Monday, May 31, 2010

I'm A Woman

Lagi tergila-gila dengan lagu "I'm A Woman" dari soundtrack Sex & The City 2. Gonna watch that movie this Saturday with Gerrie. YES!!

So...seperti biasa, denger lagu ini pertama kali gue cuek aja. Gue cuma ngeh kalo ini lagu dinyanyikan oleh Carrie, Charlotte, Miranda, dan Samantha, jadi ya suaranya gitu deh hahaha...gak jelek, cuma ya keliatan kalo bukan penyanyi profesional. Jadi mirip kalo karaoke. Yah berhubung gue belum liat filmnya jadi ya gue enggak tahu mereka lagi ngapain.

Ngedengerin lagu ini kedua kali, baru deh gue ngeh.

Really LOVE the lyric!! Setelah berkonsultasi ke om Wikipedia, ternyata ini lagu lama, "I'm A Woman" dinyanyikan oleh Helen Reddy tahun 70-an gitu, dan lagu ini kemudian menjadi semacam theme song untuk gerakan perempuan (women liberation istilahnya kalo gak salah), dan emang pantas.

Ini liriknya, sengaja gue kasih yang SaTC2 punya

I am woman, hear me roar
In numbers too big to ignore
And I know too much to go back an' pretend
'Cause I've heard it all before
And I've been down there on the floor
No one's ever gonna keep me down again

Oh yes, I am wise
But it's wisdom born of pain
Yes, I've paid the price
But look how much I gained
If I have to I can do anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman

I am woman watch me grow
See me standing toe to toe
As I spread my lovin' arms across the land
But I'm still an embryo
With a long, long way to go
Until I make my brother understand

Oh, yes, I am wise
But it's wisdom born of pain
Yes, I've paid the price
But look how much I gained
If I have to I can do anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman




Bener-bener lagu yang memberi semangat. :D




MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

Thursday, May 27, 2010

Movie Rating

Have you ever read the rating of the film? I mean if the movie is for general audience of for adult only, something like that. Because if you haven't noticing it, then I think you should try to read or if it's not written on the poster, try looking it up.

Dulu waktu masih SD dan SMP, sebelum umur 17 tahun, gue dan adek gue gak bakal dikasih ijin sama bokap nyokap untuk nonton bioskop, kecuali film nya ada tulisan "Untuk Semua Umur". Jadi disaat nyaris semua temen-temen gue (SD) udah pada nonton film ini itu di bioskop, gue bengong ndiri. Dan tinggal temen-temen gue yang bingung, kenapa gue enggak nonton. Pas gue tanya nyokap, nyokap cuma jawab gini, "Itu film untuk umur 17 tahun ke atas. Kamu udah 17 tahun belum?" end of discussion. Gak kena lah begging-begging, karena udah tertulis "17 thn ke-atas". Alhasil, gue dicekokin sama film anak-anak yang kebanyakan Disney (now you know why I'm soooo crazy about Disney).

Ada sih saatnya gue keki juga karena enggak boleh nonton. Iri kali sama temen-temen sekelas yang udah nonton banyak film, mereka bisa saling cerita, tinggal gue yang bengong doang. Tapi nyokap kemudian ngasih alasan lain dengan bilang kalo gue belum tentu ngerti dengan film yang ditonton. Mungkin ngerti jalan ceritanya, tapi belum tentu ngerti makna dibalik cerita itu.

Bohong lah kalo gue enggak sembunyi-sembunyi nonton. Inget banget waktu film Ghost baru main. Semua sibuk nonton, bilang bagus bla bla bla, tinggal gue yang kembali gigit jari. Sampe kemudian gue maen ke rumah temen dan ternyata ada tuh film-nya (btw jaman dulu juga udah ada bajakan ternyata hahaha) dan gue sukses nonton tuh film dari awal sampe belakang. Besoknya, or beberapa hari kemudian, nyokap bilang kalo dia baru pinjem film ghost dan sama nyokap dikasih nonton TAPI cuma di bagian yang udah ditentukan sama nyokap, which is kalo gak salah inget, sesudah adegan yang mereka 'main' tanah liat itu :). Berhubung jaman dulu adanya video, jadi ceritanya nyokap nonton dulu, kemudian di pause, terus gue sama adek gue baru lanjutin nonton. Bagian depannya enggak boleh, gue cuma diceritain doang. Agak-agak feeling guilty sih, karena 'kan gue udah nonton dari depan...tapi ya mau gimana lagi?

