Saturday, February 13, 2010

Chicken Soup for the Soul: Living the Catholic Faith


101 Stories to Offer Hope, Deepen Faith, and Spread Love

This is Chicken Soup for the Soul’s first book written just for Catholics, and it is sure to please all Catholics, from the once-a-year attendee at Christmas Mass, to the devout church volunteer and daily worshipper. With 101 poignant and spirit-filled stories written by Catholics of all ages, this book covers the gamut, including fun stories about growing up Catholic to serious stories about sacraments and miracles. Whether the reader is a cradle Catholic, a convert, simply curious or struggling, these stories describe what it means to be a Catholic. They bring happiness, hope, and healing to everyone in all stages of life and faith.


I just bought this book at Gramedia. And oh boy oh boy oh boy....

Awalnya enggak tertarik banget sama buku The Chicken Soup for the Soul ini. Tapi pas kelas 3 SMA, temen gue, yang sebenernya enggak pernah begitu deket karena waktu kelas 1 dan 2 enggak sekelas, tanpa angin tanpa ujan tau-tau minjemin gue buku ini. Merasa enggak enak ati, jadilah gue pinjem, tanpa niat untuk membaca semuanya. Pikir mau di skipping aja, at least gue tau lah secara garis besar ceritanya apa.

Sebenernya enggak tahu juga kenapa enggak suka The Chicken Soup for the Soul. Mungkin karena waktu itu gue mengira ini buku merupakan salah satu motivational book atau malah religious book. Dari dulu emang enggak gitu suka motivational book apalagi religious book. Terutama buku-buku yang 'terlalu' mendorong dsb. But...never judge a book by its cover.. and.. never say never...karena kalo enggak...ya kayak gue ini. Kualat.

SMA, gue sekolah di Malang dan tinggal di asrama. Best three years of my life!!! So...karena tinggal di asrama, susteran pula (maksudnya asrama yang diasuh oleh suster-suster alias biarawati) jadi memang aturannya lumayan ketat. Suer deh, kalo tidak masuk karena keinginan sendiri, dijamin pasti minta keluar. Awalnya gue juga mengalami cultural shock (ya iya lah...dari Jakarta yang super bising ke Malang yang super tenang) tapi toh lama-lama betah banget hehehe. Ok, back to my story.

Di asrama, kita punya jam belajar, jam 16.30 - 18.00 dan 19.00-20.30 dan terakhir jam belajar optional 21.30 - selesai. Biasanya sih jam 12 dah disuruh tidur. Nah jam belajar I dan II, dilarang menggunakan walkman, menulis surat, baca buku, apalagi makan. Jadi emang super duper tenang banget deh. Buku jatuh aja bisa bikin kaget satu ruangan dan kemungkinan besar ditegur dengan keras oleh kakak kelas (biasanya sih yang lagi galak :D).

Posisi kursi pun mirip di sekolah, dengan menghadap satu sisi dan kursi/meja diatur sesuai dengan urutan nomor kamar. Nah biasanya, anak kelas 1 berada di barisan paling depan. Semakin ke belakang biasanya semakin besar kelasnya. Karena gue udah kelas 3, jadi kursi/meja gue pun juga di belakang. Malah sepertinya paling belakang.

Suatu hari, di hari gue dipinjemin buku The Chicken Soup for the Soul itu, sepertinya lagi enggak ada PR or ulangan yang mesti mendapat perhatian khusus dari gue. Jadi gue mengambil kursi pendek yang biasa dipake untuk nonton TV ke belakang meja gue dan duduk sambil baca buku di situ. Biasanya Ibu Asrama gue (ada dua, satu suster satu orang awam) suka duduk di depan sambil mengawasi, tapi kali ini dua-duanya sedang tidak ada, jadi gue bisa lebih santai hihihihi...

Eh...betapa kagetnya gue tiba-tiba Suster asrama gue tiba-tiba nongol di depan meja dan nanya, "Lagi baca apa kamu?"

Waduh! Bisa mampus gue kalo kena omel. Lebih mampus lagi kalo tuh buku disita. Ya udah...berhubung udah ketauan, yang langsung aja itu buku gue angkat dan gue kasih liat covernya. Trus suster gue itu cuma diem dan mengangguk sambil berkomentar, "Bagus 'kan?" tentu diikuti dengan senyuman.

