Monday, February 28, 2011

The Fallen - Thomas E. Sniegoski


The Fallen book 1: The Fallen & Leviathan


The Fallen

It's the eve of his eighteenth birthday and Aaron is experiencing dreams of a disturbing nature. In the darkly violent and chaotic dreamscape, Aaron is an armor-clad warrior in the midst of a bloody conflict. He can hear the sounds of weapons clanging, the screams of the stricken, the pathetic moans of the dying, and another sound he cannot quite discern. But as he gazes upward, he suddenly understands, watching as hundreds of armored warriors descend on the battlefield from the sky above. It is the sound of wings beating the air unmercifully.

The flapping of angels' wings.

The Fallen.

Orphaned since birth, Aaron is suddenly discovering newfound -- and sometimes supernatural -- talents. But not until he is approached by two men does he learn the truth about his own destiny, and his role as a liaison between angels, mortals, and Powers both good and evil, some of whom are hell-bent on his own destruction...


Leviathan


Aaron is on the run from the Powers that killed his foster parents and took his younger brother, Stephen. With his dog, Gabriel, and Camael, a former Powers' commander, he is drawn north to a small town in Maine. Here, Aaron, who still hasn't accepted this newfound heritage, finds comfort in the isolated, tight-knit community.

But when Camael and Gabriel go missing, and their landlady suddenly attacks Aaron, he is forced to learn more about the War in Heaven and the many Powers that are fighting for dominance . . . of humankind.





The Fallen book 2: Aerie & Reckoning

Aerie

Aaron will be the one who will reunite the fallen angels with Heaven. But right now Aaron isn't interested in saving anybody other than himself, his magically powered dog, and his younger, autistic foster brother, Steven, from Verchiel, the cruel leader of the Powers. Verchiel is bent on destroying Aaron, and with him all hope of angelic reconciliation.

With the help of a fallen angel, Aaron manages to arrive in the angelic refuge known as Aerie. Though he hopes to catch his breath before continuing the Good Fight, Aaron learns that the other residents of Aerie are concerned about his presence and his role in their future. But how can he win their trust when he has accidentally led the Powers straight to the sanctuary of the Fallen?


Reckoning

The time has come for Aaron Corbet, the eighteen-year-old son of an angel and a mortal, to face his worst enemy. Verchiel, the fallen leader of the Powers, is determined to defeat the prophecy that foretold Aaron's power over all the Fallen. And to do this, he intends to kill Aaron, hoping that the removal of such a "blight" will restore Verchiel in the eyes of the Creator.

Aaron has been training for this showdown, working to understand and control the awesome force that resides deep within himself. He knows he will win. After all, Verchiel has taken away everything and everyone who ever meant anything to Aaron.

He has nothing to lose . . . until Verchiel introduces Aaron to his long-lost father.


WOW!!! Akhirnya kelar juga ini buku dibaca!!

'Tersentil' karena baca blog Mia yang menuliskan daftar buku-buku yang berhasil dia baca selama bulan kemaren, bikin gue jadi pingin menyelesaikan buku-buku yang belum dibaca. Cukup banyak sebenernya, tapi berhubung niat baca sering tergantung mood, jadi agak susah sebenarnya.

Tapi toh akhirnya kemaren, berhasil meletakkan BB dan memilih mengambil salah satu buku dari tumpukan 'buku-buku yang belum dibaca', dan setelah kemaren berhasil menyelesaikan "I Am Number Four", kali ini yakin kalau bisa kembali menyelesaikan buku lain.

Pilihan jatuh pada seri The Fallen karangan Thomas E. Sniegoski. Dan cukup 2 hari saja, buku tersebut selesai dibaca!! Yeay!! Senangnya!!

Seperti yang sudah ditulis (copy-paste) di atas, The Fallen bercerita tentang angels. Yup, ceritanya tentang malaikat. Tapi, berbeda dengan The Fallen-nya Lauren Kate , yang belum pernah gue baca, The Fallen-nya Sniegoski lebih bercerita tentang perang diantara para angels itu sendiri.

