Wednesday, July 10, 2013

The Assassin's Curse Duology - Cassandra Rose Clark

 Bulan Juni kemaren rasanya cukup penuh jadwal gue...unduh film, ke mal, ke mangdu, trus pergi sama Gerrie yang lagi dateng ke Jakarta.

Sebenernya ada satu buku Bahasa Indonesia yang menarik dan bagus, tapi entah kenapa dari kemaren gue masih belum niat untuk review.  Yang ada malah gue review dua buku ini dulu.

So...background.  Awalnya gue enggak ngeh sama dua buku ini.  Yang pertama kali gue liat adalah The Pirate's Wish yang ada di Amazon, karena memang The Pirate's Wish sepertinya merupakan buku baru alias new release.  Dengan malu gue mengakui, bahwa yang membuat gue tertarik adalah karena adanya kalimat "and come to terms with their growing romantic attraction" di bagian sinopsis buku. *facepalmed*

Setelah dicari, berhasil lah gue mengunduh dua buku ini.  Yup, yang dibaca versi e-book nya.  Dan kemudian gue iseng ke Audible untuk ngedengerin versi audiobooknya.  Ternyata suara naratornya menarik, jadilah gue juga ikut mengunduh versi audiobooknya.  Dan seperti biasa, gue membaca sambil mendengarkan audiobooknya.


 

Ananna of the Tanarau abandons ship when her parents try to marry her off to an allying pirate clan: she wants to captain her own boat, not serve as second-in-command to her handsome yet clueless fiance. But her escape has dire consequences when she learns the scorned clan has sent an assassin after her.

And when the assassin, Naji, finally catches up with her, things get even worse. Ananna inadvertently triggers a nasty curse — with a life-altering result. Now Ananna and Naji are forced to become uneasy allies as they work together to break the curse and return their lives back to normal. Or at least as normal as the lives of a pirate and an assassin can be.


Diliat dari covernya, udah ketebak kalo settingnya di padang pasir, middle east gitu. Setelah baca kalimat pertama atau mungkin halaman pertama, ketauan kalo mereka itu adalah bajak laut. (Kalau baca sinopsisnya sih sebenernya udah tau ya kalo Ananna itu bajak laut, tapi berhubung gue enggak baca sinospsinya jadi yah...gue enggak tau).

Semakin dibaca, semakin gue tau kalo ini cerita masuk kategori novel fantasi, again something that I should have known (Dito....gue menggunakan present perfect tense nih hahaha) if I read the synopsis.

Bisa dibilang, gue suka dengan buku ini.  Ananna digambarkan sebagai tokoh perempuan yang independen dan berani, maklum anak kapten bajak laut, sudah tentu kudu berani.  Cerita dilihat dari sudut pandang dia, alias menggunakan sudut pandang orang pertama.  Sesuatu yang awalnya enggak gitu gue suka, tapi kok ya makin banyak cerita yang gue baca menggunakan metode ini.  Hieh...nasib.

Cerita di buku ini berjalan dengan cukup cepat, enggak bertele-tele, dengan deskripsi yang enggak terlalu membosankan.  Deskripsinya cukup lah buat gue untuk membayangkan situasi dan gambaran lingkungan yang ada di dunia Ananna itu.  

Yang tidak gue sangka adalah, di buku pertama ini, kutukan yang dialami Naji, dan mau tidak mau juga merembet ke Ananna, tidak dipatahakn pada waktu buku berakhir.  Dan gue cuma bisa bilang, Thanks God gue udah ada buku dua!

Untuk buku satu, seperti yang udah gue bilang, buku ini cukup menarik.  Menarik untuk melihat lebih jauh latar belakang Ananna dan juga alasan kenapa sampai Naji terkutuk, melihat bagaimana mereka berdua berinteraksi karena dua-dua keras kepala (Naji yang harus melindungi Ananna sebagai efek kutukannya, sedangkan Ananna yang merasa dia tidak perlu dilindungi), kemudian Naji yang dikejar-kejar oleh kelompok dari The Mist, atau Ananna yang juga harus siaga menghadapi kejaran musuh (khususnya keluarga Hariri yang anak laki-lakinya tidak jadi ia nikahi).