Di Indonesia, yang ngurus soal batasan usia penonton adalah badan sensor film. Well...gue enggak tahu apa yang dijadikan patokan, tapi kalo memang yang menjadi patokan "cuma" adegan seks dan/atau ciuman bibir, gue rasa enggak terlalu ngefek. Tapi, soal batasan usia penonton memang tidak boleh dan tidak bisa hanya tergantung pada BSF aja, karena masih ada orang tua, petugas bioskop, dsb...dsb...dsb...

Kalo di luar (Amrik) mereka juga punya badan sendiri yang ngurus rating gitu dan so far sih yang gue ngeh itu ada:
G (general) alias semua umur,
PG (parental guidance) alias Bimbingan Orangtua, karena ada beberapa adegan yang kurang cocok bagi anak-anak,
PG-13 alias 13 tahun ke atas (terjemahan gue), yang ini meminta para orang tua untuk memperhatikan adegan film karena ada beberapa adegan yang kurang cocok bagi anak-anak pra-remaja,
R (Restricted) (PLEASE YA, R BUKAN ARTINYA REMAJA!), untuk R artinya orangtua amat sangat disarankan untuk tidak membawa anak-anak dan untuk penonton dibawah 17 tahun harus disertai oleh orang dewasa selama film,
NC-17 khusus film 17 tahun ke atas.

Memang, ini semua sekedar saran, dan batasan apakah sebuah film termasuk kategori 13 tahun ke atas, atau remaja, atau 17 tahun ke atas emang relatif. Tapi buat para orang tua yang punya anak dibawah usia 17 tahun, gue rasa kudu tahu apa yang akan ditonton oleh anak-anaknya. Jangan mentang-mentang film Disney or film animasi maka berarti film anak-anak. Kadang gue suka bingung ndiri ngeliat bioskop yang jelas-jelas film untuk orang dewasa (at least remaja) ada aja anak-anak yang nonton. Kayak Spiderman, X-Men, Wolverine, dsbnya...lha komiknya aja bukan untuk anak-anak, kok ya diajak nonton film bioskop-nya?

And looking back at the reasons why I'm not allowed to see a movie, gue agak bersyukur juga sih. Karena gue yaking batasan itu ditentukan karena memang ada maknanya, ada tujuannya. Dan gue rasa merupakan hal yang baik untuk membaca batasan usia sebuah film lain kali pergi nonton. Apalagi yang masih punya keponakan, adik, anak di bawah 17 tahun.

Pancious and Prince of Persia


So...tadi 'melarikan diri' ke Plaza Indonesia demi makan Pancious dan bertemu dengan Dito hahaha...seperti biasa gue makan salad, duck & mushroom penne, serta minum Ice Tea fruit cocktail...menu yang sepertinya bakal SELALU gue pesen hehehe...pas kebetulan emang lagi agak craving sama salad.

Talked about Broadway music with Dito, about my story, about...well...lots to talk about. Dr jam 1 sampe jam 3. Baru abis itu nonton. Gak niat banget untuk nonton sih, tapi berhubung Dito mengeluh katanya tidak ada bioskop sebagus di Jakarta dan udah lama enggak nonton...jadilah kami nonton.

Film pilihan jatuh pada...Prince of Persia: The Sands of Time. FYI, gue dah beli junior novelization-nya tuh Prince of Persia, jauh-jauh hari sebelum tuh film rilis di Amrik, tapi sampe sekarang masih rapi terbungkus plastik belum gue baca.

So tadi akhirnya nonton yang jam 3, kita datang 14.50 hehehe...jadi selesai beli bisa langsung masuk bioskop. Gue stop over di wc dulu.

And about the movie...

