Wednesday, March 31, 2010

My Kind of Books



Been thinking quite a lot about what I'm going to say on this subject.

Boleh dibilang, gue ini termasuk maniak buku [dan maniak akan hal-hal lainnya juga] dan juga tergila-gila pada musik. Dua hal itu yang mengisi hari-hari gue, setiap saat. Really can't live without books or music.

Jenis musik yang gue suka biasanya seputar pop, klasik, classical crossover, sedikit new age, beberapa instrumental, dan NO DANGDUT. Gue lebih milih dengerin lagu India dibandingkan dangdut. Tapi, namanya juga musik, kadang emang kudu didengerin dulu, baik musik maupun liriknya, untuk bener-bener bisa suka dengan lagu tersebut.

Sama juga seperti buku.

Ada beberapa kategori yang biasanya gue [dan temen-temen gue] mengkategorikannya sebagai buku gue, terutama untuk pengarang yang belum pernah gue baca sama sekali karyanya. [Terutama untuk novel dewasa, bukan novel young adults]

1. Romance


It's not a must, but it's a plus.

Cerita roman pasti menarik perhatian mata dan minat gue. Tapi bukan berarti semua buku cerita roman bakal gue beli dan gue baca. Mungkin karena waktu SMA sempet baca Harlequin jadi gue sekarang agak-agak males baca roman yang TERLALU roman, seperti kebanyakan cerita-cerita kategori historical romance yang lagi banyak banget terjemahannya.

Gue juga menikmati kok buku-buku dengan cerita detektif yang memang tidak ada sedikitpun kisah roman di dalamnya, seperti Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle, atau buku-buku karya James Patterson, atau buku Dan Brown (tapi cuma yang Langdon Trilogi).

Memang harus diakui, buku dengan cerita roman lebih menarik di mata gue dibandingkan cerita-cerita lain. Tapi bukan berarti gue menolak mentah-mentah buku yang tidak ada roman-nya.


2. Have a happy ending

It doesn't always have to end up in marriage, although it's expected, but at least the boy get the girl and the enemy is get punished :)

Klise banget emang, tapi gue lebih suka kalo jagoan gue tuh happy. Males aja rasanya baca buku panjang lebar, tapi ujung-ujungnya tokoh utamanya malah mati atau pasangannya mati atau malah dapet kesialan. Weks! Bisa gue buang ke lantai tuh buku.

Sufei, one of my friends, complained soal 'obsesi' gue akan happy ending. Dia bilang, enggak semua mendapatkan apa yang kita inginkan. Well...it's true. Dalam kehidupan nyata juga ada yang gak happy end, tapi tetep gue enggak terima hahaha. Gue maunya the good guy is always win, the bad guy will always be a loser, a good person always be repaid, and the bad person always get what they deserved.

3. Good storyline


Gue tau, harusnya yang menjadi pertimbangan utama adalah good storyline, tapi bagaimana bisa tahu apakah buku/cerita tersebut memiliki alur yang bagus, orang semua bukunya masih dibungkus plastik dan butuh beberapa lembar halaman untuk mengetahui hal tersebut.


Sebenernya masih ada beberapa hal lain yang membuat gue memutuskan untuk membaca/membeli itu buku, seperti...tidak ditulis menggunakan kata ganti orang pertama. Kadang gue merasa terganggu aja kalo pengarangnya menulis cerita dari sudut pandang 1 orang saja, yaitu tokoh utamanya. Ber-aku atau I, buat gue enggak enak. Tapi toh kadang hal itu terlewat begitu saja, apalagi kalo memang ceritanya bagus.

Satu tema yang gue hindari...drama.

Entah kenapa, tapi gue agak enggak suka dengan drama. Mungkin karena ceritanya terlalu 'biasa' atau terlalu monoton menurut gue. Meskipun tema drama memiliki roman, tapi tetep aja rasanya susah buat gue untuk baca drama. Mungkin buku-buku karya Danielle Steele termasuk di dalamnya.

DULU gue baca nyaris semua bukunya Danielle Steele. My mom love her books so much. Tapi lama-lama enggak lagi. Too long, too boring, Ceritanya tuh bisa berkembang dari just a girl, then become a mother, then become a grandmother. Enggak semua sih, tapi salah satu hal yang gue inget dari ceritanya Danielle Steele ya itu. 3 generasi dalam 1 novel. Tebel deh.

Tapi terlepas semua itu, kisah buku itu sendiri lah yang membuat gue akhirnya memutuskan untuk membeli dan membaca itu buku, meskipun memang 'rules' yang udah gue buat itu gue gunakan sebagai rambu-rambu [supaya enggak kalap], tapi kalo ceritanya sudah menarik, biasanya rambu-rambu itupun hilang begitu saja.


Sedangkan untuk novel kategori young adults, biasanya lebih sederhana. Drama jelas-jelas gue hindari, karena gue lebih memilih tema fantasy alias khayal. Enggak semua, tapi gue selalu tertarik dengan magic, vampire, fairy, dsbnya.

No, I don't read Twilight Saga. Don't like it.

Sedangkan untuk roman...well...gue rasa sama aja dengan novel dewasa. Kalo ada ya bagus...kalo enggak ya udah. Selama ceritanya menarik, bagus, why not?


So...what your kind of books? :)

1 comment:

Kencana said...

Saya juga suka romance. Dibanding novel, saya lebih tertarik baca manga (komik Jepang) dikarenakan karakternya yg unik.

Free Delivery on all Books at the Book Depository
Please e-mail me directly if you have any question about things that I wrote in this blog at celotehze@yahoo.com