Seperti yang pernah gue bilang sama Dito, this book is different. Why? Well...pernah nonton film seri "Supernatural"? Di film itu, juga memasukkan unsur angels, and it's kinda different kind of angels.

Jadi ceritanya adalah Aaron merupakan Nephilim, yang merupakan hasil persatuan antara malaikat dengan wanita biasa (hm...angels are all men!). Nah dari sekian banyan Nephilim, Aaron ternyata merupakan the savior, yang akan menyelamatkan atau menjembatani The Fallen dengan Tuhan.

Siapakah The Fallen?

Inget Lucifer? The Devil? Red skin, pencil-thin mustache, goatee, cloven hooves, horn, pointed tail, pitchfork :) well dikisahkan, Lucifer awalnya adalah malaikat kesayangan Tuhan, ia duduk di sebelah kanan Tuhan. Sampai suatu ketika Tuhan menciptakan manusia dan memberikan bagian dari diriNya, a spark of His divinity-a soul. Lucifer marah, kecewa, kenapa Tuhan memberikan secuil kerahimanNya ke manusia, yang menurut Lucifer adalah mahluk rendahan. Ditambah lagi, Tuhan kemudian bilang bahwa para malaikat diminta untuk tunduk pada manusia dan melayani mereka (manusia) sebagaimana mereka (para malaikat) melayani Tuhan, Sang Pencipta. And all Heaven (not Hell) break loose.

Terjadilah Perang Surgawi Hebat (The Great Heaven War), antara mereka yang mendukung Lucifer dan mereka yang menjadi tentara Tuhan, The Powers. Dan The Powers memandang mereka yang tidak ikut berperang bersama dengan mereka, berarti adalah musuh. You know, the whole if-you're-not-with-me-then-you're-against-me thing? Itulah yang terjadi. Jadi para malaikat terpecah tiga: pengikut Lucifer (Lucifer Morningstar), prajurit The Powers, dan mereka yang memilih abstain.

Lucifer, tentu kalah dan ia menjadi yang pertama dibuang ke bumi (The Fallen), sedangkan pengikutnya memilih untuk juga 'jatuh' ke bumi. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang memilih untuk abstain, mereka memilih untuk jatuh ke bumi, daripada mati di tangan The Powers.

The Powers, karena perintah Tuhan adalah untuk memusnahkan siapapun yang melawan perintahNya, mereka pun mengejar para The Fallen hingga ke bumi, hingga ribuan tahun lamanya. Sampai kemudian muncul sebuah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang Nephilim yang terpilih untuk menebus para The Fallen. Dan di sinilah 'cerita' baru dimulai.

The Fallen merupakan cerita tentang malaikan yang baru pertama kali gue baca. I don't think I've ever read another story about angels. Di cerita ini, malaikat nampak lebih manusiawi :) lengkap dengan rasa takut, rasa cemburu, dan juga sombong. Lucifer, the devil, malah digambarkan sebagai sosok yang penuh penyesalan. And God...well He's merciful and just. He is what He is...A GOD :D

Menurut gue, cerita The Fallen cukup berbeda dari cerita tentang malaikat kebanyakan. Semua memang tahu tentang kejatuhan Lucifer dan para kroni-nya, tapi Sniegoski memberikan twist tersendiri dan gue suka dengan twist itu. Yang baik jadi 'jahat' dan yang jahat jadi 'baik'. Seperti yang gue bilang pertama, para malaikat di buku ini jadi nampak lebih manusiawi.

Dari keseluruhan, cuma satu bagian yang agak-agak mengganggu. Hubungan antara Aaron dengan Vilma. Gue suka sih, tokoh utamanya dapet pasangan, tapi please deh...it's too fast! Oh well...pengarangnya cowok sih hahahaha.... I know it's too sexist, but sometimes I can't help it :) Tapi selebihnya, gue suka banget sama ini buku. Terbukti dari cepatnya gue membaca ini buku.