Gue cuma bisa ngangguk sambil nyengir gitu. Lega plus seneng karena enggak diomelin, kemudian suster gue pun pergi lagi. :D

Dan tentang cerita-cerita di buku Chicken Soup for the Soul itu...well...gue bener-bener kaget banget. Enggak nyangka karena buku ini TIDAK berisi tentang "langkah-langkah yang harus diambil/dilakukan supaya menjadi orang yang A, B, C, atau D", tapi murni merupakan penggalan kisah-kisah yang...yah memang memberikan inspirasi, membangkitkan, memberi dorongan, atau bahkan sekedar menghibur kita.

Ketika buku itu gue kembalikan, temen gue nanya, "Bagus gak?"

Gue mejawab dengan antusias (layaknya gue), "BAGUS!!! Ada lagi gak??? Pinjem dong!!" dan sejak saat itu gue jatuh cinta dengan buku seri Chicken Soup for the Soul.


Lalu kemaren, gue menemukan buku ini, Chicken Soup for the Soul: Living the Catholic Faith. Gue beli murni karena ini ngebahas tentang Katholik. Dan OMG!! Gue baru baca 4 cerita awal aja mata gue udah bengkak!!! Nangis mulu!!! Hieh...parah deh!

Tapi gue suka lah sama cerita-ceritanya...so far gue baru baca 3 Chapters; On Love, Angels Among Us, dan My Brother's Keeper yang belum selesai.

Kisah-kisahnya memang sederhana, tidak bertujuan untuk membuat yang baca nangis (emang cuma gue aje yang gampang nangis), dan membuat kita untuk yah semakin mau mendekatkan diri dan melaksanakan ajaran Tuhan aja sih. Dan juga untuk selalu bersyukur. Simple, tapi susah untuk dijalanin.

Gue harap nanti ada edisi Bahasa Indonesianya, jadi bisa semakin dibaca sama yang lain...dan kalau emang bisa Bahasa Inggris and you're a Catholic...why not read this book. Karena yah emang seperti buku Chicken Soup lainnya...dan yah namanya juga buku, it won't judge you. Gak peduli apakah you're a 'bad' Catholic or a 'good' Catholic, just read it, and you will be touched :)

Hiks...jadi inget film Touched by an Angel...film yang 90% bikin gue nangis!!

Thursday, February 11, 2010

Elex Comic Centre


Tanggal 25 Januari kemaren, gue iseng pergi ke Kelapa Gading Sports Mall. Another Mall in Kelapa Gading Permai. FYI, Kelapa Gading itu punya kurang lebih 4 Mall dan 1 Trade Center. Ada Kelapa Gading Mall (1, 2, 3, dan 5) serta La Piazza, ada Mall of Indonesia, ada Sports Mall, ada Mal Artha Gading, dan Kelapa Gading Trade Centre. Jadi kalo urusan belanja dan makan, nyaris semua ada di Kelapa Gading.

Gue paling sering, tentunya, main ke Kelapa Gading Mall dibandingkan mall yang lain. Jadi gue enggak tahu kalo ternyata di Sports Mall ada yang namanya Elex Comic Centre.

Semenjak temen adek gue minjemin komik itu, gue jadi tergila-gila dengan komik, dan demamnya sampe sekarang belum surut. Ditambah lagi kemudian Gerry (Geraldina, another friend of Sufei yang kemudian juga jadi temen gue dan akhirnya jadi teman anak-anak yang lain) menceritakan tentang tempat sewa komik ini.

Yang bikin gue seneng adalah, sewa komik ini ternyata emang punyanya Gramedia. Jadi kualitas buku-bukunya pun memang jadi lebih terawat. Meskipun memang tidak semuanya adalah buku baru, apalagi serial komik yang udah jaman dahulu punya, seperti...Panic!, Min-Min, atau bahkan itu serial balet Mary Chan dkk. Malah ada yang sampulnya udah enggak ada. Tapi setidaknya, semua bukunya disampul plastik dan memang masih dalam kondisi 99% bagus. Beberapa gue rasa sengaja dibeli Gramedia dari orang lain atau sumbangan orang lain, karena kadang tanda tangan/nama pemilik sebelumnya masih ada :)


Dan sejak bertemu dengan elex comic centre ini...wow...gue jadi makin sering aja baca komik. So far komik yang udah gue baca adalah serial Mary-Chan, gue lupa apa aja, tapi udah 3 judul, kemudian ada The Duck of Mr. Edward, Panic!, dan sekarang akibat hasutan Gerry, gue lagi baca Throbbing Tonight.

