Tuesday, June 21, 2011

Will Grayson, Will Grayson - John Green & David Levithan


Seperti biasa, alasan dan kenapa gue sampe beli buku ini...cukup panjang :D.

So...buku ini dibeli hari Sabtu (18), di Kinokuniya Grand Indonesia, seminggu setelah Kinokuniya ngadain diskon 15%. Oh, gue pergi kok ke diskonan itu...sore sekitar jam 3 dan kalap!! Yah..on my defense...gue beli dua buku titipan Ingrid, tiga buku for my mom (meskipun gue yang baca dulu), 1 buku "percobaan" (pengarang baru, remaja, orang Indonesia, tapi nulis in English), 1 buku Julie Garwood (again for my mom), 1 buku YA seri (yang seri 1 nya juga belum gue baca, dan kayaknya kudu segera dibaca). Dan seolah itu belum cukup, gue masih mampir ke Periplus...and guess what? Ada Theodore Boone!! Dan udah pasti gue beli, Plus buku seri Septimus Heap, yang gue beli juga. Untuk punya periplus card, jadi diskon 10%. It was a productive day hahahaha....gue cuma bersyukur bahwa hari Sabtunya gue gak jadi beli tote/shoulder bag seharga 375ribu!

Jadi...with that books on my soon-to-be-read list, kudunya sih enggak banyak buku yang bakal menarik perhatian gue. But oh how wrong am I!

Agak kaget juga ngeliat Kinokuniya Grani punya banyak buku baru on Teens or YA genre. Tapi yang bikin kaget adalah buku "Will Grayson, Will Grayson" ini.

"Will Grayson, Will Grayson" adalah buku terbitan 2010. Entah apa yang membuat gue bisa ngeliat buku ini di Amazon.com, yang pasti gue langsung tertarik. Dari judulnya, udah ketebak ini adalah nama orang. Mungkin karena waktu ngeliat pertama kali, gue ngeliatnya cuma selintas, yang masuk di otak gue adalah Gill Grissom. Dan Gill Grissom adalah tokoh CSI: Crime Scene Investigator.

Will Grayson, meet Will Grayson

One cold night, in a most unlikely corner of Chicago, two strangers cross paths. Two teens with the same name, running in two very different circles, suddenly find their lives going in new and unexpected directions, culminating in heroic turns-of-heart and the most epic musical ever grace the high school stage.

Baru kalimat pertama, gue udah langsung tertarik.

When I was a little, my dad used to tell me, "Will, you can pick your friends, and you can pick your nose, but you can't pick your friend's nose."

Gue langsung ketawa ngakak begitu baca kalimat itu.

Buku ini ditulis dari sudut pandang dua orang Will Grayson. Will Grayson yang memiliki teman seorang homoseksual bernama Tiny Cooper (tapi berbadan sangat besar). Dan will grayson, seorang homoseksual yang sayangnya mengalami depresi (bukan karena dia homoseksual). Kisah kedua Will grayson ini diceritakan secara bergantian di tiap bab. Kita jadi tahu dan bisa mengenal masing-masing Will grayson.

Will Grayson yang berteman dengan Tiny Cooper merupakan sosok remaja yang memilih untuk menunjukkan sikap tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar. Bukan karena dia merasa atau berpikir bahwa lingkungan sekitar membosankan atau menyebalkan atau bagaimana, ia hanya berpikir bahwa semua akan menjadi lebih mudah dijalani jika ia tidak ambil pusing/tidak terlalu peduli dengan orang-orang lain di sekitarnya.

Tiny Cooper is not the world's gayest person, and he is not the world's largest person, but I believe he may be the world's largerst person who is really, really gay, and also the world's gayest person who is really really large. Enough said.

will grayson, merupakan remaja yang memiliki depresi dan bisa dibilang merupakan seorang homoseksual yang masih tertutup. Ia tidak memiliki masalah dengan dirinya yang seorang homoseksual, ia hanya berpikir bahwa hal itu bukan urusan orang lain.

Mungkin gue bias, tapi sepertinya yang membuat gue tertarik dengan buku ini pertama kali adalah ketika gue meyadari bahwa salah satu dari Will grayson tersebut adalah seorang homoseksual. And you know where do I stand on that topic (baca postingan gue yang lalu-lalu) dan gue kemudian jadi penasaran. Karena seinget gue, gue belum pernah baca cerita/novel yang tokohnya remaja homoseksual.

Buku ini bisa dibilang beda dari buku-buku yang biasa gue baca (I still can surprised myself). Pertama, karena dari segi cerita, bisa dibilang ini cerita tentang remaja 'biasa', tentang kehidupan sehari-hari para tokoh-tokohnya yang normal. Tanpa menjadi vampire, werewolf, godlings, dsbnya. Kedua, meskipun ini bukan buku pertama yang gue baca, dimana tokohnya homoseksual, tapi bisa dibilang ini adalah buku pertama dimana tokohnya masih remaja dan udah menerima dirinya sebagai seorang homoseksual.

Jalan ceritanya bisa dibilang sederhana, tapi karena sederhana itu gue jadi suka dengan ceritanya. Kita bisa lihat bagaimana Will kemudian melihat bahwa ternyata orang-orang di sekitarnya tidak seperti yang selama ini ia persepsikan, bahwa it's ok to show some feeling or even care or even say something back. Kita juga mulai mengerti depresi yang dialami will, bahwa kita bener-bener tidak bisa mengerti apa yang dirasakan oleh mereka yang mengalami depresi, bahwa it's ok to feel angry.

Meskipun will grayson digambarkan sebagai remaja yang mengalami depresi, will tidak digambarkan sebagai remaja yang penuh dengan niat bunuh diri, atau situasi dimana ia ribut/berantem dengan nyokapnya, atau situasi yang bener-bener tipikal angst-nya remaja. Mungkin juga karena diceritakan bahwa will rajin minum obat depresannya, jadi emosinya bisa lebih terkontrol. Meskipun harus diakui, suasana...ehm...suasana gloomy-nya tetep terasa, mendung-mendung gitu deh.

Bahasanya bisa dibilang agak kasar, alias to the point. F-word cukup berserakan, tidak banyak tapi ada. Biar begitu, kalimat-kalimatnya bisa dibilang cukup bagus dan agak-agak filosofi...jadi memang bacanya kudu sedikit mikir. Mungkin ini bedanya antara novel yang ditulis sama remaja dan yang ditulis sama orang dewasa. Muatannya sudah pasti jadi beda.

I love this book. Its simplicity, its characters (you can't not love them, especially Tiny), its problems, its solution, and not to forget...the musical! Oh yes!

sedikit cuplikan..

There was a time
When I thought I liked vagina
But then came a summer
When I realized something finer

I knew from the moment he took top bunk
How desperately I wanted into his trunk
Joseph Templeton Oglethorpe the Third
Left my hear singing like a little bird

Summer of gay!
So lovely! So queer!
Summer of gay!
Set the tone for my year!

:D :D :D :D



I left you with something from the book that I think quite true...
"It's just a thing. Like, some people are gay. Some people have blue eyes"

3 comments:

Ditogendut said...

This gay thing really became your pet peeves huh Ze? LOL

Unknown said...

:D I think so...I got soft spot for them...tapi bukan berarti kalo gue ngeliat sepasang gay lagi bermesraan gue gak meringis...cuma ya..gue mencoba untuk mengerti perilaku mereka. Karena toh ujung-ujungnya kembali lagi ke...CINTA.

Reza Fahdini M Putra said...

Bagus reviewnya. Aku juga baru selesai baca buku ini kemarin, dan emang keren ;)

Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com