So..The Fallen, ceritanya menarik, bukan sekedar tentang malaikat yang jatuh ke bumi. Alurnya cukup cepat, tokohnya masih remaja tapi tanpa teenage angst (ada sih emosi marah, tapi sesuailah kadarnya). Gue suka bagaimana cerita beralih dari Aaron ke tokoh-tokoh yang lain, dan tokoh-tokoh sampingannya lumayan banyak, meskipun mungkin cuma jadi filler doang, but I like it. Actionnya keren. Dan terakhir, gue rasa kejutan mengenai siapa ayah Aaron cukup seru juga. Gue berhasil menebak siapa bapaknya Aaron di awal bagian ketiga. :D Oh satu lagi, it has its happy ending hahahaha...

Tuesday, February 22, 2011

I Am Number Four - Pittacus Lore




Nine of us came here
We look like you
We talk like you
We live among you - but
We are not you
We have powers you dream of having
We are the superheroes you worship in movies and comic books -
But we are real
They caught number one in Malaysia, number two in England, and number three in Kenya
They killed them all
I AM NUMBER FOUR. I AM NEXT.



Seperti biasa, udah cukup lama ini buku beredar, tapi baru setelah gue tahu bahwa ini buku bakal difilm-in...baru lah agak-agak kelabakan menimbang-nimbang untuk beli atau tidak buku ini. Setelah buka amazon.com, cari tahu lebih lanjut soal ringkasan ceritanya, kemudian baca bab pertama, baru deh diputuskan untuk beli ini buku. Dengan niat bahwa sudah harus selesai dibaca sebelum filmnya keluar.

Akhirnya ini buku kelar gue baca hari Senin kemaren, setelah beberapa minggu terbengkalai, padahal tinggal beberapa bab lagi coba!

John Smith has just arrived in Paradise, Ohio, just another stop in a string of small towns where the 15-year-old has been hiding out from the Mogadorians. Those terrifying aliens are hellbent on destroying him and the other nine Loric children who have sought refuge on Earth. The Mogadorians are picking off the surviving kids in numerical order. The first three are dead and John's number is up. Will his Legacies, his defining super powers, develop in time for him to fight against the enemy? I Am Number Four is a breathless page-turner of a sci-fi novel that will have readers rooting for the teen alien who must unleash his fire power to save himself, his human friends, and the planet.

Awalnya agak ragu dengan cerita ini. Mungkin karena belum pernah baca cerita yang genre-nya sci-fi (pernah baca Battlefield Earth sih...), tapi setelah baca bab pembukanya...well...I'm hooked.

Mungkin karena gaya berceritanya yang berbeda? Tapi hanya dengan baca bab pembukanya, gue langsung bisa merasakan perasaan takut mencekam yang dirasakan oleh tokohnya (gue mengasumsikan Three yang sedang diceritakan). Gue bisa merasakan kepanikan yang dirasakan oleh Three ketika dia harus melarikan diri, dan juga keputusasaan sekaligus keberanian ketika ia akhirnya ditangkap. Dan itu yang membuat gue memutuskan untuk beli ini buku.

Keputusan yang tidak salah, karena ketika setelah berminggu-minggu tidak baca ini buku, begitu gue lanjut baca lagi, sekali lagi gue bisa ikut merasakan kesedihan John Smith di akhir buku. Padahal gue lagi nunggu nomer di Bank Mandiri!

Buku setebal 440 hal (gue beli yang Bahasa Inggris) ini cukup mengejutkan ternyata cukup ringan untuk dibaca. Jalan ceritanya cepat, para tokoh-tokohnya juga menarik (no teen angst), dilengkapi dengan kisah cinta, gue bisa bilang kalo this is one of my books :D Entah apakah karena gue udah liat trailer film I Am Number Four, tapi deskripsi yang ada di buku ini cukup jelas di kepala gue.