Cukup murah juga sih sewa bukunya, komik @ 1.500, sedangkan buku lain...kemaren Gerry ada pinjem Selimut Debu kena 6.500 kalo enggak salah. Lama peminjaman 7 hari, maksimal buku 20. Apalagi dengan bikin member, kita jadi bisa beli buku di situ, dan dapet diskon. Komik dapet diskon 10% untuk hari biasa, dan 15% untuk Sabtu-Minggu, sedangkan ada beberapa buku novel yang dapet diskon 30%. Jadi ya...lumayan banget 'kan? :)


Sekarang lagi berniat menamatkan serial Marry Chan dan Throbbing Tonight nih!

Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief - Movie


AKHIRNYA!!!

Tanggal 10 Februari, sesuai dengan yang diiklankan, main juga ini film. Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief. Sempet ragu apakah ini film beneran main di bioskop 21 tepat tanggal 10 or not, karena tanggal 9 cek di internet, masih belum ada kabar. Tapi toh pagi tanggal 10 ternyata sudah turun. YES!!

So...satu lagi film yang diadaptasi dari buku/novel. Enggak perlu gue ceritain panjang lebar soal ceritanya, karena pasti udah abis dibahas di internet, di majalah, apalagi di wikipedia. Plus, gue sendiri sepertinya pernah dikit ngebahas tentang bukunya.

Film ini disutradarai oleh Chris Colombus, orang yang pernah membawa Harry Potter 1 & 2 ke layar lebar, jadi tebakan gue, banyak orang yang akan membandingkan hasil karya dia di Percy Jackson dengan karyanya di Harry Potter. Dan tanpa bermaksud membandingkan, tapi memang kedua film ini langsung terasa bedanya. Tapi ya sudah, rasanya itu enggak gitu penting untuk dibahas, karena toh memang Percy dan Harry memang dua dunia yang berbeda.

Film Percy Jackson dari awal, sudah terlihat bedanya dengan yang di buku, dan belajar dari pengalaman, rasanya enggak bakal bisa deh membandingkan versi buku dan versi film. Yang setau gue agak mendingan atau paling tidak mendekati versi buku itu...baru Angels & Demons. Menurut gue lho ya...dan seinget gue juga.

Perbedaan versi buku dan versi film yang paling mencolok gue rasa dari pemilihan pemeran tokoh-tokoh utamanya deh. Di buku 'kan usia Percy dan Annabeth itu baru 12 dan baru usia 16 pas di buku terakhir, tapi di film ini jelas-jelas tokohnya udah SMA dan udah umur 16 karena mereka udah boleh nyetir.

Lalu Clarisse, anak Ares enggak keliatan, kemudian Dionisius pun juga enggak ada. Padahal gue penasaran banget sama tuh dua tokoh itu :) Kemudian, dari awal Percy masuk ke Half-Blodd Camp, udah langsung ketauan siapa bapaknya. Dan masih banyak beberapa hal lain yang cukup berbeda jauh dengan versi buku.

Tapi, bukan berarti versi film kemudian menjadi jelek, seperti Harry Potter ke-6 yang kata orang pada bilang jelek (terutama buat yang udah baca bukunya). Versi film memang jadi lebih cepat ke inti masalah, yaitu soal lightning bolt-nya Zeus yang tercuri dan bagaimana Percy berusaha membuktikan bahwa dia tidak mencuri bolt tersebut. Karena waktu di film itu sangat terbatas, jadi penjelasan mengenai Percy sebagai seorang demigod memang tidak terlalu panjang, begitu juga penjelasan mengenai keberadaan Half-Blodd Camp dan kabin-kabin yang ada. Politik diantara para dewa-dewa pun juga ditiadakan.

Cukup banyak adegan-adegan seru dan kelucuan-kelucuan yang muncul, yang cukup bisa dijadikan kompensasi atas perbedaan yang cukup jauh antara versi film dan versi buku.

Secara keseluruhan, gue menikmati banget ini film, dan meskipun berbeda dari buku, toh film ini masih tetap menarik untuk dinikmati. Paling tidak kita jadi tahu seperti apa sih wajah Percy, Annabeth, dan Grover, juga wajah Chiron serta Luke dan tentu saja wajah para dewa-dewa. Paling tidak Zeus, Poseidon, Athena, dan Hades bisa kita lihat. Oh ya...tidak ketinggalan Persephone, yang menurut gue sih seharusnya bukan Rosario Dawson yang main. Bukan apa-apa, Persephone bukannya seharusnya itu blond dan kulit putih ya? Maksud nya, dia 'kan dewi musim semi, kok berkulit gelap? Apa karena kelamaan di Underworld? Hahahaha... Oh...sama satu lagi, tidak lupa wajah Medusa (membuat gue teringat adegan di Nashville Pantheon...hahahaha...)