OMG!!! I'm loving it!!! Love the story, the action, the characters, the conversation, even the dessert! :)

5 menit pertama (or maybe first 10 minutes) mengingatkan gue pada adegan Disney' Aladdin yang kejar-kejaran sama tentara istana sambil nyanyi "One Jump Ahead". Alur cerita berjalan dengan cepat, penuh intrik, dan tentu penuh aksi. Agak capek juga sih nonton nih film hehehe karena cukup penuh dengan adegan lari, lompat, berguling, lompat dan berguling, pokoknya seru lah. Dastannya cakep dan Princess Tamina nya cantik hehehe.

Salah satu tokoh kesukaan gue adalah tokoh yang diperankan oleh Alfred Molina, si Sheik Amar, seorang businessman yang sangat tidak suka bayar pajak :) gue suka banget sama nih tokoh...itung-itung intermezzo.

So...enggak tahu para kritikus berpendapat apa, tapi yang pasti ini film emang bikin gue (seperti biasa) terkaget-kaget, ikut deg-degan, ikut tegang, dan ikut larut dalam emosinya. Dan as always...berhubung ini film Disney, meskipun film action, termasuk 'aman' untuk ditonton oleh anak-anak. Tapi tetep untuk film ini gue rasa termasuk kategori PG 13 alias untuk 13 tahun ke atas.

Selesai nonton, Dito memilih pulang sedangkan gue untuk menghindari macet memilih untuk jalan-jalan dulu di PI. Kemudian nyebrang ke GI karena gue kehabisan toko buku (I miss Kinokuniya), which is kind a lucky for me to go to GI because I found Alex Flinn' "A Kiss In Time" and book 2 of Magic Thief series. AND I just found out that Kinokuniya apparently have some cross-stitch magazines!! YEAY!!! Definitely will be back to buy those magazines!

Tuesday, May 25, 2010

Dogs - Pets


Tadi siang gue nonton Oprah Show, pas kebetulan lagi ngebahas soal anjing.  Di awal acara, Oprah nanya sama penontonnya, siapa yang bukan termasuk pecinta anjing.  Beberapa angkat tangan kemudian ditanyain alasannya kenapa bukan termasuk pecinta anjing.

Well...jujur, gue juga bukan termasuk pecinta anjing.  I DON"T hate dogs, I just don't LOVE dogs, seperti temen gue Sufei, yang bisa lebih galak ke orang yang jahat sama anjing dibandingkan kalo ada orang yang jahat ke orang lain.

Gue pernah berujar kalo gue enggak bakal ngasih ijin anjing untuk tinggal di rumah gue.  I know...never say never :) but that's what I want.

Soalnya menurut gue, punya anjing itu bukan pekerjaan yang ringan ataupun tanggung jawab yang enteng.  Hell, not just dogs, but PETS! Having pets is BIG responsibilty.  Kalo enggak sanggup dengan tanggung jawab seperti itu, lebih baik enggak usah.  Dan gue memilih untuk tidak menanggung tanggung jawab besar itu.

Dan kadang, orang-orang suka lupa akan tanggung jawab itu.

Rasanya gue perlu berterima kasih ke nyokap gue yang menjelaskan alasan kenapa gue enggak boleh punya anjing di rumah.  Mungkin karena gue sendiri juga enggak gitu terlalu pingin, tapi setidaknya nyokap ngasih alasan why she said no at that time.

Nyokap bilang, rumah kita kurang besar.  Anjing butuh tempat untuk bertumbuh dan lari-lari, rumah gue kecil jadi kurang cocok.  Nyokap juga bilang kalo gue mau punya anjing berarti gue harus ngurus anjing itu sendiri, dari bersihin segala kotorannya, ngajak jalan-jalan, ngasih makan, mandiin dsb dsb dsb....  Untuk anak umur...hm...SD kelas 1 mungkin, pekerjaan itu terdengar berat.  Belum lagi soal mengurus kebersihan anjing.  No thanks.  Terakhir, nyokap bilang, kalo punya anjing, enggak boleh ditinggal sendirian selam berhari-hari, jadi kalo nanti orang-orang pada pergi keluar kota, gue harus tinggal sendirian ngejagain anjing.  WHAT? Gue ditinggal saat orang-orang pergi keluar kota? Ok then. No dog! :)

Oma gue sempet punya anjing, tante-tante gue juga punya anjing dan gue baik-baik aja dengan itu semua.  I'm having no problem with other' dog, selama bukan gue yang ngurus, semua baik-baik saja hahahaha.  Dan mengingat betapa seringnya gue keluar kota, pergi jalan-jalan hingga malem, dan di rumah enggak ada pembantu, ninggalin anjing sendirian kayaknya bukan hal yang bijaksana juga.  