Mengingat buku dan juga audiobook nya selesai dalam 1 hari, buat gue, buku pertama ini cukup tipis, dan kurang panjang hahaha.  




After setting out to break the curse that binds them together, the pirate Ananna and the assassin Naji find themselves stranded on an enchanted island in the north with nothing but a sword, their wits, and the secret to breaking the curse: complete three impossible tasks. With the help of their friend Marjani and a rather unusual ally, Ananna and Naji make their way south again, seeking what seems to be beyond their reach.

Unfortunately, Naji has enemies from the shadowy world known as the Mists, and Ananna must still face the repercussions of going up against the Pirate Confederation. Together, Naji and Ananna must break the curse, escape their enemies — and come to terms with their growing romantic attraction.


Lanjut, buku dua.

Ini dia buku yang membuat gue sampe enggak tidur, demi menghabiskan buku ini.  Jujur, I cheated.  Gue langsung ke bagian akhir demi mau tau apakah akhirnya happy apa enggak! Meskipun gue udah nebak bahwa mereka (Naji dan Ananna) bakal jadian, tapi tetep aja gue pingin tau.  Males banget kalo akhirnya salah satu bakal mati.

Buku kedua...I have mixed feelings about this book.  And after I think about it, I have mixed feelings about this series. 

Buku dua, langsung melanjutkan cerita dari akhir buku pertama.  Hidup di pulau yang asing mulai menjadi hal yang lumrah dan kegiatan mereka pun kembali "normal".  Sampai kemudian muncul sesuatu yang baru.  Manticore.

Yup.  Manticore.

Entah kenapa, pas gue baca bahwa ada manticore, yang ada gue malah tertawa.  Oh God! Kayaknya reaksi yang salah banget.  Tapi suer, itu yang muncul.  Apa gue merasa bahwa keberadaan manticore sebagai sesuatu yang enggak banget di cerita ini? Well...at least gue enggak langsung tutup tuh buku, karena gue langsung lanjut baca.  Jadi paling enggak gue bisa menerima kehadiran itu manticore.  Mungkin, yang bikin gue tertawa adalah karena manticore-nya bicara dan kalimat yang keluar dari mulutnya tuh lucu, seperti dia enggak mau makan Ananna karena dia enggak makan human-girl (manticore-nya perempuan; tapi ternyata memang manticore hanya makan human-boy), tapi dia juga enggak mau makan Naji karena Naji kena kutukan jadi dagingnya bakal alot banget.  Hahaha...

Di ceritanya Percy Jackson, manticore nya begitu sadir.  Di sini, meskipun masih sadis sih, tapi terlihat jinak di persepsi gue.

Di buku dua ini, romance-nya cukup kenceng.  Maksudnya, Ananna mulai mengakui bahwa ia suka dengan Naji and she's in love with him.  Tapi apa daya, Naji rupanya antara belum menyadari perasaannya atau tidak bisa mengungkapakan perasaannya.  Dan ini yang bikin gue akhirnya membaca sampai abissss.

Untuk urusan romance yang satu ini, gue bersyukur karena hanya diceritakan dari sudut pandang Ananna, jadi gue (pembaca) enggak perlu tau soal perasaan dan pikiran Naji soal Ananna.  Karena kalo sampe iya, bisa mampus aja gue rasanya.

Overall, ini buku, sama seperti buku kedua, menarik untuk dibaca.  Pace-nya cepat, actionnya banyak dan menarik, tokoh-tokohnya semakin menarik, romance antara Ananna dan Naji juga makin seru.  Di buku dua ini sepertinya mereka selalu on the go dalam rangka usaha mematahkan kutukan Naji dan Ananna. Marjani, tokoh yang sudah muncul di buku pertama, kali ini kebagian porsi yang lebih besar dibandingkan buku pertama, lengkap dengan latar belakangnya serta romance-nya sendiri. 