Buat yang belum nonton, gak rugi lah nonton film ini. Menghibur kok. Yang pasti sih, begitu ini film selesai, jangan buru-buru beranjak dari bioskop ya :)

Gue kasih nilai 7,8 out of 10 deh :)

Saturday, January 30, 2010

My Husband Makes Movies - Nine

Another Broadway music...this one is from Nine...

Sayang, gue belum pernah liat secara langsung produksi Broadway-nya, yang gue liat langsung adalah film-nya NINE, dan seperti yang udah pernah gue tulis, gue suka banget sama lagu "My Husband Makes Movies" di film itu...apalagi dengan wajah Marion Cotillard yang agak-agak sendu gitu bikin lagunya jadi gimana...gitu.

Ternyata, seperti kebanyakan film-film adaptasi Broadway, pemeran di Broadway dan di film tentu berbeda. Nine pun juga sama. Pertama kali dibawakan oleh Karen Akers, kemudian dibawakan oleh Mary Stuart Masterson (Broadway Revival Cast - Antonio Banderas jadi Guido), dan terakhir diperankan oleh Marion Cotillard. Gue cuma ngebahas perannya Louisa Contini lho ya...untuk lebih jelasnya, seperti biasa, monggo mengunjungi wikipedia :)

Dan seperti biasa juga, terdapat perbedaan lirik antara di Broadway dan di film. So far, gue lebih suka feeling yang dimunculkan di film. Tapi toh memang harus diakui, selain medianya berbeda, adegan dari lagu yang satu itu ternyata dibuat berbeda. Jadi memang feeling yang hendak disampaikan pun juga berbeda. Tapi tetep, gue lebih suka yang Marion punya hahaha...

Kalo di film, Louisa nyanyi pada waktu sedang acara makan malam untuk memberi dukungan ke suaminya, Guido. Sementara di Broadway ketika Louisa diwawancara mengenai gosip retaknya hubungan antara dirinya dengan Guido.

so...which one is better?

PS: di player-nya ada video from youtube, jadi untuk yang versi Broadway bisa ditonton. Kualitasnya sih enggak gitu bagus, tapi lumayan lah. Klik aja yang ada tulisan 'video' di bawah gambar not itu.

PSS: teks yang diwarnain merah artinya lirik itu berbeda dari yang Broadway punya.

From the movie (Marion Cotillard)
My husband makes movies.
To make them he lives a kind of dream
In which his actions aren't always what they seem.
He may be on to some unique romantic theme.
Some men run Banks, some rule the world
Some earn their living baking bread.
My husband, he goes a little crazy
Making movies instead.

My husband spins fantasies,
He lives them, then gives them to you all.
Like Michaelangelo, he paints his private dome
But can’t distinguish what’s his work and what’s his home

Some men buy stocks, some men punch clocks,
Some leap where others fear to tread.
My husband as author and director,
Makes up stories in his head.


Guido Contini, Luisa Contini,
Number one genius and number one fan,
Guido Contini, Luisa Contini,
Passionate woman in love with this man
Long ago, many years ago
Once we two were Guido Contini, Luisa his lover,
Actress with dreams and a life of her own,
Then we had no end of worlds to discover
Singing together all night on the phone.
Long ago, someone else ago,

Long ago, someone else ago,
How he needs me so,
And he'll be the last to know it.

My husband makes movies.
To make them, he makes himself obsessed.
He works for weeks on end without a bit of rest,
No other way can he achieve his level best.

Some men read books, some shine their shoes,
Some retire early, some stay up to dream and muse
My husband only rarely comes to bed,
My husband makes movies instead,
My husband...makes movies...


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com



From Broadway (Mary Stuart Masterson)
[REPORTERS]
Not since Charlie Chaplin
Has there ever been a film Director
Like this

[FIRST REPORTER]
Mrs. Contini, is there any truth to the rumor
that your marriage is in jeopardy?

[LUISA]
None whatsoever.

My husband makes movies.
To make them he lives a kind of dream
In which his actions aren't always what they seem.
He may be on to some unique romantic theme.
Some men catch fish, some men tie flies,
Some earn their living baking bread.
My husband, he goes a little crazy
Making movies instead.