Semakin besar gue semakin tahu bahwa punya hewan piaraan itu emang bukan hal yang enteng.  Dan bukan hal yang murah juga.  Jadi kadang gue suka marah sama temen gue yang lain, yang tidak menjalankan kewajibannya sebagai pemilik hewan peliharaan karena biayanya mahal.  Biaya harusnya dipikirkan sejak awal begitu memutuskan hendak memelihara binatang di rumah.

Tidak seperti manusia yang bisa ngomong untuk minta sesuatu, hewan peliharaan enggak bisa teriak-teriak minta sesuatu, so we the human have to provide for them.

So...let this be something to think about for you who want to have a pet or having a pet right now.  Sudahkan/mampukah anda memberikan yang terbaik bagi hewan-hewan peliharaan anda? 

Saturday, May 15, 2010

Miss Saigon


Thanks to Dito yang memberikan gue satu dvd penuh dengan album-album Broadway, gue jadi tergila-gila dengan Broadway Musical.

Dari cerita tante gue yang pernah di Amrik dan baca di Wikipedia, Broadway itu ternyata nama daerah di New York yang memang penuh dengan teater-teater. Jadi mungkin bisa dibayangkan kalo di Jakarta ada TIM, GKJ, dan beberapa teater lain yang letaknya berjauhan, di NY ternyata teater-teater itu saling bersebelahan dan tiap teaer bisa dibilang mempertunjukkan sesuatu.

Buat gue yang belum pernah nonton pertunjukkan Broadway, tentu bakal bingung kalo langsung dengerin album musiknya begitu aja, jadi biasanya gue sambil buka Wikipedia dan baca sinopsisnya. Tapi memang harus diakui, ada beberapa lagu yang tanpa membaca sinopsisnya pun sudah kebayang jalan ceritanya.

Salah satunya adalah Miss Saigon. Inget Miss Saigon inget sama Lea Salonga yang langsung jadi terkenal gara-gara memerankan Kim (menang Tony Award), tokoh utama di Miss Saigon, yang kemudian membuat dia dapet peran di Aladdin sebagai Jasmine (singing voice).

Inget Miss Saigon membuat gue inget sama temen gue Nina yang tinggal di Aussie dan dia cerita pengalaman dia nonton Miss Saigon (hieh...enaknya!!!) dan dia bilang kalo ini cerita bagus banget, bikin dia sampe nangis-nangis.

Dan ternyata emang bener.

Miss Saigon merupakan adaptasi bebeas opera Puccini "Madam Butterfly". Mengambil setting perang Vietnam, diceritakan Kim yang bekerja sebagai bargirl, bertemu dengan tentara Amerika, Chris, yang tertarik dengan kepolosan Kim. Chris sendiri tertarik dengan Kim dan mengajak Kim untuk tinggal bareng supaya Kim tidak usah menjual diri lagi. Diceritakan Chris dan Kim pun menikah. Tapi kemudian Chris harus meninggalkan Vietnam, sementara Kim tertinggal. Bertahun-tahun berlalu (3 tahun kalo gak salah), Saigon udah ganti nama jadi Ho Chi Minh City, dan Chris sendiri menikah juga di Amrik dengan Ellen. Kim sendiri sudah punya anak hasil hubungannya dengan Chris. Untuk melindungi anaknya, Kim terpaksa membunuh dan dengan bantuan Engineer (pemilik bar tempat Kim dulu kerja) mereka bertiga melarikan diri ke Bangkok.