Secara keseluruhan, buku ini secara mengejutkan menarik untuk dibaca dan dinikmati. Ritme ceritanya cepat, tokoh-tokohnya tidak ada yang menyebalkan, misteri mengenai mengapa John Smith bisa ada di Bumi juga lambat laun mulai terungkap, dan meskipun jelas endingnya gantung, tapi paling tidak gue bisa berasumsi untuk buku ini, they have a happy ending.

Kekurangannya cuma satu menurut gue...kurang menegangkan. Hm...mungkin karena gue lagi enggak konsen baca kali ya? Tapi adegan dimana para Mogadorian menyerang John Smith buat gue kurang mencengkam. Dan tanpa itu...cerita ini jadi agak-agak flat....ada sedikit letupan-letupan kecil di awal cerita, ketika John Smith harus melakukan sedikit aktivitas detektif, tapi selebihnya...enggak terlalu.

Tapi biar begitu, gue menanti filmmya dan bakal menunggu lanjutan buku ini yang bakal keluar Agustus besok (still in hardcover) The Power of Six


Friday, February 18, 2011

Reward


As a person...tunggu...diganti Bahasa Indonesia. Sebagai seorang manusia hehehe...sebagai seorang manusia, gue berasumsi bahwa gue adalah manusia yang baik, pengertian, penuh kasih sayang, perhatian, murah hati, dsb. Dan sejauh ini sih...kayaknya sih iya hahaha...

Tapi tadi temen gue cerita, bahwa beberapa hari yang lalu dia naik taksi blue bird dan tas sepatu (yang isinya sepatu) dia ketinggalan di taksi. Waktu gue tanya kenapa sampe bisa ketinggalan, jawabannya adalah karena tukang taksinya nyebelin (argo 10rb, dibayar 50rb minta kembalian 40rb, tukang taksinya ngoceh minta langsung dibayar 10rb aja, temen gue bilang kalo enggak ada uang 10rb, tukang taksi kemudian ngasih 40rb sambil ngedumel gitu) dan temen gue juga kebetulan lagi bbm temen gue yang lain. Alhasil temen gue jadi buru-buru keluar dari itu taksi.

Taksi Blue Bird menurut gue adalah taksi yang memang dapat dipercaya. Meskipun mungkin banyak keluhan (biar bagaimanapun juga kan tergantung sopir taksinya itu sendiri), buat gue Blue Bird tetep yang terbaik. Jadi begitu gue tahu bahwa taksi yang dinaikin temen gue itu adalah Blue Bird, ya gue jelas kecewa dan gue langsung usul supaya temen gue kudu lapor. Temen gue lapor sih ke pihak Blue Bird, tapi laporannya adalah untuk barang yang hilang, padahal gue berharap dia lapor karena tingkah laku sopir. Hm...jadi inget temen gue yang lain juga pernah 'lapor' ke koran langsung hahaha...

Tadi temen gue ini cerita kalo ternyata tas sepatunya ketemu dan akan dianter ntar ke kantor dia (gue berasumsi sih ke kantor dia ya, karena gue enggak nanya lebih lanjut) dan temen gue ini nanya, mau dikasih duit berapa sopirnya.

Gue langsung bilang, enggak usah.

Hahahaha...

Dulu waktu Sufei tidak sengaja meninggalkan 3 (TIGA) hp nya di taksi, gue enggak mencegah dia untuk ngasih duit dan beliin buah. Kenapa? Karena kita berhubungan langsung dengan si sopir dan si sopir secara khusus janjian ketemu dengan kita untuk ngembaliin itu HP.

