Thursday, February 26, 2009

Tea for Two, by Clara Ng


Tea for Two

Tea for two adalah perusahaan makcomblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehiudapn yang diidam-idamkan. PERNIKAHAN!


Hidup berbahagia selama-lamanya.
Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis.

Tapi... eits, tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

It could happen to you. It could happen to anybody.


Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan.
Para lajang, gemetarlah, karena lelaki yang kaupikir
Mr. Right bisa berubah menjadi Mr. Totally Wrong.

(Pernah dimuat sebagai cerita bersambung KOMPAS,
Oktober 2008 - Februari 2009)


Clara Ng, merupakan salah satu pengarang Indonesia favorit gue. Selain dia, satu lagi adalah Marga T. Dan kalau salah satu dari mereka ngeluarin buku, 99% gue pasti beli tuh buku saat itu juga, meskipun review di belakang bukunya bikin gue merinding. Seperti buku Clara Ng yang baru ini Tea for Two.

Gila!!

Seperti biasa, begitu gue ngeliat buku Clara Ng muncul di Gramed, reaksi gue adalah terkejut dan terpesona menjadi satu. Yang pernah melihat reaksi gue ini adalah Ingrid dan mungkin Lisa serta Yan. Respon mereka adalah kaget. Maksudnya, kaget melihat reaksi gue yang seperti melihat sesuatu yang sangat berharga gitu deh. Yah..maklum aja, agak-agak drama queen hehehe...

Kembali ke bukunya Clara Ng yang baru ini, Tea for Two. Gue tahu bahwa cerita ini pernah dijadikan cerita bersambung di KOMPAS, sama seperti kemaren. Dan seperti biasa juga, gue memilih untuk tidak membaca-nya di KOMPAS, karena males. Cerita bersambung yang ada malah bikin gue gregetan dan gak sabar. Jadi begitu akhirnya ini buku, Tea for Two, keluar, ya udah langsung lah gue beli.

KDRT.

Empat huruf yang dijamin bikin perempuan manapun mengeluarkan beragam emosi, dari ketakutan, cemas, simpati, rasa kasihan, hingga rasa marah, dan tidak ketinggalah, penyangkalan diri. Yang paling parah gue rasa adalah penyangkalan. Denial. Padahal...
It could happen to you. It could happen to anybody.

Tea for Two menceritakan kisah tentang Sassy, lajang kota yang punya bisnis sendiri, cerdas, cantik, dan mandiri, yang kemudian terlibat dalam hubungan (pernikahan) yang berubah menjadi ajang KDRT. Singkatnya, dunia manis penuh romantisme yang dirasakan sebelum pernikahan/ selama pacaran, hilang tak berbekas.

Di buku ini diceritakan bagaimana Sassy mengalami berbagai penganiayaan, pelecehan, dan kekerasan secara verbal (kekerasan yang menurut gue paling parah dan paling dalam efeknya). Dan semua KDRT yang terjadi malahan membuat Sassy berusaha keras untuk merubah dirinya demi menyenangkan sang suami, dengan harapan ia tidak lagi kena cemoohan atau pukulan. Sebuah tindakan yang bisa dikatakan sia-sia.

Ada satu adegan yang membuat gue teringat dengan para sahabat-sahabat gue. Dan gue rasa, inilah gunanya para sahabat, baik cewek maupun cowok, mereka menjadi filter bagi segala sesuatu yang kita lihat, membuat kita melihat dengan kaca mata baru. Sukur-sukur melihatnya dari pemikiran yang sama sekali baru.

Diceritakan kalau Sassy tidak sempat mengenalkan calon suaminya ini ke para sahabatnya, yang tentu saja membuat para sahabatnya ini penasaran. Dari 3, hanya satu yang sudah pernah bertemu dan feeling-nya pun tidak bagus.

Ini yang membuat gue langsung teringat sama para sahabat gue yang jumlahnya dari lebih 4 orang, yang semua punya opini kuat, yang semua punya kriteria berbeda, dan semuanya seperti Srikandi (minus suara melengking tinggi dan goyangan kepala yang lebai banget). Dan kalau hal itu (mau menikah tapi belum pernah ketemu kita) terjadi...well...hasilnya gak bakalan bagus deh! Sudah terbukti kok.

Di Tea for Two, sekali lagi kita (para lajang cewek terutama) dikasih info mengenai KDRT. Betapapun pintarnya kita, betapapun mandiri-nya kita, betapapun banyaknya info yang kita tahu mengenai KDRT, sekali kita terjebak ke dalamnya, tidak akan mudah untuk memutuskan pusaran KDRT itu. Seolah-olah kita sudah dicuci otak dan kita jadi tidak tahu mana yang benar, mana yang seharusnya tidak kita alami, mana yang seharusnya kita sudahi.