Chris yang terpaksa meninggalkan Kim tidak pernah tenang karena tidak tahu nasib Kim seperti apa. Salah seorang temen Chris, John, memberi kabar soal Kim dan soal anak Kim dan Chris. John memberi tahu kalao Kim ada di Bangkok dan meminta Chris untuk datang. Chris pun kemudian menceritakan soal Kim ke Ellen, dan mereka berdua pun ke Bangkok. Kim yang tahu bahwa Chris datang langsung senang karena tahu bahwa ia akan dibawa ke Amerika oleh Chris, meskipun John ragu tapi karena tidak berani bilang jadi John diem aja. Kim kemudian datang ke hotel tempat Chris menginap, malah ketemu dengan Ellen yang mengatakan bahwa ia adalah istri Chris. Kim patah hati dan tidak percaya bahwa Ellen adalah istri Chris, tapi kemudian menerima kenyataan tersebut. Kim meminta supaya mereka (Ellen dan Chris) membawa Tam (anak Kim dan Chris) ke Amerika supaya Tam dapat hidup lebih baik, tapi Ellen menolak karena ia tidak ingin memisahkan anak dan Ibu. Kim pun ngotot dan meminta supaya Chris mengatakannya langsung dan meminta mereka datang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Kim bilang pada Tam supaya bergembira karena ayahnya telah tiba dan supaya menyayangi ayahnya, Kim pun berkata bahwa ia akan menjaga Tam. Ketika mendengar suara langkah kaki di luar, Kim meniup lilin, membiarkan Tam bermain-main di kasur/dipan, kemudian sembunyi di dalam kamar di balik tirai, ia memastikan bahwa yang datang adalah Chris, John, Ellen, dan Engineer, tidak lama kemudian terdengar suara letusan senjata, Kim muncul dari balik tirai terluka. Kim meninggal di pelukan Chris.


Awalnya gue cuma tahu lagu "I Believe" karena pernah denger dinyanyiin sama Jo Su Mi, tapi waktu tadi gue dengerin 1 album seluruhnya, mau enggak mau gue jadi terbayang juga. Lirik di Miss Saigon begitu kuat dan mampu bercerita banyak dari lagu-lagu tersebut. Jadi, baru denger beberapa track aja gue udah tertarik banget sampe akhirnya cari info lebih dalam di wikipedia dan buka youtube juga.

Dan gue liat adegan terakhir di Youtube, dan ternyata gue pun langsung ikut nangis, padahal tuh video di Youtube gambarnya enggak jelas. Suaranya juga, tapi berhubung sambil buka liriknya jadi bisa lah ngikutin. Dan tau-tau gue udah nangis aja.

Satu lagi pertunjukkan musik Broadway yang gue suka, setelah kemaren cukup tergila-gila dengan Wicked, kali ini Miss Saigon.

Jadi....Broadway Musical yang gue suka tuh ada...let see...Wicked, Rent, Miss Saigon, My Fair Lady (next time kalo sempet gue kasih ceritanya)...apa lagi ya? Tentu ada Broadway Musical punya Webber seperti Phantom of the Opera, Cats, Evita, dan Joseph yang emang udah gue tonton dan gue dengerin lagu-lagunya jadi agak-agak enggak masuk hitungan hahaha...

Sekarang masih mencari album-album Broadway lama atau paling tidak yang original Broadway Cast punya. Semoga masih ketemu lagi...

Friday, May 7, 2010

Tchaikovsky


Thanks to info from Mia, gue tahu hari ini ternyata ultanya Pyotr Ilyich Tchaikovsky, 7 Mei 1804. Dan gambar diatas adalah gambar icon google for today. Jadi iseng, di posting sekalian di sini :)

Kalo baca wikipedia, cukup banyak karyanya, tapi yang paling populer mungkin adalah ballet Swan Lake, The Nutcracker, dan Sleeping Beauty.

Gue sendiri 'berkenalan' dengan Tchaikovsky gara-gara waktu SMP temen sebangku gue, cowok tapi belajar piano, mulai mengenalkan gue akan lagu-lagu klasik...maka dimulailah perkenalan gue dengan lagu klasik. Bukan lagu klasik yang berat, yang satu judul bisa 7 - 10 menit sendiri. Bukan. Belum. Tapi memang yang ringan-ringan, yang familiar.