Sedangkan untuk kasus ini, sopirnya ngembaliin itu barang hari ini karena kemaren dia libur dan baru masuk hari ini. Plus temen gue itu gak suka sama perilaku sopir kemaren. Buat gue sih lucu kalo hari ini temen gue berbaik hati memberi reward duit. Yah gak tau juga ya apakah akhirnya temen gue jadi ngasih duit apa enggak :D

Tapi, karena jawaban gue itu mau enggak mau gue jadi mikir. Sejauh mana sih, kita kudu/wajib/harus memberikan reward? Kayak tadi pas pergi sama bokap nyokap ke Emporium Pluit. Biasa tukang parkir. Udah ada tulisannya 'no tipping', tapi tetep aja bokap ngasih duit, alasannya karena dikasih parkir dan itu tukang parkir berdiri deket mobil. Bukannya itu emang udah kerjaan dia ya? Mencarikan parkir dan membantu parkir? Apalagi udah ada tulisannya 'no tipping', jadi yah...buat gue agak aneh juga.

Bukannya gue enggak setuju dengan pemberian reward. Bukan itu. Tapi 'kan kudunya ada...apa ya...yang diberikan reward juga kudu menunjukkan sikap bahwa dia memang pantas dan layak untuk diberikan reward atau tip. Kan udah ada tuh etikanya. Kapan atau berapa banyak tip yang kudu diberikan.

Contoh paling gampang, kalo pergi ke restoran atau ke salon. Duluuuuu, gue enggak pernah ngasih tip ke salon, tapi sekarang ngasih. Dan kalo ke restoran, gue liat apa di tagihan udah ada service charge apa belum. Kalo udah ada, gue biasanya enggak ngasih lagi KECUALI emang gue sering banget manggil tuh waiter/waitress dan minta ini itu. Inget banget gue waktu pergi makan sama sepupu2 gue, berhubung datengnya enggak bareng jadi kan ordernya juga enggak bareng, mana nambah mulu, jadi kan waitress nya bolak-balik ke kita, dan ya kita tinggalin tip. Dan sepupu gue langsung bilang ke waitress yang emang ngelayanin kita kalo tip nya buat dia, bukan untuk yang lain (karena kan kadang yang ngeberesin meja bukan yang ngelayanin kita).

Menurut buku yang pernah gue baca soal etika (dan nonton Oprah) tip itu kurang lebih 10% dari total biaya yang kita keluarkan. Jadi misalkan total makan adalah 50ribu, ya tip nya 5rb. Minimal lah 5rb. Tapi, tip juga diberikan kalo kita PUAS dengan pelayanan yang diberikan. Jadi ya kalo enggak puas, jangan kasih tip. Pernah gue seperti itu. Cuma lupa dimana. Suer enggak gue kasih tip hahaha...

Tapi menurut nyokap gue (yang pernah ikut pelajaran etika, dibayarin kantor, dan gue sama adek gue ikut kecipratan dikit), yang namanya tip ya sukarela mau ngasih berapa. Cuma kalo sekarang sih suka enggak gue kasih, apalagi kalo udah ada yang namanya service charge hahaha...

Dan kalo udah ngomongin reward atau tip, gue jadi berasa kayak orang jahat yang tidak murah hati...padahal gue merasa bahwa gue orang baik .... hahahaha... yah tiap orang 'kan beda-beda ya? Sama kayak ada orang yang dengan rela memberikan uang ke pengemis, sementara yang lain memilih untuk tidak memberikan uang sama sekali.

I think this is who I am...

Tuesday, February 15, 2011

Happy Valentine's Day!


Happy Valentine's Day everyone :)

Valentine kemaren sayangnya Jakarta diguyur hujan deras dari subuh hingga pagi hari...baru berhenti mungkin sekitar siang hari, tapi itupun masih terus gerimis. Untungnya sore hujan agak reda, jadi buat mereka yang ada rencana untuk pergi keluar, masih bisa melanjutkan acara...

Kali ini, tidak ada acara keluarg buat gue dan enggak bikin acara dinner bareng temen-temen yang lain juga. Mungkin karena hari Sabtu kemaren udah menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman, jadi pas Valentine, memilih untuk di rumah saja :)

Anyway, baru buka FB hari ini dan ada video lucu/cute dari Disney...:D Happy Valentine's Day!!