Tanpa bermaksud untuk menganggap enteng pernikahan dalam agama Islam, tapi dalam agama Islam masih memberi ijin untuk bercerai. Lha gue, yang dididik dan tumbuh sebagai Katolik, gimana? Jujur, KDRT (dan juga masalah-masalah pernikahan lainnya) membuat gue rada ngeri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Apalagi setelah baca nih buku :)

Tapi tenang, gue tahu kok pernikahan gak selamanya buruk. Pernikahan juga bukan selalu bahagia. Semua ada dua sisi dan gue yakin, bisa mendapat pernikahan yang bahagia, awet dan penuh cinta, selama kita menyerahkan sama Tuhan dan meminta yang terbaik, serta peka membaca signal-signal yang Tuhan beri.

Lagian, dongeng-dongeng Disney telah melekat terlalu dalam di hati gue :)

Yang pasti, buku ini bagus untuk membuka mata kita akan KDRT. Ceritanya sih gak melulu soal ketakutan atau kecemasan akan KDRT, bukan itu. Malahan, kalau bisa dibilang, porsi-nya gak banyak.

Selain itu, ceritanya seolah-olah dibikin dua model. Satu dari sisi pengarang (menggunakan sudut pandang orang ketiga) dan di sisi lain dari sudut pandang Sassy, tentang apa yang dia rasakan dan pikirkan. Di bagian ini, mau tidak mau kita menjadi lebih mengerti, mengapa seorang perempuan seperti Sassy bisa terjebak dalam pernikahan KDRT. Percaya deh, kalau gue berada di posisi Sassy, gue juga bisa melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang sama.

Satu hal lagi yang gue suka dari Clara Ng, gaya bahasa dan penulisannya. Entah baru di buku ini aja atau di buku-buku lain juga, karena gue baru ngeh. Clara Ng ini benar-benar menggunakan bahasa Indonesia yang baik (meskipun belum tentu benar). Nyaris tidak ada istilah bahasa Inggris, kecuali memang istilah yang belum ada padanan bahasa Indonesia-nya atau mungkin yang masih terasa asing. Tapi bukan berarti bahasa percakapannya menjadi kaku, enggak. Terasa lebih Indonesia aja :)

Di saat nyaris seluruh fiksi kategori Chicklit atau Metropop menggunakan bahasa Inggris ke dalam bahasa percakapan sehari-hari, membaca buku Clara Ng yang minim bahasa Inggris dalam percakapan, ternyata menyegarkan juga :). Mungkin karena Clara Ng bisa menempatkan terjemahan kalimat-kalimat tersebut ke dalam kalimat-kalimat yang 'terdengar' wajar.

Pada akhirnya, gue menikmati buku ini. Meskipun awalnya sempat merasa cemas, tapi toh selesai juga ini buku gue baca. Tapi...gue masih kurang puas sih sama (mantan) suami Sassy ini. Rasanya kurang dibikin jera :) Pingin rasanya membalas perbuatan dia ke Sassy (hm...mungkin keinginan gue ini adalah keinginan yang tidak tersalurkan...hm...)

Satu lagi karya menakjubkan dari Clara Ng!!

Buat yang pingin membaca buku Clara Ng yang lain, atau baru mau mulai membaca...coba baca Indiana Chronicles deh...ada tiga buku dan sejauh ini gue dah bikin Sufei dan Linyuk terkesima. Tuh buku gue udah terbang ke Beijing dan sekarang lagi di Brisbane, sementara gue ndiri belum pernah ke sana!!!

2 comments:

Ditogendut said...

Lo bilang tentang Mr. Right dan Mr. Totally Wrong, hehehe... gue jadi inget sama satu lagi. Mr. WHOEVER (khusus untuk para cewe desperate yang merasa jam biologis mereka semakin mendekat) hehehe...

Tentang KDRT, well... berbahagialah para wanita. At least kalian kalo kena KDRT bisa langsung nangis2 ke kantor polisi. Atau kalau kalian cukup kuat (secara fisik) bisa dengan sah membalas. Lha yang para cowok gimana? Kan cewek juga ada yang abusive, sedangkan pasangannya sebagai seorang cowok jadi serba salah. Mau ngebales, bisa dilaporin ke polisi. Mau lapor ke polisi, diketawain (sukur-sukur nggak dibilang banci n dimasukin sel supaya disodomi sama para penghuni penjara lainnya). Paling banter minta cerai, itupun masih ada kemungkinan diketawain sama hakim n semua orang yang hadir di pengadilan.

Hieh... UUKDRT benar-benar berpihak pada wanita. Hiks...

CAROLINE said...

Hahahaha...

Tapi kata-kata lu emang ada bener-nya juga. Waktu gue nulis soal buku Clara Ng ini, gue juga kepikiran, "what if the abuser is the wife?" apa gak malah jadi tambah ribut tuh?

Inget film DISCLOSURE Demi Moore sama Michael Douglas? 'Kan ceritanya si Demi Moore yang melakukan pelecehan seksual ke Michael Douglas, tapi begitu dibawwa ke pengadilan, malah jadi bahan tertawaan. Sayang gue gak baca bukunya or nonton filmnya...jadi gak tau deh ending-nya gimana.

Cuma...persentasi pelaku KDRT perempuan 'kan gak banyak, To. Jadi mungkin memang tujuan dibuat UU-KDRT adalah untuk melindungi yang cewek.

Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com