Betapa kagetnya gue ketika tahu bahwa lagu Disney' Sleeping Beauty, "Once Upon A Dream" diambil dari karya Tcaikovsky. Dan "Once Upon A Dream" menjadi salah satu lagu Disney yang gue suka.

Dan siapa yang tidak kenal Swan Lake? Ceritanya begitu populer dan bahkan balletnya pun selalu dinanti orang. Tapi jangan lupa dengan The Nutcracker, yang pementasannya selalu dimainkan setiap Natal di Amrik sono (kalo enggak salah ya)...cukup untung waktu itu sempet liat vcdnya dan gue tau kenapa itu balet menjadi balet yang juga dinanti oleh banyak orang.

Soal kehidupan Tchaikovsky...well...silakan baca wikipedia aja kali ya...cuma satu hal yang sempet gue inget dari film biografi singkat Tchaikovsky punya Disney, bahwa Swan Lake awalnya tidak disukai oleh penonton. Buat mereka balletnya terlalu lama, terlalu boring, dan terlalu kelam. Tapi sekarang...kalo ngomong soal ballet...besar kemungkinan Swan Lake yang akan muncul :)

Monday, May 3, 2010

Toko Buku

Well...tadi iseng main ke Mall (MKG). Yah bukan iseng juga sih, ada keperluan jadi ke mall. Setelah beres dengan hal-hal yang perlu dibeli, maka mampirlah gue ke Toko Buku Gramedia. My beloved bookstore (hm...sebelumnya udah mampir ke Periplus juga, another my beloved bookstore hehehe).

So...rasa-rasanya makin hari makan tercengang aja gue ngeliat betapa banyaknya buku-buku atau penerbit yang bermunculan. Terutama untuk urusan buku romance ya. Dan kali ini udah kayak di luar negeri aja, banyak bener itu buku-buku historical romance-nya! Dari Johanna Lindsay, Debbie Macomber, JULIE GARWOOD (perlu gue tekankan, karena ini buku paling JARANG gue temui terjemahannya), Eloisa James, Lisa Kleypas, dsb...dsb...dsb... Dari yang pengarangnya belum pernah gue baca sama sekali (Eloisa James), sampe yang gue nanti-nanti untuk diterjemahkan (Julie Garwood) sekarang semua ada.

Gue bilang mirip luar negeri karena satu pengarang diterbitkan oleh beberapa penerbit. Perhatikan aja kalo ke toko buku, ada yang diterbitkan Gramedia, ada yang Ufuk, Gagas Media, dsb..dsb.... Baru satu buku yang gue temui diterbitkan oleh dua penerbit padahal satu judul. Kalo enggak salah bukunya L. M. Montgomery "The Story Girl". Satu terbitan Gramedia, satu lagi...hm...sorry lupa, tapi seinget gue bukan terbitan Gramedia. NICE!!!

Soalnya di luar negeri itu, satu judul buku bisa diterbitkan oleh lebih dari satu penerbit. Belum lagi untuk beberapa buku/genre biasanya terbit yang hardcover dulu, baru kemudian yang soft cover. Baru Harry Potter yang seperti itu di sini, tapi edisi hardcover dan softcover-nya pun enggak beda jauh tanggal terbitnya, sedangkan di luar negeri bisa beda sampe 1 tahun. Malah ada yang terbit hardcover dan large print dulu (soft cover tapi bukunya besar-besar), baru kemudian yang mass market paperback (soft cover, ukuran buku kecil/standard).

Dan tadi melihat buku karya Melissa Marr yang Wicked Lovely udah keluar sampe buku 3 (gue sempet liat yang versi komik coming soon!!!!! padahal itu juga coming soon di amazon.com!), terus baru ngeh sama "Good Omen" nya Neil Gaiman & Terry Pratchett, buku yang gue udah liat LAMA tapi berhubung ragu-ragu jadi enggak beli.

Tinggal gue yang iri :(

KENAPA ENGGAK DARI DULU SIH!!!!!

Hiks...hiks...hiks...

Kayaknya dulu susahhhhhh bener cari buku untuk anak-anak...dulu mana ada teenlit? Dulu mana ada itu Harry Potter...atau Bartimeus Trilogy...atau Princess Diaries series...hieh...

