dia. Jelas lah. Dengan sikap yang kayak gitu, siapa yang tahan jadi temennya coba? Tapi memang harus diakui. He's brilliant!!

John Watson yang baru, menurut gue agak-agak error...in a good way hahaha...di episode awal nanti ada penjelasan atau alasan, kenapa sampai kakinya sakit atau tangannya tidak lagi tremor. Dan gue yang denger penjelasannya cuma bisa bilang, "Sinting!". Seperti di buku, dia memang sangat kagum akan kemampuan Sherlock melakukan deduksi dan pujian-pujian itu dengan mudah dan cepat keluar dari mulutnya, membuat Sherlock sedikit kesal (atau malu?) dan meminta Watson untuk tidak mengatakan apa-apa. It's quite funny to see it.

Gue suka ngeliat interaksi hubungan antara Sherlock dan Watson, yang sempet dikira pasangan gay :D which is happened more than one on the firs series (and I think all the fanfic writer will have a field trip about this one!) dan lucu juga ngeliat hal tersebut terjadi.

Tapi, terlepas itu semua, yang membuat gue bener-bener tertarik dengan film seri ini adalah...apalagi kalau bukan akan kemampuan analisa Sherlock. OMG!!! Mata, telinga, dan otak harus bekerja ekstra keras untuk bisa mengikuti kecepatan deduksi Sherlock. Inget film Sherlock Holmes-nya Robert Downey, Jr? Inget bagaimana dia menjelaskan kesimpulan yang dia ambil? Cepat bukan? Nah di film ini juga sama, sama cepatnya dan sama memukaunya.

Season 1 seri ini udah abis, nanti Autumn 2011 bakal ada season 2. Gue dah gak sabar untuk bisa nonton lanjutannya!!

Sunday, June 5, 2011

The Kane Chronicles Book Two - The Throne of Fire - Rick Riordan


Huahhh....akhirnya buku ini kelar juga gue baca :D Entah apa yang membuat gue akhirnya memutuskan untuk kembali ke kegiatan membaca buku. Mungkin karena mulai capek dengan kristik (padahal punya utang 2 kristik!) dan sedang berusaha menjauhkan diri dari dunia fanfic juga. Jadi memutuskan untuk mulai membaca buku ini.

Pertama kali mulai buku ToF, ya ampun!!! Sempet nge-blank untuk beberapa saat. Serasa gak nyambung sama apa yang dibaca. Otak ini rasanya susah sekali untuk nyambung dengan apa yang Carter omongin. Sangking berasa nge-blank, sampe berpikir untuk baca ulang buku 1!! Tapi berhubung males dan udah kadung tertarik sama kejadian di buku 2, jadi keinginan untuk baca buku 1 ditunda dulu.

Kegiatan membaca buku 2 ini sempat tertunda. Ditambah lagi kemudian gue iseng untuk mulai mencari files audiobook (for anybook) dan iseng mendengarkan audiobook The Red Pyramid dan The Throne of Fire ini. Dan wow!! Gue jatuh cinta dengan versi audiobook!!

Carter menjadi lebih lucu dan Sadie! OMG! Sadie bener-bener jadi bawel, penuh antusias! Salut untuk Kevin R. Free (Carter) dan Katherine Kellgern (Sadie) for the lively performance! Untuk Katherine Kellgern, bisa dibilang gue jatuh cinta sama suaranya sejak gue dengerin "Another Faust". She's so brilliant!!

Anyway, setelah penuh perjuangan (mencari files ToF audiobook untuk diunduh cukup susah!) akhirnya gue mendengarkan audiobook DAN sekaligus baca bukunya juga. Maklum, di buku kan dilengkapi dengan gambar hieroglyph. Yang pasti, denger audiobook ditambah dengan baca, membuat ini buku menjadi semakin seru untuk dibaca!