Saturday, February 12, 2011

Nicole's Birthday



Beginilah jadinya kalo diri sendiri belum punya anak dan temen deket yang punya anak baru satu orang. Alhasil jadinya ya nyaris seluruh perhatian tercurahkan ke satu anak ini.

Castalia Nicole Gracia lahir 9 Februari 2010, setahun yang lalu. Dan tahun ini adalah ultah dia yang pertama. Anak pertama pula. Jadinya, orang tuanya pun juga all out :). Yang ikutan seneng bukan cuma orang tuanya, tapi ya termasuk temen-temen orang tuanya (namely me). Hari ini, dengan senang hati semua bisa dateng, kecuali Linyuk yang memang kudu repot di rumah sendiri karena besok hari Minggu mau arisan keluarga. Seneng karena semua dateng on time, pas begitu acara mau dimulai.

Yang pasti sih seru, Nicolenya sih cuek-cuek aja, tapi kita para tante dan om kehormatan ini (kehormatan karena kita kan bukan tante dan om kandung) bisa seru main-main sama keponakan kehormatan (alasan yang sama dengan yang diatas).

Seperti biasa, gue dateng duluan, pulang belakangan hahaha...Anyway...ini sebagian foto-fotonya...





Nicole with honorary Uncles and Aunts


Nicole with Mom & Dad, and all the honorary Uncles & Aunts
(missed Uncle Dito, Auntie Sufei and Auntie Linyuk)






Wednesday, February 9, 2011

The King's Speech


When God couldn't save the King
The Queen turned to someone who could



The King's Speech, sesuai judulnya bercerita tentang pidato sang raja. Sang Raja adalah King George VI, ayahnya Queen Elizabeth yang sekarang. Nah menurut sejarah, King George VI merupakan anak kedua King George V. Sesudah King George V wafat, anak pertamanya, naik tahta, King Edward VIII. Tapi karena King Edward keukeuh menikahi Wallis Simpson, janda cerai dari Amerika, yang mana keputusan tersebut ditentang oleh banyak orang, alhasil King Edward memutuskan untuk mengundurkan diri alias turun tahta dan naiklah adiknya, menjadi King George VI.

King George VI, atau Bertie, ternyata gagap. Waktu pertama kali memberikan pidato di Wemberley, baik yang mendengarkan maupun Bertie sendiri merasakan betapa beratnya hal tersebut. Demi mengobati gagapnya, The Queen berusaha mencari bantuan dan bertemulah dengan Lionel Logue. Dan dimulailah proses mereka latihan sekaligus mencari tahu apa yang menyebabkan Bertie gagap, hingga akhirnya Bertie mampu mengatasi kegagapannya.

Ceritanya dibilang based on true story dan sejauh yang gue liat di wikipedia sih sama, tapi ya gue enggak tahu sejauh apa kebenaran film ini.

Yang pasti, Colin Firth main di sini keren abis! Gue bakal seneng banget kalo dia bisa bawa pulang piala Oscar sebagai Best Actor. Keren banget! Dan Helen Bonham Carter...seperti biasa...wow! Perannya sedikit, enggak banyak, tapi di tiap adegan, dia memang keren. Geoffrey Rush yang berperan sebagai Lionel Logue juga enggak kalah keren.

Ceritanya sederhana, tapi lucu dan menyentuh. Apalagi ketika Bertie harus memberikan pidatonya untuk pertama kali (menurut gue sih pertama kali) pada waktu mereka mau perang dengan Jerman. WOW...gue aja yang nonton sampe ikut deg-degan. Sekali lagi, cerita yang sederhana, tapi lucu dan menyentuh, dengan aktor-aktor yang memang bisa dibilang udah kawakan.

Dan karena ini film Inggris, jadi ya...setidaknya ada 3 aktor yang berperan dalam film Harry Potter ada di film ini :)

Film yang menarik dan bagus untuk dijadikan hiburan. Tidak berat, tapi juga bukan film kacangan.