Tapi yah...tidak tralu sedih juga sih..toh gue masih sempet ngebaca buku-bukunya Enid Blyton yang seri Mallory Towers (hasil pengaruh cerita nyokap karena pernah tinggal di asrama dan salah satu pendorong gue untuk kemudian ikut tinggal di asrama), kemudian baca cerita Trio Detektif punya Alfed Hitchcock, baca STOP, Pasukan Mau Tahu, dsb..dsb..dsb...

Hieh...dan tadi gue menyadari bahwa Grasindo, another part of Kompas Gramedia ngeluarin Violet Books (nama penerbit sepertinya, kayak KPG, BIP) yang sepertinya berurusan dengan buku-buku dengan tema Harlequin (romance).

Hieh...mungkin memang harus dibagi kali ya...mana yang khusus beli Bahasa Indonesia, mana yang beli Bahasa Inggris...tapi kadang hati ini masih tidak rela beli yang Bahasa Indonesia :((

Duh...buku buku buku....

The Gargoyle - Andrew Davidson


The Gargoyle: the mesmerizing story of one man's descent into personal hell and his quest for salvation.

On a dark road in the middle of the night, a car plunges into a ravine. The driver survives the crash, but his injuries confine him to a hospital burn unit.


A beautiful and compelling, but clearly unhinged, sculptress of gargoyles by the name of Marianne Engel appears at the foot of his bed and insists that they were once lovers in medieval Germany.

In her telling, he was a badly injured mercenary and she was a nun and scribe in the famed monastery of Engelthal who nursed him back to health.

As she spins their tale in Scheherazade fashion and relates equally mesmerizing stories of deathless love in Japan, Iceland, Italy, and England, he finds himself drawn back to life—and, finally, in love.

He is released into Marianne's care and takes up residence in her huge stone house. But all is not well. For one thing, the pull of his past sins becomes ever more powerful as the morphine he is prescribed becomes ever more addictive.

For another, Marianne receives word from God that she has only twenty-seven sculptures left to complete—and her time on earth will be finished.



Istilah "Don't judge a book by its cover" gue rasa cukup bener. Atau setidaknya dalam hal ini, "Don't judge a book by its summary", karena meskipun memang benar summary, kadang ringkasan 1 halaman tidak cukup untuk menjelaskan atau menggambarkan atau mengekspresikan cerita ini buku.

Seperti biasa, dan harusnya gue belajar dari pengalaman gue ini, buku ini sudah menarik mata gue semenjak nongol di Periplus. Judul yang menarik, dengan gambar yang lebih menarik lagi, jelas mendorong gue untuk mengambil buku ini dari rak dan membaca ringkasan di cover belakang. Tertarik? Jelas. Tapi tetap ada perasaan ragu menyelip.

Buka Amazon.com, dari 274 costumer yang memberi review, 142 diantaranya memberi 5 bintang. Jadi jelas, it's a good story. But is it MY story?

Baca ringkasannya yang kebayang di kepala gue langsung soal perjalanan melintasi waktu (literally or metaphorically), tentang drama yang berlarut-larut (buku ini tebel) hingga akhirnya gue memutuskan untuk menunda membeli The Gargoyle ini.

Baru ketika kemarin Kamis pergi bareng Dito, Gerry, dan Yan, mampir ke Periplus dan ini buku lagi sale. Dari 98 rb jadi 59 rb dan masih ada diskon 30% (karena udah punya Periplus card) jadi cuma 41 rb. Itupun juga enggak langsung dibaca, beberapa hari kemudian baru ini buku gue baca. Dan...sorry to say, ini buku awalnya menjadi bacaan kamar mandi...sempet 'naik tingkat' sih jadi bacaan sebelum tidur...tapi seringnya selalu kembali ke kamar mandi hahaha...

Tapi meskipun demikian...bisa dibilang I'm hooked with the story.

Baca The Gargoyle sedikit banyak seperti baca DaVinci Code maupun Angels and Demons-nya Dan Brown (The Lost Symbol sampe sekarang belum sempet gue baca), tapi tanpa misteri yang harus dipecahkan dan tidak ada rahasia-rahasia yang perlu dibongkar. Lalu dimana kesamaannya?