Ever since the gods of Ancient Egypt were unleashed in the modern world, Carter Kane and his sister, Sadie, have been in trouble. As descendants of the House of Life, the Kanes have some powers at their command; but the devious gods haven't give them much time to master their skills at Brooklyn House, which has become a training ground for young magicians. And now their most threatening enemy yet - the Chaos snake, Apophis - is rising. If they don't prevent him from breaking free in a few days' time, the world will come to an end. In other words, it's a typical week for the Kane family.

To have any chance of battling the forces of Chaos, the Kanes must revive the sun god, Ra. But that would be a feat more difficult than any magician has ever accomplished. first they have to search the world for the three sections of the Book of Ra; then they have to learn how tho chant it spells. Oh - and did we mention that no one knows where Ra is, exactly?

Narrated by two different wisecracking voices, featuring a large cast of new and unforgettable characters, and with adventures spanning the globe, this second installment of the Kane Chronicles is nothing short of a thrill ride.


Cerita langsung diawali dengan aksi pencurian ehm peminjaman artefak yang memegang peranan penting dalam usaha mereka (Carter & Sadie) untuk memperoleh the Book of Ra. Dan dari situ, cerita langsung mengalir dengan cepat.

Seperti biasa, cerita mengalir dengan cepat, penuh aksi, penuh dengan komentar-komentar Carter dan Sadie yang rada-rada sarkastik, tapi tetap lucu. Tokoh-tokoh lama masih tetap muncul, seperti Bast, Amos, Horus, Isis, meskipun mungkin tidak sebanyak buku 1.

Ada 1 tokoh baru yang kemudian menjadi kesayangan gue. Bes, the dwarf god. You can say, he's growing on me. Gue juga suka Tawaret, goddess of childbirth (berbentuk hippopotamus alias Kuda Nil). Lalu ada Khonsu (baca: Hons) god of moon. Berhubung gue terpengaruh sama versi audiobook, jadi ya...gak heran gue agak-agak suka dengan tiga tokoh ini. Bahkan Set pun ternyata 'terdengar' menyenangkan hahahaha.

Oh, seperti yang ditulis di atas, Brooklyn House memang jadi tempat pusat latihan para magician (yang berarti mereka keturunan pharaoh) dan udah pasti bakal ada beberapa tokoh-tokoh baru. Entah mereka akan sekedar lewat, atau nanti mendapat porsi yang lebih besar, gue gak tahu. Yang pasti, diantara para trainee itu, Walt dan Jaz yang dikenalkan pertama kali. Kemudian ada Felix, yang masih berumur 9 tahun, yang kehadirannya udah langsung bikin gue tersenyum dan gue tunggu kehadirannya.

Zia, the real Zia juga kali ini muncul.

Oh...dan soal romance...well...things going to get more complicated. For Sadie I think. And for Carter...yah gue berharap semua akan baik-baik saja :)

Tapi rasanya, baru kali ini gue menangis baca Kane Chronicles. Enggak tau ya apa yang lain juga ikut nangis, tapi ada satu bagian dimana gue tiba-tiba merasa ikut sedih.

So...buku ini...layak dibaca :D. Selain karena aksinya yang makin seru, ceritanya sendiri juga semakin menarik. Dengan ritme cerita yang cepat, komentar-komentar Carter dan Sadie, cara mereka bercerita, selalu berhasil membuat pembaca sedikit banyak tersenyum. Ditambah lagi dengan tingkah polah para dewa maupun trainee yang pasti bisalah bikin pembaca tertawa, meskipun di tengah-tengah perang sekalipun. Dan, akan lebih seru kalo baca sambil buka wikipedia, jadi bisa sekalian lihat seperti apa sih rupa para dewa-dewa yang disebut di buku ini.

Jujur, gue rekomen untuk mendengarkan versi audiobook-nya. Jadi lebih seru!!

Ini link Audible.com untuk The Kane Chronicles. Bisa dicoba untuk didengerin untuk yang penasaran. The Kane Chronicles
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com