Monday, February 7, 2011

Gue Tahu Lu Pasti Ada Di Sini

For Sufei (already posted on BBM)
Terinspirasi dari cerita Sufei dan kata-kata "Gue tau lu pasti ada di sini" dan agak tersentil oleh cerita Yan yang menurut gue kurang romantis hahahaha...meskipun kata Dito di sini ceritanya kurang Sufei :D oh well gak papa lah...soalnya kalo bikin adegan teriak-teriak plus lompat-lompat, ceritanya berubah jadi komedi bukan romantis.

Anyway, cerita ini dibuat hanya dalam waktu 30 menit kalo enggak salah, dan langsung di post di bbm ke sufei, yan, dan dito (waktu itu lagi bikin conference). Awalnya enggak niat untuk posting di sini, tapi berhubung gue lagi sakit dan enggak bisa tidur (kebanyakan tidur dari siang) dan bingung mau ngapain, jadilah cerita ini diposting di sini.

Ceritanya udah mengalami sedikit perubahan, meskipun enggak banyak dan enggak terlalu signifikan, tapi ya agak-agak berbeda. Semoga menjadi lebih baik :)

It just for fun...and try to think about it on my mind is quite fun...

So Sufei, this one is for you... :D


Siapapun yang pernah mengunjungi daerah Pancoran di Kota pasti tahu bahwa daerah itu tidak pernah sepi. Asemka merupakan salah satu nama jalan yang berada di daerah Pancoran, Kota, yang berarti juga termasuk daerah yang ramai. Maklum, Pancoran yang berada di Kota merupakan daerah Pecinan di Jakarta, pusat perdagangan Jakarta. Daerah tersebut selalu ramai, penuh dengan penjual, pembeli maupun calon pembeli. Belum lagi dengan aneka kendaraan bermotor yang lalu lalang di dua jalur, para ojek sepeda maupun ojek motor, tukang parkir, pejalan kaki, hingga mobil dan motor yang parkir di tepi jalan. Singkat kata, Asemka merupakan daerah yang selalu ramai dan bising. Baru mulai sepi ketika toko-toko mulai tutup.

Diantara keramaian dan kebisingan serta polusi yang terjadi, nampak seorang gadis sedang berjalan dengan santai melintasi mobil dan motor yang sedang bersusah payah bergerak. Sang gadis hanya mengenakan kaos putih bertuliskan BALI dan celana jeans biru panjang, serta sandal kulit model jepit tanpa hak berwarna pink. Sebuah tas kain bermotif batik berwarna biru putih tersampir di sebelah kanan. Ia berhenti di hadapan penjual buku-buku bekas, matanya yang berbentuk almond berada di balik kaca mata minusnya nampak memilah-milah buku yang berada di hadapannya. Wajahnya yang putih, serta hidung yang mancung membuat wajah gadis tersebut nampak manis meskipun tanpa make up sedikit pun. Dan ketika ia tersenyum, meskipun ia mengenakan kawat gigi, membuat wajahnya nampak semakin manis.

Sembari melihat-lihat buku yang ada di hadapannya, dengan santai gadis tersebut merapikan poni rambutnya yang jatuh di keningnya. Ia melakukannya sambil lalu tanpa sadar. Meskipun rambutnya pendek sebahu, gadis tersebut mengikat sebagian kecil rambutnya di kiri dan kanan, membuat wajahnya nampak terlihat jelas. Setelah beberapa saat memperhatikan buku-buku yang berada di hadapannya, ia menyadari bahwa tidak ada buku yang cukup menarik untuk ia beli. Mengalihkan pandangannya dari buku-buku bekas itu, ia melihat ke sekelilingnya. Mobil dan motor masih saja memenuhi jalan. Para tukang parkir sibuk mengatur mobil dan motor yang hendak parkir maupun keluar dari parkiran. Para penjual dan pembeli sibuk menawarkan barang dan menawar harga. Namun semua itu segera berlalu dari pikirannya ketika ia melihat bunga Meihua yang cantik, yang sedang bermekaran.