Tapi...ini dia.  Sepanjang baca ini buku, gue bingung bukan main.  Pertama, gue enggak tau umur si Ananna.  Is she 16? 17? Or even 15? Baru di buku dua ketauan bahwa Ananna is 17.  Ok then.  Mungkin seharusnya gue bisa nebak umurnya, tapi dari tingkah lakunya, gue perkirakan she's only 16.  Bagaimana dia tiba-tiba memutuskan untuk kabur begitu aja, tanpa ada persiapan, membuat gue berpikir bahwa Ananna is reckless and impulsive.

Kedua, gue bingung dengan genre ini buku.  Bukan sesuatu yang penting sih, tapi yah gue penasaran aja.  Ini masuk kategori Young Adult atau Adult? Tapi kayaknya sih masuk kategori New Adult, yang menurut wikipedia merupakan genre baru, dimana sasaran pembacanya adalah usia 18-25 tahun.  

Gue enggak inget bagian mana, tapi gue merasakan adanya elemen-elemen cerita lain di buku ini.  Mungkin hal tersebut bukan sesuatu yang aneh, karena yah...sebegitu banyak cerita pastilah kita terpengaruh.  Ini enggak gitu pengaruh sih di gue, cuma ya itu, tiba-tiba kebayang adegan di buku a, atau adegan di buku b.  Yang pasti, gue teringat banget sama Prince of Persia pas baca buku ini hahaha...dengan gurun pasirnya, kemudian Naji sebagai assassin; kemudian blood magic jadi keinget sama Harry Potter (halah! jauh banget dah!), kalo soal bajak lautnya sih jelas-jelas kebayangnya Pirates of Caribbean hahaha.

Gue cuma menyayangkan, ceritanya kurang dibuat lebih...apa ya...lebih detail mungkin? Kurang kompleks menurut gue.  Petualangan mereka, Ananna dan Naji dkk dalam mematahkan kutukan kurang banyak (?).  Ada beberapa bagian yang menurut gue bisa diperdalam sebenernya, tapi mungkin inilah kelemahan sudut pandang orang pertama, kehidupan orang lain selain tokoh utama, jadi tidak bisa dieksplorasi lebih jauh.

Tapi gue enggak nyesel kok baca dan dengerin buku ini.  Menarik untuk dibaca dan gue menikmatinya.



Add (12 July 2013)
Just remembered something.  Seperti yang udah gue bilang, gue merasa cerita ini kurang mantap, karena adanya elemen-elemen lain dalam cerita ini.  Oke lah elemen-elemen ini dimasukkan untuk menambah keseruan dan menunjukkan fantasi di cerita ini, tapi kemudian, buat gue jatuhnya jadi enggak konsisten.  Di salah satu cerita, tiba-tiba muncul automaton.  Gue kaget dong.  Gue yang awalnya bingung mau meletakkan ini buku di genre apa (YA apa Adults apa NA) tiba-tiba harus menambahkan genre lain lagi, yaitu steampunk.

Steampunk gue udah pernah bahas di postingan sebelumnya.  Kalo baca review gue soal bukunya Gail Carriger Etiquette & Espionage, bakal tahu bahwa itu cerita genrenya steampunk.  Yang mengganggu gue di cerita The Assassin's Curse series ini adalah, itu automaton cuma muncul di bagian perang, selebihnya enggak ada.  Enggak ada tanda-tanda bahwa mesin mulai merambah daerah tersebut, enggak ada mesin-mesin yang mempermudah mereka berlayar dsb.  Semuanya masih jaman kuno, kecuali itu automaton yang memang mengejutkan.