My husband spins fantasies,
He lives them, then gives them to you all.
While he was working on the film on ancient Rome,
He made the slave girls take the gladiators home.
Some men buy stocks, some men punch clocks,
Some leap where others fear to tread.
My husband as author and director,
Makes up stories in his head.


Guido Contini, Luisa Contini,
Number one genius and number one fan,
Guido Contini, Luisa Contini,
Daughter of well-to-do Florentine Clan,
Long ago, twenty years ago,
Once the names were Guido Contini, Luisa Del Forno,
Actress with dreams and a life of her own,
Passionate, wild and in love on Livorno,
Singing with Guido all night on the phone.
Long ago, someone else ago, how he needs me so,
And he'll be the last to know it.

My husband makes movies.
To make them, he makes himself obsessed.
He works for weeks on end without a bit of rest,
No other way can he achiev his leve best.

Some men read books, some shine their shoes,
Some retire early when they've seen the evening news.
My husband only rarely comes to bed,
My husband makes movies instead,
My husband...makes movies...

[FIRST REPORTER]
Thank you very much, Mrs. Contini.


Thursday, January 28, 2010

Radames' Letter - Elton John & Tim Rice' Aida


I'm sorry for everything I've said
And for anything I forgot to say
When things get so complicated
I stumble at best muddle through
I wish that our lives could be simple
I don't want the world only you

Oh I wish I could tell you this face to face
But there's never the time never the place
So this letter will have to do
I love you....


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com



Radames' Letter merupakan salah satu lagu yang ada di drama musikal Broadway karya Elton John dan Tim Rice, AIDA. Lagu ini, dinyanyikan oleh Shania Twain, ada di album Elton John & Tim Rice' AIDA-concept album. Para penyanyinya semua bintang terkenal (pada saat itu setidaknya, 1999). Berhubung AIDA ini masih berhubungan dengan Disney, maka pada waktu itu, kasetnya (belum kenal CD waktu itu apalagi internet) ikutan gue beli dan gue lumayan jatuh cinta dengan beberapa lagu di dalamnya. Yang cukup terkenal pada waktu itu tentu "Written in the Stars" duetnya Elton John dengan LeAnn Rimes. Sekarang gue lagi nyari tuh albumnya. Udah ngubek-ngubek internet, masih belum dapet juga. Hm...time to hit the music store! hehehe...

Gue suka dengan ini lagu karena lagunya sederhana, kata-katanya dalam, dan musiknya pun juga sesuai. Inget banget waktu pertama kali denger nih lagu, gue begitu tertegun. Pas banget untuk yang pingin lagi pingin minta maaf :))

Judul aslinya sih seharusnya
Radames' Letter, dinyanyikan oleh Radames (thus the title) untuk Aida...hm...let see if I can make it easier...

Menurut Wikipedia, Elton John & Tim Rice' AIDA ini berdasarkan cerita/opera Giuseppe Verdi, dengan judul yang sama yaitu AIDA. Kalo Verdi punya berbahasa Italia dan jenisnya opera, kalo Elton John & Tim Rice punya jenisnya rock musical dan tentunya berbahasa Inggris. Monggo mengunjungi wikipedia untuk lebih jelasnya ya. Yang pasti, ini musikal memang 'punya' Disney.

Ceritanya sendiri mengenai cinta segitiga antara Amneris (anak Firaun) - Radames (Kapten tentara Mesir, tunangan Amneris, calon pewaris Firaun; karena menikah dengan Amneris) - Aida (budak yang dihadiahkan untuk Amneris, yang ternyata adalah Princess of Nubia; bangsa yang saat itu dijajah Mesir).

Gue tadi dah baca ceritanya di wikipedia...sedih euy ceritanya...jadi silakan baca wikipedia aja ya untuk lebih jelasnya hehehe...

Dulu pernah nonton ada univ mana gitu yang nampilin musikal ini di GKJ, tapi hasilnya menurut gue kurang banget...jadi rada kecewa nontonya...mungkin bukan soal yang nyanyi tapi lebih ke masalah teknis. Duh mengganggu gue banget deh, jadi enggak enjoy nontonnya.

Tapi toh gue berhasil mendapatkan original Broadway Cast albumnya (kalo gak salah) jadi yah tinggal menggunakan imaginasi aja deh... :)

This is one of Broadway Musical I want to see...

Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com