Meninggalkan penjual buku-buku bekas, gadis tersebut berjalan menuju penjual bunga-bunga Meihua itu. Bunga-bunga itu nampak cantik, memberi kesegaran di tengah-tengah keramaian dan hiruk pikuk sekitarnya. Dengan santai, sang gadis mengeluarkan kameranya, mulai mencari sudut yang bagus, dan mulai mengabadikan bunga-bunga Meihua itu ke dalam kameranya. Entah sudah berapa kali ia memencet tombol shutter. Ia tidak peduli. Ia masih terpikat pada kecantikan bunga Meihua yang ada di hadapannya. Sekali lagi ia mengangkat kameranya, mulai bersiap membidik, namun perlahan-lahan ia menurunkan kameranya, menatap ke sosok yang sedang berjalan ke arahnya.

Untuk kedua kalinya, pandangannya teralihkan. Kali ini ia mengacuhkan bising suara orang-orang maupun kendaran bermotor di sekitarnya, ia mengacuhkan panas matahari, mengacuhkan silaunya sinar matahari, karena matanya hanya tertuju pada sesosok laki-laki yang sedang berjalan dengan santai ke arahnya. Sang gadis mengenali siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Ia kenal gaya jalannya, bahasa tubuhnya, bahkan senyumannya sekalipun. Bahkan dari kejauhan sekalipun, ia bisa mengetahui mata sosok laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya ini dengan santai, berbinar-binar. Apalagi jika dilihat dari senyumannya yang nampak jahil. Dengan pakaian yang serba biru, termasuk sepatu santainya yang juga berwarna biru, sang gadis mendapati sosok laki-laki itu nampak menyejukkan mata.

Sang gadis menatap laki-laki itu dengan tatapan yang juga penuh binar-binar. Sudah lama ia tidak bertemu dengan sang laki-laki. Sebuah senyuman perlahan-lahan muncul dan makin lama semakin lebar. Sang gadis sebenarnya sudah ingin melompat-lompat dan berteriak-teriak menyerukan nama sang laki-laki sekuat tenaganya, ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Namun ia menahan diri. Untuk kali ini saja, ia ingin sesuatu yang berbeda. Dan untuk itu, ia memilih untuk berdiam diri, hanya tersenyum dengan lebar, dan menanti hingga sang laki-laki berdiri di hadapannya.

Akhirnya sang laki-laki berdiri di hadapan sang gadis, senyuman lebar juga nampak di wajahnya. Dan matanyapun berbinar-binar menatap sang gadis. Sang gadis menengadahkan wajahnya, menanti sang laki-laki untuk berbicara. Sang laki-laki kemudian mengulurkan tangan kanannya. Sang gadis memilih untuk mengabaikan uluran tangan tersebut, setengah melompat, ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang laki-laki itu. Mendapat sambutan yang mengejutkan, namun menyenangkan, sang laki-laki tertawa dan secara otomatis melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang gadis.

Untuk beberapa saat, keduanya berpelukan dengan erat. Suara-suara bisingpun menghilang, hawa panas menguap, yang ada hanya debaran jantung mereka berdua, serta pelukan erat dari orang yang mereka kasihi. Sang laki-laki kemudian berbisik, "Gue tahu lu pasti ada di sini". Dan sang gadis menjawab, "Gue tahu lu pasti bisa menemukan gue."

The End.

Thursday, February 3, 2011

Happy Lunar New Year 2011!!



Happy Chinese New Year!!!

Kali ini, acara imlek agak sedikit mereda :) maklum, emang pada dasarnya enggak ngerayain imlek, kecuali bagi-bagi angpao-nya hahaha... tapi toh tetep bisa ketemu dengan para sepupu meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan, tetep bisa saling mengucapkan Kiong Hi, Kiong Hi...terus abis itu bagi-bagi angpao hahaha...

Hope everybody have a wonderful day!
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com