Oke, mungkin automaton merupakan barang baru, merupakan barang "import" belum semua orang punya, tapi yah masak sih sampe sebegitunya? Apalagi automaton-nya itu dalam jumlah yang cukup banyak dan bukan dalam ukuran kecil.  

Ini memang hal kecil, hal yang enggak terlalu pentinglah.  Ada keterangan atau tidak soal itu automaton memang bukan hal yang penting, apalagi mengingat ini cerita dari sudut pandang orang pertama, jadi kan bisa aja si Ananna memang tidak tau menahu soal itu.  Tapi sekali lagi, kesannya jadi aneh aja.

Gue bener-bener berharap cerita ini punya lebih banyak keterangan, lebih banyak penjelasan, dan lebih banyak eksplorasi.  Tapi sekali lagi, sepertinya terpentok oleh cerita yang diambil dari sudut pandang orang pertama.

 


4 comments:

Ditogendut said...

Hieee... Jadi tergoda buat baca juga.

Tapi... Pirate pricess ya? Hmm... kayanya gue pernah denger cerita dengan penokohan kaya begitu, tapi lupa cerita apaan.

Dan bener yang elu bilang, nuansanya (terutama cover-nya) bikin inget sama Prince of Persia.

Tapi si asinan (iya, gue maksud assassin, tapi males ngetik banyak s-nya gitu, jadi gue sebutnya asinan aja ya, wkwkwk...) akhirnya jadi kaya body-guard gitu ya? Hmm... boleh gue tebak gak kalo dia ahli berantem, rada-rada hampir unbeatable, kuat, reliable, rada-rada kaku gitu orangnya?

Kalo bener kaya begitu penokohan si asinan itu, well... Udah pernah baca manga berseri yang judulnya Kagetora? Disitu tokohnya emang bukan pirate and asinan, tapi putri keluarga elit yang turun temurun menguasai bela diri dan dunia politik (meskipun si putri itu clumsy and gak jago berantem sih...), sementara cowoknya ninja yang namanya Kagetora.

Caroline Zenia said...

Is there any other type of assassins other than you've mentioned? Kecuali assassins nya lebay or slengean or yang modelnya kayak Ryo Saeba...tapi si Ryo juga punya baggage kan?

Sudah lah, yang namanya cerita bodyguard kan kadang memang seperti itu rumusnya...

Gue enggak bilang jelek soal nih buku, tapi kayaknya kurang mantap aja. Terlalu banyak elemen yang dia masukkin di sini, dan beberapa elemen itu enggak dia explore sampe abis.

Mungkin bakal gue tambahin comment gue ini ke dalam postingan gue.

Ditogendut said...

Sebenernya banyak sih Ze asinan dengan karakter yang tidak standar karakter asinan. Malah asinan yang ada di real-life (yup, ada banyak kok asinan di real-life, coba aja cek wikipedia) malah hampir gak ada yang sifatnya seperti asinan-asinan yang ada di dalem cerita-cerita. Biasanya malah karakter mereka lebih seperti the good natured neighbor, karena mereka kan harus menutupi fakta bahwa mereka adalah asinan, dan karena mereka menjalani kehidupan sehari-hari mereka itu lebih banyak daripada mereka menjalani kehidupan sebagai asinan, jadi karakter mereka ya lebih menonjol yang good-natured nya itu.

Bisa jadi ide cerita tuh. Bikin kompleks perumahan yang isinya asinan semua dengan karakter yang bener-bener standar karakter orang karakter perumahan gitu. Bayangin sinetron Bajaj Bajuri tapi ternyata semua tokohnya ternyata asinan semua termasuk si Oneng, sementara si Emak adalah boss-nya para asinan (makanya sifatnya kaya gitu) xixixi... Kayanya habis itu semua orang bisa parno karena merasa tetangganya asinan semua.

Caroline Zenia said...

Baru ngeh kalo lu baru balas nih comment sekarang...di saat gue klaar nonton PJ hahaha...nungguin postingan gue ya??

Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com