Kesamannya adalah...baca The Gargoyle dijamin pengetahuan kita bertambah. Kita jadi tahu soal korban luka bakar, soal kehidupan religius di Jerman, tentang buku Inferno milik Dante, dan terutama...soal LOVE.

Gue pernah bilang kalo buku yang gue suka adalah buku yang happy end. Itu emang bener, karena gue lebih suka dengan buku yang happy. Tapi, harus gue akui bahwa kadang buku dengan sad ending (tokohnya mati) kalau memang dirangkum dengan manis dan indah dan memang love story, sad ending-pun bakal tetep gue baca dan gue anggap indah. Kebayang gak sih kalo Romeo & Juliet-nya Shakespeare dibikin lived happily ever after? Atau A Walk to Remember-nya Nicholas Spark juga dibikin happy end? Atau Siti Nurbaya? Gue rasa buku/cerita-cerita tersebut tidak akan meninggalkan bekas di ingatan kita masing-masing.

The Gargoyle, sorry for the spoiler, is a love story that have a sad ending. Dan bukan Zenia namanya kalo gue enggak nangis-nangis kayak orang gila (hiperbola mode: on).

Dan gambaran gue soal perjalanan melintasi waktu...well...ternyata ada benernya juga, apalagi ternyata tidak membosankan dan gue cukup menikmati 'perjalanan melintasi waktu' tersebut. Seperti Scheherazade, there is a story within this story, hingga akhirnya kisah tersebut berakhir.

Gue enggak menyangka kalo gue bisa suka dengan buku ini bahkan sampe gue bela-belain baca abis meskipun udah jam 5 dengan mata yang merah karena nangis.

Ini buku yang emang bener-bener kudu dibaca, kudu disempatkan untuk dibaca, karena yah menurut gue sih emang bagus. Meskipun awalnya gue ngerasa boring, tapi somehow di saat yang bersamaan gue juga tertarik dengan ini buku. Dan rasanya cukup puas gue tetap bertahan membaca ini buku.

Setau gue, terjemahan Bahasa Indonesia-nya udah ada, tapi enggak tahu bagus apa enggak terjemahannya. Kalo bisa baca Bahasa Inggris-nya, gue sarankan sih baca yang Bahasa Inggris, karena bahasanya lebih 'indah' menurut gue.

Well...segini dulu...maksud hati cuma mau nulis 'teaser' tapi ternyata enggak bisa. Bukti bahwa ini buku memang menggugah gue sampe menulis singkatpun gue enggak bisa.

Selamat mencari :)

Saturday, May 1, 2010

What Does Your Sleep Position Reveal About You?

Let's try something new :)

What Does Your Sleep Position Reveal About You?

Click the tittle for more explanation.


  • Fetus position - A whopping 41% of participants sleep in this curled-up manner. Women are twice as likely to rest like this and it is listed as the most common position. These sleepers are said to have a tough exterior but are still sensitive and may appear to be shy but warm up quickly.
  • Log position - If you sleep on your side with both arms down, you are a social, easy-going person who is trusting, sometimes to the point of being gullible. The study showed 15% of people sleep like a log.
  • Yearner position - A close third is the side-lying position with both arms out in front of the body, with 13% of partipants sleeping like this. Yearners are noted to be open-minded and still cynical, suspicious, and stubborn about sticking to decisions once they are made.
  • Soldier position - These sleepers lie on their backs with arms down and kept close to the body. This 8% study is said to be reserved, quiet, without fuss, and hold themselves and others to a high standard. Soldier sleepers have a higher likelihood for snoring due to the flat-back position, which may not cause them to wake up often but may result in a less restful night's sleep.
  • Freefall position - Those people who lie on their bellies with arms under or wrapped around a pillow with head turned to the side, make up 7% of the population studied. Freefallers are brash, outgoing, and are very uncomfortable with criticism.
  • Starfish position - Sleepers who lie on their backs with arms up near their head or the pillow account for 5% of participants. These people are good listeners, helpful, and are uncomfortable being the center of attention. People who sleep in starfish position are more likely to snore and to suffer from a poor night's sleep more often.

So...which one is your position?
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com